Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi dan Belenggu yang Menguat
Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram di langit Jakarta. Bagi Almira, pagi ini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan puncak dari segala kecemasan yang ia pendam. Hari ini adalah hari operasi jantung ibunya. Tubuhnya terasa kaku saat ia mencoba bangkit dari ranjang besar milik Alex. Pria itu sudah pergi sejak subuh, meninggalkan aroma maskulin yang bercampur dengan bau alkohol yang mulai memudar, serta jejak-jejak kemerahan di pergelangan tangan Almira yang menunjukkan betapa kasarnya perlakuan semalam.
Almira segera membersihkan diri dengan tergesa. Ia tidak peduli pada rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: Rumah Sakit Pusat.
"Neng Almira, sarapan dulu," cegah Bi Inah saat melihat Almira berlari menuruni tangga menuju pintu lift.
"Tidak sempat, Bi. Ibu operasi jam delapan. Saya harus di sana," jawab Almira dengan napas memburu.
"Tuan Alex sudah berpesan, sopir sudah siap di bawah. Dan... ini," Bi Inah mengangsurkan sebuah kotak kecil. "Tuan bilang, pakai ini agar kau tidak terlihat seperti gelandangan di rumah sakit pilihannya."
Almira membuka kotak itu. Sebuah jam tangan mewah dengan deretan berlian kecil di sekelilingnya. Ia merasa getir. Alex selalu punya cara untuk mengingatkan Almira bahwa setiap jengkal tubuhnya adalah investasinya. Tanpa banyak bicara, Almira memakainya, bukan karena suka, tapi karena ia tahu membangkang hanya akan mendatangkan petaka bagi ibunya.
—
Lorong depan ruang operasi terasa seperti lorong menuju penghakiman. Almira duduk sendirian di kursi tunggu yang dingin. Ia terus memutar-mutar jam tangan pemberian Alex, merasa benda itu seperti borgol yang sangat berat.
Dua jam berlalu. Tiga jam. Lampu di atas pintu ruang operasi masih menyala merah. Setiap kali pintu terbuka dan seorang perawat keluar, jantung Almira seolah berhenti berdetak. Ia berdoa dengan segala doa yang ia tahu, menjanjikan hidupnya sebagai bayaran asal ibunya selamat.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap bergema di lorong. Almira mendongak dan terkesiap melihat Alexander Eduardo berjalan mendekat. Pria itu masih mengenakan setelan jas kantor yang sempurna, tampak sangat berkuasa di tengah lingkungan rumah sakit yang steril.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Alex dingin, berdiri di depan Almira tanpa duduk.
"Masih... masih di dalam, Tuan," suara Almira bergetar. Ia merasa aneh melihat Alex di sini. Pria itu seharusnya berada di pertemuan bisnis penting, bukan menunggu di depan ruang operasi bersama "budak" ranjangnya.
Alex tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap pintu kaca yang tertutup rapat. Keheningan di antara mereka terasa sangat berat. Almira ingin bertanya mengapa Alex datang, tapi ia terlalu takut untuk membuka mulut.
Tiba-tiba, ponsel Alex berdering. Ia menjauh sedikit untuk mengangkatnya. Suaranya yang rendah namun tajam terdengar sampai ke telinga Almira.
"Aku bilang jangan sekarang, Elara. Aku sedang ada urusan penting... Tidak, ini bukan soal pekerjaan... Berhenti bersikap kekanak-kanakan!" Alex mematikan ponselnya dengan kasar.
Wajahnya tampak mengeras. Kemarahan kembali membayangi matanya. Almira menciut, takut jika amarah pria itu akan meledak di sini. Namun, tepat saat itu, lampu operasi berubah hijau. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah namun tersenyum tipis.
"Keluarga Nyonya Nadin?"
Almira langsung berdiri. "Saya, Dok. Saya putrinya."
"Operasinya sukses. Kami berhasil memasang ring dan memperbaiki katup jantungnya. Saat ini beliau sedang dipindahkan ke ruang pemulihan. Ini sebuah keajaiban, Nona. Ibumu sangat kuat."
Lutut Almira terasa lemas. Ia merosot kembali ke kursi, menangis tersedu-sedu. Kali ini, air matanya adalah air mata syukur. Beban seberat gunung yang menghimpit dadanya selama berbulan-bulan seolah terangkat seketika.
Tanpa ia sadari, tangan Alex bergerak ke arah bahunya, seolah ingin memberikan kekuatan. Namun, sebelum tangan itu menyentuhnya, Alex menariknya kembali dengan cepat, seolah baru saja menyentuh api. Ia kembali mengenakan topeng kedinginannya.
"Sekarang ibumu sudah selamat. Jangan pernah lupa siapa yang membayar kesembuhannya, Almira," ucap Alex tanpa nada. "Kembali ke mobil. Bi Inah akan membantumu menyiapkan pakaian untuk malam ini. Kita akan pergi ke suatu tempat."
