NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20_BUKAN PEREMPUAN LEMAH

Pagi datang tanpa suara.

Tidak ada sarapan bersama. Tidak ada percakapan singkat seperti hari-hari sebelumnya. Rumah Mahendra terasa lebih dingin dari biasanya, seolah ikut menyimpan sisa-sisa pertengkaran semalam.

Azka turun lebih dulu.

Kemeja putihnya rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan. Dari luar, ia tampak seperti Azka Mahendra yang biasa, tenang, dingin, dan tak tersentuh. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang belum selesai. Ia melirik ke arah tangga.

Kosong.

Nayla belum turun.

Entah kenapa, hal kecil itu membuat Azka berhenti melangkah. Ia menatap jam dinding, lalu kembali menatap tangga. Biasanya, Nayla akan turun lebih dulu. Atau setidaknya muncul sebentar, meski tanpa menyapa.

Hari ini tidak.

Azka mengambil kunci mobil, lalu berjalan keluar tanpa menunggu.

***

Di sekolah, suasana terasa janggal.

Azka berjalan menyusuri lorong dengan langkah panjang. Beberapa siswa menyapa, sebagian mengangguk hormat, sebagian lagi berbisik pelan. Ia tidak peduli. Yang ia cari hanya satu wajah.

Nayla.

Ia melihat Dani dan Sena di depan kelas, tertawa kecil sambil membicarakan sesuatu. Tapi Nayla tidak ada di sana.

“Kalian lihat Nayla?” tanya Azka tiba-tiba.

Dani dan Sena saling pandang.

“Belum,” jawab Sena jujur. “Kenapa?”

Azka menggeleng. “Nggak.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan dua gadis itu dengan ekspresi bingung.

“Kenapa dia nyari Nayla?” bisik Dani.

Sena mengangkat bahu. “Entah. Tapi kayaknya ada apa-apa.”

Azka masuk kelas. Bangku Nayla kosong. Rahangnya mengeras.

Bel berbunyi, pelajaran dimulai. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.

Nayla tidak muncul.

Azka duduk gelisah. Ia tidak pernah peduli soal kehadiran Nayla sebelumnya. Bahkan sering berharap Nayla menghilang dari pandangannya.

Tapi hari ini… berbeda.

"Dia sakit lagi? Atau…"

Pikirannya melompat ke kemungkinan yang tidak ingin ia pikirkan.

Saat pintu kelas akhirnya terbuka, Azka refleks menoleh.

Nayla masuk.

Wajahnya pucat, tapi langkahnya tegap. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada raut lelah berlebihan. Tidak ada mata sembab. Seolah pertengkaran semalam tidak pernah terjadi.

Azka menatapnya tanpa sadar. Nayla tidak melihat ke arahnya. Ia berjalan lurus ke bangkunya, duduk, membuka buku.

Tenang.

Itu yang membuat dada Azka terasa aneh. Ia berharap Nayla marah. Atau setidaknya terlihat rapuh. Tapi yang ia lihat justru kebalikannya.

Nayla terlihat… kuat.

Sepanjang pelajaran, Nayla fokus. Ia mencatat. Ia menjawab pertanyaan guru dengan suara mantap. Bahkan sesekali tersenyum kecil ketika Dani membisikkan komentar receh yang berada diseberang bangkunya.

Azka memperhatikannya diam-diam.

Tidak ada tanda-tanda gadis yang baru saja beradu argumen besar dengan suaminya. Tidak ada bekas luka emosional yang biasanya terlihat jelas pada Nayla. Dan itu mengusik.

"Sejak kapan dia bisa setenang ini?"

Saat bel istirahat berbunyi, Nayla berdiri dan keluar kelas bersama Dani dan Sena. Ia tertawa kecil ketika Sena mengeluh soal tugas.

Azka mengepalkan tangan. Ada bagian dari dirinya yang ingin menghentikan Nayla. Menariknya. Memastikan sesuatu.

Tapi ia tidak bergerak. Karena ia sadar jika ia melangkah sekarang, Nayla tidak akan diam.

***

Di kantin, Devan duduk di hadapan Azka.

“Lo kenapa?” tanya Devan tanpa basa-basi.

Azka menyuap makanannya. “Kenapa apa?”

“Dari pagi lo aneh,” lanjut Devan. “Tatapan lo kosong. Lo nyari Nayla, kan?”

Azka berhenti mengunyah.

“Itu kelihatan banget,” kata Devan. “Jangan pura-pura.”

Azka meletakkan sendok. “Urusan gue.”

Devan menyandarkan tubuhnya. “Justru karena itu gue ngomong.”

Azka menatapnya tajam. “Apa maksud lo?”

Devan menarik napas. “Gue kenal lo lama, Az. Dan gue jarang lihat lo keganggu gara-gara orang lain.”

Azka mendengus. “Lo lebay.”

“Bukan,” bantah Devan. “Lo ngerasa kehilangan kendali.”

Azka terdiam.

“Gue denger sedikit,” lanjut Devan pelan. “Tentang pertengkaran kalian.”

Azka menegang. “Dari siapa?”

“Tenang,” kata Devan cepat. “Bukan gosip. Gue cuma… lihat sikap Nayla hari ini.”

Azka tidak menjawab.

“Nayla bukan cewek lemah,” kata Devan tegas. “Dan lo baru sadar itu sekarang.”

Kalimat itu seperti tamparan.

“Dia selama ini kelihatan nurut bukan karena dia nggak punya suara,” lanjut Devan. “Tapi karena dia milih diam.”

Azka mengepalkan tangan di bawah meja.

