NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serpihan Masa Lalu yang Terluka

Dapur penginapan pagi itu masih menyisakan aroma kayu manis dan uap teh yang menari-nari di udara.

Cahaya matahari yang masuk melalui celah ventilasi tampak seperti pilar-pilar emas yang menembus debu halus yang beterbangan.

Senja masih berdiri di sana, menatap pintu tempat Arunika menghilang, ketika sebuah suara berat membuyarkan lamunannya.

"Eh, Nak Adit. Masih di sini?"

Kakek berdiri di ambang pintu dapur, tangannya memegang cangkir keramik kosong. Matanya yang teduh menatap Senja dengan binar kebijaksanaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah kenyang memakan asam garam kehidupan.

Kakek berjalan perlahan menuju kompor, menyalakan api kecil untuk memanaskan air kembali.

"Iya, Kek. Tadi baru selesai membantu Ika menyusun bahan-bahan dari pasar," jawab Senja sopan, mencoba menyembunyikan rasa kikuknya.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih tidak keruan karena tatapan dingin Arunika tadi.

Kakek tersenyum kecil, lalu melangkah menuju meja kayu besar di tengah dapur yang permukaannya sudah halus dimakan usia.

"Terima kasih banyak ya, Nak Adit, sudah mau repot-repot membantu cucu Kakek. Anak itu memang begitu.

Dia jarang sekali mau minta bantuan orang lain. Seolah-olah ada benteng besar yang dia bangun sendiri, seakan dia tidak mau berhutang budi atau merepotkan siapa pun."

Senja mengernyitkan dahi. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil dalam kemandirian yang berlebihan itu.

"Kenapa begitu, Kek? Bukankah manusia memang tempatnya saling membantu? Apalagi di tempat setenang ini."

Kakek menarik sebuah kursi kayu yang berderit halus saat digeser, suara kayu yang beradu dengan lantai itu seolah menjadi pembuka tabir sebuah rahasia.

"Mari, duduk dulu sebentar. Kakek mau menyeduh teh lagi. Kamu mau?"

"Gak usah, Kek, terima kasih," jawab Senja sambil menarik kursi di hadapan Kakek. "Tapi, kalau boleh tahu... kenapa Ika bisa sedingin itu? Maksud saya, dia tampak sangat menjaga jarak dengan orang baru. Seperti ada ketakutan yang disembunyikan di balik wajah datarnya."

Kakek menyesap tehnya perlahan, membiarkan uap panasnya membelai wajahnya yang mulai keriput.

Di luar, suara dahan pohon yang bergesekan ditiup angin terdengar seperti bisikan masa lalu yang ingin ikut bicara.

"Mungkin karena masa lalu, Nak. Hidup tidak selalu ramah pada semua orang. Ada hati yang terbentuk dari pelukan hangat, tapi ada juga hati yang mengeras karena terlalu sering dihantam badai.

Terkadang, seseorang memilih menjadi dingin bukan karena dia jahat, tapi karena dia terlalu lelah terluka oleh api," lanjut Kakek dengan suara rendah yang mengandung kesedihan mendalam.

Suasana dapur mendadak menjadi sangat serius. Suara jam dinding kuno yang berdetak di pojok ruangan terdengar seperti detak jantung yang melambat.

Senja merasa dadanya sedikit sesak, rasa ingin tahunya kini bercampur dengan rasa prihatin yang mendalam. Ia merasa sedang berdiri di depan sebuah pintu besar yang terkunci rapat tanpa kunci.

"Ika punya trauma masa kecil yang cukup berat," lanjut Kakek dengan suara rendah. "Orang tuanya meninggal saat dia masih sangat kecil dalam sebuah kecelakaan.

Dia tumbuh dengan banyak luka yang tidak terlihat oleh mata. Dulu, dia sering diperlakukan buruk oleh orang-orang di sekitarnya.

Dunia seolah tidak memberinya ruang untuk merasa aman, sehingga dia belajar untuk melindungi dirinya sendiri dengan cara yang paling sunyi: menutup diri."

Senja terdiam. Ia merasa iba, sangat iba.

Namun, ingatannya yang tumpul—mungkin karena terlalu lama hidup di hingar-bingar kota—sama sekali tidak mampu menghubungkan cerita Kakek dengan sosok anak kecil laki-laki yang dulu sering merundung seorang gadis kecil di tanah lapang.

