NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sore itu, suasana hangat di galeri perlahan memudar seiring dengan matahari yang mulai terbenam. Kiara sudah tertidur lelap di sofa panjang milik Alana, kelelahan setelah seharian penuh bermain warna. Di sampingnya, sebuah kanvas kecil yang mereka lukis bertiga tadi pagi berdiri dengan gagah, seolah menjadi bukti bisu momen "keluarga" yang sempat tercipta.

​Alana duduk di dekat jendela, menatap jalanan dengan perasaan yang masih tidak menentu. Ia setengah berharap dan setengah takut bahwa mobil hitam Andrew-lah yang akan muncul di depan galerinya.

​Namun, yang terdengar justru deru mesin mobil yang lebih bising tak santai. Sebuah mobil sport putih berhenti dengan decitan halus, dan Ares melompat keluar dengan kacamata hitam yang masih bertengger di wajahnya.

​"Kejutan!" Ares masuk ke galeri dengan langkah lebar, wajahnya tampak jauh lebih segar daripada kemarin. "Syutingnya selesai lebih cepat dari perkiraan, Lan! Scene aku cuma butuh dua kali take."

​Alana bangkit berdiri, berusaha memaksakan senyum terbaiknya. "Hai, Res. Kamu sudah selesai?"

​"Udah! Tadi Kak Andrew telepon, katanya dia nggak bisa jemput Kiara karena ada rapat darurat soal ekspansi kantor cabang. Jadi ya udah, mumpung aku udah selesai, aku langsung ke sini," Ares mendekati sofa dan melihat Kiara yang sedang mendengkur halus. "Wah, pules banget ini anak. Dia ngerepotin kamu nggak sayang ?"

​"Sama sekali nggak, Res. Kiara anak yang manis," jawab Alana, meski hatinya mencelos mendengar alasan Andrew. Rapat darurat atau hanya cara lain untuk melarikan diri? pikirnya pahit.

​Ares kemudian beralih menatap kanvas di atas meja. Matanya berbinar melihat lukisan taman dengan langit biru yang sangat rapi. "Wah, ini Kiara yang buat? Bagus banget langitnya. Tumben dia bisa buat gradasi warna serapi ini."

​Alana tertegun. "Itu... Andrew yang bantu buat langitnya tadi pagi."

​Tawa Ares berhenti sejenak. Ia menatap lukisan itu lebih dekat, lalu menatap Alana. "Kak Andrew? Dia beneran ikutan melukis di lantai sama kalian? Wah, gila. Gue nggak pernah bayangin si Tuan Sempurna itu mau kotor-kotoran kena cat. Dia pasti dipaksa Kiara habis-habisan ya?"

​"Iya... Kiara yang maksa," Alana berbohong kecil, menyembunyikan kenyataan bahwa Andrew sempat terlihat sangat menikmati momen itu sebelum ketegangan melanda mereka.

​Ares tertawa kecil sambil mengusap rambut Alana lembut. "Makasih ya, Lan. Kamu emang penyelamat keluarga aku. Makasih udah jagain keponakan aku, dan makasih udah 'mencairkan' es di hati kakakku. Dia emang butuh lebih banyak orang kayak kamu di hidupnya."

​Kalimat Ares yang begitu tulus terasa seperti sembilu bagi Alana. Ia merasa seperti pengkhianat terbesar karena di saat Ares memujinya, ia justru sedang merindukan sentuhan pria lain, yang merupakan kakak kandung Ares sendiri.

​"Yaudah, aku angkat Kiara ke mobil. Kak Alesya sama Mas Rayyan udah dalam perjalanan pulang ke rumah Papi," kata Ares sambil menggendong Kiara dengan hati-hati.

​Saat mobil Ares mulai menjauh, Alana berdiri di depan galerinya yang kini kembali sunyi. Ia merapatkan pelukannya pada dirinya sendiri, merasakan sisa-sisa aroma parfum Andrew yang entah bagaimana masih tertinggal di udara galeri itu.

Sementara itu, ​Di sisi lain kota, di lantai paling atas gedung perkantorannya, Andrew berdiri menatap jendela besar. Ia tidak sedang rapat. Ia hanya berdiri di sana, menatap langit sore yang warnanya persis seperti langit yang ia lukis di kanvas Alana tadi pagi. Ia sengaja tidak menjemput Kiara karena ia tahu, jika ia melihat Alana sekali lagi hari ini, ia mungkin tidak akan sanggup untuk pulang ke rumah sebagai seorang kakak lagi.

