Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Debu peperangan perlahan mengendap di Aula Agung Aethelgard. Meski cahaya telah membelah kegelapan Malakor, suasana di dalam istana jauh dari kata damai. Bau belerang masih menyengat, dan dinding-dinding marmer yang dulu megah kini dipenuhi retakan serta noda hitam bekas sihir bayangan.
Raja Alaric terduduk di singgasananya, wajahnya tampak jauh lebih tua dalam semalam. Di sampingnya, Ratu Elara terus menggenggam tangan Aurora, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, putrinya akan kembali ditarik oleh takdir yang kejam.
Ketujuh pangeran berdiri dalam lingkaran, masing-masing dengan kondisi yang memprihatinkan. Benedict menyandarkan tubuh besarnya pada pilar yang retak, darah masih merembes dari bahunya. Fabian dan Gideon duduk di anak tangga singgasana, napas mereka masih berat setelah pertempuran yang menguras seluruh tenaga mereka.
"Kemenangan ini terasa pahit," suara Alistair memecah keheningan. Ia menatap tumpukan debu hitam di tempat Raja Malakor hancur tadi. "Kita memang menghancurkan tubuhnya, tapi aku tidak merasa kegelapan ini benar-benar musnah."
"Apa maksudmu, Kak?" tanya Aurora pelan. Ia menatap Pulpen Cendana Emas di tangannya yang kini terasa sangat berat, seolah menyimpan beban yang belum terungkap.
Caspian, yang sejak tadi memeriksa sisa-sisa reruntuhan di sekitar singgasana, memanggil mereka. "Lihat ini. Malakor bukan hanya datang untuk takhta. Dia mencari sesuatu yang lain."
Di bawah singgasana yang sedikit bergeser akibat ledakan cahaya tadi, terdapat sebuah lubang rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh Raja Alaric sekalipun. Di dalamnya terdapat sebuah peti perak kecil yang tertutup segel kuno Noxvallys.
"Segel ini... ini adalah segel pengikat jiwa," bisik Evander, wajahnya memucat. "Malakor tidak menggunakan kekuatannya sendiri untuk menyerang kita. Dia menggunakan energi yang ia curi dari tempat ini."
Raja Alaric berdiri dengan gemetar. "Peti itu... itu adalah barang milik kakekmu, Aurora. Ia terkubur di sana selama puluhan tahun. Kami mengira itu hanyalah berisi sejarah keluarga."
Saat Alistair mencoba menyentuh peti itu, tangannya langsung terpental oleh percikan listrik ungu. "Hanya Aurora yang bisa membukanya," ucap Alistair sambil menatap adiknya. "Hanya cahaya dari tiga permata yang bisa mematahkan segel ini."
Aurora melangkah maju. Dengan hati yang berdebar, ia mengarahkan pulpen cendananya ke arah peti tersebut. Tiga permata, Safir, Berlian, dan Zamrudbersinar redup, lalu sebuah cahaya putih mengalir keluar dan menghancurkan segel perak itu.
Klik.
Peti itu terbuka, namun isinya bukan emas atau permata. Di dalamnya terdapat selembar perkamen tua yang tampak seperti kulit manusia, dan sebuah botol kecil berisi cairan hitam yang terus bergerak seperti makhluk hidup.
Caspian mengambil perkamen itu dan membacanya. Matanya membelalak. "Ini... ini adalah perjanjian darah. Malakor bukan hanya menculik Aurora delapan belas tahun lalu untuk balas dendam. Dia melakukannya karena Aurora adalah satu-satunya kunci untuk membangkitkan 'Sang Penghancur Dunia' yang terkubur di bawah tanah Aethelgard."
Seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Kebenaran yang lebih gelap baru saja terungkap.
"Jadi," suara Gideon bergetar, "perang tadi... itu hanya gangguan? Pengalih perhatian?"
