Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum
Danny segera menjalankan tugasnya. Dia mulai berbalas pesan dengan Rania. Danny bisa sedikit santai saat berada di ruang kerja mansion Luneth karena Revo yang memintanya.
Terkadang dia butuh teman bukan sekretaris. Danny sangat profesional bisa membedakan situasi dan tempat.
Ruang kerja menjadi sunyi. Dua pria tampan tenggelam dalam urusan dan pikiran masing-masing. Revo bangkit lalu berdiri di dekat jendela, menatap halaman depan sambil menghela napas pelan.
Biasanya, sunyi seperti ini membantu menata pikiran. Pagi ini justru sebaliknya. Pikirannya malah balik ke meja makan. Ke tawa yang terlalu ramai.
Ke satu kata yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulut istrinya.
Uncle.
Revo mengusap tengkuknya.
Luar biasa. Baru dua hari menikah, harga dirinya sudah dipanggil om-om.
Harusnya dia kesal. Dan memang, tadi sempat. Tapi sekarang, yang teringat justru ekspresi Candy setelahnya. Mata membulat. Wajah memerah. Lalu usaha canggungnya untuk memperbaiki keadaan.
Kalau dipikir-pikir… lucu juga.
“Uncle,” gumam Revo pelan, lalu menghela napas.
"Hebat. Image dingin yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam satu kata."
Ia menyandarkan bahunya ke sisi jendela.
Harusnya ia fokus ke pekerjaan. Ke jadwal. Ke masalah yang lebih besar. Bukan ke urusan sarapan dan satu kecupan impulsif.
Tapi tetap saja—
Revo kembali teringat cara Candy diam membeku saat ia mengecup pipinya. Reaksinya jujur sekali. Tidak dibuat-buat. Tidak berlebihan.
Revo mengangkat alisnya sendiri.
Sejak kapan dia memperhatikan hal remeh seperti itu?
Ia menggeleng pelan. 'Bahaya," gumamnya lagi, kali ini dengan nada setengah mengejek diri sendiri.
Bahaya karena ia tidak keberatan dipanggil uncle…
selama yang memanggil adalah Candy.
Revo cepat-cepat meraih ponsel, menyalakan layar, lalu mematikannya lagi.
Oke. Cukup.
Kalau diteruskan, bisa-bisa besok dia mulai tersenyum sendiri di meja kerja. Dan itu jelas masalah.
"Fokus," ucapnya singkat.
Meski begitu, sudut bibirnya terangkat tipis—nyaris tak terlihat.
Sial.
Alis Danny terangkat pelan saat dia berdiri di samping Revo untuk melaporkan hasil belas pesannya dengan Rania.
Dia memperhatikan pria itu dari atas ke bawah kembali ke atas lagi dan berhenti di bibir Revo. Posturnya tegap seperti biasa. Wajahnya datar—hampir sempurna.
Hampir.
Karena sudut bibir itu.
"…" Danny memicingkan mata. "Revo?"
Revo menoleh. Senyum tipis itu masih belum sepenuhnya hilang.
Danny melirik jam di pergelangan tangannya. "Ini masih pagi, kan?"
Revo berdehem. Senyum itu lenyap seketika, diganti ekspresi dingin yang familiar.
"Ada apa?" tanyanya datar.
Danny mendekat beberapa langkah, menatap Revo dengan wajah serius—terlalu serius untuk ukuran Danny.
"Maaf," katanya pelan, "tapi saya barusan lihat sesuatu yang aneh."
"Aneh apa?"
Danny menunjuk wajah Revo. "Itu."
Revo mengernyit. "Apa?"
"Itu," ulang Danny sabar. "Ekspresi tadi. Yang… hangat."
Hening.
Revo menegakkan bahu. "Kamu salah lihat."
Danny menghela napas panjang. "Kita itu bareng dari SMA, Bara. Saya tahu bedanya wajah ‘bos galak’, ‘bos capek’, sama wajah—"
Ia berhenti sejenak, menimbang kata. "—wajah orang yang lagi kepikiran istri."
Revo menatap Danny tajam.
"Mimpi."
Danny mengangkat bahu. "Kalau bukan karena istri, gue nggak tahu lagi hal apa yang bisa bikin elu senyum pagi-pagi selain laporan laba."
Revo memutar badan, kembali ke mejanya. 'Fokus ke kerjaanmu."
Danny terkekeh kecil. "Siap. Tapi jujur aja—"
Ia mencondongkan badan sedikit. "Agak serem lihat Bos senyum sendiri."
Revo melirik tajam. "Keluar."
“Siap.” Danny berbalik, tapi berhenti di ambang pintu. "Oh ya, Bos."
Revo mendongak.
