Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: INGATAN YANG BERTABRAKAN
Kelas Remedial 1-R ternyata tidak berada di gedung utama yang megah, melainkan di sebuah bangunan tua di belakang kampus, dekat dengan gudang peralatan lapangan. Ji-hoon menemukan lokasinya setelah tersesat dua kali, dibantu oleh petunjuk dari seorang tukang kebun yang melihat kartu merah di tangannya dan mengangguk dengan ekspresi yang hampir seperti belas kasihan.
Ruangan kelasnya kecil, dengan jendela tinggi yang kotor dan dua puluh kursi-kursi kayu yang sudah usang. Hanya sekitar sepuluh siswa yang hadir. Mereka duduk terpencar, masing-masing terlihat murung, malu, atau acuh tak acuh. Tidak ada antusiasme seperti yang ia lihat di koridor utama akademi.
Ji-hoon mengambil tempat duduk di baris tengah, dekat jendela. Ia meletakkan tasnya, perasaan campur aduk. Sebagai Ji-hoon, ini mengingatkannya pada masa sekolah dulu, saat ia merasa tidak cocok dengan lingkungannya. Sebagai Min-jae, ini adalah pukulan bagi harga diri—bukti nyata bahwa ia adalah yang terlemah.
Guru yang masuk adalah seorang pria paruh baya dengan rambut beruban dan kacamata tebal. Ia memakai jas lab, bukan seragam instruktur lapangan. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya masih tajam.
“Selamat pagi. Saya Guru Choi, akan mengajar kalian teori dasar monster dan manajemen Mana selama semester ini,” katanya dengan suara datar. “Saya tahu kalian di sini karena berbagai alasan. Ada yang potensinya rendah, ada yang terlambat berkembang, ada yang cedera. Tapi di kelas ini, satu hal yang saya tekankan: keputusasaan adalah musuh terbesar. Jika kalian sudah menyerah sejak hari pertama, lebih baik keluar sekarang.”
Tidak ada yang bergerak. Beasiswa atau tekanan keluarga membuat mereka tetap duduk di sini.
“Baik.” Guru Choi mulai menulis di papan tulis yang sudah kusam. “Kita mulai dari dasar. Apa itu monster?”
Seorang siswa di depan mengangkat tangan. “Makhluk dari Gerbang?”
“Benar, tapi tidak tepat. Monster adalah entitas biologis atau energi yang terbentuk dari konsentrasi Mana yang tidak stabil di dimensi lain. Mereka bukan ‘iblis’ atau ‘makhluk legenda’. Mereka adalah produk alam, sekaligus ancaman.”
Ji-hoon mendengarkan dengan saksama. Penjelasan Guru Choi jelas dan logis. Ini seperti membaca buku teks, tetapi dengan nuansa yang lebih dalam. Ia mengambil catatan, kebiasaan lamanya sebagai editor yang selalu mencatat detail penting.
“Monster memiliki hierarki berdasarkan kekuatan dan inteligensi. Mulai dari kelas F: makhluk dengan insting dasar seperti Goblin, Slime. Hingga kelas S: entitas yang hampir setara dengan bencana alam, kadang memiliki kecerdasan setara atau melebihi manusia.”
Guru Choi menuliskan sebuah diagram sederhana. Ji-hoon mencatat dengan cepat. Pikirannya bekerja menganalisis. Sistem klasifikasi ini mirip dengan banyak novel fantasi yang pernah ia edit. Tapi di sini, ini nyata. Nyawa taruhannya.
“Pertanyaan,” kata Guru Choi tiba-tiba, menunjuk ke arah Ji-hoon. “Kang Min-jae. Menurutmu, apa kelemahan utama monster kelas F seperti Goblin?”
Ji-hoon terkejut, tetapi segera mengumpulkan pikiran. Ia mengingat apa yang ia baca dan dengar. “Mereka… kurang koordinasi? Insting berkelompok ada, tapi taktiknya sederhana. Dan mereka takut api.”
