Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Pilihan
Pagi itu dimulai dengan keganjilan yang terlalu sunyi.
Tidak ada suara burung di taman belakang. Tidak ada langkah santai para pelayan. Bahkan udara terasa menahan napas. Carmela berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan wajahnya yang pucat. Tidurnya hanya sebentar, pikirannya terus berputar—tentang Lorenzo, tentang Don Salvatore, tentang tatapan Matteo semalam yang terasa terlalu serius untuk disebut biasa.
Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak.
“Kau harus ikut kami,” kata salah satu pengawal di luar. Suaranya datar. Tidak ramah. Tidak memberi pilihan.
“Ke mana?” tanya Carmela sambil meraih syalnya.
“Ruang utama.”
Dua kata itu cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Ruang utama rumah Mariano penuh. Terlalu penuh untuk pagi hari. Beberapa wajah yang pernah Carmela lihat di makan malam keluarga kini hadir kembali—lebih tegang, lebih waspada. Don Salvatore duduk di kursi pusat, tangan bertaut di atas tongkat kayunya. Lorenzo berdiri tak jauh darinya, wajahnya serius tapi matanya… terlalu tenang.
Matteo belum terlihat.
“Duduk,” perintah Don Salvatore.
Carmela menuruti, punggungnya lurus meski lututnya terasa lemah.
“Kami kehilangan satu pengiriman penting tadi malam,” kata Don Salvatore tanpa basa-basi. “Informasi tentang rute bocor.”
Carmela menelan ludah.
“Dan hanya ada satu variabel baru dalam rumah ini,” lanjutnya.
Beberapa pasang mata beralih ke arahnya.
“Apakah kau menyadari artinya itu?” tanya Don Salvatore.
Carmela mengangkat wajahnya. “Anda menuduh saya?”
“Aku bertanya,” jawab Don Salvatore dingin. “Tuduhan datang setelahnya.”
Lorenzo melangkah maju. “Paman, mungkin Carmela tidak sadar apa yang ia dengar atau lihat. Kadang orang yang tidak terbiasa… bicara tanpa tahu akibatnya.”
Nada suaranya terdengar seperti pembelaan. Tapi Carmela bisa merasakan racunnya.
“Saya tidak bicara dengan siapa pun,” kata Carmela tegas. “Saya tidak tahu apa pun tentang pengiriman.”
“Tidak tahu pun bisa berbahaya,” balas Lorenzo cepat. “Kebodohan sering kali lebih merusak daripada niat buruk.”
Carmela mengepalkan tangannya. Ia ingin membalas, tapi setiap kata bisa menjadi jerat.
Keheningan pecah saat pintu terbuka.
Matteo masuk.
Langkahnya mantap. Wajahnya keras. Dan seluruh ruangan langsung berubah arah—seperti medan magnet yang bergeser.
“Apa yang terjadi tanpa kehadiranku?” tanyanya.
Don Salvatore menatap anaknya. “Kami hanya berdiskusi.”
“Dengan istriku sebagai pusat diskusi,” balas Matteo dingin.
Ia berdiri di samping Carmela. Tidak di depannya. Tidak di belakangnya. Di samping.
Sikap itu berbicara lebih keras daripada kata-kata.
“Pengiriman bocor,” kata Don Salvatore. “Waktu dan rutenya diketahui pihak luar.”
Matteo mengangguk. “Aku tahu.”
“Dan?” tanya ayahnya.
“Dan kebocoran itu terjadi sebelum Carmela tahu apa pun,” jawab Matteo datar. “Aku punya bukti.”
Lorenzo menegang. “Bukti seperti apa?”
Matteo menoleh padanya perlahan. “Rekaman. Percakapan. Dan satu nama.”
Ruangan itu membeku.
“Bukan sekarang,” kata Don Salvatore pelan tapi penuh peringatan.
Matteo mengangguk tipis. “Aku hanya ingin satu hal jelas—istriku tidak terlibat.”
“Dan jika ternyata kau salah?” tanya Don Salvatore.
Matteo menatap ayahnya lurus. “Maka aku yang bertanggung jawab.”
Carmela menoleh cepat. “Matteo—”
Ia mengangkat tangan, menghentikannya. “Diam.”
Bukan perintah kasar. Perlindungan.
Don Salvatore memandang mereka berdua lama. Akhirnya ia berkata, “Bawa Carmela kembali ke kamarnya. Untuk sementara.”
Untuk sementara.
Kata itu bisa berarti apa saja.
