Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasrat Yang Tak Pernah Usai
Jessica masih merasakan denyutan di kepalanya. Perlahan, ia bangkit dari tempat tidur, matanya membelalak mendapati dirinya hanya terbalut pakaian dalam.
Jantungnya berdegup kencang. Dengan gerakan panik, ia berlari ke kamar mandi, memeriksa setiap inci tubuhnya, berusaha meyakinkan diri bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi semalam.
"Sial! Aku tidak ingat apa pun," gerutunya frustrasi. Ia mencoba memutar kembali kejadian semalam dalam benaknya.
Kilasan-kilasan ingatan muncul—Hae In yang terus-menerus menyodorkan minuman padanya. Potongan-potongan memori itu bagaikan kepingan puzzle yang berserakan, dan Jessica berusaha menyusunnya satu per satu.
Terakhir yang ia ingat adalah seorang pria yang mengantarnya pulang. Pria itu memapahnya masuk ke dalam mobil, lalu menggendongnya naik ke apartemen. Ia mencoba mengingat lebih keras.
"Setelah itu apa? Aku benar-benar tidak ingat," gumamnya sambil menggosok gigi, pandangannya terpaku pada bayangannya di cermin.
Dia ingat sempat muntah, dan pria itu membantunya membersihkan diri di kamar mandi. Jessica menoleh ke arah shower.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan padaku?" tanyanya pada diri sendiri, nada suaranya dipenuhi frustrasi. Ia merasa buntu karena tidak mampu mengingat semua kejadian semalam.
Namun, satu pertanyaan terus menghantuinya: Siapakah sebenarnya pria itu?
-----------
Di tempat lain, Ninda terbangun dengan tubuh di balut selimut, Ninda mencari-cari sosok Noah di sekelilingnya.
Namun, dia tidak menemukannya. Dengan ragu, Ninda beranjak dari tempat tidur.
Sambil memeluk selimut erat-erat, ia berjalan menuju dapur.
"Apa Uncle sudah pergi?" gumamnya lirih. Matanya terus mencari-cari keberadaan Noah.
Ninda kembali ke kamar, namun usahanya tetap nihil.
Setelah itu, ia mengambil pakaian dari lemari. Dalam sekejap, ia sudah berpakaian lengkap.
Saat ia berbalik, matanya menangkap sosok Noah yang baru keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.
Jantung Ninda berdebar tak terkendali, dan rona merah menjalar di wajahnya. Ia hanya bisa terdiam, terpaku di tempatnya.
"Pagi, Ninda," Sapa Noah dengan senyum menawan.
Noah berjalan mendekat, membuat jantung Ninda semakin berpacu. Ninda salah tingkah dan berusaha menjauh, namun kakinya tersandung karpet, Ninda kehilangan keseimbangan.
Gedebuk ...
"Aww ..." rintih Ninda kesakitan.
Sepertinya kakinya terkilir. Noah segera menghampirinya, namun Ninda berusaha mendorongnya menjauh.
"Tidak, jangan mendekat!" serunya terkejut.
Tangannya tanpa sengaja menyentuh dada bidang Noah, dan dengan cepat ia menarik tangannya kembali.
Seketika, ingatan tentang apa yang telah ia lakukan semalam menyeruak dalam benaknya.
"Tidak, tidak mungkin," gumamnya lagi, menggelengkan kepala.
Noah seolah tak menghiraukan penolakan Ninda. dia langsung mengangkat tubuh Ninda dan membaringkannya di tempat tidur.
Dengan lembut, ia memegang pergelangan kaki Ninda dan mulai memijatnya perlahan.
"Akh ..." Ninda meringis kesakitan.
"Sakit?" tanya Noah khawatir.
Ninda hanya mengangguk, menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.
"Ceroboh!" ucap Noah sambil menatap Ninda yang tampak malu.
Perlahan, Noah mendekatkan wajahnya ke wajah Ninda, membelai pipinya dengan lembut, dan menatapnya dalam-dalam.
"Apa kau selalu secantik ini?" bisiknya, kata-kata itu kembali terucap dari bibirnya. Ia mulai menciumi Ninda dengan lembut.
Ninda tampak malu-malu, sangat berbeda dengan dirinya yang semalam.
"Uncle, jangan ..." ucap Ninda pelan, berusaha menghindari ciuman Noah.
"Uncle!" seru Noah, tersenyum menggoda sambil menyentuh bibir Ninda yang basah.
"Semalam kau tak berhenti memanggil namaku."