Senja telah benar-benar lupa pada dosa masa kecilnya, terkubur di bawah tumpukan kenangan kota yang bising dan ambisi masa muda.

Ia hanya melihat Arunika sebagai gadis penginapan yang misterius, bukan sebagai korban dari kebodohannya di masa lalu yang kini kembali menghantui.

Tiba-tiba, langkah kaki terburu-buru yang beradu dengan lantai kayu terdengar semakin dekat.

Arunika masuk kembali ke dapur dengan wajah yang sedikit memerah, napasnya sedikit memburu. Ia berhenti tepat di samping meja, tangannya menyambar dompet kulit kecil yang tertinggal di atas rak kayu dekat jendela.

Namun, telinganya sempat menangkap beberapa patah kata terakhir dari Kakek yang menggantung di udara.

"Kakek! Apa-apaan sih?" suara Arunika meninggi, membuat Kakek dan Senja tersentak di kursi masing-masing. "Kenapa Kakek menceritakan masa lalu Ika kepada orang asing?"

Matanya yang biasanya dingin kini berkilat penuh amarah dan luka yang kembali menganga.

Ada genangan bening yang tertahan di sudut matanya, menunjukkan betapa rapuhnya dia di balik kemarahan itu.

Ia kemudian beralih menatap Senja dengan tajam, sebuah tatapan yang membuat Senja merasa menjadi orang paling bersalah di dunia.

"Dan kamu! Kenapa kamu kepo banget sih sama urusan orang? Memangnya urusanku ada manfaatnya buat hidupmu? Apa semua orang kota memang begini, suka mengorek luka orang lain hanya untuk bahan obrolan?"

"Ika, bukan begitu maksudku... aku hanya ingin mengenalmu lebih baik," Senja mencoba membela diri dengan suara yang bergetar, namun Arunika sudah membalikkan badan dan berlari keluar dapur setelah menyambar dompetnya. Suara langkah kakinya yang menjauh meninggalkan keheningan yang menyesakkan.

Kakek hanya bisa menghela napas panjang, kembali menyesap tehnya yang mulai mendingin.

Bahunya tampak sedikit melorot, memikul beban rasa bersalah karena telah membuat cucunya marah. "Anak itu... kenapa sekarang jadi sensitif sekali ya?" gumam Kakek lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Senja menunduk dalam, menatap gurat-gurat kayu di meja yang tampak seperti labirin tanpa jalan keluar.

Ia merasa sangat bersalah. "Maaf ya, Kek. Gara-gara rasa penasaran saya, Kakek jadi bermasalah dengan Ika. Saya benar-benar lancang dan tidak tahu diri."

Kakek menggeleng pelan, meletakkan tangannya yang hangat di atas punggung tangan Senja. "Tidak apa-apa, Nak Adit. Kamu tidak perlu minta maaf secara berlebihan.

Kakek juga heran, biasanya dia tidak seemosional ini. Dia memang dingin, tapi jarang meledak seperti tadi. Mungkin kehadiranmu memicu sesuatu yang dia sendiri belum paham.

"Terkadang, sesuatu yang terlupakan justru yang paling menyakitkan saat tersentuh kembali."

Hati Senja tidak tenang. Bayangan mata Arunika yang berkaca-kaca karena marah terus menghantuinya. Ia tahu ia telah melampaui batas yang seharusnya tidak ia injak.

Rasa prihatin kini berubah menjadi keinginan kuat untuk memperbaiki keadaan. "Kek, saya izin menyusul Ika sebentar.

Saya harus minta maaf secara langsung. Saya tidak mau tinggal di sini dengan perasaan bersalah yang mengganjal."

Kakek hanya mengangguk, membiarkan pemuda itu pergi membawa niat tulusnya.

Senja menemukan Arunika sedang duduk di bawah pohon damar yang besar di sisi jauh taman penginapan, tempat yang paling tersembunyi dari keramaian.

Angin berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan damar yang kokoh hingga menjatuhkan beberapa tetes embun yang tersisa di daunnya ke atas rumput yang mulai mengering.

Arunika duduk memeluk lututnya, menatap lurus ke arah batang pohon yang kasar, seolah sedang mencari jawaban dari retakan kulit kayu di depannya.

