Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 2
"Ibu ..." panggil Aruna lirih air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tak bisa dia tahan lagi.
"Nak ...," panggil Bu Mutiara sambil tersenyum.
Padahal dirinya dalam keadaan terlu-ka parah karena ulah ayahnya. Tapi dia tetap berusaha tersenyum di depan anak perempuannya. Anak yang saat ini tak di akui oleh Ayah kandungnya. Anak yang selama hidupnya selalu di bedakan oleh suaminya hanya karena dia terlahir sebagai anak perempuan.
"Ibu tak apa-apa Nak. Tolong bersabarlah sampai ibu memberikan bukti kepada ayahmu. Saat ini dia hanya sedang marah karena berita yang dia dapat dari orang yang tak bertanggung jawab," ucap Bu Mutiara.
"Tapi dari dulu ayah tak pernah suka sama aku, Bu! Ayah selalu benci sama Runa, ayah lebih sayang kepada Arkha. Bukannya ayah ingin memiliki anak laki-laki yang kuat. Tapi kenapa Arkha tak di perbolehkan lelah atau bahkan lu-ka sedikit juga tidak boleh. Sedangkan aku karena perempuan, harus melakukan semua yang di lakukan anak laki-laki. Aku benci ayah! Sekarang bahkan ayah tak mengakui aku sebagai anak. Dan ibu juga di perlakukan seperti ini. Aku benci ayah, Bu ... Aku benci dia ..." Aruna menangis tergugu untuk pertama kalinya.
Bu Mutiara yang tak bisa bergerak karena seluruh tubuhnya sakit hanya bisa mengusap pipi dan kepala anak perempuannya itu. Hati Aruna pasti sangat sakit, lebih sakit dari yang dia rasakan. Hidup anaknya dari kecil sudah terlalu berat karena harus mengikuti semua keinginan ayahnya. Bu Mutiara tak bisa melarang atau membela Aruna. Apalagi dengan sikap Bima yang memang sangat keras dan tegas dengan pendiriannya.
"Nak, jangan benci ayahmu. Walau bagaimana pun dia tetap ayahmu!" ujar Bu Mutiara kembali setelah mengusap lembut kepala Aruna.
"Maaf aku harus keluar Bu, Runa hanya di beri waktu lima menit oleh penjaga. Jangan sampai mereka juga di beri hukuman oleh Tuan Bima," Aruna bangkit dan mengusap air matanya kasar.
"Tuan Bima?" beo Bu Mutiara.
"Iya, dia meminta aku memanggilnya dengan sebutan Tuan Bima dan aku akan menjadi bu-/daknya sampai semua yang aku terima dari lahir sampai sekarang lunas. Aku harus membayar semuanya Bu," jawab Aruna sambil tersenyum dan berlari dari sana.
Lima menit waktu yang di berikan sudah berlalu. Aruna keluar dan masuk ke dalam kamarnya setelah berterima kasih kepada para penjaga di depan pintu kamar ibunya. Dia menatap kamarnya, Kamar yang kebanyakan di isi dengan berbagai memo yang harus dia ingat dan lakukan setiap hari. Bahkan tak ada yang namanya boneka atau sejenisnya yang berbau dengan anak perempuan.
Hukuman dari ayahnya akan menanti kalau dia tak melakukan hal sesuai keinginannya. Semuanya harus perfect di mata ayahnya. Tak ada kesalahan sekecil apapun.
"Sebelum adanya hal ini kamu begitu menyiksaku dengan berbagai yang tak pernah aku sukai ayah! Apa yang akan aku terima setelah ini? Setelah kamu murka dengan hal yang tak pernah di lakukan oleh ibu? Apalagi aku ada dalam lingkaran itu? Aku yang kau bilang anak ha-ram! Apa selain aku anak perempuan yang tak pernah kau harapkan, sehingga kamu selalu menjejali aku dengan semua hal berat, bahkan rasanya aku hampir ma-ti merasakannya. Jika memang kau membenciku kenapa kamu tak mem-bu-nuh aku saja Ayah! Itu jauh lebih baik untukku. Daripada hidup seperti ini!" ucap Aruna mulai mengenasi barang-barangnya.
