Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Hati
Gedung aula jauh lebih terang dari yang Andi ingat. Lampu-lampu putih menggantung rapi, cahayanya memantul di lantai marmer yang telah dipoles bersih sejak pagi. Spanduk besar bertuliskan REUNI ANGKATAN 2008 terbentang di depan pintu—seolah menyambut setiap orang yang berani memasuki ruangan bersama masa lalunya sendiri.
Mobil berhenti di pinggir jalan. Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung turun.
Nayla duduk di sebelahnya, tangan terlipat rapi di pangkuan. Gaunnya sederhana—tidak berusaha mencuri perhatian, namun justru itu yang membuatnya tampak tenang. Rambutnya diikat setengah, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan.
“Kita masih bisa pulang,” ujarnya pelan bukan ajakan, hanya pengingat bahwa pilihan tetap ada.
“Maaf, Nay, reuni bukan tujuan utama.”
" Berarti kakak melanggar dari komitmen awal ."
" Maksudnya? "
" Sudah jelas tertera di klausal perjanjian, reuni salah satu acara dari sekian banyak acara kakak."
" Nay ..." Laki laki itu tergagap
Ia membuka pintu lebih dulu. Udara bercampur parfum dan suara tawa lama langsung menyergap.
Begitu mereka melangkah masuk, dunia seolah mengecil. Andi tahu malam ini ia bukan sekadar tamu tapi adalah tontonan.
“Woi .—Ini dia !”
“Raja Jomblo akhirnya datang!”
“Delapan belas tahun menunggu akhirnya keluar dari gua!”
Sorak tawa meledak. Ada yang menepuk bahunya terlalu keras, ada pula langsung menariknya ke tengah lingkaran.
“Lu tahu nggak,” ujar Doni salah satu temannya sebangku dulu menggenggam bahu, "di grup kita, tiap tahun selalu ada pertanyaan sama.”
“Apa?” Ia sudah bisa menebak, tapi tetap bertanya.
“Kapan Andi nikah, atau minimal… punya pacar.”
Gelak tawa kembali terdengar. Salah seorang teman perempuan berjilbab pashmina Sari, usil menyahut.“Gue dulu naksir Andi.”
" Serius lu ?" timpal Dea cewek cantik rambut sebahu. Gue juga lho !”
" Olala ...Roni pria bertubuh tegap ketua kelas mereka waktu SMA nyeletuk, " rupanya diam diam Andi favorite cewek cewek, eh sekarang tambah ganteng kaya aktor Bollywood, Shahrul Khan."
" Sayang kerjanya tukang palak."
Andi hanya tersenyum kaku melihat mereka tertawa terpingkal pingkal. Dulu ia akan menertawakan semua ini, tapi sekarang, ada sesuatu mengganjal dadanya. Ia melirik ke samping Nayla berdiri tidak jauh, berbincang ringan dengan dua orang perempuan. Sikapnya tenang, tapi Andi tahu—ia sedang membaca ruangan, menghitung risiko, menimbang kemungkinan.
“Eh, eh, eh—ini siapa?” Suara seseorang memotong suasana.
Semua mata beralih ke gadis itu. Sunyi sepersekian detik, lalu bisik-bisik kecil menyebar cepat.
Andi menarik napas dalam kali ini tidak menunggu ditanya.“Ini Nayla,” katanya dengan jelas.
" Siapa Nayla ?"tanya Doni penasaran
" Pasangan gue."Kata itu jatuh seperti batu kecil ke permukaan air—tidak meledak, tapi gelombangnya menjalar luas.
“Lha !”
“Serius ?!”
“Ndik, Lu nipu kita semua selama ini ?”
Doni menatapnya dari ujung kepala sampai kaki “Maaf ya,” ujarnya setengah bercanda, setengah kagum. “Kita nggak nyangka Andi bisa… dapet pacar.”
“Gue juga,” jawab Nayla dengan nada ringan, senyum tipis melintas di bibirnya.
Tawa pecah lagi. Kali ini tidak sepenuhnya mengejek—ada rasa kagum tulus.
“Lu kerja apa, Nay?” tanya Roni masih penasaran Kok bisa tahan sama Andi? orangnya dingin banget kaya' es batu loh.”
Gadis itu hanya tersenyum tidak menjawab,
diam lebih baik dari pada menjual cerita, cukup hadir apa adanya. Dan itu justru membuat beberapa orang terdiam.
