Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 PANDANGAN YANG TEDUH
Langkah Ammar terhenti tepat di depan pintu kamar Queen.
Suasana di dalam kamar begitu sunyi, hanya suara napas kecil yang teratur. Di atas ranjang, Queen tertidur lelap wajahnya masih sedikit pucat, namun alisnya tak lagi berkerut menahan sakit.
Di sampingnya, Sari duduk bersandar di sandaran tempat tidur, satu tangan memeluk tubuh kecil itu dengan penuh kehati-hatian. Kepalanya sedikit tertunduk, matanya terpejam, jelas kelelahan setelah seharian berjaga.
Pemandangan itu membuat dada Ammar terasa sesak. Ada getaran aneh di hatinya perasaan yang sulit ia definisikan. Hangat. Tenang. Sekaligus perih.
Ia melangkah masuk perlahan, nyaris tanpa suara. Namun lantai kayu yang berderit pelan tetap membangunkan Sari.
“Tuan...” Sari tersentak bangun, refleks hendak berdiri.
“Tidak,” Ammar segera mengangkat tangan. “Tetap di situ.”
“Maaf… aku sudah membangunkan kamu,” ucap Ammar lebih pelan, nadanya berbeda dari biasanya.
“Tidak apa-apa, Tuan,” jawab Sari cepat, berusaha menegakkan duduk. “Saya memang belum berniat tidur.”
Ammar mendekat, pandangannya tertuju pada Queen. Tangannya terulur, menyentuh kening putrinya dengan lembut.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Ammar lirih, seolah takut suaranya membangunkan Queen.
Sari menoleh ke arah anak itu, sorot matanya penuh perhatian. “Sudah mendingan, Tuan. Tadi Nona habis makan bubur, lalu minum obat. Makanya tidurnya nyenyak.”
Ammar mengangguk pelan. Ia lalu tanpa sadar mengangkat tangannya dan mengelus puncak kepala Sari. Gerakan itu spontan. Dan membuat Sari membeku.
“Terima kasih,” ucap Ammar tulus, suaranya bergetar halus.
“Terima kasih karena kamu sudah menjaga Queen dengan sangat baik.”
Sari menunduk cepat, menahan degup jantungnya yang tiba-tiba tak beraturan.
“Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan,” jawabnya lirih.
Namun Ammar tahu. Itu bukan sekadar tugas.
Ia bisa melihatnya dari cara Sari memeluk Queen, dari cara ia berjaga tanpa mengeluh, dari tatapan penuh kasih yang tak pernah dibuat-buat.
Ammar menarik napas panjang, lalu melangkah mundur. “Kalau begitu… kamu istirahatlah di sini. Aku akan di ruang kerja. Kalau Queen bangun, panggil aku.”
“Baik, Tuan.” Jawab sari
Ammar melirik Sari sekali lagi sebelum keluar. Ada sesuatu di dadanya yang terasa semakin berat.sebelum pergi ammar menyempatkan mencium kening sari dengan lembut.
Sari kaget.. ia menoleh kearah queen yang sedang tertidur " Tuan.. kenapa kamu bersikap seperti ini " Gumam sari dalam hati.
...----------------...
Sore menjelang malam.
Langit di luar berubah jingga, lalu perlahan gelap.
Pintu depan rumah terbuka. Sabrina akhirnya pulang.
Langkahnya terdengar cepat dan kesal. Begitu melihat pelayan yang lewat, Sabrina langsung bertanya dengan nada tinggi,
“Di mana Ammar?”
“Di ruang kerja, Nyonya.”
Tanpa menjawab, Sabrina langsung melangkah menuju kamar Queen.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan di dalam kamar itu.
Sari masih di sana. Duduk di samping ranjang Queen, menggenggam tangan kecil itu saat Queen tidur.
Wajah Sabrina langsung mengeras. “Apa-apaan ini?” suaranya meninggi.
Sari tersentak kaget. Ia segera berdiri dan menunduk.
“Nyonya… Nona Queen masih demam, jadi...”
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi sari " kamu seenaknya berada di kamar anakku?” potong Sabrina tajam.
“Kamu ini pembantu atau apa?” Bentak sabrina
Sari menunduk lebih dalam. pipinya terasa perih “Saya hanya menjalankan tugas, Nyonya.”
“Menjalankan tugas?” Sabrina tertawa sinis.
“Menjalankan tugas sampai membuat suami dan anakku lebih memilih kamu daripada aku?”
Ucapan itu menusuk.
Sari menggeleng panik. “Tidak, Nyonya. Saya tidak pernah... ”
“Tidak apa?” Sabrina mendekat, menuding Sari.