"Benar," sahut Caspian. "Malakor tahu dia akan kalah jika berhadapan dengan cahaya Aurora. Dia sengaja membiarkan dirinya hancur agar jiwanya bisa masuk ke dalam botol ini dan menyatu dengan inti bumi kerajaan kita."
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar hebat. Gempa bumi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya mengguncang seluruh istana. Dari arah jendela, mereka melihat tanah di alun-alun kota mulai terbelah. Sesuatu yang sangat besar dan kuno sedang mencoba merangkak keluar dari perut bumi.
"Morena!" teriak Darian sambil menunjuk ke sudut aula.
Morena, yang tadi pingsan, kini berdiri dengan mata yang sepenuhnya hitam. Tubuhnya melayang beberapa inci dari lantai. Suaranya bukan lagi suaranya, melainkan suara ganda suara Morena yang bercampur dengan geraman Malakor yang sudah mati.
"Kalian pikir ini sudah berakhir?" Morena tertawa gila, suaranya menggema di seluruh penjuru aula. "Cahaya Aurora memang kuat, tapi cahaya butuh bayangan untuk ada. Dengan darah yang tertumpah di medan perang tadi, gerbang bawah tanah telah terbuka! Aethelgard akan menjadi kuburan bagi kalian semua!"
Morena melepaskan gelombang energi yang mendorong ketujuh pangeran hingga terjepit ke dinding. Ia melesat ke arah botol kecil di tangan Caspian dan merebutnya.
"Jangan!" teriak Aurora.
Morena menenggak cairan hitam di dalam botol itu. Seketika, tubuhnya mulai berubah. Kulitnya pecah-pecah mengeluarkan cahaya ungu, dan sayap bayangan raksasa tumbuh dari punggungnya. Ia kini menjadi wadah bagi seluruh sisa kekuatan Malakor dan entitas kuno yang terbangun.
"Kita harus menghentikannya sebelum dia mencapai sumur energi di bawah istana!" teriak Alistair sambil berusaha berdiri meskipun tubuhnya kesakitan.
"Gideon, Fabian! Jaga Ayah dan Bunda!" perintah Alistair. "Benedict, Caspian, Darian, Evander... bersamaku! Kita harus membentuk formasi naga untuk memberikan waktu bagi Aurora!"
"Apa yang harus aku lakukan, Kak?" tanya Aurora panik.
"Kau harus masuk ke dalam pikiran Morena," ucap Evander cepat. "Dia masih ada di dalam sana. Cari sisa kemanusiaannya. Hanya dengan menghancurkan tekadnya, kita bisa menghentikan transformasi ini!"
Pertempuran kedua yang jauh lebih mengerikan pecah di dalam aula. Morena, yang kini telah berubah menjadi monster setengah manusia setengah bayangan, menyerang dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan pilar-pilar batu hanya dengan satu kibasan tangan.
Benedict dan Alistair bertarung di garis depan, menahan hantaman sayap bayangan Morena. Darian dan Fabian melepaskan serangan kombinasi api dan angin untuk mengalihkan perhatiannya. Sementara itu, Caspian dan Evander merapal mantra pelindung agar istana tidak runtuh sepenuhnya.
Aurora mencoba memusatkan kekuatannya. Ia memejamkan mata dan mengarahkan tongkatnya ke arah jantung Morena. “Morena! Dengarkan aku! Kau hanya diperalat oleh Malakor! Hentikan ini!”
Melalui koneksi sihirnya, Aurora berhasil masuk ke dalam ruang kesadaran Morena. Di sana, ia melihat Morena yang asli sedang meringkuk di pojok ruangan yang gelap, menangis dan ketakutan, dikelilingi oleh rantai-rantai hitam Malakor.
"Pergi! Jangan lihat aku!" teriak jiwa Morena di dalam sana. "Aku membencimu! Kau memiliki segalanya, sementara aku hanya memiliki kegelapan ini!"