Senja mendekat dengan sangat hati-hati, berusaha agar injakan kakinya di atas daun kering tidak terdengar seperti ancaman. "Ika..."

"Ngapain kamu ke sini? Mau kepo lagi? Belum puas mendengar cerita Kakek?" ketus Arunika tanpa menoleh sedikit pun.

"Boleh aku duduk sebentar? Aku janji tidak akan bertanya apa-apa lagi," Senja bertanya lembut, suaranya nyaris tenggelam dalam desau angin.

Tanpa menunggu jawaban pasti, ia duduk di atas rumput dengan jarak dua meter dari Arunika—memberinya ruang pribadi yang cukup.

"Aku ke sini cuma mau minta maaf. Aku benar-benar menyesal karena sudah terlalu banyak ikut campur urusan pribadimu.

Aku tidak bermaksud membuatmu marah, apalagi membuatmu sedih." lanjut Senja dengan suara yang tulus.

Arunika tetap diam, matanya berkedip pelan. Pundaknya yang tadi tegang perlahan mulai turun, meskipun bibirnya masih terkatup rapat.

"Aku cuma merasa... kamu orang baik. Dan aku ingin berteman denganmu. Tapi aku sadar, caraku salah dan terkesan mendesak," lanjut Senja lagi.

Ia menatap lurus ke depan, menghormati privasi Arunika dengan tidak menatapnya langsung.

"Aku janji, setelah ini aku tidak akan ikut campur lagi. Aku tidak akan bertanya-tanya soal masa lalumu kepada siapa pun. Aku akan menghargai batasanmu."

Senja menarik napas panjang, merasakan aroma damar yang khas merasuk ke paru-parunya. Ia menatap langit yang tertutup rimbunnya daun damar, memikirkan betapa kecilnya manusia di hadapan alam yang megah.

"Tapi aku mohon, semoga setelah ini kita bisa lebih baik. Aku cuma pengin kita bisa berteman selama aku di sini. Aku tidak punya niat buruk sedikit pun, Ika."

Arunika tetap tidak bersuara, hening yang panjang menyelimuti mereka berdua selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya.

Hingga akhirnya, ia memberikan anggukan kecil yang sangat halus—nyaris tidak terlihat jika Senja tidak memperhatikannya dengan saksama.

Wajahnya masih terlihat kesal dan lelah, namun amarah yang meledak di dapur tadi sudah mulai surut, berganti dengan kelelahan emosional yang terlihat jelas di kantung matanya.

Senja berdiri perlahan, merapikan celananya dari sisa rumput yang menempel.

Ia menyadari bahwa kehadirannya saat ini mungkin justru menambah beban pikiran gadis itu dan ia tidak ingin memaksa lebih jauh. "Aku balik ke kamar dulu ya. Kamu butuh waktu untuk tenang. Sekali lagi, maaf ya, Ika."

Senja melangkah pergi dengan langkah yang berat, meninggalkan Arunika dalam kesunyian hutan kecil itu yang kini hanya ditemani suara gesekan daun.

Di sepanjang jalan menuju kamarnya, pikiran Senja berkecamuk hebat.

Ia tidak menyadari bahwa di bawah pohon damar itu, Arunika masih menatap punggungnya yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.

Di hati Arunika, ada peperangan besar antara benci, takut, dan rasa asing yang menghangatkan.

Ia merasa Adit sangat mengganggu dan berbahaya bagi ketenangannya, namun di sisi lain, kehangatan dan ketulusan yang dibawa pemuda itu terasa begitu akrab—terlalu akrab hingga membuatnya takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Arunika menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya pada batang pohon damar. Ia memejamkan mata, membiarkan angin sore menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.

Ia takut jika suatu saat nanti, benteng tinggi yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun akan runtuh hanya karena sebuah permintaan maaf yang tulus dan senyum manis pemuda kota itu.

Angin sore kembali berdesir lebih kencang, membawa guguran daun yang menari-nari liar di udara sebelum jatuh ke bumi, seolah sedang menertawakan dua jiwa yang sebenarnya terikat oleh benang merah masa lalu, namun kini terpisahkan oleh dinding lupa yang tebal dan luka yang masih basah.

Takdir sedang merajut sesuatu, dan tak satu pun dari mereka tahu pola apa yang akan terbentuk di akhir nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!