Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Reuni Di Datara Pilar Merah
Dataran Pilar Merah menyambut mereka dengan hawa panas yang seolah menghisap sisa tenaga. Pilar-pilar batu raksasa berdiri kaku, memerangkap suhu siang hari di sela- sela formasi batuan yang sempit.
Pasukan Black Knight baru saja berhenti untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan berjam-jam, namun tidak ada satu pun ksatria yang merasa tenang. Keringat dingin mengucur di balik zirah mereka. Vorgon dan Kaelith duduk terdiam sambil memandangi telapak tangan mereka yang gemetar.
Mereka tahu, jika mana diizinkan, mungkin mereka punya kesempatan untuk menang atau setidaknya mengimbangi Tuan Muda mereka. Namun, mereka juga tahu apa yang terjadi tujuh tahun lalu; bagaimana kekuatan mana yang meluap-luap tetap gagal melindungi tuannya dari pengkhianatan.
Latihan tanpa mana ini bukan sekadar simulasi fisik, tapi cara Arion menanamkan bahwa di titik terendah sekalipun, seorang ksatria tidak boleh menjadi sampah yang tak berguna.
Malam yang mereka nantikan-sekaligus mereka takuti-akhirnya tiba.
Arion berdiri di tengah dataran landai yang dikelilingi pilar-pilar batu. la hanya memegang pedang besi biasa, namun auranya begitu menggebu-gebu, seolah-olah seluruh panas dari pilar merah di tempat itu terserap ke dalam tubuhnya.
"Maju," ucap Arion. Suaranya tidak keras, namun bergema dengan otoritas yang mutlak.
Awalnya, langkah kaki para pasukan ragu. Namun, saat ksatria pertama menerjang, bendungan itu pecah.
Ratusan prajurit dan ksatria elit mengepung Arion dari segala arah.
Mereka menggunakan segala cara; gerakan tipuan, serangan terkoordinasi dari titik buta, hingga taktik curang yang biasa digunakan di medan perang kotor.
Semua gagal.
Arion bergerak seperti pusaran bayangan.
la menangkis, menghindar tepat satu inci, dan membalas dengan hantaman yang presisi. Setiap gerakan ksatria elit itu terbaca olehnya seolah-olah mereka bergerak dalam lumpur.
Tubuh Arion mungkin masih terasa kaku, namun bakat jeniusnya dalam teknik pedang membuat setiap serangan balik darinya terasa mematikan.
"Hanya segini?"
Arion bertanya di tengah deru napas pasukannya yang kewalahan.
"Tujuh tahun kalian menunggu, dan kalian masih tidak bisa menyentuh ujung kemejaku?" Di pinggir lapangan, Liora menggerutu.
Rahangnya mengeras, dan kesabarannya habis. la tidak bisa lagi hanya menjadi penonton saat tuannya sedang berdansa di tengah kekacauan.
"Sialan, aku tidak tahan lagi!"
Liora melesat maju seperti anak panah.
"Maaf atas kelancanganku, Tuan Muda... tapi aku butuh ini lebih dari mereka!"
CLANG!
Benturan belati Liora dengan pedang Arion menciptakan suara nyaring yang memutus ritme pertarungan para prajurit.
Arion menangkisnya dengan satu putaran pergelangan tangan yang elegan.
"Menarik," Arion menyeringai tipis-sebuah ekspresi yang jarang terlihat.
"Kalian semua, menyingkir!"
Melihat Liora sudah masuk, Nyx dan Hanz tidak lagi menahan diri.
Mereka sadar, jenius di depan mereka ini adalah monster yang selama ini mereka rindukan.
Di tengah dentingan logam yang memekakkan telinga, Arion tiba-tiba melakukan satu hentakan kaki yang kuat, menciptakan gelombang tekanan udara yang memaksa Nyx, Liora, dan Hanz melompat mundur untuk menjaga jarak.
Pertarungan berhenti sejenak. Arion berdiri di tengah, napasnya teratur namun dalam. Keringat membasahi lehernya, memberikan kilauan di bawah cahaya bulan merah.
la menyeka sedikit debu di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap ketiga ajudannya dengan mata ungu yang menantang.
"Tujuh tahun... dan kalian bertiga bahkan belum bisa memotong satu helai benang pun dari kemejaku," Arion berucap, suaranya mengalun rendah namun menantang.
Ia mengangkat pedang besinya, ujungnya menunjuk ke tanah di antara mereka.
"Mari kita buat ini lebih menarik. Jika salah satu dari kalian-atau kalian bertiga secara bersamaan -bisa menyentuh kulitku dengan serangan kalian..."
Arion memberikan jeda yang membuat atmosfer di Dataran Pilar Merah semakin mencekik.
"Aku akan mengabulkan permintaan apa pun. Harta, gelar, atau bahkan permintaan paling gila yang selama ini kalian pendam dalam hati. Aku, Arion von Astra, bersumpah akan mewujudkannya."
Mata ketiga ajudannya seketika berubah.
Intensitas di udara naik berkali-kali lipat.
Mereka memang tidak menginginkan emas atau jabatan, namun mereka memiliki hasrat.
Liora menjilat bibirnya yang kering, matanya berkilat penuh gairah yang liar.
Permintaan apapun? la membayangkan sebuah malam di mana ia bisa memiliki perhatian penuh tuannya tanpa gangguan siapa pun.
Nyx mempererat genggaman pada belatinya, bayangannya di bawah kaki tampak bergetar hebat.
Hasratnya sederhana namun mendalam; ia ingin Arion melepaskan topeng dinginnya, meski hanya untuk sesaat, di hadapannya sendiri.
