NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Bab 21 Mengambil Hati Nenek

Anita Lewis menatap pria itu sejenak sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar.

“Silakan masuk,” ucapnya tenang, walau detak jantungnya sempat berdebar.

Ia mempersilakan Dion Leach masuk ke ruang tamu, tempat Nenek sedang duduk menikmati teh sore.

“Nenek, ini Dion,” kata Anita lembut memperkenalkan pria itu.

Dion sedikit menunduk, suaranya rendah dan sopan, “Selamat sore, Nek.”

Nenek mendongak, menatap pria tinggi berwajah tampan dan berwibawa itu. Postur tubuhnya tegap, sorot matanya teduh, dan caranya berdiri menunjukkan keanggunan alami. Ia terpaku lama , sulit mempercayai bahwa pria yang berdiri di depannya adalah orang yang selama ini hanya ia dengar dari rumor.

Ada harmoni aneh di antara keduanya , seolah Dion dan Anita memang ditakdirkan untuk berdiri berdampingan.

“Jadi kamu benar-benar… Dion Leach?” tanya Nenek akhirnya, pelan namun penuh rasa ingin tahu.

Dion mengangguk sopan. “Ya, Nek.”

Senyum muncul di wajah Nenek. “Masuklah, Nak. Kenapa tidak memberi kabar dulu? Kami bahkan tak sempat menyiapkan apa-apa.”

Dion menyerahkan sebuah kotak berbungkus elegan. “Saya minta maaf sudah merepotkan. Ini hanya sedikit tanda hormat.”

Namun Nenek menggeleng lembut. “Kamu tidak perlu membawa hadiah apa pun.”

Anita menoleh ke pembantu rumah tangga dan memberi isyarat agar menerima hadiah itu. Ia menggandeng lengan Nenek, tersenyum lembut.

“Nenek, terimalah. Ini hanya bentuk sopan santunnya.”

Nenek akhirnya berjalan ke ruang tamu tanpa banyak bicara lagi dan meminta pembantu menyiapkan teh untuk tamunya.

Dion duduk dengan tenang di sofa, sikapnya anggun namun tetap waspada, memperlihatkan keseimbangan antara wibawa dan kesantunan.

Setelah memastikan semua berjalan lancar, Nenek berkata,

“Tuan Leach, silakan duduk sebentar, ya. Saya ingin menyiapkan buah.”

Kemudian ia menatap Anita dengan makna tersembunyi. “Anita, bantu Nenek di dapur.”

Anita langsung mengikutinya. Begitu sampai di dapur, Nenek membuka kulkas, mengambil beberapa apel dan jeruk, lalu melirik cepat ke arah ruang tamu. Suaranya diturunkan, penuh keraguan.

“Anita, apa dia benar-benar Dion Leach? Bukankah keluarga Leach sedang mencari pengganti?”

Anita menghela napas kecil, lalu berkata pelan,

“Nenek, keluarga Leach tidak sedang berpura-pura. Dia benar-benar Dion.”

Nenek berjalan ke pintu dapur, mengintip ke arah ruang tamu. Dion duduk tenang di sana, wajahnya memantulkan ketenangan sekaligus kekuatan. Aura itu terlalu nyata untuk direkayasa.

Namun tetap saja Nenek tidak bisa menyingkirkan bayangan buruk dari gosip yang pernah ia dengar.

“Tapi katanya Dion itu pemarah, kasar, bahkan... gila,” bisik Nenek ragu.

“Pria di luar sana tidak terlihat seperti itu sama sekali.”

Anita tersenyum tipis sambil mengupas apel di tangannya.

“Dion memang punya sisi gelap, tapi dia tidak seperti yang dibicarakan orang. Kalau dia benar-benar seburuk itu, apa aku akan masih hidup, berdiri di sini, tanpa luka sedikit pun?”

Nenek menatap kulit putih Anita yang tampak halus di bawah baju rumah berlengan pendek. Tak ada memar, tak ada tanda kekerasan. Perlahan, kekhawatirannya mulai luluh meski belum sepenuhnya hilang.

“Tapi, katanya umur Dion tidak akan panjang…” suara Nenek bergetar halus.