Wajah Ninda semakin memerah karena malu. Ia mengingat dengan jelas bagaimana ia terus-menerus memanggil nama Noah semalam, bagaimana ia memanggilnya saat sedang dalam keadaan seperti itu.
"Uncle, berpakaianlah. Aku tidak nyaman," ucap Ninda sambil memalingkan wajahnya.
"Gadis nakal," goda Noah. "Aku harus mengingatkanmu bagaimana cara memanggilku dengan benar." Ia mulai mendekap Ninda erat-erat.
"Seperti ini," bisiknya sambil mencium Ninda,
"Noah, hentikan," Ninda mendorong tubuh Noah menjauh.
Noah tersenyum sambil membelai rambut Ninda dengan lembut.
"Begitu baru benar," kata Noah, masih membelai rambut Ninda. "Nanti siang, kuantar kau ke fisioterapi,"
"Aku nggak kenapa-napa," Kata Ninda.
"Hey, aku mantan atlet. Aku tau cedera kaki yang membutuhkan perawatan serius," ungkap Noah sambil mencubit hidung Ninda gemas.
"Sekarang saatnya mandi." Noah mengangkat tubuh Ninda tanpa menunggu jawaban.
"Aku bisa sendiri," protes Ninda.
Noah seolah tuli tak ucapan Ninda. Dia menggendong Ninda sampai ke kamar mandi, lalu mendudukkannya di bathtub.
"Kakimu masih bengkak, jangan dipaksa untuk berjalan," ungkap Noah sambil menarik baju Ninda. Tangan Ninda kontan terangkat ke atas.
"Uncle," Ninda melotot.
Noah hanya tersenyum melepar T shuir Ninda.
Melihat Ninda seperti itu membuat hasrat Noah kembali bergejolak. Kepalanya terasa sedikit pusing.
Noah memutar keran dan mengatur suhu air.
"Bagaimana, cukup hangat?" tanya Noah.
"Masih dingin," sahut Ninda sambil menatap Noah manja.
Noah mengambil sabun cair dan spons, lalu menggosok punggung Ninda perlahan.
Ninda memejamkan matanya, tanpa ragu, Noah ikut masuk ke dalam bathtub.
"Uncle jangan, kaki ku sakit," Ucap Ninda gelagapan.
Noah bergerak perlahan, menumpahkan hasratnya pada Ninda.
------------
Noah menyaksikan Ninda yang sedang mendapat perawatan untuk kakinya.
Ninda tampak sudah bisa berjalan, meski masih harus menggunakan tongkat.
Tanpa diduga, mereka bertemu dengan Julian di tempat itu.
Julian sedang mengantar salah satu anak didiknya yang mengalami cedera.
"Julian," seru Noah sambil merangkul sahabatnya itu.
Sementara anak itu masuk ke dalam ruangan fisioterapi.
"Terima kasih untuk bantuanmu semalam," ucap Noah lagi.
Julian hanya membalasnya dengan tatapan dingin.
"Ngomong-ngomong, kau kenapa?" tanya Julian penasaran sambil menatap Ninda.
"Kakiku terkilir," jawab Ninda pelan.
"Ini bukan perbuatanmu, kan?" sindir Julian sambil melirik Noah.
"Hmm, aku hanya sedikit menggodanya," sahut Noah bercanda.
"Tapi Ada yang terlalu bersemangat," Kata Noah lagi.
Ninda melotot ke arah Noah.
"Hati-hati dengan pria ini," ucap Julian sambil menatap Ninda lagi.
Ninda hanya tersenyum malu dan menunduk.
Tiba-tiba, Noah teringat sesuatu. Ia harus mengemasi barang-barang Ninda di apartemen Jessica.
Namun, ia tidak bisa melakukannya karena harus menjaga Ninda.
Dia menatap Julian, dan sebuah ide muncul di benaknya.
"Julian, aku butuh bantuanmu sekali ini saja," pinta Noah.
Julian mulai merasa tidak nyaman. Ia bertanya-tanya masalah apa lagi yang akan menimpanya kali ini.
"Apa? Aku tidak mau lagi berurusan denganmu," ucap Julian ketus.
"Aku akan meminjamkan mobil sportku selama satu bulan," tawar Noah.
Mata Julian langsung berbinar. Tentu saja Noah tahu cara meluluhkan hati Julian.
Dan sepertinya ia berhasil. Akhirnya, Julian bersedia membantunya.
"Katakan saja apa yang kau butuhkan," ungkap Julian dengan wajah yang berubah ramah.
