Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 13
"Makasih yaa Re, maaf karena aku, kamu harus ngerjain lagi gaunnya!"
"Gak masalah kok! Aku tinggal minta tambahan biaya dari calon suami kamu" Reya terkekeh begitupun dengan Rani. Ia merasa sedikit terhibur mendengar ucapan Reya
Rani menatap Reya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa bersalah dalam dirinya karena telah menjadi orang ketiga dalam pernikahan Reya dan suaminya
***
"Kita makan siang dulu yaa!" Tawar Revan dan Rani setuju
Mobil sport mewah itu berhenti didepan sebuah restoran ternama di pusat kota, Revan bahkan memesan ruang VIP untuk makan siang dirinya dan sang kekasih
"Ini berlebihan gak sih Van?" Rani merasa apa yang dilakukan oleh Revan sangat berlebihan
"Ya enggak lah! Ini biar kamu lebih nyaman aja!" Ujar Reyhan, keduanya berhenti bicara saat tiga orang pelayan datang membawa pesanan mereka
"Kamu harus coba ini! Ini menu menu best seller disini!" Revan menyodorkan potongan daging kearah wanita dihadapannya
"Aku gak mau makan kebanyakan Van, nanti bajunya gak muat lagi!" Tolak Rani, sejujurnya ia merasa sangat lapar dan menu makanan yang tersedia di atas meja terlihat begitu menggoda
"Dikit aja sayang! Kamu gak akan gemuk hanya karena sepotong daging kan?" Revan memaksa dan mau tak mau Rani membuka mulutnya
"Enak?" Tanya Revan, dan anggukkan kepala Rani berikan sebagai jawabannya
"Aku mau itu!" Seporsi sterloin steak itu kini beralih kehadapan wanita cantik itu membuat Revan mengulas senyumnya
"Pelan-pelan sayang! Kamu makannya udah kayak orang lagi ngidam aja!"
Uhuk..uhuk
Revan yang panik segera memberikan segelas air pada sang kekasih
"Makanya makannya pelan-pelan! Gak ada yang minta kok!"
Ucapan Revan membuat Rani terdiam, apa iya dia tengah mengandung anak Reyhan?
Astaga itu tidak boleh terjadi, selama sebulan keduanya menjalin hubungan terlarang itu, memang keduanya beberapa kali melakukan hal itu, tak menutup kemungkinan jika dirinya benar-benar tengah mengandung anak dari pria beristri
Rani menggeleng cepat, ia tak mungkin hamil anak Reyhan
***
Setelah makan siang bersama, Revan lalu mengantarkan kekasihnya itu untuk pulang, sepanjang perjalanan Rani selalu diam, pikirannya penuh akan ucapan Revan
"Apa badan aku gemukkan karena lagi hamil?" Tanya Rani dalam hati, entah apa yang akan terjadi pada dirinya jika hal itu benar-benar terjadi
"Sayang!"
"Hmm!" Suara Revan menyadarkan Rani dari lamunannya
"Udah sampe, gak mau turun?" Tanya Revan bercanda
"Udah sampe yaa? Aku gak nyadar!" Rani tersenyum kearah pria yang duduk dibalik kemudi
"Ngelamunin apa sih?" Revan melepas sabuk pengamannya lalu menoleh kearah wanita cantik disampingnya
"Gak kok!"
"Soal gaunnya yaa?" Tebak Revan dan Rani mengangguk
"Itu gaun impian aku, Revan!" Wajah cantiknya terlihat sedih
Revan berusaha menenangkan kekasihnya itu "Reya pasti bikin semuanya sempurna sayang! Kamu tenang aja yaa!"
Tangan Revan mengusap pipi wanita cantik itu, saat wajahnya mendekat Rani dengan cepat mendorong tubuh kekar pria dihadapannya
"Kamu mau apa? Jangan macem-macem Revan!"
Pria tampan itu tersadar, Revan kembali duduk di kursinya, sembari mengutuk sikap lancangnya
"Maafkan aku sayang! Aku salah, maaf yaa!" Revan merasa bersalah, selama ini ia menjaga kekasihnya itu dengan baik, dan apa yang ia lakukan tadi bukanlah hal yang baik
"Iya gak pa-pa, aku masuk dulu!" Sebelum turun, Rani menatap kekasihnya itu "Kamu gak mau mampir dulu?"
