Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah murung Hawa
“Apa kamu sedang jenuh?” Adam akhirnya membuka suara. Tangannya saling bertaut di atas meja, matanya sesekali melirik wajah Hawa yang tampak murung.
“Kalau kamu bosan, mungkin besok kita bisa keluar sebentar. Jalan-jalan, atau membeli sesuatu apa saja yang kamu mau, tinggal bilang padaku.” Nada bicara Adam terdengar lebih lembut dari yang ia sadari. Gugup. Seolah ada kegelisahan yang diam-diam ia sembunyikan di balik perhatian itu.
Hawa menggeleng pelan. “Enggak, Mas.” Senyumnya tipis, hampir tak terlihat. “Aku cuma ingin Mas Harun cepat pulang.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dada Adam terasa sedikit sesak.
“Iya,” jawab Adam cepat, seolah ingin menepis perasaan yang tak seharusnya muncul. “Dia memang lagi sibuk menggantikan posisiku di Sydney. Sepertinya dua hari lagi sudah kembali.”
Hawa mengangguk. Jemarinya memainkan ujung lengan bajunya. Ada ragu di wajahnya, seperti seseorang yang ingin bicara tapi takut terdengar kekanak-kanakan.
“Hawa boleh minta sesuatu, Mas?” tanyanya hati-hati.
“Tentu. Silakan,” jawab Adam sambil meraih roti dan menggigitnya perlahan.
Hawa menarik napas dalam-dalam. “Hawa ingin Mas Harun bisa dapat cuti,” ucapnya lirih namun jujur. “Supaya kami bisa bulan madu.”
Adam berhenti mengunyah.
“Soalnya…” Hawa menunduk, pipinya sedikit memerah. “Kami belum sempat malam pertama.”
Waktu seakan membeku.
“Uhuk!” Adam terbatuk keras. Remahan roti muncrat, jatuh di atas meja. Ia buru-buru menutup mulut, dadanya naik turun menahan sesak yang bukan hanya karena tersedak.
"Belum malam pertama!" gumam Adam dengan mata sedikit melotot. Kata-kata itu menghantam kepalanya tanpa ampun
Adam meneguk air dengan tergesa, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berlari liar. Matanya tak berani menatap Hawa, takut ekspresi di wajahnya akan mengkhianati sesuatu yang bahkan tak boleh ada.
“Oh…” Adam berdeham, suaranya serak. “Begitu.”
Hawa mengangguk polos. “Hawa pikir… sebagai suami, Mas Harun pasti juga ingin itu. Tapi dia selalu sibuk.” Nada suaranya tak mengeluh, hanya jujur dan justru itu yang paling menyakitkan.
Adam menggenggam gelasnya lebih erat.
Ia ingin berkata banyak hal. Ingin bertanya, ingin marah pada keadaan, tapi tak satu pun keluar dari mulutnya. Yang ada hanya perasaan bersalah yang perlahan merambat, bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya, rasa peduli yang tak seharusnya sedalam ini.
“Ya… aku akan sampaikan ke Harun,” ucap Adam akhirnya, menahan nada agar tetap terdengar wajar.
“Bulan madu itu memang penting," ucap Adam. Hawa tersenyum. Senyum kecil, tulus, penuh harap.
“Terima kasih, Mas.”
Senyum itu sekali lagi mengguncang sesuatu di dalam diri Adam. Ia menunduk, menatap sisa roti di piringnya yang kini terasa hambar.
Malam turun perlahan, menyelimuti rumah dengan keheningan yang terlalu sunyi untuk pikiran Adam.
Lampu kamar sudah dipadamkan sejak satu jam lalu, tapi matanya masih terbuka lebar menatap langit-langit.
Ia memejamkan mata, mencoba memaksa dirinya tidur.
Malam yang masih menyisakan rasa takut kembali menghantui Adam. Namun yang muncul justru wajah Hawa dengan Nada suaranya yang polos, pipinya yang memerah.
Kalimat malam pertama, terus berputar di kepala Adam seperti gema yang menolak pergi.
Adam menghela napas panjang. Dadanya terasa berat, seolah ada beban yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Ia berbalik ke sisi kanan, lalu kiri. Percuma. Tidur tetap tak mau menghampiri.
“Ini gila…” gumamnya pelan. "kenapa aku memikirkan Hawa terus!"
Merasa sulit tidur, ia bangkit dari tempat tidur, berjalan keluar kamar dengan langkah tanpa tujuan. Rumah itu terlalu besar untuk kesunyian yang ia rasakan malam ini. Lampu ruang tengah masih menyala temaram, cukup untuk menerangi bayangan dirinya sendiri yang tampak asing di dinding.
Adam menuang segelas air, meminumnya perlahan. Tapi tenggorokannya tetap terasa kering.