Waktu berjalan musik berganti, minuman bertambah, cerita lama diungkit kembali. Andi ditarik ke meja lain kaya bola bekel
“Lu inget nggak,” ujar seseorang teman laki sering buat Pr bersama, “Lu nolak dikenalin sama sepupu gue sampai tiga kali?”
“Hampir semua cewek di sekolah kita lu tolak sambung yang lain. “Kami pikir lu Hombreng
Andi tertawa kecil membalas, " Sembarangan lu, Pri, buktinya gue bawa kan ?"
Kalimat itu membuat satu-dua orang terdiam. Yang lain tertawa canggung menyahut, " Lu masih inget gak dengan Siska? "
Kalimat Andi terhenti ketika mau menjawab saat pintu aula kembali terbuka. Tidak dramatis, tidak ada suara hentakan—hanya langkah sepatu yang rapi, sedikit terlambat. Seolah pemiliknya tahu: masuk di saat yang tepat lebih kuat daripada datang tepat waktu.
Beberapa kepala menoleh hampir bersamaan.
“Oh… itu dia.”
Nama itu tidak diucapkan, tapi Andi merasakannya—seperti hawa dingin tiba-tiba menyapu punggungnya.
Siska , rambutnya lebih pendek dari terakhir kali mereka bertemu. Tidak banyak berubah, tapi cukup untuk membuatnya terlihat seperti seseorang yang sudah berdamai dengan waktu—atau setidaknya berpura-pura begitu. Gaunnya sederhana dengan warna netral—tidak berusaha mencuri perhatian, tapi juga tidak menghindar.
Ia datang sendirian. Dan seperti dulu, Siska tidak mencari Andi. Justru itu yang membuat Andi langsung tahu: malam ini tidak akan sederhana.
“Eh, Siska."
“Gila, lu dateng!”
“Masih inget kita?”
Ia tersenyum, menyalami satu per satu dengan tenang, hangat, dan sopan—versi dewasa dari gadis dulu duduk di bangku depan kelas, mencatat rapi, dan selalu punya alasan untuk meminjam pulpen Andi.
Laki laki itu menelan ludah. Nayla menangkap perubahan suasana bahkan sebelum Andi sadar dirinya menegang. Bukan cemburu—lebih seperti orang mencium aroma hujan sebelum awan gelap muncul.
“Siapa?” bisiknya pelan.
“Temen lama,” jawab nya singkat terlalu singkat.
Siska akhirnya melihat mereka. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum terkejut, tidak ada drama—hanya jeda satu detik yang penuh sejarah.
“Hi, Andi,” katanya, suaranya masih sama seperti dulu: tenang dan tidak menuntut apa-apa.
“Hai, Sis,” jawabnya refleks. Nama itu keluar begitu saja.
Beberapa orang langsung menangkap sinyalnya.“Eh ini Siska” seseorang berseru terlalu keras. “Yang dulu—”
“—yang dulu naksir Andi!” sambung yang lain, tertawa tanpa ada niat apapun.
Udara berubah. Nayla tetap berdiri di sebelah nya tidak bergeser, tidak menggenggam lebih erat, tapi kehadirannya terasa seperti garis tipis ditarik jelas.
Gadis itu melirik nya tersenyum" Lu siapa ?”
“Nayla ,” Ia menyambut tangannya pelan.
“Senang bertemu dengan lu ” ujarnya menatapnya lamat. Udah berapa lama lu kenal dengan Andi?"
" Sis—”Andi memotong cepat melihat roman gadis disebelahnya memerah.
“Tenang, gue gak ada maksud lain.”
" Gue kenal dengan kak Andi satu bulan yang lalu, "balas Nayla dengan tenang, walau hatinya bergemuruh rasa yang tidak ia ketahui, " Perusahaan gue salah satu wajib pajak yang kak Andi tangani."
Andi terdiam meliriknya, bola matanya mengedip, " Dan gue tidak tahu dengan cerita kalian masa lalu."
Siska tersenyum kecil segitiga sunyi beberapa detik. Orang-orang di sekitar pura-pura sibuk, tapi telinga mereka jelas sedang mendengar.
“Lu masih… sendiri Sis?” tanya Sari terlalu tergesa-gesa.
Ia mengangguk kecil. “Iya.” Nada itu tidak sedih, tapi juga tidak ringan.
