Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyebalkan!!
Dugaannya, kalau Ravian tidak akan mau membuat hidupnya tenang, benar adanya.
Tidak menyakiti, tapi jelas sangat mengganggu.
Aelira menoleh cepat, menggerutu pelan, “Apaan, sih?”
Ravian menatapnya datar sambil menyandarkan dagu di tangannya. Mata tajamnya penuh kode.
“Tadi pagi. Cowok di motor putih. Siapa lo?”
Aelira langsung diam. Jarinya berhenti mencatat.
Dia menelan ludah. Jangan sampai Ravian sadar itu Radit.
“Temen SMP,” jawabnya hati-hati. “Nggak sengaja ketemu.”
Ravian bersandar di bangkunya. Suaranya tidak tinggi—namun ada tekanan mengancam di balik setiap kata.
“Yang mana? Gue nggak pernah tahu lo punya temen cowok di SMP.”
Aelira meruntuk. “Nggak penting, Van. Itu temen OSIS dulu—”
“Tapi lo senyum sok manis ke dia.”
Aelira langsung menoleh panik. “Refleks! Lagian cuma senyum doang.”
Ravian menghela napas berat. Tangan kirinya mencengkeram tepi meja, seperti menahan diri.
“Doang? Gue tanya siapa namanya.” Desis Ravian tajam.
Aelira mengerut. “Anu, namanya—”
“Anak-anak, sekarang pindah ke lab fisika, ya. Jangan ada yang ketinggalan!”
“BAIK, BU!”
Semua siswa mulai bergerak meninggalkan kelas. Suasana jadi ramai sebentar, kursi berderit, tas dikalungkan.
Aelira juga berdiri dari bangkunya, meraih bukunya dan bersiap ikut teman-temannya ke luar kelas.
Namun, saat langkahnya baru satu—sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.
Aelira menoleh kaget. “Van?”
Kelas sudah kosong. Hanya mereka berdua sekarang.
“Van, please! Aku harus ke lab.” Mohon Aelira—sudah ingin menangis.
Cowok itu berdiri pelan dari kursinya. Sorot matanya datar.
“Berkali-kali gue bilang jangan bikin gue marah!”
“Aku cuma senyum dikit—”
“Ke cowok lain.” Ravian menyela. “Bukan gue.”
Suasana sunyi. Tegangan udara seperti menggantung di antara mereka.
Aelira lalu menarik tangannya pelan, menatapnya dengan mata bulat dan nada pelan yang terdengar sangat memelas.
“Maafin aku!!! Aku nggak maksud selingkuh atau apa. Kamu nggak percaya sama aku?” ucapnya pelan. “Kamu juga senyum ke cewek lain tadi—fans-fans kamu itu, aku nggak marah...”
Ravian masih diam. Tapi tatapannya sedikit bergeser.
“Beda—”
“Beda apa? Aku juga berhak marah karena aku pacar kamu.”
Ravian mendecak kesal. “Eli!”
Aelira menggeleng cepat. “Aku beneran cuma nggak enak. Masa aku harus pasang muka jutek?”
“Muka lo cuma buat gue, ngerti nggak?” Suara Ravian turun satu oktaf, penuh tekanan.
“Iya. Udah ya, jangan dipanjangin!! Aku nggak mau berantem...” Aelira mengerjap pelan, wajahnya mulai memerah. “Ya Ravian ya, please?” pinta Aelira memelas dengan bibirnya mencuat maju.
Ravian menyipitkan mata, masih berusaha mempertahankan kesan galaknya. Namun sudut bibirnya mulai terangkat sedikit.
“Aku tetap milik kamu walau pun senyum ke cowok lain.” Tangannya agak gemetar ketika menyentuh kepala Ravian lembut. “Iya, kan?” tanyanya sambil mengerut kecil, takut disemprot tiba-tiba.
Ravian membuang napas pelan, memalingkan wajah. Dia membeku, otaknya blank kini melihat wajah imut gadis itu.
“Tch. Kayak lo, bisa bikin gue batal ngamuk.” Dia nyaris maju meremas wajah imut cewek itu.
Aelira mendongak dengan mata melebar. “Berarti aku berhasil?”
Ravian menatapnya sekilas, lalu mencolek pelan hidung Aelira dengan dua jarinya.
“Pergi sana sebelum gue peluk lo di sini.”
“Makasih!” Aelira langsung melangkah pergi.
Ravian menatap punggungnya sambil menyembunyikan senyum tipis di balik ekspresi sok cueknya.
“Dia punya sihir apa, sih?” Decak Ravian.
---
Terik matahari tidak menyurutkan semangat para siswi yang dari tadi menguntit satu nama: Ravian Graciano.
“Ravian! Foto bareng yaa!”
“Kak Ravian! Nih minum dulu!”
“Kak Ravian, les di mana? Sekalian dong ngajarin aku...”
Ravian hanya menjawab sekenanya. Senyum sekilas. Anggukan singkat. Tapi matanya sibuk menelisik sekeliling. Mencari satu orang.
Aelira.
Kantin—kosong.
Ruang musik—enggak ada.
Lorong kelas—bukan.
Ruang UKS—gagal.
“Aelira ke mana, sih? Jangan-jangan dia lagi asyik berduaan sama cowok lain.” Gumamnya pelan.
