"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Protes dari Alam Bawah dan Diplomasi Rendang Hitam
Ketika aroma rendang yang dimasak dengan tenaga petir itu menembus lapisan kerak bumi hingga ke kedalaman sembilan tingkat neraka, Raja Iblis Abyss terbangun dari tidur seribu tahunnya. Ia tidak terbangun karena panggilan perang, melainkan karena hidungnya gatal mencium aroma rempah yang begitu gurih hingga membuatnya ingin menangis.
"Siapa... siapa yang berani berpesta tanpa mengundang penguasa kegelapan?!" raung Raja Iblis sambil menggebrak singgasana tengkoraknya.
Dengan ledakan asap hitam yang mencekam, Raja Iblis muncul di tengah halaman Ye Xuan. Langit mendadak menjadi merah darah, dan suhu udara turun drastis hingga tanaman cabai Ye Xuan mulai layu. Para Dewa dan tentara langsung bersiaga, memegang piring mereka erat-erat seolah takut makanan mereka direbut.
"Manusia lemah! Dewa-dewa pengecut!" teriak Raja Iblis dengan suara berat. "Serahkan rahasia aroma ini, atau aku akan menenggelamkan dunia ini ke dalam—"
TAK!
Sebuah spatula kayu mendarat telak di dahi Raja Iblis. Ye Xuan berdiri di sana dengan wajah yang sangat masai, memegang botol kecap yang sudah hampir habis.
"Waduh! Mas Iblis! Bisa tidak kalau datang itu pakai permisi?!" bentak Ye Xuan konyol. "Lihat itu! Gara-gara asap hitammu, rendangnya jadi bau sangit! Dan itu... tanaman cabaiku jadi beku! Kamu tahu tidak berapa harga bibit cabai sekarang?!"
Raja Iblis terpaku. Ia adalah makhluk yang ditakuti seluruh alam, tapi baru saja ia dipukul pakai spatula oleh seorang pemuda yang memakai apron bergambar kelinci. "Kau... kau berani memukulku? Aku adalah kematian! Aku adalah—"
"Aku adalah lapar, iya kan? Sudah, tidak usah banyak drama," potong Ye Xuan sambil menyodorkan sebuah mangkuk kecil berisi bumbu rendang yang sudah menghitam sempurna. "Nih, coba dulu. Kalau enak, bantu aku angkut kayu bakar di belakang. Kalau tidak enak, silakan lanjut jadi kematian, tapi tolong asapnya dibersihkan pakai vacuum cleaner."
Raja Iblis, karena penasaran dan lapar yang tak tertahankan, mencicipi bumbu tersebut. Seketika, aura kegelapannya yang merah membara berubah menjadi ungu ceria. Matanya yang tadinya penuh kebencian mendadak berkaca-kaca.
"Rasa pedas ini... seolah-olah ribuan jiwa yang tersiksa di neraka mendadak mendapatkan remisi dan liburan ke pantai," bisik Raja Iblis dengan suara bergetar. "Kenapa... kenapa bumbu ini begitu pekat dan penuh penderitaan namun berakhir manis?"
"Itu namanya karamelisasi santan, Mas Iblis. Bukan penderitaan," sahut Ye Xuan. "Nah, karena tenaga kamu kelihatannya besar, daripada buat menghancurkan dunia, lebih baik kamu bantu Dewa Petir. Kamu bagian mengaduk rendang di kuali besar itu, tanganmu kan banyak dan kuat. Ingat, aduk terus jangan sampai bawahnya gosong!"
Maka, terciptalah sejarah paling absurd di dunia kultivasi: Raja Iblis Abyss, sang penghancur dunia, kini berdiri berdampingan dengan Dewa Petir. Satu orang memberikan percikan listrik, satu lagi mengaduk kuali dengan kekuatan batin tingkat tinggi, sementara para pangeran dan menteri bertugas sebagai pelayan yang menyajikan nasi hangat.
Ye Xuan duduk di kursi goyangnya, menatap kerumunan dewa, manusia, dan iblis yang sekarang sibuk berdiskusi tentang "etika makan rendang yang benar."
"Pak Tua," gumam Ye Xuan sambil menguap. "Sepertinya kita butuh halaman yang lebih luas. Besok-besok mungkin alien juga bakal turun ke sini gara-gara bau terasi."
Ao Guang hanya bisa pasrah. "Senior, sepertinya Anda tidak menyadari bahwa Anda baru saja menciptakan 'Perdamaian Antar Dimensi' hanya dengan satu kuali rendang."