NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

licik

Rohita menatap wajah Devi yang mengerutkan kening karena lapar, sementara Dewi hanya diam di sudut dengan tangan menggenggam ujung roknya. Wajah Rohita yang biasanya sudah mudah memerah karena kemarahan kini semakin memerah, bukan karena marah namun karena rasa tidak tega melihat kedua temannya yang sudah tidak makan sejak pagi hari. “Aku akan cari makanan sekarang juga,” ucap Rohita dengan nada tegas, mengambil helmnya dan berjalan cepat menuju motor yang diparkir di depan kost.

Tanpa berpikir panjang, Rohita menyalakan mesin motor dan mengendarainya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia tahu bahwa pasar adalah satu-satunya tempat yang bisa dia datangi untuk mendapatkan makanan dengan cepat, meskipun dia tidak memiliki uang sedikit pun di sakunya. Pikiran tentang bagaimana cara mendapatkan makanan sudah memenuhi benaknya, dan emosi yang sedang tinggi membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ketika sampai di pasar, suara keramaian dan aroma berbagai macam makanan membuat perutnya juga mulai berbunyi, namun dia tetap fokus pada tujuan utama.

Dia berjalan perlahan di antara gerai-gerai yang berjajar rapi, mata mengamati setiap kios yang menjual makanan ringan dan buah. Di sebuah kios kecil yang menjual keripik, kacang goreng, dan berbagai jenis buah seperti apel, pisang, dan jeruk, penjualnya sedang sibuk melayani pembeli lain yang datang beramai-ramai. Rohita melihat kesempatan itu, dengan cepat meraih beberapa bungkus keripik, satu kantong kacang goreng, dan beberapa buah yang ada di atas meja tampilan. Setelah itu, dia langsung berlari menjauh dari kios tersebut, menaiki motornya dan segera menekan tuas gas dengan keras.

“Maling! Dia mencuri barang ku!” teriak penjual saat menyadari bahwa barang-barangnya hilang. Namun Rohita sudah jauh menyusuri jalan dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan suara seruan yang mengejarnya dari belakang. Hati nya berdebar kencang, baik karena ketakutan tertangkap maupun karena kegelisahan untuk segera kembali memberikan makanan kepada Dewi dan Devi.

Tiba-tiba, seorang pria yang sedang menyebrang jalan muncul tiba-tiba di depan motornya. Rohita terkejut dan dengan cepat mencoba menarik tuas rem dengan kekuatan penuh, membuat motornya menggeser dan hampir menyentuh tubuh pria tersebut. Ban motor mengikis permukaan jalan dan mengeluarkan suara yang cukup keras, membuat pria itu terkejut dan melompat ke samping dengan cepat. Rohita berhasil menghentikan motornya hanya beberapa sentimeter dari tubuh pria tersebut, napasnya terengah-engah dan wajahnya semakin memerah karena kejutan dan rasa bersalah.

“Dasar tidak hati-hati! Kamu mau membunuh aku ya?!” teriak pria tersebut dengan wajah memerah karena kemarahan. Pria itu tampak berusia sekitar 25 tahun, mengenakan baju kerja yang cukup rapi dan memiliki rambut yang rapi diatur. Rohita hanya bisa terdiam, mata melihat ke bawah karena rasa malu dan takut. Dia ingin membela diri, namun tahu bahwa kesalahan ada pada dirinya sendiri karena mengendarai motor dengan terlalu cepat dan tidak memperhatikan sekitar. Namun sebelum dia bisa berkata apa-apa, pria itu sudah mengambil helmnya dan menaiki motornya sendiri, yang ternyata sudah dia parkir tidak jauh dari tempat kejadian. “Aku tidak akan biarkan kamu pergi begitu saja! Aku akan mengikuti kamu sampai mana saja!” teriak pria itu sebelum menyalakan motornya dan mulai mengejar Rohita yang sudah mulai mengendarai motornya lagi untuk melarikan diri.

Rohita mengendarai motornya dengan sekuat tenaga, mencoba untuk menjauh dari pria yang sedang mengejarnya. Hati nya semakin deg-degan karena takut bahwa pria itu akan membawa dia ke pihak berwajib atau bahkan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan padanya. Setiap kali dia melihat cermin belakang, dia bisa melihat bahwa pria itu masih mengikuti dengan erat, tidak pernah memberikan kesempatan untuk dia lolos dari pandangannya.