“Queen menangis karena kamu. Ammar membelamu karena kamu. Sekarang kamu tidur di kamar anakku?”
“Cukup.”
Suara itu membuat Sabrina menoleh. Ammar berdiri di ambang pintu. Wajahnya dingin. Rahangnya mengeras.
“Ammar,” ujar Sabrina cepat, nadanya langsung berubah lembut.
“Kamu lihat sendiri kan? Pembantu ini sudah melewati batas. Dia membuat Queen manja, membuat Queen bergantung padanya.”
Ammar melangkah masuk. Pandangannya tajam menatap Sabrina.
“Queen manja karena ibunya jarang ada,” jawab Ammar datar “Bukan karena Sari.”
“Itu tidak adil!” sergah Sabrina.
“Aku bekerja untuk masa depan keluarga kita!”
“Lalu meninggalkan anakmu sendirian saat demam?” Ammar membalas dingin.
Sabrina terdiam sejenak, lalu menghela napas dramatis. “Aku hanya pergi sebentar. Lagi pula ada Sari di rumah.”
“Justru itu masalahnya,” ucap Ammar pelan, namun penuh tekanan.
“Kamu merasa aman meninggalkan Queen karena tahu Sari akan ada.”
Sabrina menoleh ke arah Sari dengan tatapan penuh kebencian.
“Kamu lihat? Bahkan sekarang dia memutarbalikkan keadaan. Aku yakin dia sengaja membuat Queen sakit agar terlihat berjasa.”
Wajah Sari memucat.
“Apa?” Ammar menatap Sabrina tak percaya.
“Kamu menuduh sejauh itu?”
“Kenapa tidak?” Sabrina bersedekap.
“Wanita seperti dia tahu caranya mengambil hati. Pura-pura polos, pura-pura setia.”
“Nyony... ” Sari mencoba bicara, namun suaranya tercekat.
“Keluar,” potong Ammar tegas.
Sabrina menoleh. “Apa?” Kaget sabrina
“Aku bilang keluar,” ulang Ammar, suaranya dingin membeku.
“Ini kamar Queen. Kamu membuat suasana tidak tenang.”
Sabrina tertawa kecil, pahit. “Kamu mengusirku demi pembantu?”
“Aku melindungi anakku,” jawab Ammar tanpa ragu.
“Dan kamu sedang membuatnya tidak aman.”
Queen bergerak kecil di ranjang, mengerang pelan.
Ammar langsung mendekat, menepuk lembut punggung putrinya.
“Sudah… Papah di sini,” bisiknya.
Sabrina menatap pemandangan itu dengan mata memerah bukan oleh penyesalan, melainkan amarah.
“Baik,” ucapnya dingin.
“Kalian semua sudah memilih.”
Sabrina berbalik dan melangkah keluar kamar dengan langkah keras.
Pintu tertutup.
Hening kembali menyelimuti kamar Queen.
Sari berdiri kaku, tangannya gemetar.
Ammar menoleh padanya. Tatapannya melembut, namun penuh kelelahan.
“Kamu tidak salah,” ucap Ammar pelan.
“Dan aku minta maaf… karena kamu harus berada di tengah semua ini.”
Sari menunduk, air mata menggenang namun tak jatuh.
“Saya hanya ingin Nona Queen baik-baik saja, Tuan.”
Ammar mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari
Wanita yang selama ini ia sebut pembantu, justru adalah orang yang paling menjaga hatinya… dan hati anaknya.
Ammar berdiri membelakangi jendela kamar. Lampu kamar tak sepenuhnya menyala, hanya cahaya temaram yang membuat bayangan wajahnya tampak lebih keras dari biasanya.
Sabrina melangkah mendekat, mengenakan gaun tipis yang sengaja ia pilih. Tangannya menyentuh lengan Ammar, jemarinya merayap perlahan seperti biasa cara yang selama ini selalu berhasil.
Namun malam ini berbeda. Ammar menepis tangan itu. “Jangan,” ucapnya datar.
Sabrina terdiam sejenak, lalu memaksakan senyum.
“Ammar… kita jangan bertengkar lagi. Aku capek. Kamu juga capek. Kita..” Bujuk Sabrina " Aku sangat merindukanmu ammar "
Sabrina mencoba mencium dan membuka kancing kemeja ammar namun...
“Cukup,” potong Ammar pelan, namun tegas.
Ia menoleh, menatap Sabrina lurus tanpa emosi yang biasa ia miliki. Tatapan itu membuat jantung Sabrina berdebar tak karuan.
“Mari kita bercerai.”
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
lembek🙃
kaulah ,...bodoh!
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...