NovelToon NovelToon
Warisan Darah Sang Mafia

Warisan Darah Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.

Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.

Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.

Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.

**RED ASHES SEASON II**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan yang Sama

Suara musik klasik mengalun pelan di ballroom hotel mewah itu. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya ke ratusan tamu yang memenuhi ruangan.

Gelas wine beradu, tawa kecil terdengar di berbagai sudut.

Di tengah keramaian itu, Alessandro berdiri dengan jas hitam sempurna, dan raut wajah yang dingin.

Semua mata sesekali mengarah padanya, bukan hanya karena ia muda. Tapi karena dalam beberapa bulan terakhir, namanya mulai naik terlalu cepat.

Pebisnis muda, berbahaya, dan entah kenapa, ia begitu menakutkan.

"Pak Alessandro."

Seorang pria tua menghampiri sambil tersenyum tipis.

Alessandro menoleh sekilas, "Direktur Han," ucapnya datar.

Pria tua itu mengangguk sopan, tetapi sorotan matanya berbeda. Terlalu lama memperhatikan wajah Alessandro, seolah ia sedang memastikan sesuatu.

"Maaf kalau saya lancang," katanya pelan. "Tapi setiap kali melihat anda, saya selalu teringat akan seseorang."

Alessandro diam, akhir-akhir ini sudah terlalu sering kalimat itu muncul. Dan ia mulai membencinya.

"Siapa?" tanyanya dingin.

Pria itu tersenyum kecil, "Leonardo Valerio."

Nama itu lagi, Alessandro langsung menatap pria itu dengan tatapan dingin.

"Sepertinya anda salah orang."

"Tidak," mata pria itu menyipit pelan. "Tatapan itu begitu sama."

Tatapan yang sama, bukan wajah, dan bukan suara.

Cara melihat dunia seperti semua orang hanyalah bidak, yang bisa dipindahkan kapan saja.

Dan Alessandro tahu, ia mulai menyadari itu dalam dirinya sendiri.

"Permisi," ucap Alessandro sambil pergi, sebelum pria itu bicara lebih jauh.

Namun langkahnya terhenti, ketika dua pria asing berdiri di depan lorong keluar ballroom.

Tubuh besar, tatapan dingin, dan jelas itu bukan tamu biasa. Salah satu dari mereka membuka jalan.

"Bos kami ingin bicara."

"Aku tidak tertarik dengan bos kalian."

"Tapi ini tentang Leonardo Valerio."

Nama itu seperti bayangan yang terus mengejarnya ke mana pun ia pergi.

Alessandro menghela napas pelan, "Baiklah, hanya lima menit."

Lorong VIP hotel terasa lebih sunyi dibanding ballroom utama, karpet merah gelap membentang panjang dengan lampu temaram di sisi dinding.

Di ujung lorong, seorang pria duduk santai di sofa kulit, sambil memainkan cincin perak di jarinya.

Viktor Karev.

Tatapan tajam itu langsung tertuju pada Alessandro begitu ia datang. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.

"Sekarang aku paham, kenapa mereka mulai takut padamu."

"Aku tidak punya waktu untuk permainan tua seperti ini."

Viktor tertawa kecil, "Cara bicaramu juga sama."

Alessandro mulai muak mendengar kalimat itu. Sama seperti Leonardo. Mirip ayahmu. Tatapan yang sama.

Seolah dirinya hanyalah bayangan seseorang, yang bahkan hampir tidak ia kenal.

"Apa maumu yang sebenarnya?" tanyanya dingin.

Perlahan Viktor bangkit, "Mauku adalah, melihatmu lebih dekat lagi."

Tatapan pria itu bergerak memperhatikan Alessandro dari kepala hingga kaki. Seperti predator yang sedang menilai mangsanya.

"Atau mungkin... melihat versi Leonardo yang lebih sempurna," ucap Viktor sambil tersenyum tipis.

