Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Baru Sang Playboy
Hari itu kantin Uwikerta lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena hujan tipis di luar membuat banyak mahasiswa memilih bertahan di dalam. Kirana, Maya, dan Sari kebetulan mendapatkan meja favorit mereka di pojok dekat jendela setelah menunggu hampir sepuluh menit.
Maya baru saja selesai mengambil nasi goreng dari stan langganan. Sari memesan mie ayam. Kirana seperti biasa hanya es teh manis dan risol mayo.
“Eh, lo denger gak berita terbaru?” Maya memulai dengan mata berbinar.
Kirana mengunyah risolnya malas. “Apa lagi?”
“Tentang si Bima. Cowok teknik mesin yang pernah nabrak lo itu.”
Kirana mendengus. “Yang bau oli itu?”
“Iya. Ternyata dia playboy, Kira. Suka gonta-ganti pacar.”
Sari yang sedang menyedot mie ayamnya mengangkat alis. “Serius?”
“Serius banget. Gue dengar dari Kak Irwan, senior himpunan teknik mesin. Katanya Bima udah ganti pacar empat kali dalam setahun. Jurusan beda-beda. Semua putus dalam waktu singkat. Tiba-tiba dia dingin, chat dibaca tapi gak dibales, kalau ketemu pura-pura gak kenal.”
Kirana mengangkat bahu. Matanya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
“Emang pantes,” kata Kirana sambil mengambil risol lagi. “Cowok kaya dia mah keliatan gak bener dari awal. Cuek, kasar, gak pernah minta maaf. Ya cocok aja jadi playboy.”
Maya menatap Kirana agak heran. “Kok lo tenang banget sih? Biasanya lo kalau denger gosip kaya gitu pasti heboh.”
“Biasa aja. Udah gue duga dari pertama kali liat mukanya.”
Sari tersenyum kecil. “Lo emang suka nebak-nebak orang, Kira.”
“Bukan nebak. Cari aman aja. Gue tuh orangnya gak mau ribet urusan cowok kayak dia.”
Maya memiringkan kepala. “Tapi kok lo kaya dendam banget sih sama dia? Udah berapa minggu kejadiannya, masa masih lo bawa-bawa terus? Ntar lama-lama suka baru tau rasa lo.”
Kirana hampir menyemburkan es tehnya. “Hah? Dendam? Gue gak dendam. Gue cuma... gak suka. Itu aja.”
“Ya sama aja. Lo terlalu sering mikirin dia padahal lo bilang gak peduli.”
“Gue gak mikirin dia, Ya. Gue cuma mengamati. Itu beda.”
Sari menimpali pelan, “Mengamati juga bentuk kepedulian, Kira.”
Kirana meletakkan gelasnya agak keras. “Ya ampun, kalian berdua kok malah bela dia sih? Lo lupa dia nabrak gue? Lo lupa dia gak pernah minta maaf?”
Maya mengangkat kedua tangan. “Gue gak bela dia. Gue cuma bilang lo tuh keliatan banget keselnya. Mungkin lo perlu move on dari rasa benci itu.”
“Gue gak perlu move on dari apa pun karena gue gak pernah suka dia. Malah gue bersyukur gue gak suka sama orang kayak dia. Ogah gue suka sama cowok bau oli, kotor, dan acak-acakan kaya dia. Kaya gak ada cowok lain aja. Iww.”
Maya terkekeh. “Yee, gitu-gitu dia salah satu cogan tertampan di kampus lho, Kira.”
Kirana mengerutkan dahi. “Cogan? Dia?”
“Iya. Lo kagak liat apa? Tinggi, ganteng, mukanya bersih walau kadang kena oli. Tapi dia keren banget, tahu gitu. Terus juga gagah lagi. Banyak cewek yang naksir dia, sayang aja kelakuannya kurang bener.”
Kirana menatap Maya dengan alis terangkat tinggi. “Wah, wah, wah. Jangan-jangan elu lagi yang suka sama dia, Maya?”
Maya tersenyum sedikit canggung. Jarinya mulai memainkan ujung rambut.
“Iya sih sebenernya... cuma kan lo tau sendiri, gue udah punya pacar. Dan gue sayang banget sama pacar gue. Jadi ya cuma sebatas naksir dikit. Wajar dong sebagai cewek liat cowok ganteng.”
“Naksir dikit tapi tahu detail wajahnya bersih, badannya tinggi, gagah, keren. Lo mah naksir berat, Ya.”
