Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.26
Shen Yu dan Su Ling tiba di Kota Air Hitam, sarang penjahat dan orang buangan. Shen Yu harus memanfaatkan hilangnya rasa sakitnya untuk menjadi petarung arena yang ditakuti demi membiayai pengobatan Su Ling dan membeli sumber daya kultivasi, sambil menghindari kejaran sisa-sisa Sekte Awan Putih dan musuh baru dari dunia kriminal.
Hutan belantara di perbatasan wilayah sekte terasa lembap dan membusuk. Di pinggir sungai berbatu, Shen Yu duduk bertelanjang dada di bawah sinar matahari pagi yang suram.
Di tangannya, ada jarum jahit tulang (terbuat dari duri ikan besar) dan benang yang dipintal dari serat tanaman ulet.
"Ini aneh," gumam Shen Yu datar.
Ia menusukkan jarum itu menembus kulit bahunya yang robek menganga. Ia menarik benang itu, merapatkan daging yang terpisah, lalu menusukkannya lagi.
Darah menetes, tapi wajah Shen Yu tidak berkedut sedikitpun. Tidak ada desisan menahan perih, tidak ada keringat dingin. Ia menjahit tubuhnya sendiri seolah sedang menambal baju robek.
Di sampingnya, Su Ling berbaring di atas hamparan daun kering. Wajah gadis itu merah padam, napasnya panas dan berat. Demam akibat asap racun dan kelelahan mental mulai menggerogoti nyawanya.
"Shen Yu..." racau Su Ling dalam tidurnya. "Jangan pergi..."
Shen Yu memutus benang jahitannya dengan giginya. Ia melihat hasil karyanya: jahitan yang rapi tapi mengerikan di bahu kiri dan rusuk kanan.
"Aku tidak akan pergi," jawab Shen Yu. Ia mengenakan kembali sisa jubahnya yang sudah dirobek bagian lambangnya, mengubahnya menjadi pakaian pengemis biasa.
Ia menyentuh dahi Su Ling. Panas sekali.
"Kita butuh tabib. Dan makanan," gumamnya.
Shen Yu menggendong Su Ling. Ia melihat ke arah timur, di mana asap hitam mengepul dari balik rawa-rawa bakau. Peta tua ibunya pernah menyebut tempat itu.
Kota Blackwater (Air Hitam). Zona tanpa hukum. Tempat di mana sekte ortodoks enggan menginjakkan kaki, dan sekte iblis sering bertransaksi. Satu-satunya tempat yang aman bagi buronan seperti mereka.
Gerbang Kota Air Hitam.
Kota itu dibangun di atas panggung-panggung kayu raksasa di tengah rawa yang airnya hitam berminyak. Bau amis ikan, arak murah, dan darah kering menyengat hidung.
Di gerbang kayu yang lapuk, dua penjaga bertubuh besar dengan tato tengkorak di wajah menghadang Shen Yu.
"Berhenti," geram salah satu penjaga, memainkan gada berduri. "Biaya masuk: Dua Batu Roh per kepala. Atau tinggalkan wanita itu di sini sebagai pembayaran."
Mata Shen Yu menatap penjaga itu. Kosong. Dingin. Seperti mata ikan mati.
Ia tidak punya Batu Roh. Hartanya hanyut di sungai.
"Aku tidak punya batu," kata Shen Yu pelan.
"Kalau begitu enyahlah, gembel!" Penjaga itu mendorong bahu Shen Yu yang baru saja dijahit.
DORONGAN KERAS.
Jahitan di bahu Shen Yu robek sedikit, darah merembes keluar membasahi kain.
Shen Yu menatap bahunya yang berdarah. Ia tahu itu seharusnya sakit. Sangat sakit. Tapi ia tidak merasakannya. Dan karena ia tidak merasa sakit, ia tidak merasa takut.
"Kau merusak jahitanku," kata Shen Yu datar.
Sebelum penjaga itu bereaksi, tangan Shen Yu melesat.
Cengkeraman Ular Mati.