Cowok itu mengusap wajahnya yang lelah, rambutnya sudah berantakan karena banyak yang menarik-narik minta selfie. Dasi longgar, keringat mengalir di pelipis, dan napasnya mulai berat.
“Gila, sekolah isinya fans semua, tapi satu-satunya orang yang gue cari malah ngilang.”
Ravian menepis tangan seorang cewek yang hendak menarik bajunya lagi.
“Nanti ya. Gue ada urusan.”
Dia berlari menjauh—membuat mereka bersorak kecewa.
Ceklek!!
Pintu ruangan OSIS terbuka.
Aelira keluar dari ruangan dengan wajah super lelah.
“Aelira.”
Aelira menoleh dan terkejut. Sebelum Aelira bisa buka mulut, cowok itu sudah melangkah cepat dan menarik pergelangan tangannya.
“Eh—Ravian? Mau ke mana, sih?”
“Sebentar aja.” Suaranya rendah—terkesan galak dan mendesak.
Begitu sampai di toilet yang ada di lorong sepi, Ravian langsung menghentikan langkahnya.
“Kita ngapain di sini?” Panik Aelira.
Ravian tidak menjawab dan memojokkan tubuh Aelira ke tembok—membuat gadis itu gelagapan.
“K—kamu jangan berani cium-cium aku di sekolah, ya!” kata Aelira tergagap ciut.
Ravian tidak menjawab dan malah meletakkan dahinya di bahu Aelira—dengan mata terpejam dan hembusan napas lelah.
“Are you okay?” tanya Aelira—tercekat karena tidak biasanya dia seperti ini.
“Gue kangen...” Suaranya pelan. Serak. Nyaris seperti bisikan yang retak.
Aelira menahan napas. Badannya kaku.
“Kangen banget, Li. Sampe sesek napas gue.” Decak Ravian frustasi.
Napasnya terdengar berat, wajahnya masih tertunduk di bahu Aelira. Mata cowok itu terpejam—seperti habis menahan semuanya sendirian.
“Gue udah senyum ke banyak orang hari ini. Ketawa. Bikin fans seneng. Tapi lo nggak keliatan sama sekali.” Keluh Ravian pelan seperti anak kecil merengek.
“Aku di ruang OSIS dari tadi.” Aelira dengan canggung menepuk pelan punggung Ravian. “Maaf, ya!”
“Jangan ilang lagi! Gue bisa gila,” katanya parau.
“Iya.” Aelira mengangguk kaku. Kalau ditanya, jujur dirinya sangat takut terhadap Ravian. Sehingga dia merasa canggung dan gugup untuk sekarang.
“Gue capek banget hari ini,” kata Ravian pelan—masih menempel. “Pusing...” Ravian ndusel kecil di bahu Aelira—meskipun tidak benar-benar memeluknya, hanya memegang pinggangnya.
“Pusing? Aku pijit, ya!” Tangan Aelira terangkat—memijit pelan kepala Ravian sambil menggigit bibir.
Brukk!
Aelira panik dan langsung mencoba mendorong Ravian, tapi Ravian refleks menarik tangannya dan membuka salah satu bilik toilet.
“Sini.” Bisik Ravian cepat. Aelira ditarik masuk ke dalam bilik.
“Ravian—”
“Ssssttt!” Ravian mendorong Aelira ke balik pintu dan membekap bibir gadis itu.
Aelira mengerjap-ngerjap pelan ketika wajah mereka berhadapan dan mengangguk.
Aelira menahan napas, wajahnya merah padam.
Langkah siswi di luar bilik terdengar makin menjauh. Tapi Ravian tetap tidak melepaskan.
“Mereka udah pergi kayaknya.” Ravian memberitahu.
Aelira melirik ke bawah, napasnya berantakan. Pipi memerah karena udara pengap—apalagi jarak wajah mereka terlampau dekat—membuat Aelira sampai meremas roknya, takut.
Ravian melepaskan bekapan. Sudut bibirnya terangkat samar.
“Kita bisa keluar sekarang?” bisik Aelira menatap Ravian.
“Bisa. Tapi nggak mau.” Ravian berbisik juga sambil menahan senyum.
“Hah?”
Ravian mendekatkan wajahnya, tatapannya tajam tapi bibirnya masih menyunggingkan senyum usil.
“Cipok gue dulu, baru gue relain lo keluar.”
Aelira menatapnya tak percaya. “Ravian, kamu gila, ya?”
“Udah dari dulu,” katanya santai sambil mengedipkan sebelah mata. “Terutama kalau udah nyangkut tentang lo.” Ravian menekan pipi dalamnya dengan lidah dan tersenyum miring.
Wajah Aelira memerah.
“Apaan sih. Nggak mau.” Aelira memelototinya.
“Cepet, bibir lo udah deket banget. Masa nggak sekalian aja?” Gumam Ravian sambil menyeringai samar.
Aelira langsung mendorong dada Ravian dengan wajah merah padam.
“Kamu tuh ya...!” Desisnya kesal.
Dia buru-buru membuka pintu bilik dan kabur keluar toilet, sementara Ravian cuma bisa tertawa kecil, puas sendiri.
“Lucu banget cewek gue...”