Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati
Ninda mulai gelisah, dia berguling-guling di atas tempat tidurnya sambil membaca balasan pesan dari Noah. Balasannya singkat dan datar, tak seperti biasanya.
"Dia ngilang lagi kaya dulu," ucap Ninda pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Terserah," ucapnya lagi dengan nada kesal, lalu melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
Sudah sebulan ini dia tak melihat Noah. Selama itu pula, Ninda tak menerima kabar yang berarti dari Noah.
Dengan langkah gontai, dia berjalan ke arah dapur. Dibukanya lemari es, diambilnya botol air mineral dan diteguknya hingga tandas.
Saat hendak kembali ke kamarnya, matanya tertuju pada tumbler milik Noah yang tertinggal.
"Ya, aku akan menemuinya," ucap Ninda sambil mengambil tumbler itu.
-------
Sedang diapartemennya Noah sedang melakukan hal yang menyenangkan dengan Sarah.
Nafas sarah terengah engah menikmati sentuhan Noah.
Noah mulai mengerang mereka saling mendekap Suara nafas bersatu dengan desahan dan erangan.
Gerakan mereka berhenti, saling menatap lalu berciuman.
Noah merasa lega dan ambruk di samping Sarah.
---------------
Sedang di luar sana, Ninda menekan bel yang berdiri di depan pintu apartemen Noah.
Tak selang berapa lama, pintu itu perlahan terbuka. Senyuman di wajah Ninda seketika musnah ketika dia melihat sosok perempuan cantik berdiri di hadapannya.
Ninda sedikit terkejut, tubuhnya kaku tak bisa bergerak.
"Siapa sayang?" terdengar suara Noah dari dalam. Ninda seperti tersambar petir saat itu.
"Maaf, aku hanya ingin mengembalikan tumbler punya Uncle," ucap Ninda terbata-bata sambil memberikan tumbler itu kepada Sarah.
"Terima kasih..."
Belum selesai Sarah mengucapkan kalimatnya, Ninda sudah berlari masuk ke dalam apartemennya. Dia ambruk sambil memeluk lututnya.
Seketika, air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia memegang dadanya yang terasa sesak, seperti ada beban berat yang menghimpitnya.
Tak lama kemudian, dia mendengar suara bel berbunyi. Dia sudah bisa
Ninda menebak pasti Noah yang berada di balik pintu itu.
Dia segera menyeka air matanya. Dia mencoba menenangkan dirinya, walau tangan dan kakinya masih bergetar.
"Boleh aku masuk?" ucap Noah pelan, matanya menatap Ninda dengan tatapan memohon.
Dia mengangguk pelan sambil mempersilahkan Noah masuk.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka.
"Ninda, tadi kamu datang, kenapa pergi?" ucap Noah pelan, masih menatap Ninda.
"Aku cuma mau mengembalikan tumbler, lagi pula aku tidak mau mengganggu," kali ini Ninda memberanikan diri menatap Noah, mencoba bersikap wajar.
"Ninda, aku harus membicarakan hal ini," seru Noah, menatap wajah Ninda dengan serius.
"Ninda, aku tidak pernah bermaksud mempermainkanmu. Aku benar-benar menyukaimu," ungkap Noah, menatap Ninda dengan nada bergetar.
"Kamu masih terlalu muda, aku butuh seseorang yang lebih dewasa, usia kita terlalu jauh."
"Harusnya Uncle tak perlu mengatakannya," ucap Ninda, menatap Noah dengan air mata yang tertahan.
"Aku tak tahu harus bersikap bagaimana, aku hanya bisa mengatakan maaf untuk semua ini."
"Masa depanmu masih panjang, mungkin kau akan bertemu dengan laki-laki yang baik," ungkap Noah lagi. Genangan air mata terlihat jelas di mata Ninda sekarang.
Ninda tak berbicara sepatah kata pun. Dia tak mampu membendung air matanya.
Hanya tangannya yang gemetaran saking menahan kecewa, isakan tangis yang bisa Ninda tunjukkan saat itu. Hal itu membuat Noah mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat," ucap Ninda dengan susah payah, bibirnya bergetar, pikirannya sangat kacau.
"Ninda, apa kau baik-baik saja?" tanya Noah sedikit khawatir melihat Ninda yang tampak syok.
"Aku baik-baik saja, Uncle," kali ini Ninda mencoba mengatur emosinya.
"Semakin kau berada di dekatku, semakin aku menyukaimu," akhirnya Ninda bisa mengeluarkan perasaannya. Noah tersentak, matanya berkaca-kaca.