“Kalau dia benar-benar meninggal muda, kamu akan menjadi janda di usia dua puluh delapan. Dan keluarga Leach tidak akan mengizinkan kamu menikah lagi.”

Nada lembut itu mengandung rasa sayang yang tulus, juga ketakutan seorang nenek yang tak ingin cucunya menderita.

Anita menatap buah yang ia potong, tersenyum sendu.

“Besok akan selalu ada hari baru, Nek. Aku hanya ingin menikmati hari-hariku sekarang. Biarkan aku memilih bahagia dengan caraku sendiri. Kumohon, jangan tolak dia lagi.”

Nenek menghela napas, masih mencoba menasihati.

“Anita, cinta itu penting, tapi nasib tak bisa diabaikan.”

Anita menatapnya mantap, sorot matanya jernih tapi penuh pengalaman.

“Nenek, jangan menilai seseorang hanya dari apa yang orang lain katakan. Jangan biarkan rumor merusak pandangan kita. Suzanne dan Selene adalah buktinya.”

Ia berhenti sejenak, nada suaranya menjadi lebih dalam.

“Mereka terlihat sempurna di mata dunia, tapi hanya aku yang tahu apa yang telah mereka lakukan padaku. Begitu juga dengan Andrew Morris dan Vebri , seorang dokter yang dianggap malaikat penyelamat, dan wanita yang dijunjung sebagai dewi nasional. Tapi di balik itu, mereka jauh lebih kejam daripada siapa pun yang pernah kutemui.”

Nenek terpaku ,kata-kata itu seperti membawa luka masa lalu yang belum sembuh.

Dalam hati, ia sadar cucunya telah tumbuh menjadi perempuan yang lebih kuat dari apa pun yang ia bayangkan, terluka, tapi masih mampu tersenyum.

Nenek tak bisa membantah kata-kata Anita.

Dalam hati, ia tahu sebagian besar luka yang dialami cucunya dulu juga karena kepercayaannya yang buta pada Suzanne. Jika bukan karena itu, Anita mungkin tak akan tumbuh dalam lingkungan yang dingin dan keras seperti sekarang.

Akhirnya, dengan napas berat, Nenek mengangguk tanda bahwa ia bersedia berkompromi.

Sementara itu, Dion Leach duduk di ruang tamu dengan gelisah. Matanya sesekali melirik ke arah dapur, seolah hatinya sedang digelitik rasa penasaran yang tak bisa dijelaskan. Ia bukan tipe pria yang mudah gugup, tetapi kali ini, menunggu Anita terasa seperti ujian panjang yang tak sabar ia selesaikan.

Ketika ujung gaun rumah Anita terlihat dari balik pintu dapur, Dion spontan menoleh lalu buru-buru memalingkan wajahnya dan duduk tegak menghadap televisi.

Gerak tubuhnya yang kaku itu sempat dilihat oleh Nenek, dan anehnya, pemandangan itu membuat pandangannya terhadap Dion sedikit melunak.

Ia pernah mendengar banyak rumor buruk tentang pria ini yang katanya dingin, kejam, bahkan gila.

Namun, yang duduk di hadapannya sekarang hanyalah seorang pemuda yang jelas-jelas sedang berusaha keras menahan rasa gugup di depan keluarga istrinya.

Tak lama, Anita datang membawa sepiring buah ke meja. Ia duduk di samping Dion, sementara Nenek menatap pria muda itu dengan pandangan tajam namun lembut.

“Tuan Leach,” ujar Nenek akhirnya, “saya tidak keberatan dengan pernikahan kalian. Tapi saya punya satu syarat.”

Dion langsung menegakkan punggungnya. “Silakan, Nek.”

Suara Nenek menjadi tegas. “Saya dengar kamu mungkin tidak akan hidup sampai usia dua puluh delapan tahun. Karena itu, saya ingin keluarga Leach memberi izin kepada Anita untuk menikah lagi jika kamu… meninggal nanti.”

Kalimat itu membuat suasana ruangan membeku sesaat.

Namun Nenek belum selesai. “Dan tentu saja, Anita tidak akan menuntut sedikit pun dari harta keluargamu.”

