NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Malam itu, setelah drama besar di rumah keluarga Surya, langit seolah ikut tumpah. Hujan deras mengguyur kota, mengiringi perjalanan pulang Dewa dan Aira di atas motor tua yang sesekali terbatuk-batuk.

Aira memeluk pinggang Dewa dengan sangat erat, kepalanya bersandar di punggung suaminya. Dewa bisa merasakan napas Aira yang terasa tidak biasa, napas itu terasa sangat panas menembus kemeja batiknya yang basah.

Begitu sampai di kontrakan, Aira tidak lagi memiliki kekuatan untuk berdiri tegak. Saat kaki mungilnya menyentuh lantai teras yang dingin, lututnya goyah.

"Aira!" Dewa dengan sigap menangkap tubuh istrinya sebelum menyentuh semen.

Wajah Aira pucat pasi. Bibirnya yang biasanya tersenyum kini berwarna keunguan dan bergetar hebat. Dewa menyentuh kening Aira dan seketika ia tersentak. Panasnya luar biasa, seolah ada api yang sedang membakar tubuh wanita itu.

"Mas... aku hanya... hanya sedikit pusing," gumam Aira dengan suara yang nyaris hilang, sebelum matanya terpejam sepenuhnya.

Dewa panik. Perasaan bersalah menghantam dadanya seperti godam besar. Ia tahu ini bukan hanya karena hujan. Ini adalah akumulasi dari kelelahan Aira bekerja lembur di katering, tekanan batin karena dihina keluarganya sendiri, dan ketakutan akan status pernikahan mereka yang diklaim tidak sah oleh Nyonya Widya.

Aira telah memberikan segalanya untuk membela Dewa, hingga tubuhnya sendiri menyerah.

Dewa membaringkan Aira di atas kasur busa tipis di kamar mereka yang sempit. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengganti pakaian Aira yang basah kuyup dengan daster bersih, lalu menyelimutinya dengan kain apa pun yang bisa ia temukan.

Di dunia aslinya, Dewa tinggal menjentikkan jari untuk memanggil tim dokter pribadi terbaik di negeri ini. Namun malam ini, ia terputus dari dunianya. Ibunya telah memblokir akses komunikasinya dengan Bara dan membekukan semua asetnya sebagai hukuman karena telah melawan di depan umum.

Dewa kini benar-benar menjadi 'Dewa si kuli bangunan' pria yang hanya memiliki beberapa lembar uang di sakunya dan cinta yang meluap di dadanya.

"Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-napa, Aira," bisik Dewa.

Dewa bergegas ke dapur kecil mereka. Ia menghidupkan kompor satu tungku, berniat membuatkan bubur. Masalahnya, Dewa tidak pernah menyentuh alat dapur seumur hidupnya. Baginya, makanan adalah sesuatu yang tersaji sempurna di atas meja kristal.

Ia menatap butiran beras di dalam kaleng kecil. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencuci beras itu berkali-kali, lalu memasukkannya ke panci dengan air yang terlalu banyak. Ia menyalakan api, lalu duduk di lantai dapur sambil sesekali mengaduk beras itu dengan canggung.

Asap mulai mengepul, dan beberapa kali air rebusan itu meluap mengenai tangannya, namun Dewa tidak peduli. Ia hanya memikirkan Aira.

Setiap sepuluh menit, ia kembali ke kamar. Ia mengambil handuk kecil, mencelupkannya ke baskom berisi air hangat, lalu memerasnya untuk mengompres dahi Aira.

Ia melakukan itu berulang kali, tanpa henti. Ia tidak tidur. Ia duduk di lantai di samping tempat tidur, menggenggam tangan Aira yang panas, seolah ingin memindahkan demam itu ke tubuhnya sendiri.

Pukul dua pagi, bubur buatannya akhirnya jadi. Bentuknya tidak karuan, sedikit gosong di bagian bawah, namun Dewa mencicipinya dengan penuh harap. Rasanya hambar, tapi baginya, ini adalah masakan paling penting yang pernah ia buat.

"Aira... bangun sebentar, Sayang. Makan sedikit ya," Dewa membantu Aira bersandar di tumpukan bantal.