Hanz menggeram rendah, otot-otot lengannya mengeras seperti batu.
Baginya, satu permintaan itu adalah janji agar Arion tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya ditangkap atau disakiti oleh siapa pun- sebuah janji yang hanya bisa dikabulkan jika Arion tunduk pada keinginannya.
"Maju," tantang Arion lagi.
Kali ini, tidak ada lagi keraguan. Kecepatan serangan mereka meningkat drastis.
Liora melesat seperti kilat yang haus darah, Nyx menyatu dengan bayangan pilar batu yang gelap, dan Hanz menerjang dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan gunung.
Mereka bertarung bukan lagi untuk sekadar latihan, tapi untuk mengejar hasrat yang selama tujuh tahun ini mereka kunci rapat- rapat. Arion menyambut serangan itu dengan senyuman tipis yang kejam.
la sengaja memancing monster di dalam diri mereka, karena ia tahu, hanya monster yang bisa bertahan di tempat yang akan mereka tuju.
Nyx bergerak tanpa suara, mengincar celah terkecil, sementara Hanz menggunakan berat tubuh dan teknik tinju bajanya untuk menekan Arion.
Perjalanan mereka akhirnya tertunda selama beberapa jam.
Sebas berdiri di kejauhan, memegang jam saku dan melihat jadwal perjalanan mereka yang mulai molor.
la sempat ingin melangkah maju untuk mengingatkan Arion tentang efisiensi waktu, namun ia mengurungkan niatnya.
la melihat Arion yang sedang dikepung oleh ketiga ajudan lamanya.
Meskipun mereka bertarung dengan serius, ada sebuah harmoni yang aneh di sana.
Suara dentingan senjata dan teriakan instruksi itu tidak terdengar seperti peperangan, melainkan seperti reuni yang baru benar-benar terasa nyata setelah tujuh tahun terpisah.
Di bawah rembulan yang memerah karena pantulan debu dataran, Arion tidak lagi terlihat seperti pangeran yang hancur.
la adalah sang Panglima yang sedang kembali menyatukan kepingan-kepingan kekuatannya.
"Lebih cepat, Nyx! Gunakan beratmu, Hanz! Liora, jangan biarkan egomu membutakan matamu!" Di tengah kepungan tiga ajudan terkuatnya, Arion berdiri kokoh.
la bukan hanya sedang melatih mereka; ia sedang menikmati kembali perasaan menjadi seorang pemimpin yang Malam itu, di Dataran Pilar Merah, Black Knight tidak hanya mendapatkan kembali kekuatan fisik mereka, tetapi mereka mendapatkan kembali "jiwa" mereka yang telah lama hilang.
Tepat pada satu detik yang krusial, sebuah momen emas muncul.
Ketiga ajudan itu bergerak dengan sinkronisasi yang mengerikan-sebuah timing yang lahir dari insting murni untuk menaklukkan sang monster.
Hanz menghantamkan tinjunya ke bumi dengan kekuatan penghancur, meretakkan tanah hingga bongkahan batu besar mencuat dan meluncur ke arah Arion, mengunci ruang geraknya dari bawah.
Di saat yang sama, Liora melesat dari udara, melayangkan tinju maut yang mematikan tepat ke arah dada Arion.
Dan dari titik buta di balik debu, Nyx melepaskan selusin senjata lempar hitam yang melengkung tajam, mengincar setiap celah pelarian.
Serangan mereka hanya berselisih O, sekian detik. Itu adalah jebakan absolut yang mustahil dihindari tanpa mana.
Namun, di detik itulah, taring tajam kemampuan Arion yang telah terkubur selama tujuh tahun seolah dipaksa keluar dengan ledakan insting yang mengerikan.
Arion tidak melakukan gerakan bertahan yang pasif.
la terus mengayunkan pedang besinya dengan kecepatan yang menentang logika mata manusia.
TRANG! TING! TRANG!
Pedang besar itu bergerak menyambar- nyambar di udara.
Setiap ayunannya begitu presisi, menebas senjata lempar Nyx satu per satu di tengah udara seolah senjata-senjata itu adalah lalat yang lambat.
la tidak berhenti; ayunan pedangnya terus berlanjut, membelah bongkahan batu Hanz yang melayang ke arahnya menjadi dua bagian sempurna arahnya menjadi dua bagian sempurna, sementara tangan kirinya melesat maju, menangkap pergelangan tangan Liora tepat satu inci sebelum tinju itu menghantam wajahnya.
BUM!
Tekanan udara dari tabrakan fisik itu menyapu debu di sekitar mereka, menciptakan lingkaran bersih di tengah dataran.
Arion tetap berdiri tegak, napasnya tenang, menatap ketiga ajudannya dengan mata ungu yang berkilat tajam-tatapan seorang predator yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
Seluruh pasukan Black Knight yang menonton membeku.
Mereka baru saja melihat sebuah pertunjukan teknik murni di mana ayunan pedang bukan lagi sekadar serangan, melainkan sebuah dinding maut yang tak tertembus.
"Timing yang bagus," Arion berbisik, suaranya terdengar dingin di tengah kesunyian yang mencekam.
"Kalian hampir saja menyentuhku. Tapi hampir saja... tetap berarti kegagalan."
Arion melepaskan cengkeramannya pada Liora dan menyarungkan kembali pedangnya dengan satu gerakan yang tenang.
Ketiga ajudannya terengah-engah, menatap tuan mereka dengan perasaan campur aduk antara frustrasi, takut, dan pemujaan yang semakin dalam.
Taring itu sudah kembali, dan sekarang, taring itu siap untuk mengoyak apa pun yang menghalangi jalan mereka ke Kerajaan Beast.
Bersambung...