“Masih nunggu Andi kali!” canda seseorang.
Tawa muncul—setengah ragu.
Nayla tersenyum tipis. “Menunggu orang lama itu capek,” katanya lembut. karena orangnya tidak pernah benar-benar pergi.”
Kalimat itu tidak menusuk, tapi tepat sekali.
Siska menatapnya lebih lama kali ini. " Lu pintar memilih kata,” ujarnya dengan jujur. “Andi memang selalu dikelilingi orang yang tahu kapan harus diam.”
Andi merasa kepalanya berdenyut. “Sis,” katanya akhirnya, “Gue—”
“Gue tahu, lu nggak pernah janji apa-apa. Dulu juga begitu.”
Itu yang membuatnya lebih berat.
“Gue cuma—” Ia berhenti, menghela napas kecil. “Gue cuma mau bilang, senang lu datang malam ini. Dan…lu kelihatan lebih dewasa dan hidup."
" Terimakasih, Sis"
Lalu pandangannya beralih, "Jaga dia baik-baik, Nay, Andi orangnya suka menghilang tanpa pergi.”
“Dan dia sedang belajar untuk tinggal, Mba Siska.”
Sunyi kembali menghiasi ruangan. Siska tersenyum, kali ini lebih tipis. “Bagus.”
Ia melangkah pergi, kembali ke kerumunan, meninggalkan Andi dengan perasaan yang tidak bernama—bukan rindu, bukan bersalah, tapi kesadaran bahwa hidupnya benar-benar bergerak maju, dan tidak semua orang bisa mengikutinya.
“Lu marah?” tanya Andi pelan
“Enggak.”
“Kecewa?”
“Sedikit,” jawabnya dengan jujur. “Bukan sama kakak tapi waktu.”
Laki laki itu menghela napas, kepalanya semakin penuh. “Gue nggak nyangka malam ini bakal—”
“Berisik?” Nayla menyambung menatapnya dengan suara lebih rendah. “Tapi ini yang gue bilang dulu: kalau orang percaya kita nyata, masa lalu bakal datang buat mengecek.”
“Dan sekarang?”
" Sekarang giliran kakak, mau berdiri di mana?"
\=\=\=
Sesi mikrofon bebas kembali dibuka. MC berseru lantang, “Andi harus naik lagi! Kali ini bawa pacarnya!” Sorakan setuju menggema.
Nayla menoleh ke arahnya tidak mengangguk, tidak menolak—hanya bertanya dengan mata: "kakak siap?"
Andi meraih tangannya—pelan, tidak teatrikal, tapi cukup terlihat oleh semua orang. Ruangan kembali hening.
Mereka berdiri berdampingan.
“Gue nggak jago ngomong,” Andi membuka pembicaraan, suaranya lebih tenang dari sebelumnya. “Tapi malam ini gue mau jujur dengan teman teman semua.”
Ia menoleh ke Nayla sebentar. “Selama bertahun-tahun, gue pikir aman itu segalanya—tidak ribet, tidak berisik. Tapi ternyata… aman itu seringkali sepi.”
Beberapa wajah mengangguk tanpa sadar yang lain bertepuk tangan.
“Nayla tidak datang untuk mengisi kekosongan” lanjutnya. “Dia datang membuat gue berani melihat diri sendiri. Dan itu… lebih susah dari pada jatuh cinta.”
Sunyi. Lalu tepuk tangan pelan terdengar—tidak serempak, tapi tulus.
Gadis itu tertunduk, matanya sedikit berkaca kaca sebuah kesadaran sudah terlewati untuk berpura-pura.
Di luar gedung, Dio berdiri di seberang jalan. Tidak masuk, tidak punya alasan untuk masuk. Lampu aula memantul di kaca mobilnya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat bayangan orang-orang bergerak, tertawa, bersulang. Dan ia melihat Andi—lebih tepatnya, Andi yang tidak lagi mencari pintu keluar.
“Jadi lu pilih masuk,” gumamnya pelan, menyalakan rokok tanpa benar-benar menghisapnya.… kehilangan satu kemungkinan lama. “Good luck, Ndik, Lu udah tidak butuh penjaga pintu lagi.”
Dan di dalam aula, reuni belum selesai. Karena setelah tawa reda, selalu ada konsekuensi menyusul—konsekuensi dari memilih untuk hidup dengan apa adanya atau denda