[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Persiapan
Rio terpaksa menyerahkan uang itu. Luis bisa melihat tangan Rio yang gemetar.
Kemungkinan besar uang itu adalah uang obat ibunya atau uang makan keluarganya yang terpaksa ia ambil demi menghindari pukulan Kenzo.
"Bagus, bagus. Jangan lupa senin depan bawa lagi, minimal lima ratus ribu. Kalau kurang seribu saja, aku pastikan kau pulang tanpa gigi di mulutmu," ancam Kenzo sambil tertawa keras.
Ia memberikan satu tendangan terakhir ke perut Rio sebelum berjalan pergi bersama dua orang temannya yang sedari tadi hanya menonton sambil merokok.
Suara tawa mereka perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang mencekam di gang itu. Rio masih terkapar, ia memukul tanah dengan kepalan tangannya yang lemah. Isak tangisnya pecah, lebih keras dari sebelumnya.
"Ibu, Ayah... maafkan aku... aku lemah... aku tidak berguna..." rintih Rio dalam keputusasaan.
Dari balik dinding, Luis hanya menatap dengan wajah datar.
Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak ada keinginan impulsif untuk keluar dan menolong Rio saat itu juga.
Ia tahu, menolong Rio sekarang hanya akan membuat Kenzo semakin beringas di kemudian hari. Jika ia ingin menghentikan ini, ia harus mencabut akarnya, bukan hanya memangkas rantingnya.
Luis berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju sekolah seolah tidak terjadi apa-apa.
Di sekolah, Luis menjalani hari-harinya seperti murid biasa. Ia duduk di barisan tengah, mendengarkan penjelasan guru tanpa banyak bicara.
Ia memiliki beberapa teman yang menyapanya, namun Luis hanya menanggapi seperlunya. Pikirannya berada di tempat lain.
Selama beberapa hari berikutnya, Luis melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: pengintaian.
Setiap bel pulang berbunyi, Luis tidak langsung pulang. Ia akan bersembunyi di balik pilar lantai dua, memperhatikan pergerakan kelompok Kenzo. Ia mencatat siapa saja yang bersama Kenzo, siapa yang paling lemah, dan yang paling penting, rute perjalanan mereka.
Luis menemukan sebuah pola. Setiap hari Sabtu, setelah kegiatan ekstrakurikuler selesai, Kenzo dan kelompoknya biasanya akan nongkrong di sebuah warung internet atau kafe murah hingga menjelang sore.
Setelah itu, mereka akan berpisah. Kenzo selalu pulang melewati sebuah jalan setapak yang membelah area gudang tua yang sepi karena itu adalah jalan tercepat menuju perumahan elit tempat tinggalnya.
Luis mempelajari waktu presisinya. Jam enam sore lewat lima belas menit. Jalanan itu akan sangat sepi, penerangan minim, dan suara kendaraan dari jalan raya akan teredam oleh bangunan-bangunan gudang yang tinggi.
Sabtu sore yang mendung.
Luis sampai di rumah lebih awal dari biasanya. Ia memastikan orang tuanya sedang sibuk di dapur dan Luna sedang belajar di kamarnya.
Luis masuk ke dalam gudang kecil di belakang rumahnya. Di sana, di antara tumpukan barang bekas, ia menemukan apa yang ia cari.
Sebuah tongkat besi padat bekas jemuran yang sudah tidak terpakai. Panjangnya sekitar enam puluh sentimeter, cukup berat untuk menghancurkan tulang jika diayunkan dengan benar, namun cukup pendek untuk disembunyikan di balik jaket.
Luis mengambil sebuah jaket hitam tebal bertudung (hoodie) dan sebuah masker kain hitam.
Ia juga menyiapkan sarung tangan plastik tipis agar tidak meninggalkan sidik jari di tongkat itu. Semuanya telah dipersiapkan dengan sangat matang.
Ia menatap tongkat besi itu di bawah lampu gudang yang temaram. Di kehidupan sebelumnya, ia memegang palu hukum dan berakhir mati. Kali ini, ia memegang besi dingin yang kasar.
"Hukum tidak bisa menyentuhmu, Kenzo, karena uang ayahmu. Tapi besi ini tidak peduli siapa ayahmu," bisik Luis.
Ia memakai jaketnya, menaikkan tudungnya hingga menutupi sebagian wajah, dan memasukkan tongkat besi itu ke dalam bagian dalam jaket yang sudah ia modifikasi sedikit agar tidak merosot.
Dengan langkah mantap, ia keluar lewat pintu belakang. Luis bergerak menembus keremangan senja menuju area gudang tua. Ia tidak sedang menuju ke sana untuk berdebat atau memberikan ceramah tentang moral.
Luis sedang menuju ke sana untuk melakukan apa yang hukum gagal lakukan.