NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Ruangan kembali sepi. Tidak ada suara selain napas yang terdengar berat dan tidak beraturan. Semua tertegun di kursi masing-masing. Aku merasakan ketegangan menjalar perlahan, seperti kabut dingin yang merayap dan menempel di kulit. Udara terasa pengap, meski pendingin ruangan masih menyala.

Pelaku teror bergerak sangat tepat waktu dalam menebar ancaman. Sementara itu, kami masih berdebat soal harga diri institusi. Dengan kebodohan yang nyaris disengaja, sebagian dari kami bahkan berniat menetapkan Pak Romi sebagai tersangka hanya demi menenangkan tekanan publik. Pikiran itu membuat dadaku semakin sesak.

Tiba-tiba lampu mati. Gelap menyapu ruangan tanpa peringatan. Internet ikut terputus, layar monitor dan televisi padam serentak. Kami refleks menyalakan ponsel masing-masing. Cahaya kecil dari layar ponsel berpendar gugup di tangan-tangan yang gemetar. Lampu kembali menyala, lalu mati lagi, hidup lagi, berkedip tidak stabil seperti jantung yang hampir berhenti.

Ini benar-benar gila. Jam di ponselku menunjukkan pukul 22.30. Rapat panjang dan aksi maraton sejak pagi terasa tidak berarti. Semua energi yang kami keluarkan, semua keputusan yang diperdebatkan, seolah berakhir di jalan buntu. Tidak ada satu langkah pun yang benar-benar membawa kami lebih dekat pada jawaban.

Setelah lampu berkedip beberapa kali, seakan memberi peringatan bahwa teror ini belum berakhir, lampu akhirnya menyala stabil. Televisi di sudut ruangan ikut hidup. Layarnya putih polos, lalu muncul tulisan merah seperti darah.

“Semua belum berakhir, salam 172.”

Tulisan itu bergerak beberapa detik, kemudian berhenti.

Listrik kembali normal. Internet juga kembali tersambung. Secara teknis, semuanya terasa normal. Namun suasana justru semakin mencekam. Teror ini bukan hanya soal kematian, tapi soal kendali. Pelaku benar-benar menguasai keadaan, sementara kami masih terjebak dalam upaya menyelamatkan harga diri institusi dan mengesampingkan kebenaran.

Lututku terasa lemas. Dadaku berdegup kencang. Aku yakin bukan hanya aku yang merasakan hal ini. Semua yang ada di ruangan tampak pucat. Pak Romi terlihat paling gelisah. Tangannya yang tadi hendak diborgol menghentak meja dengan keras.

“Kenapa kalian hanya diam saja?” bentaknya dengan napas tersengal menahan emosi. “Cepat bertindak. Apa kalian tidak belajar dari kejadian sebelumnya? Ini bukan saatnya memikirkan harga diri. Semakin kalian tidak jujur, semakin fatal akibatnya.”

Tidak ada yang langsung menjawab. Semua terdiam, mungkin bingung, mungkin takut, atau mungkin sadar bahwa kata-kata Romi benar adanya.

Tiba-tiba televisi kembali bersuara. Breaking news muncul, membahas teror 172. Wajah-wajah reporter tampak tegang. Institusi keamanan negara dipertanyakan secara terbuka. Negara terlihat kalah oleh teror. Listrik dan internet disabotase dengan mudah. Kami tampak seperti pecundang, padahal negara begitu rajin menarik pajak dari rakyatnya.

Semua terpaku menatap layar. Suasana semakin menekan. Kami seperti sekumpulan orang bodoh yang terus dipermainkan. Aku diam-diam membuka media sosial. Isinya nyaris seragam, penuh teror 172. Spekulasi bermunculan tanpa kendali. Ada yang menyebut teroris, ada yang menuduh negara tetangga, bahkan ada yang membawa-bawa gerakan Zionis. Semua tidak berdasar, dan semakin liar karena kami belum memberikan satu pun penjelasan resmi.

Andai mereka tahu semuanya bermula dari hal yang dianggap sepele. Dari perundungan terhadap seorang siswi SMP yang tidak ditangani secara adil. Dari kebohongan yang ditutup rapat. Ketidakadilan itu telah melahirkan monster pembunuh yang kini mengguncang kota.

“Cepat tangkap empat belas orang pelaku,” ujar Pak Romi dengan suara bergetar menahan amarah. “Interogasi mereka. Temukan Nirmala. Hanya itu yang bisa kita lakukan.”

“Tiga korban tidak ada hubungannya dengan Nirmala,” sahut Pak Cipto dengan nada gemetar, seolah mencoba bertahan pada argumennya.

Romi langsung meraih asbak dan melemparkannya ke arah Pak Cipto. Andai Pak Cipto tidak sigap menghindar, kepalanya pasti sudah bocor. Aku sendiri merasakan dorongan untuk melakukan hal yang sama.

“Dasar bodoh,” umpatan Romi terdengar tajam. “Dua korban adalah mantan anggota Polsek Pasar Rebo. Satu lagi pengacara yang mengurus penutupan kasus Nirmala. Orang yang paling tahu soal perundungan itu adalah aku.”

