NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Anomali

Gorong-gorong sempit itu dipenuhi bau besi. Bau darah. Air kotor mengalir lambat menyapu lumpur. Napas berat beradu dengan dengung lalat yang kelaparan.

Fais berdiri lurus. Ujung sepatunya tenggelam dalam genangan hitam.

Di belakangnya, wanita penuh luka itu meringkuk. Gemetar. Tangannya memeluk erat adik laki-lakinya yang setengah hancur termutilasi.

Empat pria raksasa melangkah perlahan dari ujung lorong. Menembus tirai kegelapan got.

Tatapan mereka kosong. Mata mati. Tidak ada pantulan jiwa di sana. Gerakan kaki mereka terlalu sinkron. Terlalu seragam. Persis jarum jam berkarat yang dipaksa berputar bersamaan.

Layar antarmuka Fais berkedip gila. Menampar retinanya dengan warna merah terang.

[Analisis Jejak aktif.]

[Identifikasi: Super Soldier Experiment.]

Teks digital itu bergeser kasar. Menampilkan detail baru yang membuat napas Fais tersendat seketika di pangkal tenggorokan.

[Subjek memiliki Inhumane Gen.]

[Sumber genetik: kompatibel.]

[Probabilitas berasal dari ayah kedua target.]

Fais memiringkan kepalanya. Pandangannya bergantian. Menatap monster daging di depannya, lalu melirik wanita yang terisak di belakang punggungnya.

Bapak mereka. Manusia-manusia raksasa ini dibuat menggunakan gen bapak anak-anak malang ini.

Ada rasa pahit yang tiba-tiba menggenang di lidahnya. Melankolis keparat. Kota ini memang tidak pernah punya hati. Membongkar anatomi manusia, mencacahnya, lalu menjahitnya kembali menjadi anjing penjaga berdarah dingin.

Mereka benar-benar anomali. Sesat. Sebuah lelucon medis yang melanggar kodrat.

Satu dari pria raksasa itu mengayunkan lengan. Tinjunya menghantam dinding gorong-gorong.

Beton tua setebal tiga inci itu retak parah. Hancur berantakan hanya dengan satu pukulan kasual. Debu semen bercampur cipratan air got berjatuhan dari atap.

Monster lainnya menerjang maju. Membelah air kotor setinggi betis tanpa kehilangan keseimbangan sama sekali. Sangat cepat. Terlalu liar untuk ukuran tubuh sebongsor itu.

Fais tidak mundur. Sedikit pun tidak.

Otaknya bekerja mendinginkan emosi. Menarik paksa kesadarannya ke titik nol. Ia tahu ia juga bukan manusia normal lagi. Fisiknya dua kali lipat lebih tangguh.

Tapi bukan otot daging yang menahan tubuhnya tetap tegap di sini.

Pengalaman tempur lima tahun mengalir dalam urat nadinya. Menyatu dengan tiap serabut saraf. Membentuk insting dan ketenangan ekstrem yang diasah dari berlari puluhan kilometer tanpa henti.

Baton besi di tangan kanannya berputar pelan. Pisau taktis merosot ke genggaman kirinya. Weapon Mastery miliknya bangkit.

Senjata itu bukan lagi alat. Besi itu adalah perpanjangan tulangnya sendiri.

Monster pertama tiba. Kepalan sebesar batu bata melesat buta mengincar rahang.

Fais menunduk. Menyisakan jarak beberapa sentimeter dari angin kematian itu. Udara di atas kepalanya mendesing tajam.

Gerakannya kejam. Sangat efisien. Tidak ada satu miligram pun kalori yang terbuang percuma.

Tangan kirinya berayun dari bawah. Bilah pisau taktis merobek tendon tebal di belakang lutut monster itu.

Darah hitam menyemprot deras. Pria raksasa itu oleng menghantam dinding.

Fais tidak diam. Ia menari. Menari di antara kematian di atas air berbau bangkai.

Baton besinya melayang. Menghantam sendi bahu monster kedua. Terdengar bunyi patahan yang nyaring. Keras. Sangat keras hingga bergema di sepanjang lorong.

Ia berputar ke belakang. Menarik pistol hitam legam dari sarungnya. Pelatuk ditarik datar.

Moncong senjatanya meludah. Peluru padat menghajar pangkal lutut monster ketiga. Menembus ligamen tanpa sisa.

Setiap serangannya terukur murni. Presisi sinting tingkat tinggi.

Ia bergerak, memukul, mengelak, memutar. Tapi posisi kakinya selalu konstan. Membentuk pagar imajiner yang melingkar ketat.

Tubuhnya otomatis menjadi tembok pelindung baja. Menjaga agar wanita berlumur darah dan adiknya tetap berada di sudut buta paling aman di belakang punggungnya.

Alya meremas sisa kemeja usangnya. Mulutnya menganga menahan jerit. Napasnya putus-putus.

Mesin pembunuh di depannya ini tidak masuk akal. Tidak ada rasa panik di pundaknya. Pria asing itu memandang monster-monster sinting ini bukan sebagai teror, melainkan seperti rutinitas menyapu jalanan yang membosankan.

Tapi teror sesungguhnya bersembunyi di balik daging.

Pria raksasa yang tendon lututnya robek tadi perlahan kembali berdiri.

Otot-ototnya menggeliat liar bagai cacing kepanasan. Daging yang terpotong merekat kembali. Jahitan kasarnya ditarik rapat oleh sel-sel gila.

Tulang bahu yang baru saja Fais remukkan hingga hancur bergeser sendiri. Berbunyi gemeretak mengerikan, memaksa kembali ke sendi aslinya.

