Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Pagi setelah keributan soal Agata, rumah itu benar-benar terasa seperti kuburan mewah. Dewangga tidak berani mengetuk pintu kamar Siham, dan Siham pun tidak keluar untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya. Dewangga hanya bisa mondar-mandir di ruang tengah, merasa harga dirinya hancur berantakan. Kalimat Siham soal tunggu aku mati atau tunggu kita bercerai terus terngiang, menciptakan lubang rasa bersalah yang aneh di dadanya rasa bersalah yang ia tutupi dengan kemarahan.
Siham keluar kamar saat matahari sudah tinggi. Ia sudah siap dengan pakaian kerjanya, meskipun langkahnya sangat pelan. Ia tidak melirik Dewangga yang sedang duduk di meja makan menatap piring kosong.
"Siham," panggil Dewangga, suaranya parau.
Siham berhenti, tangannya memegang kunci mobil ia memutuskan untuk menyetir sendiri hari ini karena merasa tenaganya sedikit lebih baik, meski itu hanya ilusi dari adrenalin sisa kemarahannya. "Ya?"
"Soal Agata... aku bisa jelaskan. Komunikasi itu hanya—"
"Tidak perlu, Mas," potong Siham tanpa menoleh. "Apa pun alasanmu, itu tidak mengubah kenyataan bahwa hatimu tidak pernah ada di sini. Simpan saja penjelasanmu untuk dia nanti. Aku berangkat."
Dewangga hanya bisa menatap punggung Siham yang menjauh. Ia merasa kehilangan kendali atas istrinya. Siham yang dulu penurut dan lembut kini berubah menjadi dinding es yang tidak bisa ditembus.
Sesampainya di kantor, Siham disambut oleh keriuhan yang luar biasa. Maya langsung berlari menghampirinya begitu ia keluar dari lift.
"Bu Siham! Ibu harus lihat ini!" seru Maya dengan wajah sumringah. "Pak Hendra sudah menunggu di ruang rapat besar. Ada perwakilan dari salah satu platform streaming terbesar dunia. Mereka mau beli hak adaptasi naskah Aksara Renjana yang sedang Ibu edit!"
Siham menarik napas panjang. Prestasi ini terus berdatangan di saat hidupnya sedang menuju titik nol. Ia melangkah ke ruang rapat. Di sana, Pak Hendra duduk bersama dua orang pria berpakaian formal yang tampak sangat ambisius.
"Siham, perkenalkan, ini tim dari Global Screen," ujar Pak Hendra bangga.
"Mereka menawarkan kontrak eksklusif untuk memfilmkan buku Mati Tanpa Kubur. Nilainya... fantastis. Dan mereka punya satu syarat mereka ingin editor seniornya, yaitu kamu menjadi konsultan utama skenario agar esensi 'rasa sakit' di buku itu tetap terjaga."
Siham duduk dan mendengarkan presentasi mereka. Angka yang disebutkan memang gila miliaran rupiah. Namun, di tengah rapat itu, ponsel Siham bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dewangga.
"Jangan lupa, malam ini ada acara makan malam dengan kolega bisnisku dari luar negeri. Aku mau kamu datang dan berperan sebagai istri yang baik. Jangan bawa-bawa masalah Agata ke depan mereka. Jaga martabatku."
Siham menatap pesan itu dengan senyum getir. Martabat lagi, batinnya. Di satu sisi, dunia menghargainya dengan nilai miliaran karena kecerdasannya mengelola emosi, di sisi lain, suaminya hanya menganggapnya sebagai properti untuk menjaga "martabat" di depan kolega.
Siham kembali fokus pada rapat. "Saya setuju menjadi konsultan, tapi dengan satu syarat tambahan," ucap Siham tegas.
"Apa itu, Bu Siham?" tanya perwakilan film itu.
"Identitas penulis harus tetap anonim selamanya. Dan semua royalti atas nama Aksara Renjana harus disalurkan ke yayasan kanker dan panti asuhan tanpa sisa. Saya tidak mau penulis ini dikenal, saya hanya ingin pesannya sampai."