Aira membuka matanya sedikit, pandangannya kabur. Ia melihat sosok Dewa yang tampak sangat berantakan, rambutnya kacau, bajunya penuh noda jelaga dapur, dan matanya merah karena menahan kantuk.

"Mas... maaf merepotkan," isak Aira pelan saat Dewa menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya.

"Sstt... jangan bicara. Makan saja," Dewa tersenyum lembut, meski hatinya perih melihat istrinya serapuh ini.

Dewa terus merawat Aira sepanjang malam. Setiap kali Aira merintih kedinginan, Dewa akan memeluknya dari samping, memberikan kehangatan tubuhnya sendiri untuk melawan menggigilnya Aira.

Ia tidak memikirkan lagi soal takhta Pradipta Group, soal saham yang anjlok, atau soal ancaman ibunya. Di dalam kamar sempit yang bocor di beberapa sudut itu, Dewa menemukan makna hidupnya yang sesungguhnya.

Menjelang subuh, panas tubuh Aira mulai sedikit turun, namun ia mulai meracau dalam igauannya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Dewa yang baru saja memejamkan mata di sampingnya langsung tersentak bangun.

Aira mulai terisak dalam tidurnya. Air mata mengalir dari sudut matanya yang tertutup.

"Mas... Mas Dewa..." bisik Aira, suaranya sangat serak dan penuh kepedihan.

Dewa mendekatkan telinganya ke bibir Aira. "Iya, Sayang? Aku di sini. Mas di sini."

Aira menggelengkan kepalanya dengan gelisah, tangannya meraba-raba di atas kasur seolah mencari sesuatu untuk berpegangan. Dewa segera menangkap tangan itu dan menggenggamnya erat.

"Mas, jangan pergi..." racau Aira. Isakannya semakin dalam, dadanya kembang kempis menahan sesak. "Tolong... jangan jadi orang kaya itu. Aku takut..."

Dewa membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar igauan itu.

"Aku tidak peduli kalau kita miskin, Mas..." Aira terus menangis, air matanya kini membasahi bantal. "Aku tidak butuh pesawat itu. Aku tidak butuh gedung-gedung itu... Aku hanya ingin Mas Dewa... Mas yang tulus... Jangan tinggalkan aku hanya karena uang..."

Aira meremas tangan Dewa dengan sisa tenaganya, seolah ia sedang mencoba menahan Dewa agar tidak terbang menjauh ke dunianya yang megah. "Jangan pergi... Mas... aku takut mereka mengambilmu dariku..."

Dewa terpaku. Kalimat Aira menembus jantungnya lebih dalam dari pedang mana pun.

Ia menyadari bahwa Aira sebenarnya sudah mulai curiga, dan ketakutan terbesar wanita itu bukanlah kemiskinan, melainkan kenyataan bahwa suaminya mungkin milik dunia yang sangat berbeda, dunia yang akan memisahkan mereka.

Dewa memeluk kepala Aira, mencium keningnya berkali-kali dengan air mata yang mulai menggenang di matanya sendiri.

"Aku tidak akan pergi, Aira," bisik Dewa dengan suara serak. "Aku janji. Biarpun aku punya dunia, dunia itu tidak ada artinya tanpa kamu."

Pagi harinya, saat Aira mulai siuman dalam keadaan yang lebih stabil, ia dikagetkan oleh suara ketukan pintu yang sangat keras.

Dewa yang baru saja tertidur di lantai langsung terbangun. Saat pintu dibuka, bukan Bara yang datang, melainkan dua orang pria berbadan tegap yang mengenakan seragam polisi.

"Saudara Dewa?" tanya salah satu polisi dengan wajah serius.

"Iya, saya sendiri."

"Anda kami tahan atas dugaan pemalsuan identitas dan penipuan dokumen pernikahan berdasarkan laporan dari Nyonya Widya Pradipta dan Tuan Surya. Silakan ikut kami ke kantor sekarang juga."

Aira yang masih lemah di tempat tidur, mencoba bangkit dengan gemetar. "Mas... apa ini? Polisi?" Dewa menatap Aira dengan pandangan yang hancur, sementara polisi mulai memborgol tangannya.

Apakah ini akhir dari sandiwara Dewa, atau awal dari kehancuran yang sebenarnya bagi Aira?

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!