"Aku mohon, pergilah," ucap Ninda kali ini dengan nada yang lebih rendah.
Noah tak bisa berkata-kata. Dia menatap Ninda penuh dengan rasa bersalah
Berangsur-angsur, dia beranjak meninggalkan Ninda. Noah merasa dia sudah melakukan kesalahan dalam hidupnya.
Dia sempat berdiri lama mematung di depan pintu apartemennya, sampai dia mendengar notifikasi dari ponselnya. Sarah beberapa kali menghubunginya.
'Sayang, kau di mana?' Noah membaca pesan itu. Tubuhnya berjalan lunglai, dia melangkah dan membuka pintu apartemennya.
-----------
Ninda tampak murung. Sunak dan Jessica menyadari akan perubahan sikap Ninda. Di dalam kelaspun dia nampak tak banyak bicara. Sunak dan Jessica tak mau menanyakan apapun.
Mereka berpikir akan lebih baik menunggu waktu yang tepat untuk Ninda dengan kemauannya sendiri menceritakan masalahnya kepada mereka.
Mata kuliah hari ini sangat padat, bahkan mereka tak sempat makan siang. Semua mata kuliah baru selesai sore menjelang malam. Merekapun pergi ke kafetaria untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
"Kalian mau makan apa?" tanya Jessica semangat.
"Hari ini aku yang bayar, jadi kalian bisa pesan apa saja," ungkap Jessica, disambut senyuman Sunak dan Ninda.
"Ini adalah hari keberuntunganku, aku akan makan lasagna, kemudian pizza, dan tart apple," ungkap Sunak tampak senang.
"Dan kamu, Ninda?" tanya Jessica sambil menatap Ninda tampak cemas.
"Ehh, aku akan memesan sandwich tuna," ucap Ninda pelan, kemudian tersenyum ke arah Jessica.
Kemudian mereka pergi bersama-sama, satu persatu mereka mendatangi stand untuk memesan makanan yang mereka inginkan. Karena Ninda hanya memesan sandwich tuna dan sebotol air mineral, dia sudah kembali ke tempat duduknya terlebih dahulu.
Kemudian Jessica pergi bersama Sunak untuk mengambil pesanan mereka. Jessica membelalak ke arah Sunak, wajahnya tampak sedikit kesal.
"Hey, kau tahu aku melakukan ini agar Ninda mau makan sesuatu, bukan?" kata Jessica sambil melotot ke arah Sunak.
"Aku juga sedang merasa sedih, Jess," ucap Sunak pelan. Mata Jessica semakin melotot, Sunak menunduk sedikit ngeri.
"Kau tidak boleh memesan makanan lebih dari satu menu," ungkap Jessica dengan nada yang galak.
"Baiklah," ungkap Sunak lemas.
Tak lama kemudian, Sunak dan Jessica datang membawa pesanan mereka. Di sana, Ninda tampak bengong, makanannya tak disentuh sama sekali.
Jessica menatap Sunak sejenak. Sunak sepertinya paham apa yang Jessica maksud, supaya dia menjadi badut seperti biasa agar Ninda bisa tertawa.
"Ayo makan, Ninda," ungkap Sunak dengan nada semangat. Ninda tersadar dari lamunannya, kemudian tersenyum.
"Iya, aku menunggu kalian terlebih dahulu," ucap Ninda sambil memakan sandwich itu pelan-pelan.
Jelas itu bukan Ninda yang biasanya. Walaupun dia terlihat sangat cantik, untuk urusan makan dia tak kalah mengerikan seperti Sunak. Saat Jessica dan Sunak menyantap makanannya dengan lahap, Ninda tampak tak bersemangat.
"Kalian jangan pulang dulu yaah," ungkap Jessica sambil menatap Ninda dan Sunak.
"Kita nongkrong dulu sambil lihat sunset di perpustakaan," kata Jessica lagi.
"Ya, baiklah, aku juga merasa sangat stres dengan tugas kuliah akhir-akhir ini," sahut Sunak melirik Ninda sejenak.
"Bagaimana denganmu, Ninda?" tanya Jessica.
"Emm, aku," Ninda tampak ragu berucap. Sebetulnya dia bingung harus melakukan apa. Di apartemen jelas menyakitkan, pergi dia juga takut merusak mood teman-temannya.
"Ayolah, kalau nggak ada kamu nggak akan seru tahu," ungkap Jessica memelas. Ninda tersenyum ke arah Jessica seraya berkata, "Baiklah, aku ikut."