“Dan cewek kayak gitu,” kata Devan, menatap Azka lurus, “kalau udah capek, dia nggak akan teriak. Dia pergi.”

Azka mendongak.

“Apa maksud lo?” tanyanya dingin.

“Lo pikir kemarin lo menang?” tanya Devan balik. “Enggak. Lo baru kehilangan pijakan.”

Azka berdiri tiba-tiba. Kursinya bergeser kasar.

“Lo kebanyakan ngomong,” katanya.

Devan ikut berdiri. “Gue sahabat lo. Dan gue nggak mau lihat lo nyesel.”

Azka menatap Devan lama.

“Apa lo peduli sama dia?” tanya Devan pelan.

Pertanyaan itu menggantung. Azka tidak menjawab. Karena jawaban jujurnya...menakutkan.

***

Siang itu, Nayla duduk di perpustakaan. Bukan untuk menghindar. Tapi untuk bernapas.

Ia membuka buku, tapi pikirannya melayang. Kata-kata Azka semalam masih teringat, tapi tidak lagi menusuk seperti sebelumnya. Ada rasa sakit, iya. Tapi ada juga kelegaan. Karena akhirnya, ia mengatakan semuanya.

“Nay,” panggil Dani pelan. “Lo beneran nggak apa-apa?”

Nayla tersenyum kecil. “Aku baik.”

Sena menatapnya ragu. “Lo kelihatan… beda.”

“Capek,” jawab Nayla jujur. “Tapi aku nggak mau jadi kecil terus.”

Dani mengangguk. “Bagus.”

Nayla menatap rak buku. “Aku nggak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.”

“Tapi sekarang,” lanjutnya, “aku nggak mau takut lagi.”

***

Sore hari, Azka pulang lebih awal.

Ia memarkir mobil, masuk ke rumah dengan langkah berat. Ia berharap melihat Nayla di ruang tengah. Atau dapur. Atau tangga.

Tidak ada.

“Nayla?” panggilnya.

Hening.

Ia naik ke lantai dua. Pintu kamar Nayla tertutup.

Azka berhenti di depannya. Tangannya terangkat, lalu ragu. Ia menurunkannya lagi. Ia merasa tidak punya hak untuk memaksa. Ia berdiri lama di sana, lalu berbalik pergi.

Di kamarnya, Azka duduk di tepi ranjang. Kata-kata Devan terngiang lagi.

"Nayla bukan cewek lemah."

Dan mungkin…itu sebabnya Azka takut. Karena perempuan yang tidak lemah tidak bisa dikendalikan.

Azka menyadari satu hal yang mengusik hati dan pikirannya, jika Nayla benar-benar berhenti bertahan, ia tidak tahu cara menahannya.

***

Malam datang perlahan, membawa udara dingin yang menyelinap ke setiap sudut rumah Mahendra.

Azka turun ke ruang makan sendirian. Meja panjang itu terlihat terlalu besar hanya untuk satu orang. Ia duduk, menatap piring kosong di depannya, lalu melirik jam di pergelangan tangan.

Nayla belum turun.

Biasanya, Nayla akan muncul entah untuk makan atau sekadar mengambil air. Tidak pernah benar-benar lama menghilang. Tapi malam ini, rumah terasa seperti kehilangan satu denyut.

Azka berdiri, berjalan ke dapur, lalu kembali lagi ke ruang tengah. Ia berhenti di kaki tangga, menatap ke atas.

“Nayla?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia menghela napas pelan, lalu naik beberapa anak tangga. Langkahnya terhenti di depan kamar Nayla. Lampu di dalam menyala, terlihat dari celah bawah pintu.

Azka berdiri di sana cukup lama.

Akhirnya, ia mengetuk. Satu kali.

“Nayla.”

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, lebih pelan. “Kamu udah makan?”

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka setengah.

Nayla berdiri di sana dengan sweater tipis dan rambut tergerai. Wajahnya tenang. Tidak dingin. Tidak hangat.

“Belum,” jawabnya singkat.

Azka mengangguk. “Makan.”

Nada itu masih seperti perintah, tapi tidak sekeras biasanya.

Nayla menatapnya sejenak. “Aku nggak lapar.”

Azka mengerutkan kening. “Seharian kamu di sekolah.”

“Aku makan di luar,” jawab Nayla datar.

Itu kebohongan kecil. Tapi Azka tidak tahu.

“Oh,” ucap Azka pelan.

Hening kembali tercipta.

Nayla hendak menutup pintu, tapi Azka menahan dengan tangannya.

“Aku...” Azka berhenti. Ia menarik napas. “...Aku nggak maksud ngomong kayak kemarin.”

Nayla menatap tangannya di pintu, lalu wajah Azka. “Tapi kamu tetap mengatakannya.”

Azka menelan ludah. “Iya.”

Jawaban itu jujur. Dan itu baru. Nayla tidak tersenyum. Tapi ekspresinya sedikit melunak.

“Aku cuma capek,” kata Nayla. “Aku nggak mau ribut terus.”

Azka mengangguk. “Aku juga.”

Untuk beberapa detik, mereka berdiri tanpa suara.

“Aku mau tidur,” lanjut Nayla. “Besok sekolah.”

Azka mengangguk lagi. “Iya.”

Tangannya dilepas. Pintu ditutup perlahan. Tidak dibanting. Tidak juga tergesa.

Azka berdiri sendiri di lorong, menatap pintu tertutup itu. Dadanya terasa kosong, tapi juga penuh oleh sesuatu yang tidak bisa ia namai.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!