Di lorong, Carmela berjalan cepat mengikuti Matteo. Begitu mereka sampai di ruang kerja kecil dan pintu tertutup, Carmela berbalik dengan mata berkilat.
“Kau tidak seharusnya melakukan itu,” katanya.
“Melakukan apa?”
“Mengambil alih kesalahan yang bukan milikmu.”
Matteo menatapnya tajam. “Kau istriku.”
“Itu bukan alasan untuk menghancurkan posisimu sendiri!”
Matteo mendekat. Jarak mereka menyempit. “Di dunia ini, posisiku tidak runtuh karena melindungi satu orang. Tapi akan runtuh jika aku membiarkan ketidakadilan terjadi di bawah namaku.”
Carmela terdiam. Napasnya bergetar.
“Aku tidak selemah yang mereka kira,” katanya pelan. “Aku bisa menghadapi ini.”
Matteo menghela napas, suaranya lebih rendah. “Aku tahu. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka menguji kekuatanmu dengan cara seperti itu.”
Keheningan jatuh. Bukan canggung. Berat.
“Ada sesuatu yang tidak kau ceritakan,” kata Carmela akhirnya.
Matteo menoleh ke jendela. “Lorenzo bermain lebih dalam dari yang terlihat.”
“Kau curiga padanya?”
“Aku yakin,” jawab Matteo. “Dan itulah sebabnya aku tidak bisa membiarkan mereka menekanmu. Jika kau runtuh, dia menang.”
Carmela merasakan dingin merayap di tulang punggungnya. “Jadi aku umpan.”
“Kau target,” koreksi Matteo. “Dan itu jauh lebih berbahaya.”
Sore itu, rumah Mariano berada dalam pengawasan ketat. Carmela diminta tetap di dalam kamar. Ia menolak dikurung, tapi akhirnya memilih duduk di ruang baca kecil yang terhubung ke kamar.
Pikirannya tidak tenang.
Setiap suara langkah membuatnya waspada. Setiap bayangan terasa mencurigakan. Ia menyadari betapa cepat hidupnya berubah—dari perempuan biasa menjadi pusat konflik yang bisa menelan nyawa.
Ketika malam turun, pintu diketuk lagi.
Kali ini, Matteo.
“Aku harus keluar sebentar,” katanya. “Ada yang perlu kuurus.”
“Sendiri?” tanya Carmela.
Matteo mengangguk. “Dan kau akan aman di sini.”
Carmela bangkit. “Aku tidak suka ditinggal dalam situasi seperti ini.”
Matteo menatapnya lama. “Kau percaya padaku?”
Carmela menelan ludah. “Ya.”
“Kalau begitu, percaya juga bahwa aku akan kembali.”
Ia mengangguk. Tapi rasa tidak nyaman tetap ada.
Matteo kembali hampir tengah malam.
Dengan darah di lengan bajunya.
Carmela berdiri begitu melihatnya. “Matteo!”
“Bukan darahku,” katanya cepat.
“Itu tidak membuatku lebih tenang.”
Matteo tersenyum tipis—lelah. Ia duduk, membiarkan Carmela membersihkan lukanya. Jari-jarinya gemetar, bukan karena takut, tapi karena marah yang tertahan.
“Lorenzo?” tanya Carmela.
Matteo diam sejenak. “Belum. Tapi aku tahu siapa orangnya.”
“Dan?”
“Dan dia dekat,” jawab Matteo. “Terlalu dekat.”
Carmela mengangkat wajahnya. “Aku tidak mau jadi titik lemahnya.”
“Kau bukan,” kata Matteo tegas. “Kau titik batas.”
Carmela menatapnya bingung.
“Selama ini, mereka tahu aku bisa dikorbankan. Dihantam. Ditekan,” lanjut Matteo. “Tapi sekarang, mereka tahu ada satu hal yang tidak bisa mereka sentuh tanpa perang.”
Carmela sadar apa maksudnya.
“Aku,” katanya lirih.
Matteo mengangguk. “Dan itu membuat mereka berhitung ulang.”
Malam itu, Carmela tidak tidur.
Ia duduk di samping Matteo yang terlelap di kursi, wajahnya terlihat lebih manusiawi dalam tidur—tanpa topeng kekuasaan.
Ia menyadari sesuatu yang menakutkan sekaligus menguatkan:
Matteo bukan hanya melindunginya.
Ia memilihnya.
Dan pilihan itu punya harga.
Harga yang mungkin harus mereka bayar bersama.