Danny tersenyum usil. "Uncle."
Klik.
Pintu tertutup.
Beberapa detik berlalu.
Revo menatap pintu itu lama.
Lalu mendecak pelan, "…Kurang ajar."
Namun kali ini, ia tidak sepenuhnya kesal.
Sedangkan Danny tertawa puas. Mengusili sahabat baiknya adalah olahraga pagi yang jarang berhasil—jadi ketika kesempatan emas itu datang, tentu saja tak akan ia lewatkan.
Untungnya, tadi ia sempat mendengar semua lelucon sebelum menyapa keluarga Luneth.
"Bangun pagi memang berkah," ucapnya sambil tertawa, seolah keberkahan itu khusus diturunkan untuk orang yang sukses mengerjai Revo.
Baru beberapa langkah ia melangkah, alisnya terangkat. "Eh… ya ampun, sampai lupa ngasih laporan."
Danny berbalik menuju ruang kerja. Namun, baru dua langkah, ia berhenti lagi.
"Ah, nanti saja," gumamnya sambil mengibaskan tangan. "Kalau masuk sekarang, bisa-bisa gue tinggal nama di batu nisan. Kasihan Bella, belum menikah sudah janda duluan."
Dengan wajah santai dan langkah ringan, Danny pun pergi—seolah hidup ini tak punya tenggat waktu.
Sementara itu, awan mendung yang seolah selalu menaungi Rania perlahan bergeser. Senyum kecil menghiasi wajahnya—terlalu sering untuk luput dari perhatian Ranti.
"Kamu kenapa?" tanya Ranti, nadanya terdengar lembut, tapi matanya mengamati setiap gerak Rania.
"Danny bilang, Bara mau ketemu sama aku, Ma," jawab Rania riang.
Mata Ranti membulat. Namun hanya sepersekian detik. Detik berikutnya, ekspresinya sudah kembali terkendali—tenang, seolah kabar itu tak lebih dari obrolan biasa.
"Rania," ucapnya pelan, nyaris seperti nasihat penuh kasih. "Bukannya kita sudah sepakat?"
"Itu mama yang bikin perjanjian sendiri," balas Rania santai. "Aku nggak pernah setuju. Lagipula aku nggak bisa nunggu lama-lama, Ma."
Ranti tersenyum tipis. Senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Dalam benaknya, rencana-rencana kecil mulai tersusun rapi.
"Ehem."
Adrian berdehem saat memasuki ruang makan. Ia sengaja melakukannya agar keberadaannya disadari. Obrolan ibu dan anak itu tak menarik baginya—terlebih sejak Candy tak lagi tinggal di rumah ini. Baru sekarang Adrian benar-benar menyadari, rumah ini terasa… kurang.
"Eh, sayang," ucap Ranti cepat, dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Terlalu lembut.
"Pagi, Pa," sapa Rania dengan senyum manis.
"Pagi," jawab Adrian datar.
Adrian sempat melirik meja makan, lalu mengalihkan pandangan. Selera makannya lenyap. Ia hanya mengambil secangkir cokelat panas dan bangkit.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Ranti, sedikit terlalu cepat.
"Ke ruang kerja."
"Tapi sarapannya—"
"Cukup ini saja." Adrian mengangkat cangkirnya singkat.
Langkahnya dipercepat. Ia tak ingin mendengar apa pun lagi.
Ranti menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu. Senyumnya memudar perlahan, digantikan tatapan dingin penuh perhitungan.
Dua hari saja sudah begini.
Bagaimana kalau seminggu? Sebulan? Setahun?
Tidak. Ia tak boleh kehilangan Adrian.
Awalnya, Ranti pikir menyingkirkan Candy akan membuat Adrian sepenuhnya menjadi miliknya. Nyatanya, Candy justru menjadi bayangan yang tak bisa ia singkirkan. Jika dibiarkan, ia bisa kehilangan segalanya.
Lebih baik tak mendapatkan apa pun… daripada kehilangan Adrian.
Ia menoleh ke arah Rania. Nada suaranya kini terdengar ringan, hampir antusias.
"Kapan kalian akan bertemu?"
Rania menaikkan sebelah alis. "Kenapa mama jadi semangat?" tanyanya curiga. Tatapannya tajam menelusuri wajah sang ibu. "Bukannya tadi mama marah aku mau ketemuan sama Bara?"
Ranti mengambil sepiring roti bakar dan meletakkannya ke atas meja dengan gerakan tenang. Terlalu tenang.
Ia mendekat sedikit, suaranya direndahkan.
"Karena mama tahu," ucapnya pelan, "kapan harus menahan… dan kapan harus memanfaatkan kesempatan."
Ia menatap Rania lurus.
"Lakukan dengan rapi."