Jalanan yang dilaluinya semakin sepi, dan Rohita mulai merasa khawatir karena tidak tahu kemana harus pergi selain kostnya. Dia berpikir bahwa jika dia bisa sampai di kost dan bertemu dengan Dewi serta Devi, mungkin mereka bisa membantu dia menghadapi situasi ini. Meskipun dia tahu bahwa kedua temannya tidak memiliki kekuatan fisik yang cukup untuk melawan pria tersebut, namun rasa kebersamaan yang mereka miliki membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

Setelah beberapa menit berkendara dengan cepat, akhirnya Rohita melihat pintu masuk jalan yang mengarah ke tempat kostnya. Dia dengan cepat masuk ke jalan tersebut dan melaju hingga sampai di depan kost yang di tinggalinya. Dia langsung menurun dari motornya dan berjalan cepat menuju pintu kost, berharap bisa segera masuk dan menyembunyikan diri. Namun sebelum dia bisa membuka pintu, suara mesin motor pria tersebut terdengar di belakangnya.

Pria itu menghentikan motornya tepat di depan kost dan turun dengan langkah yang tegas menuju Rohita. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi kemarahan, namun juga ada sedikit rasa penasaran karena melihat tempat tinggal Rohita. “Berhenti di situ! Kamu tidak bisa lari begitu saja setelah hampir menabrak ku dan mencuri barang orang!” ucap pria itu dengan nada yang tegas dan penuh dengan kemarahan.

Rohita berdiri dengan badan yang sedikit menggigil, tangan menggenggam ujung lengan jaketnya. Dia tidak tahu harus berkata apa, hanya bisa menatap pria itu dengan mata yang penuh dengan rasa takut dan permintaan maaf. Di dalam hatinya, dia berdoa agar Dewi dan Devi tidak keluar dari kamar mereka, karena dia tidak ingin kedua temannya terlibat dalam masalah yang dia ciptakan sendiri. Namun sepertinya doanya tidak terkabul, karena suara langkah kaki terdengar dari dalam kost dan segera setelah itu, Dewi muncul dari dalam dengan wajah yang khawatir, diikuti oleh Devi yang wajahnya sudah mulai menunjukkan ekspresi penasaran melihat ada orang asing di depan kost mereka.

Ketika pria itu melihat sosok Dewi dan Devi yang muncul dari dalam kost, ekspresi kemarahan di wajahnya tiba-tiba hilang dan digantikan dengan tatapan yang penuh kagum. Rohita dengan tinggi badan tinggi, memiliki rambut panjang berwarna hitam yang terurai indah di pundaknya dan wajah yang tajam dengan bibir yang penuh. Dewi yang lebih muda dengan  badan yang lebih pendek, memiliki wajah yang lembut dengan pipi yang merah padam dan rambut pendek yang membuatnya terlihat lebih anggun dan pemalu. Sementara Devi  memiliki wajah yang ceria dengan mata yang cerah dan rambut yang diikat rapi di belakang kepalanya, namun tetap terlihat menarik dan segar.

Pria itu berdiri dengan terpaku selama beberapa saat, tidak bisa berkata apa-apa karena terkejut dengan kecantikan ketiga gadis tersebut. Kemudian dia menghela napas dalam-dalam dan menuju ke arah mereka dengan langkah yang lebih lambat dan tidak lagi penuh dengan kemarahan. “Maafkan aku sebelumnya karena bersikap kasar,” ucap pria itu dengan nada yang lebih lembut, bahkan sedikit sopan. Dia mengeluarkan sebuah dompet dari saku jasnya dan membukanya, menunjukkan sejumlah uang yang cukup banyak di dalamnya. “Aku melihat bahwa kalian sepertinya sedang mengalami kesulitan. Aku bisa menawarkan bantuan dengan sejumlah uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian selama beberapa waktu ke depan,” katanya sambil melihat ke masing-masing wajah ketiga gadis tersebut.

Rohita sedikit terkejut dengan perubahan sikap pria tersebut. Dia masih merasa waspada, namun melihat sejumlah uang yang ditawarkan membuatnya berpikir tentang kesulitan yang mereka alami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dewi hanya berdiri diam di belakang Rohita, wajahnya memerah karena merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu yang terus mengarah ke arahnya. Sementara Devi, yang biasanya ceria dan aktif, kini hanya menatap uang yang ada di tangan pria itu dengan mata yang penuh dengan rasa penasaran dan sedikit keinginan untuk mengambilnya.