"Cepat habiskan makananmu," ucap Sunak sambil tersenyum ke arah Ninda. Ninda mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian mereka berjalan bersamaan dari fakultas ke arah perpustakaan. Jaraknya tidak terlalu jauh, di sana banyak mahasiswa yang berlalu lalang.
Perpustakaan Tu Delft terkenal ikonic di seluruh dunia, karena di atas atapnya terdapat rumput yang berbetuk bukit. Di bagian tengah bukit itu terdapat pintu masuk, menaranya berbentuk kerucut membuat perpustakaan itu semakin unik.
Setiap hari, banyak mahasiswa duduk di sana menghabiskan waktu atau sekedar bersantai menikmati sunset. Sunak, Jessica, dan Ninda duduk di antara beberapa kerumunan, sedikit berjarak.
"Lihat, seru kan?" ungkap Jessica menatap Ninda dan Sunak, di balas senyuman Ninda dan Sunak.
Sejenak, Ninda merasa hatinya terobati dengan berada di tempat itu. Angin membelai rambutnya, air mata menetes di antara senyumannya. Ternyata hatinya masih sakit sampai detik ini.
"Akh, di India persis seperti ini," celetuk Sunak tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang kontroversial, di ikuti tawa Jessica. Ninda jadi tersenyum mendengarnya.
"Kenapa tertawa? Kau tidak percaya?" kata Sunak lagi, dia juga tertawa. Sungguh ironi membandingkan Holand dengan India.
"Hentikan omong kosongmu! Aku lihat di YouTube negaramu tak seperti itu," celetuk Jessica masih sedikit terkeukeuh.
"Kalau negaraku, Singapura, mungkin masih bisa dibandingkan," celetuk Jessica. Mata julit Sunak melirik Ninda sambil menarik senyuman dari ujung bibirnya.
Ninda jelas paham kalau dibandingkan Singapura, India dan Indonesia kalah jauh kalau soal kebersihan dan tata kota.
"Orang Singapura kurang ekspresi, terlalu serius. Lihatlah orang India, kami sering menari dan bernyanyi, hidup kita sangat bahagia," celetuk Sunak lagi, dia juga sendiri tertawa menertawakannya.
"Iya, sama seperti orang Indonesia, apapun masalahnya di koploin aja," celetuk Ninda mulai bisa tertawa.
"Akhirnya kita bisa memiliki kesamaan soal rakyat di negara kami," ungkap Sunak.
"Karena nenek moyangmu menyebarkan kebudayaannya di negaraku," sahut Ninda sambil tersenyum.
"Jadi menurut kalian orang-orang di negaraku tidak bahagia?" kata Jessica sedikit bengong.
"Ucapan kalian ada benarnya sih," kata Jessica, dia menghentikan kalimatnya sejenak.
"Tuntutan hidup kami tinggi, pajak kami tinggi, semua serba mahal dan komersil, banyak denda juga, kami tak bisa santai sedikit pun," ucap Jessica tertawa sejenak.
"Bukankah itu bagus?" ucap Ninda.
"Kau tahu kenapa Belanda menjajah negara kami lama sekali, karena negara kami indah," ucap Ninda lagi.
"Ya, Belanda pernah menjajah negaramu 350 tahun, waktu yang cukup panjang. Kalian sangat nyaman sepertinya dijajah orang Belanda," kata Sunak dengan nada bercanda.
"Ya, bahkan hatiku pun dijajah laki-laki Belanda," awalnya mereka tertawa mendengar ucapan Ninda, namun seketika tawa Ninda berubah menjadi tangisan, Sunak dan Jessica terdiam, kemudian mereka memeluk Ninda.
"Hey, kau baik-baik saja?" tanya Sunak.
"Noah sudah punya pacar," ungkap Ninda sambil menangis. Jessica dan Sunak memilih tak berkomentar, dia membiarkan Ninda melepaskan kesedihannya.
"Dia membawa wanita itu menginap di apartemennya, jaraknya begitu dekat denganku."
"Ninda, aku kesal sekali mendengarnya," sahut Jessica, wajahnya tampak kesal sekaligus sedih.
"Maaf Ninda, aku sudah bisa menduganya, dia laki-laki plinplan dan egois," ucap Sunak di amini Jessica.
"Tinggallah di apartemenku, untuk sementara," ungkap Jessica. Mata Ninda tertuju ke arah Jessica.
"Akan sulit untukmu bila harus berdekatan dengan laki-laki itu," ungkap Jessica.