----

Malam itu, meja makan kediaman Wijaksana dipenuhi hidangan mewah untuk merayakan kepulangan Alesya dan Rayyan. Suasana seharusnya hangat, namun bagi Andrew, setiap denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng peringatan.

​Alesya tampak lebih santai setelah tugas medisnya selesai. "Makasih ya, Ndrew, Res, sudah jagain Kiara seharian. Alana juga, aku berutang budi banget sama dia."

​"Sama-sama, Kak. Alana malah seneng banget kok," sahut Ares sambil menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lahap.

​Kiara, yang duduk di antara Ares dan Andrew, tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya berbinar teringat kejadian di galeri. "Ma! Tadi di tempat Kak Alana, Kiara main seru banget!"

​"Oh ya ? Main apa sayang?" tanya Alesya sambil tersenyum.

​"Kita melukis bareng! Om Andrew hebat banget buat langitnya," seru Kiara polos. "Terus tadi... Om Andrew sama Kak Alana lucu banget. Waktu pipi Om Andrew kena cat, Kak Alana lap pipi Om deket banget, kayak Papa kalau mau cium Mama!"

​Hening.

​Meja makan yang tadinya penuh suara tiba-tiba senyap seketika. Andrew membeku dengan garpu yang masih menggantung di udara. Di sampingnya, ia bisa merasakan tatapan Papi Adrian yang tajam dan menyelidik, sementara Mommy Revana tampak menahan napas.

​Ares tertawa canggung, mencoba mencairkan suasana. "Hahaha, Kiara... anak kecil emang imajinasinya luar biasa ya. Pasti karena tadi mereka deketan pas lagi ngajarin kamu melukis, kan?"

​"Enggak, Om Ares! Emang deket banget kok," lanjut Kiara tanpa dosa. "Terus kita main bersama. Om Andrew udah kayak Papa, Kak Alana kayak Mama. Seru banget! Om Andrew nggak galak kalau sama Kak Alana."

​Kali ini, tawa Ares tidak terdengar lagi. Senyumnya perlahan memudar. Ia melirik kakaknya, mencari semacam bantahan atau tawa meremehkan yang biasanya Andrew tunjukkan. Namun, ia justru mendapati Andrew yang hanya diam seribu bahasa dengan rahang yang mengeras.

​"Ndrew?" panggil Rayyan pelan, mencoba menengahi sebelum situasi menjadi semakin aneh.

​"Kiara hanya terlalu banyak menonton film kartun," jawab Andrew akhirnya. Suaranya rendah dan sangat datar, nyaris tanpa emosi. "Aku cuma membantu dia melukis karena dia memaksa. Alana hanya membantu membersihkan cat agar tidak merusak kemejaku."

​Papi Adrian berdehem keras. "Sudah, jangan bahas itu di depan makanan. Kiara, habiskan nasimu."

​Meskipun pembicaraan dialihkan, benih kecurigaan sudah tertanam. Sepanjang sisa makan malam, Ares menjadi lebih diam. Ia terus memperhatikan kakaknya yang terlihat sangat tidak nyaman. Di sisi lain, Andrew merasa seolah oksigen di ruangan itu habis. Ia bisa merasakan setiap detak jantungnya yang meneriakkan rasa bersalah.

​Setelah makan malam selesai, saat mereka sedang menikmati teh di ruang tengah, Ares mendekati Andrew yang sedang berdiri di balkon sendirian.

​"Kak," panggil Ares pelan.

​Andrew tidak menoleh. "Ya?"

​"Tadi... Kiara cuma bercanda, kan?" tanya Ares. Ada nada keraguan yang sangat dalam di suaranya, sesuatu yang belum pernah Andrew dengar sebelumnya dari adiknya yang selalu percaya diri. "Maksud gue... lo nggak beneran punya perasaan apa-apa sama Alana, kan? Lo nggak bakal khianatin gue, kan, Kak?"

​Andrew mengepalkan tangannya di pagar balkon. Pertanyaan itu adalah sebuah vonis. Jika ia berbohong, ia akan terus hidup dalam kepalsuan. Jika ia jujur, ia akan menghancurkan adiknya dan keluarganya malam ini juga.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!