"Lain kali aja! Aku masih harus ketemu temen soalnya!" Revan tersenyum manis
"Ya udah, kamu hati-hati" Rani masih berdiri didepan rumah sampai mobil mewah itu hilang dari pandangannya
***
Revan tiba disebuah restoran, disana seorang pria tampan telah menunggunya
"Hay bro!" Sapa Revan "Udah lama nunggunya?"
Pria tampan itu melihat jam mewah yang melingkar dipergelangan tangannya "Dua puluh menit"
"Ck, lebay banget!" Revan duduk dan menyesap jus jeruk milik pria dihadapannya
"Sopan banget lo!" Darren menatapnya tajam
"Sorry, ya elah gitu aja marah. Cepet tua entar, mana belum nikah lagi" Revan memang terkenal tidak sopan pada sahabat-sahabatnya termasuk Darren walaupun keduanya baru akrab setelah kerja sama bisnis yang keduanya jalani
"Saya gak suka buang-buang waktu Revan! Jadi selesaikan pekerjaannya dengan cepat!" Darren memang tidak suka basa-basi, menurut Revan pria itu seperti patung batu karena tak memiliki ekspresi
"Santai dikit gak pa-pa kali Ren! Gak bakal bikin lo rugi juga!" Ujar Revan dengan santainya, bahkan pria tampan itu memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan
"Lo belum kepikiran buat nikah?" Pertanyaan Revan membuat dirinya mendapatkan tatapan tajam dari pria dihadapannya
"Gak ada yang menarik!" Jawab Darren dingin
"Masih naksir Reya?" Pertanyaan itu dijawab oleh Darren hanya berupa gumaman saja
"Mending lupain Reya! Di luar sana banyak banget cewek yang siap ngerangkak diatas ranjang lo, Darren!" Ujar Revan dengan santainya
Ia tak habis pikir, bagaimana bisa ada seorang pria tampan dan mapan yang hanya terpaku pada satu wanita saja, ia akui Reya sangat cantik, tapi menunggu seseorang yang merupakan istri orang lain juga tindakan yang gi la
"Lo tau kenapa gue secinta itu sama Reya?"
"Ya, dan lo berlebihan!"
"Ini gak semudah itu Van, Reya segalanya buat gue! Dia yang bikin gue ada dititik ini" Ucap Darren
Ingatannya kembali pada kisah saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah
Flashback on
Darren hanyalah murid pendiam, dirinya bahkan terlihat cupu dengan kacamatanya, tak jarang dirinya mendapat Bullyan dari murid-murid lainnya
Darren berjalan meninggalkan kantin, dirinya memang tak begitu suka berbaur dengan murid-murid lainnya
"UPS!" Seorang murid perempuan dengan sengaja menabrakkan tubuhnya pada Darren membuat jus alpukat miliknya tumpah dan membasahi seragamnya
"Lo gak bisa liat yaa? Mata udah empat masih gak guna juga?" Cemooh siswi itu dan Darren tak memiliki keinginan untuk membalas
Saat ia hendak berlalu, tiba-tiba saja murid lainnya mengelilinginya
"Mau kemana? Lo belum minta maaf!" Ujar salah seorang dari mereka
"Maaf!"
"Woow, berani banget lo, cupu!"
"Kayanya dia minta dikasih pelajaran deh!" Salah seorang murid pria mendorong tubuhnya, murid tersebut adalah kekasih dari Angel, murid yang tadi menumpahkan jus alpukat miliknya
"Aku udah minta maaf, sekarang apa lagi?" Darren mengangkat wajahnya menatap satu persatu murid yang mengelilinginya
"Lo tetep harus dikasih pelajaran!" Adjie mengangkat tangannya, namun tiba-tiba saja tubuhnya terdorong ke depan
"Siapa yang berani..." Ucapannya menggantung di udara saat seorang siswi cantik berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam
Namanya Reya, dia cukup terkenal diantara para siswa. Banyak murid laki-laki yang menggilainya, selain cantik, Reya terkenal dari keluarga kaya raya. Keluarga Albert menjadi salah satu donatur tetap sekolah
"Apa?"