“Mengapa kamu mau membantu kami begitu saja? Apakah ada syarat tertentu yang harus kami penuhi?” tanya Rohita dengan nada yang tetap tegas, tidak ingin mudah terpengaruh oleh tawaran tersebut. Dia tahu bahwa tidak ada bantuan yang datang dengan percuma, dan dia tidak akan mau melakukan sesuatu yang tidak benar hanya untuk mendapatkan uang. Pria itu sedikit tersenyum dan mengangguk perlahan. “Tidak ada syarat khusus yang sulit, aku hanya ingin membantu kalian. Kalian terlihat seperti anak-anak yang baik dan layak mendapatkan kesempatan yang lebih baik,” ucapnya dengan nada yang terdengar tulus, namun di balik itu ada sesuatu yang membuat Rohita merasa tidak nyaman. Namun sebelum dia bisa memberikan jawaban lebih lanjut, Devi sudah bergerak lebih dekat ke arah pria itu dengan wajah yang mulai menunjukkan ekspresi yang berbeda dari biasanya.

Devi dengan cepat melangkah ke depan, wajahnya menunjukkan senyum yang ceria namun sedikit licik. Dia melihat langsung ke mata pria itu dan mulai berbicara dengan nada yang manis dan menggoda. “Wah, kamu benar-benar baik hati ya mas? Uang yang kamu tunjukkan itu cukup banyak lho, bisa bantu kami banyak sekali,” ucap Devi sambil mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah pria itu. Tangan nya bergerak perlahan seolah-olah ingin menyentuh tangan pria yang sedang memegang dompet dan uang tersebut.

Pria itu tampak sedikit terpikat dengan sikap Devi yang ceria dan menggoda. Dia mulai melonggarkan pegangan nya pada uang dan sedikit membuka bibirnya untuk menjawab, namun sebelum dia bisa berkata apa-apa, Devi dengan cepat meraih seluruh lembar uang yang ada di tangannya. Setelah berhasil mengambil uang tersebut, Devi langsung melompat ke belakang dan berdiri di sisi Rohita dengan wajah yang sekarang menunjukkan ekspresi puas. “Terima kasih ya mas atas uangnya! Sekarang kamu bisa pulang saja ya,” ucap Devi dengan nada yang ceria namun juga sedikit menantang.

Rohita terkejut dengan tindakan Devi yang tiba-tiba tersebut. Dia dengan cepat menarik lengan Devi dan menggerakkan kepalanya dengan cepat sebagai tanda tidak setuju. “Devi, kembalikan uang itu sekarang juga! Kamu tidak bisa begitu saja mengambil uang orang tanpa izin!” teriak Rohita dengan suara yang cukup keras, menunjukkan kemarahan nya yang mulai muncul kembali. Dewi juga tampak sangat terkejut, wajahnya semakin memerah dan dia mulai mengerutkan kening dengan rasa khawatir.

Pria itu juga terkejut dan wajahnya kembali menunjukkan ekspresi kemarahan yang lebih besar dari sebelumnya. Dia melihat ke arah Devi dengan mata yang menyala api dan menggerakkan tubuhnya untuk menghampiri dia. “Dasar anak nakal! Kamu berpikir kamu bisa mengambil uang ku begitu saja? Kembalikan uang itu sekarang juga kalau tidak mau ada masalah!” teriak pria itu dengan suara yang menggelegar, membuat seluruh ketiga gadis tersebut sedikit terkejut dan mundur ke belakang. Namun Devi tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, malahan dia mengangkat dagunya dan menatap pria itu dengan tatapan yang penuh dengan tantangan. “Apa kamu akan melakukan sesuatu padaku? Kamu bilang mau membantu kami kan? Jadi uang ini adalah bantuan yang kamu berikan, bukan sesuatu yang kami curi!” ucap Devi dengan nada yang tetap tegas, meskipun di dalam hatinya dia juga merasa sedikit takut.

1
Jing_Jing22
Aduh, nyesek banget lihat Dewi nangis sendirian begitu. 🥺 Untung ada Rohita yang lewat. Walaupun awalnya kelihatan galak, ternyata Rohita peduli banget. Semoga Dewi mau cerita masalahnya ya!
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!