“Ya enggaklah. Gue setia sama pacar gue.”
Sari hanya tersenyum sambil mendengarkan, lalu kembali fokus ke makanannya tanpa menunjukkan ekspresi khusus.
Kirana menghela napas. “Sudahlah, gak penting. Yang penting gue gak akan pernah dekat sama orang kayak Bima. Playboy, cuek, bau oli. Udah tiga alasan cukup buat gue jauhin dia.”
Belum sempat Maya menjawab, tiba-tiba suasana kantin berubah. Dari pintu masuk, terdengar gemuruh suara cewek-cewek yang mulai berbisik-bisik. Beberapa mahasiswa menoleh ke arah pintu. Kirana tanpa sadar mengikuti arah pandangan mereka.
Seorang cowok tinggi masuk ke kantin. Dia masih berpakaian rapi seperti kemaren pada saat sedang di Kampus.
Dia memakai kemeja lengan panjang putih bersih, lengan disingsingkan rapi sampai siku. Celana bahan hitam, sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya ditata rapi, sedikit disisir ke belakang. Wajahnya bersih, tidak ada noda sedikit pun. Dari jarak beberapa meja, aroma parfum yang samar-samar tapi wangi tercium saat dia berjalan.
Bima.
Dia terlihat seperti model yang baru turun dari majalah.
Dua cewek dari meja depan langsung berdiri. “Bim, boleh foto bareng?” salah satu dari mereka bertanya dengan senyum lebar.
Bima mengangguk kecil. Wajahnya tetap datar, tidak ada senyum, tapi dia bersedia. Beberapa cewek lain ikut mengerumuni. Ponsel diangkat. Kamera berbunyi. Suara tawa kecil dan bisik-bisik terdengar dari berbagai sudut.
“Ganteng banget hari ini, Bim!”
“Wangi banget, pakai parfum apa sih?”
Bima tidak menjawab. Setelah selesai difoto, dia berjalan ke stan bakso tanpa ekspresi, seperti tidak peduli dengan kerumunan di belakangnya.
Maya menutup mulut dengan tangan. “Nah, tuh. Lo liat sendiri. Dia tuh kaya gitu kalau lagi rapi.”
Sari ikut memandang sekilas, lalu kembali makan dengan tenang.
Kirana melengos. Wajahnya berubah sedikit jijik, ditambah ekspresi tidak percaya.
“Apa banget dah selera cewek-cewek kampus sini. Gak banget. Itu aja dikereuin.”
Maya terkekeh. “Ya elah, Kira. Lo tuh gak bisa liat ketampanan orang. Padahal jelas-jelas dia ganteng.”
“Ganteng mah banyak. Tapi kelakuannya? Playboy, cuek, sombong. Gak cukup ganteng buat nutupin semua itu.”
Maya menatap Kirana dengan senyum setengah serius. “Gua pegang ya ucapan lu. Awas lu kalo suka ama dia nanti. Gue bakal ingetin lo terus.”
Kirana mendengus keras. “Ga bakal. Gue bisa jamin. Gue punya harga diri, Ya. Masa iya gue jatuh cinta sama cowok playboy bau oli. Udah, stop bahas dia. Gue muak.”
Maya mengangkat bahu. “Siap. Tapi gua catat ya perkataan lo.”
Sari hanya tersenyum tipis sambil menyedot es jeruknya dan segera menikmati makan siang.
Kirana mengambil risol terakhir di piringnya. Matanya sempat melirik sekilas ke arah stan bakso, tempat Bima sedang duduk sendirian dengan mangkuk bakso di hadapannya.
Teman teman Bima tidak datang karena ada urusan di bengkel mesin yang harus mereka selesaikan. Sementara Bima sudah tidah tahan lagi karena sudah kepalang lapar makanya dia izin duluan ke kantin. Wajahnya tetap datar, tidak menoleh ke mana pun, tidak menggubris cewek-cewek yang masih sesekali melirik ke arahnya.
Kirana mengalihkan pandangan.
“Dasar,” gumamnya pelan.
Maya mendengar. “Apa?”
“Gak ada. Makan tuh.”
Di luar kantin, hujan tipis mulai reda. Tapi suasana di dalam masih hangat dengan bisik-bisik tentang Bima yang hari ini tampil beda.
Kirana tetap pada pendiriannya.
Tidak akan pernah.