"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Detak Jantung di Ujung Remote
Ruangan rumah sakit yang serba putih itu seketika terasa seperti peti mati yang sempit bagi Tian. Suara Adrian yang keluar dari perangkat penyadap mikro di bawah bantal Mega terdengar begitu jernih, begitu dingin, seolah pria iblis itu sedang berdiri tepat di belakang punggungnya.
"Jangan bergerak terlalu cepat, Tian. Satu gerakan gegabah darimu, dan aku hanya perlu menekan satu tombol di ponselku untuk mengirimkan kejutan listrik statis ke alat pacu jantung ilegal yang kupasang pada Mega saat dia 'kritis' kemarin," suara Adrian tertawa kecil, suara tawa yang mengandung racun.
Tian membeku. Tangannya yang hendak menyentuh dahi Mega berhenti di udara. Matanya beralih ke dada Mega yang naik-turun dengan lemah. Di sana, di balik kulit yang pucat, ia kini menyadari ada sedikit benjolan kecil yang tidak wajar di dekat tulang selangka istrinya.
Iblis ini... dia benar-benar menanam bom waktu di dalam tubuh istriku, batin Tian dengan amarah yang membuat pandangannya memerah.
"Apa maumu, Adrian? Kau sudah kehilangan perusahaanmu, kau sudah jadi buronan! Kenapa kau tidak lari saja dan biarkan kami tenang?" desis Tian, suaranya ditekan agar tidak membangunkan ibunya yang sedang tidur di ranjang sebelah.
"Lari? Aku tidak lari, Tian. Aku hanya sedang pindah ke papan catur yang lebih besar. Aku butuh paspor diplomatik dan akses keluar yang aman dari Jenderal Yudha. Dan kaulah yang akan memberikannya padaku," ucap Adrian. "Sekarang, keluar dari ruangan itu tanpa menimbulkan kecurigaan. Bawa map hitam di laci meja suster. Di dalamnya ada instruksi untukmu. Jika dalam sepuluh menit kau tidak bergerak, detak jantung Mega akan kubuat berhenti... selamanya."
Tian menatap Mega untuk terakhir kalinya. Istrinya itu sempat membuka mata sedikit, menatap Tian dengan pandangan sayu yang seolah bertanya, “Mas, mau ke mana?”
Tian hanya bisa memberikan senyum paling getir yang pernah ada, lalu mengecup keningnya dengan cepat. "Tidur yang nyenyak, Sayang. Mas cuma sebentar," bisiknya bohong. Kebohongan yang paling menyakitkan yang pernah ia ucapkan.
Tian melangkah keluar. Setiap langkahnya terasa seperti menginjak duri. Ia melihat petugas kepolisian yang berjaga di depan pintu, menyapa mereka dengan anggukan palsu seolah semua baik-baik saja. Di dalam dadanya, ia merasa seperti sedang membawa beban seluruh samudera.
Ia mengambil map hitam yang dimaksud. Isinya adalah sebuah alat kecil pemancar sinyal dan koordinat sebuah gudang di pinggiran kota yang berbatasan dengan hutan. Tian tahu, Yudha tidak akan membiarkannya pergi sendirian jika tahu rencana ini. Namun, ia tidak punya pilihan. Nyawa Mega ada di ujung jari seorang psikopat.
Tian mencuri sebuah sepeda motor milik kurir di parkiran belakang dan memacu kendaraan itu secepat kilat. Angin malam 2026 yang dingin menghantam wajahnya, namun ia tidak merasakannya. Pikirannya hanya terfahu pada satu hal: Bagaimana cara mengeluarkan benda itu dari tubuh Mega tanpa membunuhnya?
Sepanjang perjalanan, Tian menggunakan earpiece untuk menghubungi Paman Hasan secara rahasia melalui jalur yang tidak bisa disadap.
"Paman... Adrian menanam alat di tubuh Mega. Dia mengancam akan membunuhnya jika aku tidak membantunya kabur," ucap Tian dengan suara yang hampir pecah oleh tekanan.
Hening sejenak di seberang sana. Paman Hasan mengumpat kasar. "Itu chip pemacu jantung yang dimodifikasi, Tian. Itu teknologi gelap yang biasanya dipakai tentara bayaran untuk menyandera tawanan. Kau tidak bisa mencabutnya sembarangan. Jika kabelnya terputus tanpa kode enkripsi, jantung pasien akan mengalami fibrilasi hebat."
"Lalu aku harus bagaimana, Paman? Aku tidak mungkin membiarkan dia menggunakan Jenderal Yudha untuk melarikan diri!"