Ia mencekik leher penjaga itu, mengangkat tubuh seberat 90 kilogram itu dengan satu tangan ke udara. Kekuatan fisiknya warisan Tubuh Baja dan sisa energi iblis jauh di atas penjaga gerbang yang hanya Pemurnian Qi Tahap 2.
"L-Lepaskan..." gagap penjaga itu, kakinya menendang-nendang udara.
Penjaga kedua menghunus pedangnya dengan panik. "Lepaskan dia atau kutebas!"
Shen Yu menoleh pelan. "Tebas saja. Tapi sebelum pedangmu sampai, leher temanmu patah."
Tatapan Shen Yu membuat nyali penjaga kedua menciut. Itu bukan tatapan orang yang menggertak. Itu tatapan orang yang tidak peduli jika dia terluka.
Shen Yu melempar penjaga pertama ke lumpur rawa.
"Aku masuk," katanya. Ia melangkah melewati gerbang sambil tetap menggendong Su Ling. Tidak ada yang berani menghalanginya lagi.
Distrik Kumuh - Klinik Tabib Hantu
Berbekal informasi dari seorang pengemis yang ia "tanya" dengan sedikit kekerasan, Shen Yu menemukan sebuah klinik reyot di gang belakang yang gelap. Papan namanya hanya bergambar tengkorak dengan jarum di kepalanya.
Di dalam, seorang pria tua bungkuk dengan satu mata kaca sedang menggerus obat. Tabib Gui (Hantu).
"Bawa dia ke meja," kata Tabib Gui tanpa basa-basi saat melihat kondisi Su Ling.
Shen Yu membaringkan Su Ling. Tabib itu memeriksa denyut nadi, membuka kelopak mata, dan mencium napas gadis itu.
"Racun Asap Api Neraka. Masuk ke paru-paru dan meridian," kata Tabib Gui. "Dia butuh Pil Pembersih Paru dan akupunktur selama tiga hari. Kalau tidak, dia akan mati besok pagi."
"Lakukan," kata Shen Yu.
"Biayanya 50 Batu Roh. Bayar di muka."
Shen Yu terdiam. 50 Batu Roh adalah jumlah yang sangat besar. Dulu di sekte, uang saku bulanannya hanya 2 Batu Roh.
"Aku tidak punya uang sekarang," kata Shen Yu. "Tapi aku bisa membayarnya dengan tenaga. Apa pun."
Tabib Gui berhenti menggerus obat. Ia memutar tubuhnya, menatap Shen Yu dengan mata sehatnya yang tajam. Ia melihat pakaian Shen Yu yang berdarah, dan cara Shen Yu berdiri tegak meski bahunya jelas-jelas terluka parah.
"Kau..." Tabib Gui berjalan mendekat, lalu tiba-tiba menekan keras luka di bahu Shen Yu dengan jari jempolnya.
Darah muncrat.
Shen Yu tidak berkedip. Detak jantungnya tidak berubah.
Tabib Gui menyeringai lebar, memperlihatkan gigi emasnya. "Menarik. Sangat menarik. Tubuhmu rusak, tapi saraf rasamu mati. Kau adalah boneka daging yang sempurna."
Tabib Gui kembali ke mejanya. "Aku butuh bahan-bahan langka. Dan aku butuh uang. Di kota ini, uang tercepat didapat di Arena Bawah Tanah."
Ia melempar sebuah token besi berkarat ke Shen Yu.
"Pergilah ke Kandang Besi di pusat kota. Gunakan token ini untuk mendaftar sebagai petarung budak atasku. Menangkan tiga pertarungan malam ini. Jika kau hidup dan membawa uangnya, aku akan selamatkan gadismu."
Shen Yu menangkap token itu.
"Tiga pertarungan," ulangnya.
"Ya. Dan ingat," Tabib Gui menatap Su Ling yang menggigil. "Gadis ini aku sandera. Jika kau lari, dia jadi bahan eksperimenku."
Shen Yu menatap wajah damai Su Ling sejenak, lalu membelai rambutnya pelan.
"Tunggu aku," bisiknya.
Shen Yu berbalik dan berjalan keluar menuju kegelapan malam Kota Air Hitam. Tidak ada rasa sakit di tubuhnya, yang ada hanyalah rasa dingin di hatinya.