Dia tahu diri setelah ini ayahnya itu pasti akan mengusirnya dari kamar ini. Kamar yang tak layak untuk dia tinggali. Sekarang dia bukan anaknya lagi. Tapi sebagai bu-/dak yang harus tunduk dengan setiap perintah ayahnya. Untuk membayar semua uang yang dia keluarkan selama ini. Untuk membiayai hidupnya.
Tak ada tangisan, tangisnya hanya keluar saat berada di hadapan sang ibu tadi. Hatinya sakit, hatinya hancur tapi tak bisa menangsi seperti anak seusianya. Apalagi merajuk.
"Kakaaaakkk... Lihatlah ayah membelikan aku mainan robot terbaru juga alat gambar baru yang sangat lengkap," Arkha berlari saat masuk ke dalam rumah dan memperlihatkan semua barang yang dia beli bersama dengan ayah mereka.
"Wah bagus sekali. Setelah ini adek harus makin rajin menggambarnya ya," jawab Runa mengusap kepala adiknya dengan lembut sambil tersenyum.
"Loh kakak mau kemana?" tanya Arkha saat melihat Runa membawa Box besar di tangannya.
"Arkha, simpan dulu ini semua di kamarmu ya sayang," seperti biasa Bima berbicara sangat lembut kepada Arkha. Berbeda saat berbicara dengan Runa yang akan sedikit kasar dan juga tegas. Tak ada panggilan manja setelah usianya Lima tahun. Arkha menurut dan membawa semua belanjaannya ke dalam kamar sambil berlari kecil khas anak kecil yang bahagia. Bahkan anak kecil itu lupa dengan yang terjadi tadi kepada ibunya.
"Apa kamu cemburu melihatku lebih sayang dan memanjakan Arkha di banding dengan kamu?" tanya Bima sambil memasukkan kedua tangannya di saku. Tatapan dan senyumannya juga seolah mengejek kepada Runa. Sebenci itukah ayahnya kepada dia? Sampai-sampai dia tak peduli dengan perasaannya selama ini.
"Tidak, karena itu hak anda sebagai ayah. Lagi pula selama ini saya sudah terlalu terbiasa tak mendapatkan semua itu dari anda. Jadi tak ada yang saya rasakan sedikitpun Tuan Bima!" jawaban Runa membuat Bima melotot.
Dia tak suka melihat Aruna tegar seperti ini. Dia ingin melihat Aruna menangis dan memohon padanya. sepertinya Bima lupa, jika dia sendirilah yang sudah membentuk karakter Aruna menjadi seperti itu.
"Baguslah! Kalau kau tahu diri. Apalagi kau juga susah tahu jika kamu adalah anak ha-ram yang tak tahu siapa ayahmu sebenarnya. Ingat kau harus tunduk padaku untuk membayar semua yang sudah aku berikan untuk membiayai hidupmu selama ini. Dan selama itu pula kau tak boleh pergi dariku!" Bima mengingatkan dengan tegas.
Aruna dengan berani menatap kedua mata pria yang selalu dia rindukan suatu hari akan bahagia dan tersenyum bangga padanya. Karena dia selalu menuruti keinginan dan memberikan yang terbaik untuk ayahnya. Tapi tak pernah dia dapatkan semua itu. Semuanya hanya Bima berikan kepada Arkha.
"Saya paham Tuan, berapa lama saya harus menjadi bu-/dak anda agar bisa bebas? Lalu apakah saya masih boleh kuliah atau bekerja saja untuk anda?" tanya Aruna dengan tegas tanpa ada rasa sedih atau takut kepada Bima. Bahkan Runa dengan berani membalas tatapan Bima.
"Tujuh tahun. Tujuh tahun kau harus menuruti ku! Kau masih boleh sekolah dan sudah aku masukkan sampai kau lulus sekolah menengah atas semua biaya yang harus kau tanggung," jawab Bima.
"Kalau aku loncat kelas? Sekarang aku bahkan sudah kelas tiga sekolah menengah pertama di usiaku yang ke dua belas. Artinya aku bisa memotong biaya yang harus ku bayar kan?" tanya Runa tegas.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/