Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabatku
Hujan mengguyur sedari pagi, membuat Laura tak bisa pergi liburan kemanapun. Dia hanya di rumah bersama suami dan juga anak angkatnya sambil menikmati sarapan yang dia buat sendiri.
"Wah, aku sangat suka French toast buatanmu. Jangan lupa cream cheese dan juga sirup mapple," ucap Dave sambil menyantap masakan istrinya.
"Sangat enak, terima kasih," imbuhnya sambil mengecup kening Laura yang duduk di sampingnya.
Tak lupa Laura pun membuatkan sarapan untuk anak angkatnya, chawanmushi yang dia buat sendiri dari hasil belajarnya dengan sang private chef.
"Enak, aku suka," ucap Larissa yang membuat Laura tersenyum manis sambil mengusap pipinya.
"Sayang, nanti siang aku akan pergi ke mall dan mengajak Larissa," ucap Laura yang tak mengajak Dave bersamanya.
"Wah, setelah ada teman kau langsung melupakanku. Larissa, kau sudah menggantikan posisiku di hati mamamu. Jadi kau harus menyayanginya melebihi rasa sayangku padanya," ucap Dave yang membuat Larissa tersenyum.
Siang harinya, Laura dan Larissa sampai ke tempat yang di tuju. Sambil mendorong stroller, diapun mencari tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan seseorang.
Laura pun masuk ke dalam coffe shop dan memesan beberapa minuman dan pastry. Sambil menunggu kedatangan seseorang, diapun menyantap pastrynya.
"Hai baby, pasti kau senang karena bisa merasakan pastry dan kopi," ucapnya sambil mengelus perutnya yang belum terlihat buncit.
"Mama," celoteh Larissa saat melihat kedatangan seseorang.
"Laura," panggil seorang wanita sambil melambaikan tangan pada Laura.
Laura berdiri, menyambut kedatangan sahabatnya.
"Mona, apa kabar? Ayo duduk, aku sudah memesan kopi kesukaanmu dan juga puff pastry isi moca," ucap Laura sambil menunjukan beberapa makanan yang dia pesan di atas mejanya.
"Kau selalu saja begini, selalu tahu dan ingat apa yang aku suka. Dan tentunya kita satu selera," ucap Mona sambil menyantap makanan miliknya.
"Ya, untung saja urusan lelaki kita tidak satu selera," canda Laura yang membuat Mona hampir tersedak.
Mona tertawa dengan tingkah yang sedikit canggung. Sedangkan Laura menikmati makanan yang dia pesan, bersama dengan Larissa.
"Larissa, apa kau tak merindukanku?" Tanya Mona yang tiba-tiba mengajak bicara Larissa.
"Dia sangat betah, apalagi dengan Dave. Mereka seperti memiliki ikatan batin dan wajahnya agak mirip," ujar Laura yang membuat Mona semakin canggung.
"Mungkin itu yang membuat Larissa akhirnya dipilih kalian untuk di angkat menjadi anak. Aku bersyukur dia bisa mendapat hidup layak. Kasihan jika dia harus tumbuh di panti asuhan."
"Apa kedua orang tua Larissa meninggalkannya di panti asuhan? Atau memang anak ini tak memiliki siapapun?" Tanya Laura yang membuat Mona semakin kikuk.
"Heuuu, eummm. Larissa hanya memiliki ibu, dan hidup ibunya tidak berkecukupan secara ekonomi. Dia menitipkan di panti asuhan agar kebutuhan Larissa mencukupi."
Laura mengangguk mendengar penuturan Mona. Keduanya pun saling berbincang dan menghabiskan makanan mereka masing-masing.
Laura pun mengajak Mona ke tempat belanja pakaian. Dia mengambil beberapa pakaian dan meminta Mona untuk mencobanya.
"Ini banyak sekali Laura, kau selalu saja membelikan pakaian bagus untukku. Sementara aku tak bisa memberikan apapun padamu," ucap Mona dengan raut wajah malu.
"Aku justru berterima kasih padamu. Karena hadiah pakaian dan peralatan bayi yang kau berikan di hari ulang tahun pernikahanku."
Mona tak bersuara, dia pergi ke fitting room dan mencoba beberapa pakaian yang Laura pilih.
"Wah bagus sekali. Pakaian ini memang cocok untukmu," puji Laura yang membuat Mona tersipu.
Ponsel Mona berdering, wajahnya seketika panik saat melihat orang yang menghubunginya.
"Siapa Na?" Tanya Laura yang tak penasaran, karena dia yakin jika itu suaminya.