Ia tahu Dion mungkin tersinggung, tapi sebagai nenek, ia harus memastikan cucunya punya jalan keluar jika masa depan tak berpihak.

Beberapa detik hening berlalu sebelum Dion menatapnya dalam dan berkata pelan, “Sebagai Nyonya Leach, dia berhak atas semua warisanku setelah aku tiada. Dan…” matanya bergeser ke arah Anita , “Anita tidak ingin aku mati.”

Anita hampir tersedak udara.

Dalam hatinya ia bergumam, aku hanya ingin membantu mengatasi penyakitmu, bukan berharap kau hidup selamanya!

Tapi ia tidak mengatakan apa pun.

Dion sudah menjawab dengan cukup meyakinkan, dan itu membuat Nenek mulai menaruh simpati. Pria ini mungkin memiliki reputasi yang buruk, tetapi tutur katanya sopan, caranya memandang Anita penuh penghargaan, dan keluarganya jelas terpandang.

Di sisi lain, dengan reputasi Anita yang telah rusak di mata masyarakat, menemukan pria baik sepertinya hampir mustahil. Jadi, meski pernikahan ini tak sempurna, bagi Nenek, ini pilihan terbaik dari yang terburuk.

Semakin lama berbincang, Nenek makin melihat sisi lain Dion yang sopan, cerdas, dan berwawasan. Tidak ada tanda-tanda gila seperti yang dikabarkan orang. Perlahan, kekhawatiran dalam hatinya surut.

Setelah percakapan berakhir, Nenek berdiri dan berkata sambil tersenyum,

“Tuan Leach, silakan beristirahat atau jalan-jalan sebentar dengan Anita. Saya akan ke dapur membantu menyiapkan makan malam.”

Begitu Nenek pergi, hanya mereka berdua yang tersisa di ruang tamu.

Suasana sejenak sunyi, lalu Dion mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Anita.

Anita menatapnya curiga. “Ini apa lagi?”

Dia sudah menerima bunga dan hadiah kecil hari ini, sekarang apa lagi?

“Ponselmu rusak,” kata Dion tenang. “Aku membelikan yang baru. Bukalah.”

Anita sempat terdiam, sedikit terkejut. Ia memang sempat menyebut hal itu sepintas, tak menyangka pria itu benar-benar memperhatikannya.

Sebagai istrinya, meski hubungan mereka penuh misteri tapi Anita tidak berniat menolak kebaikan Dion. Ia tidak pernah berpikir untuk bercerai, bahkan jika suatu hari ia harus menjadi janda, ia sudah menyiapkan hati untuk itu.

Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terbaring sebuah ponsel mewah, desain terbaru dengan warna lembut dan layar elegan.

Namun, saat ia membaliknya dan melihat ukiran di bagian belakang, matanya membulat.

Tulisan kecil berkilau di sana berbunyi: “Mrs. Leach.”

Warna ponselnya? Merah muda muda terlihat manis, mencolok, dan sama sekali bukan gayanya.

Anita menatap Dion dengan ekspresi antara jengkel dan tidak percaya.

Dion malah memandangnya penuh harap. “Bagaimana? Apa kamu suka?”

Ia membuka mulut, hendak mengatakan tidak… tapi tatapan Dion berubah.

Mata elang itu menyipit sedikit, suara rendahnya bergetar mengancam halus. “Hmm?”

Anita mengembuskan napas, menyerah.

“Baiklah… aku suka,” katanya akhirnya.

Senyum puas muncul di wajah Dion.

“Coba nyalakan, pastikan semuanya berfungsi,” katanya lembut tapi tegas.

Anita menuruti. Ponsel itu ternyata bukan ponsel biasa , layar yang cepat, ringan, dan sistemnya jauh lebih baik daripada model pasaran. Ia bisa merasakan kualitas luar biasa hanya dari sentuhan pertama.

Ketika hendak mengucapkan terima kasih, Anita melihat dari sudut mata seorang pembantu menyelinap keluar ruangan, berusaha diam-diam agar tak mengganggu.

Namun, rasa ingin tahu muncul di benaknya , pembantu itu menuju ke mana, dan kenapa wajahnya tampak panik?

---

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!