"Tenang, Macan. Dengarkan aku. Di gudang itu, Adrian pasti membawa teknisi medisnya. Kau harus menangkap teknisinya hidup-hidup. Hanya dia yang punya alat penawar atau kodenya. Jangan fokus pada Adrian, fokus pada siapa yang memegang kendali teknis di sampingnya," instruksi Hasan dengan nada militer.
Tian sampai di koordinat tersebut. Sebuah gudang distribusi terbengkalai yang dikelilingi oleh ilalang tinggi. Di sana, tiga mobil SUV hitam terparkir dengan mesin menyala. Adrian berdiri di tengah, tidak lagi memakai jas mahal, melainkan jaket taktis dengan senjata tersampir di bahunya.
"Tepat waktu, seperti biasa," Adrian menyambut Tian dengan senyum dingin. Di sampingnya, seorang pria kurus berkacamata memegang sebuah laptop yang terhubung dengan antena satelit kecil. "Perkenalkan, ini Dokter Malik. Dialah yang 'menjaga' detak jantung istrimu dari sini."
Tian menatap Dokter Malik dengan tatapan predator. Pria itu gemetar, menyadari bahwa pria di depannya adalah pria yang baru saja menghancurkan Si Kapak di dermaga.
"Tugasmu sederhana, Tian," Adrian melemparkan sebuah tas berisi pemancar sinyal militer. "Gunakan ini untuk masuk ke frekuensi radio Mabes Polri. Katakan pada Yudha bahwa kau menemukan gudang senjata ilegal di koordinat yang salah, pancing mereka menjauh dari perbatasan utara. Jika kau berhasil memberikan jalan keluar bagi timku, aku akan memberikan kode penonaktifan alat di tubuh Mega."
Tian memegang alat itu. Tangannya gemetar. Ini adalah pengkhianatan terhadap negara, terhadap Yudha yang sudah membantunya. Namun, di layar laptop Dokter Malik, Tian melihat grafik detak jantung Mega yang disiarkan secara real-time. Detak jantung istrinya sedang tidak stabil.
"Dia kesakitan, Tian. Kau bisa melihatnya, kan?" provokasi Adrian. "Satu klik, dan dia akan beristirahat selamanya di surga yang kau bicarakan itu."
Tian menatap langit yang mulai memerah, tanda fajar akan segera tiba. Ia tahu, ini adalah pertaruhan terakhir di Arka ini. Ia perlahan mendekati pemancar sinyal itu, namun matanya tidak lepas dari leher Dokter Malik.
Tian mulai berbicara ke arah radio, suaranya terdengar meyakinkan bagi operator di Mabes Polri. Namun, tiba-tiba, alarm di laptop Dokter Malik berbunyi nyaring. "Tuan Adrian! Seseorang mencoba meretas sinyal kita dari jarak jauh! Sinyal jantung pasien ditarik paksa oleh pihak ketiga!" teriak Malik panik. Adrian langsung menodongkan pistol ke kepala Tian. "Kau menjebakku?! Matikan jantungnya sekarang, Malik!" teriak Adrian. Tian melompat menerjang Malik, namun di saat yang sama, ponsel di saku Tian bergetar sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk: "Jangan sentuh teknisinya. Jantung Mega sudah kami amankan, tapi ada bom asli di bawah ranjangnya. Lari."
Tian memacu motornya gila-gilaan, mengabaikan luka tembak yang mulai menghangatkan jaketnya dengan darah segar. Angin fajar di awal tahun 2026 ini terasa seperti sembilu yang menyayat wajahnya. Di tengah deru mesin, pikiran Tian berputar liar pada sosok "Pihak Ketiga" tersebut. Apakah ini pengkhianatan dari dalam tim Jenderal Yudha, ataukah musuh masa lalu dari dunia hitam Paman Hasan yang baru saja terbangun?
"Mega, bertahanlah satu menit lagi!" raungnya ke arah langit yang mulai memerah. Setiap detik terasa seperti satu tahun. Ia tahu, jika bom itu benar-benar ada, rumah sakit bukan lagi tempat penyembuhan,
melainkan jebakan maut yang siap meratakan semua yang ia cintai. Sinyal jantung Mega yang diamankan pihak misterius itu memberinya harapan kecil, namun bom di bawah ranjang adalah vonis yang lebih brutal. Tian bukan lagi hanya melawan manusia, ia kini sedang berlomba melawan detik-detik terakhir jam pasir takdir yang nyaris habis.
Lanjut bab 12...