Pengawal Alessandro langsung bersiaga, tetapi Alessandro mengangkat tangan, menyuruh mereka untuk tetap diam.

Matanya tertuju pada Viktor, "Kalau kamu datang hanya untuk bicara omong kosong, aku akan pergi."

"Omong kosong?" Viktor mendekat satu langkah. "Dunia bawah sedang bergerak lagi karena keberadaanmu."

"Aku bukan bagian dari dunia itu."

Viktor tersenyum sinis, "Saat ini mungkin memang belum, masalahnya darah Valerio tidak pernah benar-benar hilang."

Untuk pertama kalinya, Alessandro tersenyum tipis, namun senyum itu begitu dingin, berbahaya, dan Viktor langsung menyadarinya.

Di detik itulah senyum Viktor perlahan melebar, karena ia melihat sesuatu yang dulu hanya dimiliki Leonardo. Sisi gelap yang perlahan mulai bangkit.

"Nah," gumam Viktor lirih. "Tatapan itu benar-benar sama, aku sangat merindukan tatapan itu."

Alessandro melangkah mendekat sampai jarak mereka nyaris sejajar, "Aku tidak suka diatur oleh siapa pun."

Viktor tertawa pelan, "Dan Leonardo dulu selalu mengatakan itu, sebelum menghancurkan seseorang."

Ketegangan memenuhi lorong sempit itu, namun anehnya Alessandro tidak mundur dan tidak takut.

Justru ada sesuatu dalam dirinya yang terasa hidup, saat menghadapi pria seperti Viktor.

Sesuatu yang membuat nadinya berdenyut lebih cepat, dan itu membuat muak pada dirinya sendiri.

"Jangan pernah membandingkan aku dengan."

Tatapan Viktor berubah lebih gelap, "Kamu salah, aku bahkan mulai berpikir bahwa kamu bisa lebih buruk dari ayahmu."

Kalimat itu seharusnya terdengar seperti hinaan, tapi entah kenapa, sebagian kecil dalam diri Alessandro justru malah menikmatinya.

Malam semakin larut, saat Alessandro pulang. Rumah besar itu sunyi, ia membuka pintu ruang kerja, dan mendapati Nadira sedang duduk sendirian dengan lampu redup menyala di sampingnya.

Perempuan itu terlihat pucat, lelah, dan ketika melihat Alessandro wajahnya langsung berubah cemas.

"Kamu ketemu siapa lagi?"

Alessandro melempar jasnya ke sofa, "Semua orang ternyata mengenal Leonardo."

Nadira membeku, "Ale, siapa yang..."

"Mereka bilang aku sangat mirip dengan dia," potong Alessandro cepat.

Nadira perlahan berdiri, "Apa yang mereka katakan itu semua tidak penting."

"Kalau begitu, kenapa mama merasa takut?"

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi, Alessandro menatap lekat ibunya.

"Setiap nama Valerio muncul, Mama selalu terlihat panik, apa dia seburuk itu?'

Nadira memalingkan wajah, dan itu cukup menjadi jawaban dari pertanyaannya.

Alessandro tertawa kecil, "Kenapa mama diam?

"Dia bukan orang yang harus kamu ikuti, Ale."

"Kenapa begitu? Aku bahkan tidak mengenalnya."

"Tapi darahnya ada di dalam tubuhmu!" teriak Nadira.

Napas Nadira mulai terengah, matanya terlihat dipenuhi ketakutan lama, yang belum pernah hilang.

"Dengarkan mama," bisiknya lirih. "Dunia itu sudah menghancurkan manusia sedikit demi sedikit, sampai mereka tidak sadar kapan mereka sudah berubah menjadi monster."

Alessandro diam, namun kata-kata Viktor kembali terngiang di kepalanya.

"Versi Leonardo yang lebih sempurna."

"Dan kalau aku memang sudah seperti dia, bagaimana?" tanyanya pelan.

