NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Antara Susu Cokelat dan Aroma Parfum yang Menyesakkan

Bel istirahat berbunyi nyaring, memekakkan telinga siapa pun yang berada di koridor SMA Garuda. Suara itu memicu sorak-sorai lega dari penghuni kelas XI-IPA 1 yang sejak tadi sudah terlihat kehilangan konsentrasi. Guru yang mengajar di depan kelas bahkan belum sempat menutup buku absennya saat gerombolan siswa sudah berdesakan keluar pintu. Bagi sebagian besar siswa, suara bel adalah panggilan kebebasan, sebuah janji akan tawa di kantin atau sekadar pelarian dari rumus-rumus yang memusingkan kepala. Namun, bagi Ella, melodi bel itu adalah alarm untuk segera menghilang.

Ella mulai merapikan alat tulisnya dengan cekatan. Gerakannya ritmis dan teratur, seperti jam yang berdetak. Ia memasukkan kotak pensil, buku catatan tebal, dan kalkulator ilmiahnya ke dalam tas ransel yang sudah mulai memudar warnanya. Rencana Ella selalu sama setiap hari: langsung menuju perpustakaan. Tempat itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang ia miliki—sebuah persembunyian paling aman dari bisik-bisik tajam yang menusuk dan tatapan merendahkan dari teman-temannya yang menganggapnya "si robot kutu buku".

Baru saja Ella hendak menyampirkan tas di bahunya, sebuah benda dingin tiba-tiba mendarat di atas meja kayunya. Meja yang penuh dengan coretan pensil berisi rumus trigonometri itu kini dihiasi oleh sebuah kotak susu cokelat yang masih berembun.

Butiran-butiran air kecil mulai membasahi permukaan meja Ella yang kusam.

"Minum dulu, La. Otak jeniusmu itu butuh asupan gula biar nggak korsleting," suara serak dan berat itu terdengar tepat di samping telinganya, membuat Ella sedikit tersentak.

Wawan berdiri di sana. Ia tampil dengan gaya khasnya: kemeja seragam yang dikeluarkan sebelah, dasi yang melingkar longgar di leher, dan sebuah tas ransel yang disampirkan sembarangan di satu bahu. Cowok itu berdiri santai, seolah tidak menyadari atau mungkin tidak peduli pada pandangan heran dan penuh selidik dari siswa lain yang masih berada di dalam kelas.

Ella mendongak, menatap Wawan dengan tatapan ragu yang amat jelas. "Wan, aku nggak minta ini—"

"Aku yang mau kasih. Anggap saja ini investasi masa depan," potong Wawan cepat, suaranya mengandung nada keceriaan yang jarang didengar Ella dari orang lain. Tanpa aba-aba, ia mengulurkan tangan dan mengacak rambut Ella dengan gerakan kasar namun entah mengapa terasa sangat hangat dan protektif. "Sampai ketemu di kantin kalau kamu berubah pikiran dan tiba-tiba bosan dengan aroma buku tua!"

Wawan berlalu sambil bersiul santai, melangkah keluar kelas dengan kepercayaan diri seorang berandalan yang tidak punya beban. Ella terpaku di kursinya, jemarinya menyentuh permukaan dingin kotak susu cokelat itu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Ella merasakan sesuatu yang asing di dadanya. Ada seseorang yang melihatnya bukan sekadar sebagai "peraih peringkat pertama", melainkan sebagai manusia yang butuh asupan gula.

Namun, perasaan hangat itu seketika menguap begitu saja saat Ella tanpa sengaja mengalihkan pandangannya ke arah ambang pintu kelas.

Di sana, Rizki berdiri tegak. Sebagai ketua kelas yang populer, ia selalu dikelilingi oleh teman-temannya yang sedang tertawa keras membicarakan rencana akhir pekan. Namun, mata Rizki tidak sedang menatap teman-temannya. Ia sedang menatap tajam ke arah meja Ella—lebih tepatnya, ke arah kotak susu cokelat dari Wawan. Tatapan Rizki sulit diartikan; ada kedinginan yang menusuk, ketajaman yang mengintimidasi, dan kilat amarah yang tertahan di balik topeng kesempurnaan yang selalu ia jaga. Selama beberapa detik, mata mereka bertemu, dan Ella merasakan bulu kuduknya meremang sebelum Rizki membuang muka dengan angkuh dan berjalan pergi bersama gerombolannya.

Sore harinya, sekolah sudah mulai senyap. Kebanyakan siswa sudah pulang ke rumah atau pergi ke tempat bimbel. Cahaya matahari yang mulai berubah menjadi jingga keemasan masuk melalui celah-celah jendela perpustakaan yang tinggi, menciptakan siluet panjang di antara rak-rak buku yang menjulang.

Ella masih di sana, duduk di meja sudut paling pojok yang sudah menjadi wilayah kekuasaannya. Ia sedang asyik menyusun laporan praktikum biologi yang cukup menyita waktu dan konsentrasinya. Namun, saat ia menyadari ada satu referensi yang kurang, ia bangkit menuju rak buku di bagian belakang perpustakaan. Matanya memindai barisan punggung buku yang tebal hingga ia menemukan judul yang ia cari di rak paling atas.

