Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warna dan kertas
Hari yang sama sore, Lila, Siti, Dina, Rian, dan Rama pergi ke pabrik cetak 'Matahari'. Pabrik itu terletak di kawasan industri kota, tapi tidak sesesak dan berisik seperti pabrik lain—ada taman kecil di depan yang dipenuhi bunga kuning, seperti namanya.
Pak Joko menunggu di pintu masuk. "Selamat sore, semuanya! Mari masuk, aku tunjukkan proses cetaknya."
Mereka memasuki ruang kerja yang bersih dan teratur. Di sana, mesin-mesin cetak besar berjalan dengan lancar, menghasilkan lembaran kertas yang dipenuhi warna-warni. Siti mata terpaku ke mesin yang sedang mencetak ilustrasi.
"Wow, keren banget! Gambarnya terlihat sangat jelas ya, Kak Dina?" ujar Siti, menarik lengan Dina.
Dina mengangguk dengan mata yang bersinar. "Ya! Warnanya juga sangat sesuai dengan sketsaku. Aku senang banget!"
Pak Joko membawa mereka ke meja kerja di sudut ruang. "Ini contoh cetakan awal yang kita buat tadi pagi. Kalau ada yang mau diubah, kita masih bisa sesuaikan sebelum cetak penuh."
Dia memberikan beberapa lembar kertas ke Lila. Di atasnya, gambar burung Kicau terlihat cerah dengan warna biru langit yang lembut, dan tulisan cerita juga sangat jelas. Lila membaca sebentar dan tersenyum. "Ini sempurna, Pak Joko. Tidak perlu diubah apapun."
Rian mengambil hpnya dan mulai merekam proses cetak. "Ini akan bagus banget buat video promosi peluncuran. Anak-anak pasti penasaran bagaimana buku mereka dibuat."
Saat itu, seorang pekerja pabrik mendekati dengan tumpukan kertas baru. "Pak Joko, kertas yang kita pesan sudah datang. Kualitasnya lebih bagus dari yang biasanya kita gunakan loh."
Pak Joko tersenyum. "Karena ini buku yang spesial—buku yang dibuat untuk menginspirasi anak-anak. Maka kita harus gunakan yang terbaik."
Mereka semua melihat pekerja memasang kertas ke mesin. Ketika mesin mulai berjalan, lembaran kertas yang kosong perlahan-lahan diisi dengan cerita dan gambar yang mereka buat bersama. Siti mengambil satu lembar kertas yang sudah dicetak dan memegangnya dengan hati-hati.
"Ini benar-benar cerita kita, ya Kak Lila. Cerita anak-anak, dengan gambar Kak Dina, dan cerita Kicau yang kita bikin bareng," bisik Siti dengan suara lembut.
Lila memeluknya. "Ya, sayang. Semua ini adalah hasil kerja sama semua orang. Tanpa siapa pun, buku ini tidak akan terwujud."
Setelah melihat semua proses cetak, mereka duduk di taman depan pabrik untuk berbicara tentang jadwal. Pak Joko mengangkat tangan. "Kita akan selesai cetak semua 500 eksemplar dalam seminggu. Kemudian kita akan bungkus dan kirim ke perpustakaan tepat waktu untuk peluncuran."
"Terima kasih banyak, Pak Joko. Kamu benar-benar menyelamatkan acara kita," ujar Rama dengan senyum.
Pak Joko tersenyum kembali. "Sama-sama. Aku senang bisa membantu. Buku yang menginspirasi anak-anak harus bisa sampai ke tangan mereka secepat mungkin."
Pulang dari pabrik, mereka berjalan ke taman dekat sekolah. Siti berlari-lari di taman, memegang contoh buku yang dicetak. Dina membuka sketsa miliknya dan membandingkannya dengan contoh cetakan. "Warnanya lebih cantik dari yang kubayangkan," ujarnya dengan senyum.
Rian menonton video yang dia rekam. "Ini video akan membuat anak-anak lebih senang datang ke peluncuran. Mereka bisa lihat bagaimana cerita mereka berubah jadi buku yang sesungguhnya."
Lila duduk di bangku bersama Rama. "Kita udah melewati banyak masalah ya, Rama. Dari masalah biaya cetakan kedua, sampai masalah pabrik yang tutup. Tapi setiap kali ada masalah, kita selalu menemukan solusi bersama."
Rama memegang tangannya. "Karena kita ada satu sama lain, Lila. Keluarga dan sahabat yang selalu saling mendukung—itu yang paling penting."
Mereka semua berdiri bersama ketika matahari mulai terbenam. Di langit, warna oranye dan merah muda menyebar, seperti warna-warni yang mereka lihat di pabrik cetak. Siti memegang tangan semua orang. "Aku tidak sabar untuk peluncuran besok minggu! Semua anak-anak pasti senang banget!"
Lila tersenyum, mata penuh harapan. "Ya, sayang. Akan ada banyak senyum dan kebahagiaan di sana—seperti yang selalu kita harapkan."