"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pura-Pura Pingsan Jilid Dua
Sangat memusingkan kepala bagi Adrian saat ia menyadari bahwa di balik ceceran kuah seblak itu, ada sebuah benda yang terjatuh dari saku seragam Lala yang tadi sempat tertarik olehnya. Benda itu adalah sebuah gantungan kunci berbentuk hati yang di dalamnya terselip foto candid Adrian saat sedang memakai masker bedah dengan tatapan mata yang sangat tajam. Adrian memegang benda itu dengan ujung jari yang gemetar antara rasa kesal yang meluap-luap dan rasa heran yang tidak kunjung hilang.
"Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh anak ini sampai memiliki foto saya dalam jarak sedekat ini?" tanya Adrian pada kesunyian ruangan yang masih beraroma kencur.
Suara teriakan dari luar koridor tiba-tiba memecah lamunan Adrian hingga ia segera berlari keluar untuk memeriksa keadaan yang sepertinya sedang gawat darurat. Di sana, tepat di depan pintu lift yang terbuka, tubuh Lala sudah tergeletak tidak berdaya dengan mata yang terpejam sangat rapat sekali. Beberapa pasien dan perawat yang melintas tampak sangat panik karena mengira gadis berseragam sekolah itu benar-benar mengalami serangan jantung mendadak.
"Dokter Adrian, tolong cepat, pasien ini tiba-tiba saja jatuh pingsan setelah keluar dari ruangan Dokter!" teriak salah satu perawat senior dengan wajah pucat.
"Jangan sentuh dia dulu, biarkan saya yang memeriksa apakah ini murni masalah kesehatan atau sekadar sandiwara murahan jilid dua," sahut Adrian dengan nada suara yang sangat dingin.
Adrian berlutut di samping tubuh Lala lalu mulai memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan gadis itu dengan sangat teliti dan seksama. Dia menyadari bahwa meskipun mata Lala tertutup, kelopak matanya bergetar-getar kecil seolah sedang menahan tawa yang hampir saja meledak keluar. Pria itu menghela napas panjang sambil menatap wajah Lala yang tampak sangat tenang namun penuh dengan kepura-puraan yang sangat jelas terlihat.
"Tolong siapkan tabung oksigen dan siapkan alat pemacu detak jantung dengan voltase paling tinggi sekarang juga!" perintah Adrian kepada perawat yang berdiri di dekatnya.
"Apakah itu tidak terlalu berbahaya bagi siswi yang pingsan biasa seperti dia, Dokter?" tanya perawat itu dengan nada ragu-ragu yang sangat kentara.
"Kita harus memastikan saraf saraf jantungnya kembali berfungsi sebelum dia benar-benar berhenti bernapas selamanya," jawab Adrian sambil melirik tajam ke arah Lala.
Lala yang mendengar kata alat pemacu detak jantung seketika langsung membuka mata dan terduduk tegak dengan gerakan yang sangat cepat menyerupai pegas yang dilepaskan. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah merona karena merasa sangat terkejut sekaligus malu atas ancaman medis yang diberikan oleh Adrian. Dia menatap Adrian dengan pandangan yang penuh dengan rasa protes namun juga ada binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.
"Dokter Adrian jahat sekali, masa mau menyetrum jantung calon masa depannya sendiri dengan alat mengerikan itu?" protes Lala sambil merapikan seragamnya yang sedikit berantakan.
"Hanya itu satu-satunya cara untuk membangkitkan orang yang sedang berpura-pura mati demi sebuah perhatian konyol," balas Adrian sambil berdiri dan merapikan jas putihnya.
Para penonton yang tadinya merasa sangat khawatir kini mulai bubar satu persatu sambil menggerutu kecil karena merasa sudah dibohongi oleh drama remaja tersebut. Adrian kembali melangkah menuju ruangannya tanpa memperdulikan Lala yang masih duduk di lantai koridor dengan wajah yang ditekuk sangat masam. Namun, sebelum Adrian benar-benar masuk, Lala berteriak cukup keras hingga langkah kaki sang dokter terhenti seketika di ambang pintu kayu yang kokoh.
"Aku pingsan sungguhan karena Dokter membuang seblak buatan ibuku dengan cara yang sangat kasar tadi!" teriak Lala dengan suara yang mulai terdengar bergetar sedih.
"Saya tidak peduli siapa yang membuatnya, ruangan saya harus tetap steril dari segala jenis bau yang menyengat saraf penciuman," jawab Adrian tanpa menoleh sedikit pun.
"Dokter tidak punya hati, aku sudah bangun jam empat pagi hanya untuk menyiapkan itu semua demi kesehatan Dokter Adrian!" balas Lala sambil menyeka air mata yang mulai menetes di pipinya.
Langkah kaki Adrian terasa sangat berat saat mendengar isakan tangis yang terdengar tulus dari balik punggungnya yang tegap itu. Dia memutar tubuhnya secara perlahan dan menemukan Lala sedang menelungkupkan wajah di antara kedua lututnya sambil menangis tersedu-sedu. Rasa bersalah yang sangat asing mulai merambat naik di dalam dada Adrian hingga membuat logika medisnya terasa tumpul secara tiba-tiba.
"Berhenti menangis di koridor rumah sakit, kamu membuat saya terlihat seperti penjahat yang sedang menindas anak sekolah menengah," bisik Adrian sambil mendekati Lala kembali.
"Memang Dokter itu penjahat, penjahat yang sudah mencuri seluruh perhatian dan kasih sayangku tanpa izin!" sahut Lala di sela-sela tangisnya yang semakin kencang.
Adrian akhirnya mengulurkan tangannya yang besar dan hangat untuk membantu Lala berdiri dari lantai yang sangat dingin dan tidak nyaman itu. Dia menuntun gadis itu kembali ke dalam ruangannya agar tidak menjadi bahan tontonan publik yang bisa merusak nama baiknya di mata direktur rumah sakit. Di dalam ruangan, Adrian mendudukkan Lala di sofa kulit sambil memberikan selembar kertas tisu untuk membersihkan sisa-sisa air mata yang masih mengalir.
"Bersihkan wajahmu, setelah ini saya akan memberikan sebuah definisi yang sangat penting bagi kesehatanmu ke depan nanti," ucap Adrian dengan nada yang sedikit lebih lembut.
"Definisi tentang apa Dokter? Apakah tentang definisi pernikahan kita yang akan segera dilaksanakan?" tanya Lala dengan mata yang masih sembab namun penuh harapan.
"Bukan sekadar sandiwara murahan, tapi saya akan memberikan definisi vitamin d yang sebenarnya kepada kamu," jawab Adrian sambil mengambil sebuah botol suplemen dari dalam lemari obat.
Bukan sekadar sandiwara murahan saat Lala tiba-tiba membuka mata dan membisikkan bahwa obat terbaiknya hanyalah kehadiran sang dokter di sisinya.