Pak Hendra dan tim film itu terpaku. "Tapi Siham, itu uang yang sangat besar..."
"Aksara Renjana tidak butuh uang. Dia hanya butuh dunia tahu bahwa ada luka yang tidak bisa sembuh dengan kemewahan," balas Siham tenang.
Malam harinya, Siham tetap datang ke acara makan malam yang diminta Dewangga. Ia mengenakan gaun hitam panjang yang menutupi tubuh kurusnya. Di restoran bintang lima itu, Dewangga tampak sangat bangga memperkenalkan Siham sebagai istrinya di depan kolega asingnya.
"Ini Siham, istri saya. Dia editor senior di salah satu penerbitan terbaik," ucap Dewangga dengan senyum palsu yang sempurna.
"Oh, editor?" salah satu kolega asing itu tampak tertarik. "Apa Anda menangani penulis yang sedang viral itu? Namanya... Aksara Renjana? Istri saya sangat mengidolakan karyanya."
Wajah Dewangga mendadak kaku. Topik yang paling ia benci justru muncul di depan koleganya.
Siham tersenyum manis, senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan malam itu. "Iya, saya editornya. Kebetulan pagi tadi kami baru saja menandatangani kontrak adaptasi film dengan nilai yang cukup untuk membeli satu gedung di kawasan ini."
Kolega itu berdecak kagum. "Luar biasa! Dewangga, istrimu ternyata bukan hanya cantik, tapi dia memegang aset emas di tangannya. Anda pasti bangga memiliki istri yang menangani karya sehebat itu."
Dewangga hanya bisa tersenyum masam, hatinya panas luar biasa. Di depan koleganya, dia harus mengangguk setuju, padahal di dalam hatinya dia ingin meneriaki Siham bahwa itu semua hanya sampa".
Saat mereka hanya berdua di meja karena kolega tersebut sedang ke toilet, Dewangga berbisik tajam di telinga Siham. "Jangan sombong, Siham. Meskipun naskah itu laku, itu tetap tidak mengubah fakta bahwa kamu hanyalah editor yang menjual kesedihan murahan. Jangan merasa hebat hanya karena orang asing memujimu."
Siham menoleh, menatap Dewangga dengan tatapan kasihan. "Kamu tahu kenapa kamu sangat membenci kesuksesan Aksara Renjana, Mas? Karena kamu tahu, di dalam dunia yang dia ciptakan, pria sepertimu adalah antagonis yang paling menjijikkan. Kamu takut orang-orang akan sadar bahwa karakter suami jahat di buku itu... terinspirasi dari kamu."
"SIHAM!" bisik Dewangga penuh ancaman.
"Diamlah, Mas. Jaga martabatmu, bukan?" Siham bangkit berdiri. "Aku mau ke toilet. Dan setelah ini, aku akan pulang duluan. Aku lelah berpura-pura menjadi istri bahagia untuk pria yang sedang menunggu kematian istrinya agar bisa lari ke pelukan mantan kekasihnya."
Siham melangkah pergi dengan anggun, meninggalkan Dewangga yang mencengkeram garpunya hingga buku jarinya memutih. Di dalam toilet yang sunyi, Siham kembali batuk. Kali ini lebih parah. Darah keluar cukup banyak hingga mengenai gaun hitamnya.
Ia membersihkannya dengan cepat, menatap wajahnya di cermin yang kini tampak sangat cekung.
"Sebentar lagi, Ayah... sebentar lagi naskah ini selesai," bisiknya dalam hati.
Malam itu, pertempuran batin Dewangga semakin hebat. Dia membenci Aksara Renjana, dia membenci Siham yang semakin berani, tapi di saat yang sama, dia mulai merasa takut. Takut jika suatu saat, kursi di depannya benar-benar kosong, dan dia hanya akan memiliki harta dan masa lalunya yang semu, tanpa ada lagi sampah yang memberinya pelajaran tentang kejujuran.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor