NovelToon NovelToon
Jodohku Ternyata Lurah

Jodohku Ternyata Lurah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Wanita Karir / Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.

Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.

Ternyata jodoh dia adalah Lurah.

Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?

Nyok kita pantengin aja ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awur-awuran

"Kamu di mana?" Suara bariton itu menyapa telinga Azalea begitu ia mengangkat telepon. Meski nomor yang tertera di layar ponselnya masih berupa deretan angka asing yang belum tersimpan, Azalea tidak butuh waktu lama untuk mengenali pemilik suara itu.

Suara itu milik Hagia.

"Kakak?" Azalea.

"Iya. Kamu di mana, Lea? Balik yuk. Urusan aku di dalam sudah selesai. Atau kamu masih mau main ke mana gitu? Masih betah keliling-keliling?" tanya Hagia di seberang sana.

"Iya Kak, tunggu ya. Memang Kakak ada di mana sekarang? Biar aku yang ke situ, biar Kakak nggak usah jemput-jemput lagi ke dalam."

"Di sini."

Jawaban singkat itu tidak datang dari speaker ponsel, tapi langsung dari belakang punggungnya. Azalea tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya kalau saja ia tidak sigap menggenggamnya. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati Hagia sudah berdiri tegak dengan senyum tipis.

Azalea tercengang. Ia baru saja bicara di telepon, dan orangnya sudah ada di depan mata. Namanya juga perusahaan milik keluarganya sendiri, pikir Azalea. Mau Azalea sembunyi di ruang produksi, gudang penyimpanan, sampai ke pojok kantin sekalipun, Hagia pasti punya cara untuk menemukannya.

"Ih, Kakak! Kenapa sudah di belakang segala pakai telepon-teleponan? Kebanyakan kuota ya?" Protes Azalea.

"Biar kamu punya nomor telepon aku, Lea. Di-save ya, biar kalau ada apa-apa, kamu tahu harus cari siapa."

Azalea mendengus, namun tangannya sibuk mengetikkan nama Kak Hagia di kontak ponselnya. "Udah nih. Sip!" seru Azalea sambil memberikan jempol dan anggukan yang membuat Hagia kembali tersenyum.

Sebelum beranjak, Azalea berpamitan kepada Bapak yang sejak tadi menemaninya ngobrol. Si bapak itu tersenyum ramah, merasa terhibur dengan kehadiran Azalea yang ceria. Hagia kemudian maju selangkah, menyapa pria tua itu dengan sangat sopan. Wibawanya keluar seketika.

Hagia berucap dalam bahasa Jawa yang halus,

"Pak, matur nuwun sanget nggih sampun kersa ngrencangi Azalea ngobrol. Menawi babagan sanesipun, benjang kersane kula piyambak ingkang paring sumerep dhumateng piyambakipun." (Pak, terima kasih banyak ya sudah berkenan menemani Azalea mengobrol. Kalau soal hal-hal lainnya, biar nanti saya sendiri saja yang memberitahu dia.)

Si Bapak mengangguk paham sambil tersenyum penuh arti ke arah Azalea, seperti ada rahasia yang sedang disimpan rapat-rapat oleh Hagia.

Azalea sendiri tidak mengerti apa yang dibicarakan Hagia kepada bapak itu.

...***...

Perjalanan pulang dimulai. Hagia yang mengambil alih kemudi mobil milik Azalea. Tadinya Azalea sempat menawarkan diri untuk menyetir, tapi Hagia menolak dengan alasan tugas laki-laki adalah mengantar dengan selamat.

Akhirnya Azalea duduk manis di kursi penumpang sambil memperhatikan profil samping wajah Hagia yang fokus ke jalanan.

Suasana kabin mobil yang tadinya hening hanya diisi suara AC, mulai terasa sepi bagi Azalea. Ia tipe orang yang tidak betah diam lama-lama.

"Kak," panggilnya.

"Hm?" jawab Hagia tanpa mengalihkan pandangan dari aspal di depan.

"Tadi kita ke pabrik punya kamu ya? Ayo ngaku."

Hagia senyum lalu jawab, "Bukan." Tapi bibir cowok itu senyum-senyum mencurigakan.