Suasana memanas. Ego masih dipertahankan demi harga diri. Pak Cipto tampak hendak membalas, napasnya tersengal menahan amarah.

“Berhenti,” suara Pak Nurdin akhirnya terdengar. Sejak tadi aku memperhatikannya. Ia terus menatap ponsel dengan wajah tegang, seolah baru saja membaca sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari apa pun yang kami bahas.

“Kita akan melakukan penangkapan terhadap empat belas orang itu,” ucap Pak Nurdin akhirnya. Suaranya tegas, namun ada getar tipis yang sulit disembunyikan.

Beberapa wajah di ruangan langsung berubah pucat. Ada yang menelan ludah, ada yang saling pandang dengan mata gelisah. Kepanikan menyebar cepat, seperti api kecil yang dibiarkan menjilat bensin.

“Tapi mereka tidak bisa kita tangkap, Pak. Ini akan menyebabkan kondisi tidak stabil,” bantah Pak Haris dengan nada meninggi, nyaris memohon.

Dadaku mendidih. Rasanya aku ingin menerjang dan menghajarnya. Dua perwira ini terlalu lama menyimpan rahasia, terlalu nyaman berlindung di balik jabatan. Bodoh sekali jika menganggap situasi ini masih bisa dikendalikan dengan cara lama.

“Pak, perintahkan saja anggota yang mengamankan mereka untuk membawa mereka ke sini,” kataku sambil berdiri. “Kita dikejar waktu. Pelaku teror selalu tepat waktu dalam membunuh, sementara kita terus terlambat mengambil keputusan.”

“Andi, diam,” bentak Pak Cipto tajam, matanya menyorot dingin ke arahku.

“Dasar bodoh kamu, Cipto. Dari dulu memang bodoh, penjilat,” umpat Pak Romi dengan nada penuh amarah.

Pak Cipto tampak naik pitam, tubuhnya condong ke depan seolah siap membalas. Suasana nyaris meledak.

“Cukup,” ujar Pak Nurdin keras. “Keputusan sudah dibuat. Empat belas orang itu harus ditangkap sekarang juga.”

Kami duduk di ruang rapat sambil menyaksikan laporan penangkapan empat belas anak yang lima tahun lalu terlibat dalam perundungan terhadap Nirmala. Layar monitor menampilkan potongan komunikasi lapangan, suara radio bersahutan, dan wajah-wajah tegang anggota yang bergerak di berbagai titik kota. Beberapa penangkapan berlangsung cepat, tetapi sebagian lain diwarnai perlawanan sengit.

Beberapa kali ponsel Pak Nurdin berdering. Aku bisa melihat rahangnya mengeras setiap kali layar menyala. Bukan hanya orang tua para pelaku yang menelepon, tetapi juga sejumlah nama besar yang mencoba melakukan intervensi. Nada bicara mereka terdengar mendesak, bahkan mengancam. Kali ini Pak Nurdin memilih tidak tunduk, meski jelas tekanan itu menggerogoti pikirannya.

Berada di posisi tengah seperti ini ternyata sangat tidak menyenangkan. Aku merasa cemas, seolah duduk di atas bara api yang siap menyala kapan saja. “Pak, sebaiknya ponselnya dimatikan saja,” saranku pelan. “Semua yang di sini juga. Cukup satu ponsel untuk komunikasi dengan lapangan.”

Pak Nurdin mengangguk lelah. “Benar, aku juga pusing,” katanya lirih sambil mematikan ponselnya. Setelah itu, suasana sedikit lebih tenang. Kami hanya mengandalkan satu alat komunikasi. Di layar, proses penangkapan terus berjalan dengan ketegangan yang terasa sampai ke ruangan ini.

Tepat pukul 23.00, laporan masuk bahwa sebagian besar penangkapan telah terlaksana. Namun ponsel kembali berdering. “Target atas nama Dani menolak keras penangkapan,” lapor seorang anggota. “Sekarang rumahnya dijaga ketat oleh anggota bersenjata.”

Kami saling pandang. Mereka benar-benar berkuasa, sampai mampu mengerahkan orang bersenjata. “Berapa jumlahnya?” tanya Pak Nurdin.

“Ada sekitar tiga puluh orang, Pak.”

“Biarkan,” putus Pak Nurdin tegas. “Nanti umumkan saja jika itu pengerahan ilegal. Fokus kita sekarang menemukan keberadaan Nirmala.”

Sambungan terputus. Waktu berjalan lambat. Mata kami perih, tubuh lelah, tetapi ketegangan menahan kantuk. Jam menunjukkan pukul 23.30. Satu jam telah berlalu. Jantungku terasa berhenti berdetak.

Ponsel kembali berdering. Pak Nurdin mengangkatnya. “Pak,” suara di seberang terdengar panik, “target bernama Dani barusan tertembak.”

“Apa?” Pak Nurdin membentak. “Kenapa kalian menembak? Bukankah aku sudah perintahkan mundur?”

“Bukan kami, Pak,” jawab anggota itu tergesa. “Kami sudah hendak pulang. Orang tua korban yang menemukan target sudah tertembak.”

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!