Ella berjinjit, berusaha menjangkau buku itu dengan ujung jemarinya, namun tetap saja kurang beberapa inci. Ia mendesah frustrasi. Tepat saat ia hendak mencari tangga kecil, sebuah tangan besar dengan kemeja seragam yang lengannya digulung rapi hingga ke siku muncul dari belakang tubuhnya. Tangan itu mengambil buku tersebut dengan gerakan yang sangat mudah, seolah berat buku itu tidak ada artinya.

"Ini yang kamu cari?"

Ella tersentak hebat hingga jantungnya seolah melompat dari posisinya. Wangi parfum maskulin yang sangat ia kenali—campuran antara aroma kayu cendana dan kesegaran laut—kini memenuhi indra penciumannya, mengalahkan aroma kertas tua yang biasanya mendominasi perpustakaan. Rizki. Cowok itu berdiri tepat di belakangnya, menciptakan ruang yang sangat sempit dan intim di antara rak buku yang menjulang tinggi.

"Ma-makasih, Ki," ucap Ella terbata-bata. Ia mencoba berbalik untuk mengambil buku itu dan segera pergi, namun ia segera menyesali keputusannya. Saat ia berbalik, ia justru terjebak.

Rizki tidak mundur sedikit pun. Ia justru menyandarkan satu tangannya di rak buku, seolah mengunci posisi Ella agar tidak bisa kabur ke mana pun. Matanya menatap Ella dengan intensitas yang membuat napas Ella tertahan di tenggorokan. Gengsi yang biasanya ia tunjukkan di depan kelas seolah luntur di kesunyian perpustakaan ini, digantikan oleh emosi yang meluap-luap dan tak terkendali.

"Kenapa kamu harus selalu menerima pemberian dari semua orang?" tanya Rizki dengan suara rendah, nyaris berbisik namun terasa menggetarkan hingga ke dasar hati Ella.

"Maksud kamu apa?" Ella mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, meskipun kakinya terasa lemas.

"Wawan," desis Rizki dengan nada tidak suka yang amat jelas, seolah menyebut nama itu adalah racun bagi lidahnya. "Kamu pikir dia benar-benar peduli padamu? Dia itu cuma berandalan yang suka cari perhatian, La. Jangan terlalu naif dan mudah percaya sama orang semacam dia."

Ella merasakan dadanya sesak, bukan karena posisi mereka yang dekat, tapi karena tuduhan itu. "Setidaknya dia berani bicara denganku secara terbuka di depan orang lain, Rizki! Dia tidak peduli apa kata orang! Nggak seperti kamu yang selalu pura-pura nggak kenal kalau ada teman-temanmu di sekitarmu. Kamu jauh lebih peduli pada reputasi dan kepopuleranmu daripada memperlakukanku seperti teman!"

Wajah Rizki mengeras seketika. Rahangnya mengetat hingga Ella bisa melihat gurat frustrasi di wajah tampan itu. Rizki semakin mendekat, jarak mereka kini hanya tersisa beberapa inci saja hingga Ella bisa merasakan radiasi panas dari tubuh Rizki.

"Ada banyak hal yang nggak kamu mengerti tentang posisiku di sekolah ini, La. Ada ekspektasi yang harus kujaga," ucap Rizki dengan suara yang lebih dalam, seolah sedang menahan sesuatu yang sangat besar agar tidak meledak. "Tapi melihat kamu tertawa sama dia... melihat kamu menerima pemberiannya... itu benar-benar membuatku muak. Aku tidak suka melihatnya menyentuhmu."

Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya suara napas mereka yang saling beradu di ruang sempit itu. Ella bisa melihat kejujuran yang menyakitkan di mata Rizki—sebuah kecemburuan yang ia coba bungkus dengan kesombongan.

Dengan gerakan yang sedikit kasar, Rizki meletakkan buku itu ke tangan Ella yang gemetar. Ia tidak memberikan kesempatan bagi Ella untuk menjawab. Rizki berbalik dan pergi begitu saja, langkah kakinya menggema dengan ritme yang berat di atas lantai kayu perpustakaan yang sunyi.

Ella berdiri mematung di sana, mendekap buku biologi itu erat-erat ke dadanya. Jantungnya masih berdegup tidak keruan. Ia baru saja merasakan api cemburu yang membakar dari seorang Rizki, namun di saat yang sama, ia teringat pada hangatnya susu cokelat dan ketulusan sederhana dari Wawan yang terasa jauh lebih menenangkan.

Segitiga itu kini mulai menarik Ella ke arah yang berlawanan. Rizki menariknya dengan intensitas yang menyesakkan dan penuh aturan, sementara Wawan menariknya dengan kebebasan yang tanpa syarat. Ella menyadari bahwa mulai hari ini, ketenangannya sebagai "si kutu buku" telah robek menjadi kepingan-kepingan yang membingungkan. Ia berada di persimpangan jalan, dan ia tidak tahu hati mana yang lebih aman untuk dijadikan tempat berlabuh.

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!