"Bohong! Tadi karyawan Kakak, Bapak yang tadi itu bilang begitu. Masa beliau bohong sih? Nggak mungkin kan beliau bercanda soal status kepemilikan tempat kerjanya sendiri. Bener punya kamu kan, Kak?" cecar Azalea lagi.

"Bukan, Lea," jawab Hagia kalem, masih dengan bibir yang senyum-senyum mencurigakan. Ia tampak sangat menikmati ekspresi penasaran Azalea yang mulai berapi-api.

"Kamu bohong ya, Kak? Takut aku mintain pajak atau gimana sih?"

Hagia tertawa. "Nggak, Lea. Beneran, emang bukan aku yang punya."

Azalea menarik napas panjang, menunjukkan rasa frustrasinya yang sudah di ubun-ubun. Agak susah Hagia ini kalau dimintai informasi tentang dirinya.

"Kak, kira-kira ada nggak sih azab buat orang yang kalau ditanya tentang kejujuran, tapi malah muter-muter terus nggak mau ngaku?"

Hagia tidak tahan lagi. Tawanya semakin pecah. Ia tertawa lepas mendengar omelan Azalea yang menurutnya lebih mirip dongeng sebelum tidur. Namun karena Azalea tidak berhenti mengomel dan malah makin merembet ke mana-mana, Hagia melakukan sesuatu yang spontan.

Tangan kirinya melepas kemudi sejenak, lalu dengan lembut menempelkan jari telunjuknya ke bibir Azalea.

Deg.

Azalea langsung kicep. Kata-kata yang sudah sampai di ujung lidah langsung tertelan kembali. Dunia mendadak hening. Sebelum Hagia menarik tangannya kembali, entah disengaja atau tidak, ibu jari Hagia mengusap lembut bibir Azalea sepersekian detik. Gerakannya sangat pelan, seakan ia sedang menyingkirkan sebutir debu atau mungkin semut yang lewat. Atau mungkin itu hanya perasaan Azalea saja.

Sentuhan singkat itu sukses membuat hati Azalea awur-awuran. Panas menjalar ke pipinya dalam sekejap.

"Udah ngomongnya?" tanya Hagia.

Azalea hanya bisa manggut-manggut. Matanya mendadak sangat tertarik melihat pemandangan di luar jendela, pokoknya asal tidak menatap mata Hagia yang bisa bikin lututnya lemas.

"Sekarang boleh aku yang ngomong?" tanya Hagia lagi.

"Ngomong aja, kak." Jawab Azalea se renyah mungkin biar kelihatan profesional sebagai teman.

"Usaha itu memang bukan milik aku secara pribadi. Itu milik Pak Waluyo," jelas Hagia.

"Iya, tapi Pak Waluyo itu Bapak kamu kan, Kak? Ya sama aja itu mah namanya."

"Iya, bener Pak Waluyo itu Bapak aku... mertua kamu." Pas bagian mertua kamu, Hagia suaranya pelan sekali macam sedang kumur-kumur, membuat telinga Azalea menjadi budek.

"Hah? Apa tadi, Kak? Ujungnya nggak kedengeran," tanya Azalea sambil memasang telinga baik-baik.

"Nggak apa-apa. Tadi ada kucing lewat di pinggir jalan," kilah Hagia cepat, kembali fokus menyetir dengan wajah sok polos.

Mereka kembali mengobrolkan hal-hal ringan lainnya tanpa membahas kata-kata Hagia yang tidak terdengar Azalea. Tak terasa, mobil sudah memasuki area asrama tempat Azalea tinggal sementara. Hagia memarkirkan mobil dengan presisi di slot parkir yang tersedia.

Sebelum turun, Azalea teringat sesuatu. "Kak, kapan-kapan aku main ke rumah kamu ya? Masa teman nggak tahu rumah temannya di mana."

Hagia langsung menggeleng dengan wajah cengengesan. "Aduh, jangan sekarang ya. Jalan ke sana lagi dicor, nggak bisa lewat. Mobil kamu nanti nyangkut di semen basah."

Azalea menyipitkan mata. "Masa iya semua akses ditutup? Nggak mungkin warga nggak bisa lewat tanpa jalur lain. Aku kan bisa jalan kaki kalau emang dicor."

"Eh, anu... rumahnya lagi direnovasi, Lea. Berantakan banget, banyak debu. Nanti kamu sesak napas," alasan Hagia lagi.

"Nggak apa-apa. Aku kuat sama debu, lagian aku mau lihat rumahnya, bukan mau inspeksi bangunannya," balas Azalea gemas. Ia tahu betul Hagia hanya sedang mencari-cari alasan supaya ia tidak berkunjung.

Hagia terus mengeluarkan alasan-alasan lucu lainnya, mulai dari atap bocor sampai alasan ada anjing galak tetangga yang lagi sensi. Azalea yang sudah benar-benar geram sekaligus merasa lucu dengan tingkah Hagia, akhirnya memutuskan untuk memberi pelajaran.

Begitu mobil berhenti total dan mesin mati, Azalea bergerak secepat kilat. Sebelum Hagia sempat bereaksi, Azalea merunduk dan menyambar sepatu yang dilepas Hagia saat menyetir tadi.

"Lea, Mau dibawa ke mana itu?" seru Hagia.

Azalea sudah membuka pintu mobil dan melompat keluar sambil menenteng sepatu Hagia dengan wajah penuh kemenangan.

"Nyeker aja nyeker!"

Azalea berlari menuju gerbang asrama sambil tertawa puas. Hagia yang tidak menyangka akan dirampok seperti itu, hanya bisa duduk di kursi pengemudi sambil tertawa terpingkal-pingkal. Ia tidak berusaha mengejar, hanya memperhatikan punggung Azalea yang menjauh dengan rasa gemas yang luar biasa.

Akhirnya Hagia berjalan tanpa alas kaki, sama seperti pertemuan pertamanya dengan Azalea.

Maaf Azalea, aku masih mau kita seperti ini. Aku terlalu takut jika kamu tahu bahwa aku lah yang dijodohkan olehmu. Aku belum siap mendengar kamu memintaku untuk batalkan perjodohan. Apalagi kamu sudah punya pacar, dan kamu menyayangi dia. Batin Hagia.

.

.

Bersambung.

1
〈⎳ FT. Zira
adi kegeeran duluan🤣
〈⎳ FT. Zira
si Cong waspada 100%🤣
〈⎳ FT. Zira
capernya bakal sukses ini.. tapi mon maap ee dii.. Lea hanya untuk hagia seorang
aleena
huaaaa
nangis dalam bantal
dikira hagia mau nikahan sama siapa
tak taunya dirinya sendiri wanita saingan🤣🤣🤣🤣
Zenun: the real bersaing dengan diri sendiri wkwkwk
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
aku masih ngakak di bab ini 🤣🤣🤣
hati merana,gak tau nya sama dia
🤣🤣🤣🤣
Zenun: jiaaaah.... ciat ciat ciat😆
total 6 replies
Felycia R. Fernandez
ya ampun,ini calon adek ipar 😆😆😆
Zenun: ada-ada bae emang
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
Hagia kah??
Zenun: si cong
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
vote meluncur
Zenun: Terimakasih kakak
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
😍😍😍😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: bikin berdenyut2 🤣🤣
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
otornya absurd, tokohnya jadi absurd juga 🤦‍♀️🤦‍♀️
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kamu salah paham. tapi aku suka. biarkan kesalah paham ini, semakin panjang /Facepalm/
Zenun: aku pun suka kesalahan pahaman ini😄
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
iya, punya ayahmu. tapi kamu pewarisnya
Zenun: hihihi
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
heleehhhh, modus mu /Facepalm//Facepalm//Curse/
Zenun: wkwkwk
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan ternyata itu ialah nomor sang penipu /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zenun: minta kirimin pulsa ya
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
sebegitu khawatirnya hagia sama lea. apalagi itu, jika bukan cinta
Zenun: Iya betul sekali
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ooo, lebih privasi gitu maksudnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia memang menyukai mu hagia. seharusnya bukan akting yg ditunjukkan tapi kebenaran
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
fokus leaaa, fokus /Chuckle//Chuckle//Facepalm/
Zenun: sulit fokus😢
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku suka sama pikiranmu
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
nah kan, akhirnya kamu sadar lea
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!