***
Malam itu, Almira dibawa ke sebuah hotel bintang lima. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang elegan, namun sangat tertutup dibandingkan gaun-gaun tidur yang biasa Alex berikan. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan leher jenjangnya dan wajahnya yang polos tanpa riasan berlebih.
Ternyata, Alex membawanya ke sebuah acara galeri seni. Almira merasa sangat asing di tengah kerumunan orang-orang kaya yang saling memamerkan kemewahan. Alex mencengkeram lengan Almira dengan posesif, memperkenalkannya hanya sebagai "asisten pribadi" kepada rekan-rekan bisnisnya.
Namun, ketenangan itu hancur saat Elara muncul. Kali ini, Elara tidak sendirian. Ia menggandeng seorang aktor muda yang sedang naik daun, tertawa dengan sengaja di dekat Alex.
"Alex! Kau datang juga," sapa Elara dengan nada mengejek. Matanya melirik ke arah Almira. "Oh, kau membawa asistenmu lagi? Bukankah seharusnya dia sedang membersihkan rumahmu?"
Wajah Alex memerah karena menahan amarah. Ia bisa merasakan tatapan mengejek dari orang-orang di sekitar mereka. Elara benar-benar tahu cara menguliti harga diri Alex di depan umum.
"Almira punya kapasitas lebih dari sekadar membersihkan rumah, Elara," jawab Alex datar, meski cengkeramannya di lengan Almira semakin kuat hingga gadis itu merintih.
"Benarkah? Atau mungkin dia hanya lebih baik dalam memberikan pelayanan di bawah selimut daripada aku?" Elara berbisik cukup keras hingga beberapa orang menoleh.
Tawa pecah di sekitar mereka. Almira merasa ingin menghilang ke dalam lantai. Ia merasa seperti binatang sirkus yang sedang dipamerkan dan dihina. Air mata mulai menggenang di matanya, namun ia mengingat ancaman Alex: Jangan menangis.
Alex tidak membela Almira. Alih-alih membela, ia justru merasa malu karena membawa Almira ke tempat itu. Ia merasa harga dirinya jatuh karena Elara lebih memilih pria lain dan mengejek pilihannya.
"Kita pergi," desis Alex.
Begitu sampai di dalam mobil, suasana menjadi sangat mencekam. Alex tidak mengucapkan sepatah kata pun. Napasnya memburu, dan tangannya mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sesampainya di penthouse, Alex langsung menarik Almira masuk ke dalam kamar.
"Kau lihat tadi? Kau lihat bagaimana dia menghinaku karena kau?!" bentak Alex sambil melempar jasnya ke lantai.
"Saya... saya tidak melakukan apa-apa, Tuan. Dialah yang memulai," sahut Almira sambil terisak.
"Kau ada di sana! Kehadiranmu saja sudah merupakan penghinaan bagiku! Kenapa kau tidak bisa secantik dia? Kenapa kau tidak bisa seberkelas dia?!" Alex kehilangan kendali. Logikanya tertutup oleh obsesinya pada Elara yang tidak terbalas.
Ia mendorong Almira ke arah cermin besar di kamar itu. "Lihat dirimu! Kau hanya gadis miskin yang kubeli! Jangan pernah merasa kau spesial karena aku membawamu ke sana!"
Alex mulai melucuti pakaian Almira dengan kasar. Tidak ada lagi sisa kelembutan dari pria yang tadi siang sempat terlihat peduli di rumah sakit. Yang ada hanyalah pria yang terluka egonya dan ingin menyakiti orang lain agar merasa lebih baik.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Alex memperlakukan Almira lebih buruk dari sebelumnya. Ia seolah ingin menghapus jejak Elara dari pikirannya dengan cara menguasai tubuh Almira sepenuhnya. Almira hanya bisa menatap pantulannya di cermin—sosok gadis yang hancur, yang sedang dipermainkan oleh takdir.
Namun, di tengah badai itu, ada sesuatu yang berbeda. Alex menciumnya dengan penuh amarah, namun ada satu momen singkat di mana ia memeluk Almira dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang tenggelam dan hanya Almira yang bisa membuatnya tetap bernapas.
Almira merasakan setetes air hangat jatuh di bahunya. Apakah Alex menangis? Tidak mungkin, pikirnya. Pria kejam ini tidak mungkin punya air mata.
Setelah semuanya berakhir, Alex jatuh tertidur karena kelelahan dan pengaruh alkohol. Almira tetap terjaga, menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia meraba perutnya yang terasa mual—mungkin karena stres, atau mungkin karena sesuatu yang lain.
"Ibu sudah selamat," bisik Almira pada dirinya sendiri sebagai mantra untuk bertahan. "Hanya itu yang penting. Hanya itu..."