Mereka bangkit lagi. Lagi. Dan lagi. Menatap lurus ke arah Fais dengan wajah kosong.

Bahkan yang lututnya sudah jebol oleh peluru tajam tetap melangkah maju. Tulangnya bergesekan berdarah-darah, tapi kakinya menyeret langkah secara konstan.

Untuk pertama kalinya malam ini, dada Fais terasa berat.

Paru-parunya dipaksa membakar sisa oksigen yang menipis. Napasnya mulai tersengal pelan. Satu kesalahan hitung di lorong busuk ini sama dengan tiket mati permanen.

Rasa melankolis murahan itu mencekiknya sesaat. Memikirkan bahwa onggokan daging berjalan ini dulunya manusia sungguhan yang punya memori.

Layar di retinanya berdenging tajam. Memecah pikirannya.

[Menganalisis pola regenerasi.]

[Saran: lumpuhkan fungsi gerak.]

Fais mendecih kasar. Membuang ludah yang bercampur bau karat ke genangan air.

Ia mengubah kudanya. Menurunkan titik pusat gravitasinya lebih ekstrem. Otaknya mengunci geometri lorong dan memetakan pola keempat monster itu.

Pengalaman tempur dari sistem meledak. Mengambil alih otaknya seratus persen. Mematikan sisa kelelahan. Menghapus omong kosong soal belas kasihan.

Pandangannya menyipit tipis. Dunia melambat, menyisakan kerangka titik lemah dari musuhnya.

Langkah Fais berubah menjadi bayangan buram. Jauh lebih tajam. Sangat dingin.

Ia tidak lagi mengincar leher. Tidak peduli pada jantung atau paru-paru. Membunuh mayat yang bisa menjahit dirinya sendiri adalah hal tolol.

Batonnya melesat bak kilat hitam. Menghantam tempurung lutut hingga remuk tak bersisa.

Pisaunya menyelinap di bawah air. Menyayat ligamen pergelangan kaki. Memutus total jaringan penyangga yang tidak akan pernah bisa beregenerasi cukup cepat untuk menopang beban badan raksasa mereka.

Tulang rawan dihancurkan. Sendi siku dipelintir paksa melawan arus alam.

Satu demi satu raksasa itu runtuh ke dalam air kotor. Mengerang lirih dengan pita suara robek. Tubuh mereka masih bergetar mencoba menyembuhkan diri, tapi tungkai mereka sudah berubah menjadi jeli berdarah.

Tiga tumbang. Menyisakan satu yang merangkak buta menerjang pinggang Fais.

Fais menarik napas pendek. Ujung batonnya bergetar di tangannya yang mulai kebas menahan daya tolak balistik.

Tepat saat tangan raksasa itu berjarak sejengkal dari dadanya.

DOR!

Peluru sniper kaliber berat meledak menembus kegelapan gorong-gorong.

Kepala monster yang sedang menganga itu pecah berantakan. Terbelah jadi dua menyisakan lubang seukuran bola kasti. Sisa cairan merah menyiram dinding beton di sebelah kanan.

Lorong itu bergetar hebat. Belum sempat debu semen jatuh, suara lain mengoyak udara.

BRRRTTTT!!

Rentetan peluru senapan otomatis menghujam tanpa jeda. Menyapu sisa lorong basah itu. Menghujani raksasa-raksasa yang masih merangkak di tanah air kotor.

Daging mereka robek menganga. Terkoyak jadi serpihan kecil hingga sel-sel abnormal mereka menyerah menambal lubang yang kelewat besar.

Lampu taktis putih menyala dari celah atap got. Menyilaukan mata.

Satu per satu sosok berseragam hitam turun merayap dengan tali baja. Sepatu bot militer menghantam air bergantian. Gerakan mereka taktis. Menyebar mengamankan sudut. Laras senapan mesin mereka masih mengepulkan asap panas.

Personel bersenjata Wawan.

Bau mesiu seketika menelan habis bau darah murni. Ketegangan yang tadinya mengiris leher perlahan mencair.

Fais mematung sejenak. Otot lehernya yang sekaku batu mengendur pelan.

Ia menghembuskan napas panjang. Sangat panjang.

Ujung baton besi ditekan. Memendek kembali ke ukuran semula dengan bunyi decit logam murahan.

Pandangannya beralih dari tumpukan mayat itu ke arah atas gorong-gorong. Ke arah langit-langit got tempat bala bantuan berjatuhan.

"Pelacak itu bekerja dengan baik huh," ucap Fais tenang. Suaranya datar tanpa intonasi kemenangan.

Tangan kirinya merogoh saku taktis di pinggang belakang. Memastikan keberadaan modul pemancar seukuran koin—pelacak darurat dari sistem inventaris yang sudah ia aktifkan sejak kakinya belum menyentuh lumpur got ini.

Di sudut basah itu, Alya masih bersandar kaku pada dinding.

Gigi wanita itu gemeretak pelan. Matanya bengkak, merah menahan sisa histeria dari malam gila ini.

Tapi fokusnya tidak pada potongan mayat raksasa di sekitarnya. Tatapannya terpaku erat pada punggung tegap pria asing di depannya. Punggung orang gila yang membersihkan neraka ini tanpa berkedip sekalipun.

Sisa darah adiknya mulai mengering di sela jarinya.

Otaknya mencerna semua kekacauan ini dengan lambat. Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang hancur, di tengah distrik yang selalu menelan manusia bulat-bulat.

Seseorang akhirnya datang dan benar-benar menyelamatkan mereka.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!