"Kau tidak memiliki kegelapan, Morena! Kau memilihnya karena kau takut!" Aurora mendekati jiwa Morena. "Aku memaafkanmu atas semua yang kau lakukan padaku di Noxvallys. Aku memaafkanmu karena telah mencoba membunuhku. Tapi kumohon, jangan biarkan dia menghancurkan rumah kita!"
Jiwa Morena tertegun. "Kau... memaafkanku? Setelah aku mencambukmu? Setelah aku membiarkanmu kelaparan?"
"Karena kita sama-sama korban Malakor, Morena. Mari kita akhiri ini bersama."
Di dunia nyata, tubuh Morena mulai mengejang. Energi ungu yang keluar dari tubuhnya mulai tidak stabil.
"Beraninya kau memberontak, Gadis Bodoh!" teriak suara Malakor dari dalam mulut Morena.
"INI TUBUHKU!" teriak Morena dengan suaranya yang asli.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh ketujuh pangeran. Mereka secara serentak menyerang Morena, bukan untuk membunuhnya, tapi untuk memecahkan cangkang sihir bayangan yang menyelimutinya.
"SEKARANG, AURORA!" teriak Alistair.
Aurora melepaskan seluruh energi dari tiga permata sekaligus. Cahaya itu tidak berbentuk ledakan, melainkan berbentuk aliran lembut yang masuk ke dalam tubuh Morena, membasuh kegelapan dari dalam ke luar.
Ledakan cahaya putih bersih memenuhi aula. Saat cahaya itu memudar, Morena jatuh terjerembap ke lantai, kembali ke wujud manusianya, namun rambutnya kini telah berubah menjadi putih perak—tanda bahwa ia telah menggunakan seluruh energi hidupnya.
Botol hitam itu hancur berkeping-keping.
Suara geraman dari bawah tanah perlahan meredup dan menghilang. Ancaman Sang Penghancur Dunia kembali tertidur, terkunci oleh pengampunan yang diberikan Aurora.
Suasana aula menjadi sangat sunyi. Morena tergeletak tak berdaya, napasnya tersengal. Raja Alaric mendekati gadis yang pernah ia anggap sebagai putrinya itu dengan tatapan yang sangat rumit.
"Apa yang harus kita lakukan padanya, Ayah?" tanya Gideon pelan. Ia sudah tidak merasa marah, hanya rasa kasihan yang mendalam.
Raja Alaric menatap Aurora. "Dia telah melakukan kejahatan besar. Namun, tanpa bantuannya di saat terakhir tadi, kita semua mungkin sudah hancur. Aurora, apa keputusanmu sebagai Putri Mahkota?"
Aurora melihat Morena yang kini tampak rapuh dan tak berdaya. "Dia tidak bisa tetap tinggal di sini sebagai putri. Tapi dia juga tidak pantas mati di tangan kita. Biarkan dia hidup dalam pengasingan di biara suci di ujung pegunungan. Biarkan dia menghabiskan sisa hidupnya untuk menebus kesalahannya pada rakyat Aethelgard."
Alistair mengangguk setuju. "Keputusan yang bijak, Aurora."
Namun, di tengah kelegaan itu, Alistair menyadari sesuatu. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Ada sebuah tanda hitam kecil yang muncul di sana tanda yang sama dengan milik Malakor.
Alistair segera menutup tangannya dengan sarung tangan besi, namun wajahnya tampak tegang. Rahasia baru telah muncul. Perang mungkin telah berakhir di permukaan, namun kutukan Malakor tampaknya belum sepenuhnya pergi dari darah keluarga Valerius.
"Kak Alistair? Kau baik-baik saja?" tanya Aurora, memerhatikan perubahan ekspresi kakaknya.
"Aku baik-baik saja, Aurora," jawab Alistair dengan senyum yang dipaksakan. "Hanya sedikit lelah. Mari kita bantu rakyat memperbaiki kota ini. Fajar yang sesungguhnya baru saja dimulai."
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.