"Kau bisa pergi ke apartemen Jessica untuk mengemasi barang-barang Ninda di sana."
"Ke apartemen perempuan itu lagi?" sahut Julian kaget.
Noah mengeluarkan kunci mobilnya, dan Julian langsung terpancing.
"Baiklah, malam ini aku akan ke sana," putus Julian.
Awalnya, Julian ragu untuk membantu. Namun, setelah melihat kunci mobil sport itu, ia akhirnya mengiyakan.
Ninda mengirim pesan kepada Jessica, memberitahunya bahwa Julian, teman Noah, akan datang ke apartemennya untuk mengambil barang-barangnya.
Ting ... Tong
Jessica segera menghampiri pintu. Sebelumnya, ia sudah menerima pesan dari Ninda
Perlahan, Jessica membuka pintu. Sosok Julian terlihat jelas di depannya.
Jessica masih terkejut, meski sebelumnya sudah diberi tahu bahwa akan ada teman Noah yang datang.
"Boleh aku masuk?" tanya Julian.
Jessica masih terpaku, menatap sosok Julian dengan tatapan kosong.
"Kamu yang mengantarku semalam?" tanya Jessica.
"Biarkan aku masuk terlebih dahulu," ucap Julian sambil menatap Jessica dan tersenyum jahat.
Jessica menyingkir, membiarkan Julian masuk ke dalam apartemennya.
"Aku ingin tahu, apa yang terjadi semalam?" tanya Jessica ragu.
"Ya, malam yang panjang dan melelahkan," sahut Julian menggoda sambil menatap Jessica.
"Apa kau melakukan itu padaku?" tanya Jessica dengan nada serius.
"Ya, kita melakukannya beberapa kali di ruangan ini, di kamar mandi, dan di kamarmu," ucap Julian asal.
Jessica tampak syok. Ia menatap Julian dengan tatapan marah dan kesal.
"Kau mengambil kesempatan saat aku sedang mabuk. Laki-laki macam apa kau ini?"
"Maaf, Nona. Kalau kau masih ingat, kau yang memelukku, menciumku, dan memaksaku."
Jessica sekilas mengingat kejadian-kejadian itu. Apa yang dikatakan Julian persis seperti apa yang ia ingat.
Seketika, ia merasa malu pada Julian. Ia merasa dirinya sangat hina.
Memang sih, tampang Julian ganteng dan postur tubuhnya juga atletis. Ia hanya tidak menyangka kalau dirinya sememalukan itu.
"Sekarang aku mau mengemasi barang-barang milik pacarnya Noah," ucap Julian sambil menatap Jessica yang masih syok.
"Pacar?" seru Jessica kaget.
Julian hanya mengangguk pelan.
"Kau bisa mengambilnya di dalam, aku sudah mengemasnya," ucap Jessica pelan.
"Syukurlah, kau meringankan tugasku," ucap Julian.
Jessica tertunduk malu. Ia tampak sangat sedih mendengar bahwa ia melakukan hal itu dengan laki-laki yang baru dikenalnya.
Julian kemudian masuk ke dalam kamar itu dan membawa satu dus berisi buku. Ia meletakkannya sejenak.
"Hai, bisa kau bantu aku?" Ucap Julian menatap Jessica sejenak.
"Ok, baiklah" ucap Jessica pelan.
"Tolong bawakan sisanya ke dalam mobil" ucap Julian lagi , Jessica tampak melamun.
Julian menyadari akan hal itu, dia tidak tega terus mengerjai gadis itu.
"Ada yang ingin aku katakan," ucap Julian menatap Jessica dengan tatapan serius.
Jessica menoleh ke arah Julian sekarang.
"Tadi malam, tidak terjadi apa-apa," ucap Julian tersenyum.
Jessica membelalak kemudian dia berlari memeluk Julian.
"Benar kah, terimakasih," kata Jessica masih memeluk Julian.
"Ok, ok sekarang kita harus segara mengangkat barang-barang Ini,"
"Iya baik lah" Ucap Jessica ceria.
"kau harus berterimakasih pada ku, semalam keadaan mu sangat kotor, bau, dan mejijikan" ucap Julian.
"Aku juga mengepel lantai," Ungkap Julian lagi.
Jessica terkejut dia menatap Julian kagum.
"Terimakasih Julian," sahut Jessica terharu.
Mereka saling melempar senyum kemudian mengakat barang-barang milik Ninda satu persatu turun ke bawah.