"Bukan siapa-siapa, akhir-akhir ini selalu ada nomor tak dikenal yang menghubungiku."
***
Laura turun dari mobilnya dan menggendong Larissa menuju rumah. Dave menyambut kepulangan istri dan anaknya dengan wajah semrawut, yang membuat Laura ingin menjahilinya.
"Kenapa dengan wajahmu? Terlihat tak bersemangat dan juga kesal," ucap Laura memancing suaminya.
"Tidak sayang, hanya saja ada klien menyebalkan yang tak mengangkat panggilan ku. Padahal besok pagi dia mengadakan janji temu padaku dan tiba-tiba membatalkannya," jawab Dave berusaha menjelaskan pada istrinya sedetail mungkin.
Laura tersenyum dan segera duduk santai setelah Dave magambil Larissa dari pangkuannya. Dia pun membuka ponselnya dan melihat beberapa foto yang di ambil bersama Mona.
"Minggu depan aku akan pergi ke luar kota beberapa hari, klien ku ingin aku melihat lokasi dan juga kondisi perusahaannya secara langsung. Mereka sangat berharap aku bisa invest saham di sana," tutur Laura yang mau tak mau di setujui Dave.
Keduanya kini saling berbincang, membicarakan perkembangan perusahaan masing-masing. Sementara Larissa tertidur di atas sofa di temani oleh obrolan orang tua angkatnya.
Satu minggu kemudian, Laura berpamitan pada sang suami dan juga anak angkat mereka. Keberangkatannya kali ini di temani oleh Andreas sebagai orang kepercayaan Laura.
"Kenapa kau harus berpura-pura pergi ke luar kota? Memangnya apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Andreas penasaran, yang membuat Laura akhirnya angkat bicara.
"Aku ingin kau mencari orang yang mengawasi kegiatan suamiku selama aku tak bersamanya. Dan pesankan juga kamar hotel terbaik di kota Bandung," titah Laura yang di patuhi oleh Andreas.
"Pak Supir, berapa kali kau mengantar suamiku menjemput Mona di stasiun?" Tanya Laura yang membuat Andreas tersentak.
"Sepertinya tahun ini jarang nona, tapi dua tahun kemarin saya mengantar tuan sekitar dua minggu sekali," ucap supirnya yang kini berterus terang dengan perselingkuhan tuan majikannya.
"Aku ingin kau menghubungi bibi di rumah. Suruh mereka untuk pulang kampung sementara."
Sang supir menganggukan kepalanya, perintahnya akan dia laksanakan setelah Laura sampai di hotel.
"Aku sudah booking dua kamar di GH Universal. Aku yakin kau akan menyukainya," ucap Andreas yang membuat Laura menganggukan kepalanya.
Sampailah mereka di hotel yang telah Andreas pesan. Laura pun segera menuju kamarnya di susul Andreas di belakangnya.
"Tak ada laporan keuangan yang masuk mengenai pengeluaran kita untuk hotel ini. Apa kau membayarnya dengan uang pribadimu?" Tanya Laura yang membuat Andreas mengangguk.
"Kau ingin terlihat keren di mataku?" Benar begitu?" Tanya Laura kembali yang membuat Andreas tertawa.
"Ya, aku ingin terlihat keren di matamu. Aku juga ingin menunjukan padamu bahwa financialku sudah stabil. Jadi ini kulakukan sebagai tanda terima kasih karena kau sudah pekerjakan aku sebagai orang kepercayaanmu," jawab Andreas yang membuat Laura tersenyum.
Keduanya pun masuk ke dalam kamar masing-masing. Laura segera merebahkan dirinya di atas ranjang, sambil memikirkan beberapa rencana yang akan dia lakukan.
Sementara Andreas berdiri di balkon sambil melihat pemandangan hotel yang bergaya Eropa. Namun pikirannya tetap tertuju pada Laura, wanita yang selama ini memenuhi hatinya.
Andreas pun mencoba menghubungi Laura yang hanya terpisah jarak satu kamar. Dia merasa senang saat panggilannya di jawab oleh sang atasan.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Andreas yang membuat Laura kini memperlihatkan kelemahannya.
"Aku tak baik-baik saja, Andreas. Aku tidak baik-baik saja."
saat lbh memilih mndua krna nafsu dan serakah....
tpi trnyata perempuan yg di piara... dan bhkn rela mnyakiti laura.. tak lbh dri seorang jalang....
makin hncurlah kau dave... klo trnyata ank yg km sayangi dri gundikmu... trnyata bukan ank kndungmu.... tpi ank org lain🤣🤣🤣
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