Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 08
Rudy sedikit frustasi menjelaskan sesuatu kepada Rachel.
"Aku benar-benar tidak paham apa maksudmu." kata Rachel.
"Sudahlah, makan ini dulu. Nanti akan ku jelaskan lebih detail. Mungkin ini akan menjadi titik perubahan di masa depan, meskipun hanya sedikit perubahan saja. Hm, aku harap kau adalah orang yang berpengaruh di dalam kota, tapi itu tidak masalah. Meskipun kau hanya orang tersesat di sini, aku akan menjelaskannya padamu."
"Ah, baiklah. Lalu, siapa namamu.?"
"Perkenalkan, namaku Rudy Hosten. Panggil Rudy saja." katanya sambil mengulurkan tangan.
Tapi Rachel hanya terdiam tanpa respon, Rudy pun menarik kembali tangannya dengan senyum palsu.
"Rudy ya, Hmm." sahut Rachel sambil memakan daging
"Apa maksudmu dengan Hm.? setidaknya beri tau aku namamu juga, asalmu dan tempat tinggal mu."
"Woo, daging ini lumayan juga. Ternyata kau juga pintar masak ya." sahut Rachel yang mengalihkan pembicaraan.
"Hm."
"Lalu, apa benda besar itu milikmu.? apa itu sebuah bintang.?
"Kau bahkan tidak menjawab pertanyaan ku, tapi malah mengajukan pertanyaan lain."
"Jawab, aku sedang bertanya padamu."
"Ya itu tempat tinggal ku." sahut Rudy jutek.
Rachel pun sedikit tersenyum sambil melihat Rudy. "Ehm"
"Lalu, siapa namamu.?" tanya Rudy lagi.
"Eh.? berikan dagingnya padaku." sahut Rachel mengalihkan pembicaraan sambil merebut daging dari tangan Rudy.
"Chik," sahut Rudy kesal.
"Tempat itu apa namanya.? kenapa benda itu bentuknya aneh.? seperti banker militer versi mini. Tapi kenyamanannya melebihi tempat tidur di rumahku."
"Dagingnya sudah habis, kalau tidak ada urusan lagi, sebaiknya kau pergi dari sini." sahut Rudy.
"Aku sedang bertanya padamu. Jawab, jangan membantah perintah ku."
Rudy pun berdiri dari sana. "Ah, sepertinya aku mulai lelah, aku mau istirahat sebentar." sahutnya sambil berjalan menuju tenda.
"Berhenti." sahut Rachel sambil berdiri.
"Apa lagi yang kau mau. Hm, hari ini kenapa aku bertemu dengan orang sepertimu."
Rachel pun menghampiri Rudy, lalu ia menepuk pundak Rudy.
"Aku hanya ingin bilang, aku mau mau pergi."
"Ha.?"
"Sampai jumpa di lain waktu." kata Rachel sambil berjalan menjauh dari sana.
"Sebaiknya kau tidak datang lagi kesini." Kata Rudy.
Tapi Rachel tidak merespon, dan Rudy berjalan ke tendanya. lalu,
"Tunggu." teriak Rachel
"Sudah, cepat pergi dari sini."
"Aku hanya ingin bilang, namaku Rachel Lawrence." Katanya tersenyum dan langsung berlari kedalam hutan.
"Rachel, Lawrence.? Ehm, nama yang bagus, setidaknya kau harus memberitahu lebih awal." sahutnya dan langsung masuk kedalam tenda.
....
Istana Kekaisaran Andorra.
Rachel sudah sampai di dalam kamarnya dengan senyap. Tapi ribuan prajurit masih mencarinya di seluruh istana dan kota.
"Mereka berisik sekali." sahutnya dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
Tak berselang lama, Mona masuk kedalam kamarnya.
"Hiks, kau pergi kemana Yang Mulia, hiks hiks. Kembalilah. Atau setidaknya beritahu kami kau pergi kemana."
Mona berjalan sempoyongan sambil melihat kebawah lantai, Tiba-tiba ia melihat gaun Rachel yang tergeletak di bawah sana.
"Ha.?" sahut Mona terkejut.
"Yang Mulia." teriaknya.
"Diam, aku sedang mandi." sahut Rachel
"Hiks Yang Mulia, akhirnya anda kembali. Kemana saja anda pergi Yang Mulia. Kami mencari ke seluruh kota dan tidak menemukan anda di mana-mana."
"Ah, tarik kembali pasukan kedalam istana. Aku tak sengaja tertidur di suatu tempat." kata Rachel.
"Tertidur.? dimana Yang Mulia.?"
"Hmm, berhenti bertanya, aku bukan anak kecil yang selalu di awasi."
"Tap, tapi Yang Mulia, setidaknya beritahu kami Anda pergi kemana. Kami semua sangat khawatir, karena anda baru saja menyelesaikan prosesi menjadi kaisar Andorra, jadi kami tidak bisa berfikir jernih, kalau saja...
"CUKUP." teriak Rachel dengan kencang.