Nadira langsung menatapnya, ada ketakutan besar di mata perempuan itu. Ketakutan seorang ibu yang merasa sedang kehilangan anaknya secara perlahan.

"Jangan bicara seperti itu, Ale."

Tetapi Alessandro justru tersenyum samar, senyum yang asing dan dingin. Persis seperti seseorang yang selama ini berusaha Nadira lupakan.

Dan saat melihat senyum itu, tubuh Nadira langsung melemah. Karena untuk sesaat, ia seperti melihat Leonardo berdiri di hadapannya.

Di tempat lain, Viktor duduk dalam ruangan gelap, sambil menatap layar monitor.

Foto Alessandro terpampang besar di sana, salah satu anak buahnya berdiri di belakang.

"Menurut anda, apa dia benar-benar cocok menjadi penerus Valerio?"

Viktor tersenyum tipis, tatapannya penuh obsesi yang aneh. "Aku sudah melihat banyak orang mencoba menjadi Leonardo."

Ia mengambil gelas whiskey, lalu memutarnya perlahan. "Dan semuanya gaga," lanjutnya.

Monitor memperlihatkan wajah Alessandro yang dingin di ballroom tadi malam. Tatapan tajam, rahang keras, senyum tipis yang penuh ancaman.

Viktor terkekeh pelan, "Tapi anak itu... dia tidak mencoba untuk menjadi Leonardo. Karena monster itu memang sudah ada di dalam dirinya."

1
fitryfirna
semngat dek comelku..🥰
Leo Virella: mkasih akaa😚😚
total 1 replies
fitryfirna
ahhh nanggung banget upx thor.🤭lgi seru2 baca eh udah abis aj ayuk semagat untk up selanjutx🥰
Vie
aahhh.... akhirnya nongol juga lanjutanya.... 🥰🥰🥰🥰
Vie
lanjut kak.... makin seru aja... penasaran aku.... 👍👍👍
viandranovel
saling mampir bg 🙏
fitryfirna
lnjut dek🥰
Vie
lanjut kak 👍👍👍👍🤭🤭🤭🤭🤭
Vie: sama2 kak.... ceritanya seru juga.... 👍👍👍👍tetap semangat ya kak.... 👍👍👍
total 2 replies
fitryfirna
luar biasa dek🥰
Leo Virella: Mkasih kak😉
total 1 replies
Lovelynzeaa🌷
kak ada romance nya nggak kak? buat Alessandro jatuh cinta sama perempuan yg hatinya benar" lembut kak, agar dia nggak jdi seperti ayahnya
Leo Virella: Insya allah nanti di season 3 ya kak😉🙏🙏
total 1 replies
Vie
lanjut kak....
fitryfirna
keren dek keren pake banget 😘🥰
Vie
dan itu tidak bisa diubah sampai kapanpun... darahnya ada ditubuhmu.... dan kamu tidak bisa mengelak hal itu.....
Vie
kalau aku jadi kamu.... aku akan mencari diseluruh ruangan cctv tersembuyi itu... karena dengan dia tahu apa yang sedang kamu lakukan dimanapun kamu berada, berarti kamu telah diawasi 24 jam penuh, dan itu bisa ketahuan kalau itu ada diruangan makan ada kamera pengintai disitu...... bukanya hanya membiarkan semua itu terjadi dengan datangnya ancaman2 itu sudah pasti terbukti adanya....
fitryfirna
is is is makin seru aja thor🥰
Vie
iiihhhh.... jadi greget deh.... lanjut kak..... 👍👍👍👍👍👍
fitryfirna
bangun dekk lanjutin upx🤭
Vie
lanjut kak 👍👍👍👍👍 tetap semangat
Vie
lanjut kak.... makin seru juga penasaran lanjutanya.... 👍👍👍👍
Vie: selalu.... 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
fitryfirna
bakalan stay nungguin up selanjutx😆
Leo Virella: mkasih kak☺🙏
total 1 replies
fitryfirna
keren skli😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!