Dari arah lorong, pintu kamar Hawa tampak tertutup rapat. Lampunya mati. Adam berhenti melangkah, berdiri di depan pintu kamar Hawa. Ada dorongan aneh di dadanya keinginan untuk masuk menggantikan Harun atau sekedar memastikan Hawa baik-baik saja dengan kesepiannya, sekaligus ketakutan akan apa yang mungkin terjadi jika ia terlalu dekat. Semua menjadi campur aduk.
“Aku ini kakaknya Harun, bukan Harun yang sudah menjadi resmi suaminya” bisiknya pada diri sendiri. “Aku bukan siapa-siapa baginya.” Namun suara itu terdengar lemah, kalah oleh kegelisahan yang terus merayap.
Adam kembali ke kamarnya, duduk di tepi ranjang. Tangannya meremas seprai, matanya terpejam kuat. Ia teringat bagaimana Hawa merawatnya beberapa hari terakhir, tanpa pamrih, tanpa jarak, dengan ketulusan yang tak pernah ia minta namun diam-diam ia rindukan. Dan itu yang paling berbahaya.
Adam akhirnya merebahkan diri, menatap jendela yang sedikit terbuka. Angin malam masuk membawa udara dingin, membuatnya sedikit menggigil. Adam menarik selimut hingga dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tak beraturan.
“Dua hari lagi Harun akan pulang,” gumamnya, entah sebagai pengingat atau harapan.
Kalimat itu seharusnya membuatnya lega.
Namun yang muncul justru rasa takut.
Takut bahwa kehadiran Harun akan mengakhiri sesuatu yang belum sempat dimulai bersama Hawa, sesuatu yang bahkan tak boleh ia beri nama.
Malam semakin larut.
Dan Adam akhirnya tertidur, bukan karena tenang, melainkan karena lelah melawan perasaan yang sejak awal seharusnya tak pernah tumbuh.
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menembus jendela ruang makan. Aroma teh baru diseduh menguar pelan, mengisi rumah yang masih terasa sunyi.
Hawa berdiri di dapur, mengaduk minuman hangat itu perlahan. Matanya sesekali melirik ke arah lorong kamar Adam. Biasanya, lelaki itu sudah muncul lebih awal. Tapi pagi ini, suasana terasa berbeda, terlalu sepi.
Saat Adam akhirnya keluar, langkahnya tampak kaku. Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya pucat seperti seseorang yang tak benar-benar tidur melawan hal baru yaitu perasaan yang tak seharusnya ada di hatinya.
Hawa berlari hatinya cemas dan kembali khawatir karena tadi malam dirinya tidak menemani Adam.
Begitu tiba di depan Adam, ia langsung mendekat.
“Mas baik-baik saja?” tanyanya lembut, sorot matanya penuh perhatian. “Mau Hawa masakin apa?”
Suara itu halus, hangat menyusup pelan ke hati Adam, menenangkan kegelisahan yang sejak tadi malam ia rasakan.
Adam tersenyum tipis. “Terserah kamu saja.”
Hawa berpikir sejenak. “Nasi goreng?”
“Boleh juga,” jawab Adam singkat, namun matanya tak lepas dari sosok Hawa.
Adam memperhatikan dari kejauhan bagaimana Hawa sibuk di dapur untuknya. Gerakannya cekatan namun tetap anggun, menumis bumbu, mengaduk nasi, sesekali mencicipi rasa. Aroma bawang dan kecap mulai memenuhi ruangan, menghadirkan rasa hangat yang sederhana namun menenangkan.
Tak lama kemudian, sepiring nasi goreng dan segelas air putih terhidang rapi di hadapannya, mengepul hangat dan menggugah selera. Bukan hanya karena rasanya yang menggoda, tetapi karena ada ketulusan di setiap proses yang dilakukan Hawa, sesuatu yang diam-diam membuat hati Adam bergetar.
Mereka menikmati sarapan bersama dalam keheningan yang hangat. Sesekali sendok beradu dengan piring, namun tak satu pun merasa canggung. Ada rasa nyaman yang tumbuh perlahan, tanpa disadari.
Setelah suapan terakhir, Adam menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi.
“Hari ini aku mau ke salon,” ucapnya santai.
“Kamu mau menemaniku?”
Hawa terdiam sejenak. Ada keraguan yang menyelip di wajahnya. Bukan karena ia tak ingin, melainkan karena ia tahu batas yang harus ia jaga. Ia menimbang perasaannya, lalu mengangkat wajah dengan tatapan jujur.
“Apakah nanti diizinkan Mas Harun?”
tanyanya polos, tetap menjaga harga dirinya sebagai seorang istri. Adam tersenyum. Senyum yang tenang, namun sorot matanya menelusup lebih dalam ke mata Hawa.
“Tentu saja,” jawabnya mantap.
pesen 1 yg seperti Hawa ya Allah
🤤🏃🏃🏃