"Ah, maaf Yang Mulia sudah menganggu kenyamanan Anda. saya pamit undur diri." kata Mona yang langsung keluar dari sana.
"Hmm." sahut Rachel menghela nafas.
Dan di dalam kamar mandi, Rachel melihat seluruh tubuhnya sendiri di depan cermin. Ia baru menyadari nya kalau bekas luka luar sudah hilang sepenuhnya.
"Ha.?" Rachel meraba seluruh bekas luka lama di seluruh tubuhnya, dan tidak ada satu pun bekas luka lagi. Bahkan luka lebam di bahunya yang tidak bisa di sembuhkan oleh apapun, tiba-tiba hilang begitu saja.
"Mustahil, bahkan luka ini juga hilang.? padahal luka ini sudah berbekas selama 13 tahun. Apa yang di lakukan Rudy sebenarnya.? 67 penyakit.? Hmm, tidak bisa kupikirkan lagi."
....
Malam hari pun tiba.
Sebuah pesta perayaan kenaikan tahta kaisar baru, sedang digelar di tempat kediaman seorang Duke.
Pesta itu di siapkan dengan sangat meriah disana, keluarga bangsawan dan Kekaisaran hadir untuk merayakan kenaikan kaisar baru.
"Hallo, Duke Brian. Wah, lama tidak jumpa." kata salah satu bangsawan bernama Harry.
"Marquis Harry, Hahaha lama tidak berjumpa, bagaimana keadaan mu.?" sahut Brian
"Tentu aku baik-baik saja Tuan Brian."
"Kalau begitu, silahkan menikmati pestanya. hahaha"
"Tentu saja, apa Yang Mulia Ratu belum datang.?" tanya Harry.
"Sepertinya Yang Mulia sedikit terlambat."
"Mungkin saja Yang Mulia sedang mempersiapkan sesuatu, melihat beliau baru saja di lantik, jadi butuh persiapan untuk memimpin negara."
"Ya, kau benar. Untuk itu, aku merayakan pesta ini, agar kita semua para bangsawan dan pejabat negara bisa berkumpul dan berbicara dengan bebas. Hahaha"
"Ah, jadi itu maksudnya. Anda benar, kita bisa berdiskusi bebas disini, hahaha."
"Mari nikmati jamuannya." sahut Brian.
Dan tak lama kemudian, "Yang Mulia Ratu sudah hadir."
Semua orang pun langsung berhenti dari aktifitasnya dan menghadap ke arah Rachel. Semua kepala tunduk di hadapannya, dan memberikan salam padanya.
"Selamat datang Yang Mulia." kata semua orang sambil memberikan hormat padanya.
"Tidak perlu sungkan, ini perayaan pesta, bukan tempat persidangan." kata Rachel dan langsung berjalan menuju kursi yang sudah di siapkan.
"Terimakasih Yang Mulia."
Tiba-tiba, Brian menghentikan langkah Rachel, "Selamat Datang Yang Mulia, bagaimana dengan pestanya.? Apa Anda menyukainya.?"
"Duke Brian, tidak perlu basa-basi. Langsung katakan saja apa maumu.?" sahut Rachel
"Hahaha, Yang Mulia, pesta ini di adakan secara terbuka dan di hadiri oleh keluarga bangsawan. Bahkan anak istri mereka juga hadir disini, mungkin sekiranya Yang Mulia bisa lebih dekat dengan mereka." kata Brian sambil melirik anaknya bernama William Harrington.
Rachel hanya terdiam di tempat tanpa ada respon apapun. Lalu, William anak kandung Brian memberanikan diri untuk mendekat kepada Rachel.
"Rachel." katanya.
"Jaga bicara mu William." sahut Rachel.
"Baik, maafkan hamba Yang Mulia. Bagaimana kalau kita minum sedikit anggur disana." kata William.
"Tidak perlu repot-repot. Aku kesini hanya sebagai syarat undangan saja." jawab Rachel dan langsung berjalan ke kursinya.
William pun melihatnya dengan sedih, lalu Brian menepuk pundak anaknya itu dan berbisik.
"Tenanglah, jangan terlalu buru-buru." katanya.
Dan Rachel melihat mereka seakan memiliki kebencian yang dalam. Mona pun berbisik kepada Rachel.
"Yang Mulia, Tuan Putri Eva juga hadir disini." bisik Mona.
"Apa.? Eva juga hadir.?" sahut Rachel terkejut
"Aku dengar Tuan Putri akan tiba sebentar lagi."
Dan benar saja, Seorang perempuan dengan patas cantik dan anggun, tiba-tiba masuk kedalam pesta itu sambil tersenyum.
"Tuan putri.", " Tuan putri Eva.", "Cantik sekali tuan putri." bisik-bisik para bangsawan disana.
Brian yang melihatnya pun sedikit kesal.
"Sepertinya Penggangu lainnya datang." sahut Brian sambil melirik Eva.
Wiliam hanya terdiam disana sambil melihat Eva yang berjalan melewatinya.
"Hamba menghadap Yang Mulia Ratu." kata Eva sambil membungkukkan badannya.
....