“Bagus. Itu jawaban dari buku teks.” Guru Choi menganggap. “Tapi di lapangan, jawaban itu bisa membunuhmu. Goblin takut api, ya. Tapi dalam Gerbang hutan, api bisa memicu kebakaran yang akan menjebakmu juga. Dan Goblin yang kelaparan atau terpojok bisa mengabaikan rasa takut dan menjadi lebih ganas. Jadi, apa kelemahan sebenarnya?”
Ji-hoon berpikir sejenak. Logikanya sebagai editor bekerja. “Pola. Mereka bergerak berdasarkan pola sederhana. Jika kita bisa membaca polanya, kita bisa memprediksi, bukan hanya bereaksi.”
Guru Choi tersenyum tipis untuk pertama kalinya. “Itu lebih baik. Analisis, bukan hafalan. Itulah yang akan kita latih di sini. Bukan kekuatan kalian, tapi cara berpikir kalian.”
Kelas berlanjut. Ji-hoon merasa tertarik. Ini adalah bidang di mana ia bisa unggul tanpa kekuatan super. Analisis, pola, pemahaman sebab-akibat. Itu adalah keahliannya.
Namun, di tengah-tengah penjelasan tentang habitat Slime, sebuah kilasan ingatan yang kuat tiba-tiba menyergap Ji-hoon.
*Bukan ingatannya. Bukan ingatan Min-jae juga.*
Ini adalah gambar yang kabur: sebuah ruangan laboratorium putih. Suara mesin berdengung. Seorang pria dengan kacamata—Dr. Kang Min-soo—berteriak sesuatu, wajahnya panik. Lalu, cahaya hijau terang menyembur, diikuti oleh getaran hebat. Suara jeritan. Dan sebuah suara elektronik yang mengatakan: **“Kegagalan stabilisasi. Gelombang resonansi lepas kendali.”**
Ji-hoon tercekat, tangannya menggenggam pulpen hingga kulit kepalunya memutih. Kepalanya berdenyut-denyut. *Apa itu? Kenangan ayah Min-jae? Tapi kenapa aku merasakannya sejelas itu?*
**[Peringatan: Kebocoran memori dari ‘Kang Min-jae’ terdalam terdeteksi. Penyebab: stimulasi eksternal (pembahasan energi tidak stabil).]** Suara sistem itu muncul, lebih waspada dari biasanya.
*Stimulasi eksternal?* Ji-hoon melihat ke sekeliling. Guru Choi sedang menjelaskan tentang ‘ketidakstabilan Mana’ sebagai penyebab kelahiran monster. Kata-kata itu memicu sesuatu di dalam ingatan Min-jae yang terpendam.
“Min-jae? Kau baik-baik saja?” Guru Choi memperhatikannya.
“Ya, maaf. Hanya pusing sedikit,” jawab Ji-hoon cepat, mengusap keningnya yang berkeringat dingin.
“Jika belum fit, boleh izin ke klinik.”
“Tidak perlu, Guru. Aku baik.”
Guru Choi mengamatinya sejenak, lalu melanjutkan pelajaran. Tapi perhatiannya jelas tertuju pada Ji-hoon lebih dari sebelumnya.
Sisa pelajaran berjalan dengan Ji-hoon berusaha keras untuk fokus. Kilasan ingatan tadi meninggalkan rasa gelisah yang dalam. Ia merasa seperti mengintip melalui lubang kunci ke masa lalu yang traumatis, dan apa yang ia lihat tidak menyenangkan.
Saat bel istirahat berbunyi, Ji-hoon keluar kelas untuk mencari udara segar. Ia duduk di tangga belakang bangunan, menghirup napas dalam-dalam.
“Pertama kali masuk kelas remedi memang berat, ya?”
Ji-hoon menoleh. Seorang siswa laki-laki dengan postur tubuh besar dan wajah polos duduk di sampingnya. Ia tampak kuat, seperti seorang binaragawan muda, tapi matanya ramah.
“Aku Ji-woo. Kim Ji-woo,” kata siswa itu, mengulurkan tangan. “Kamu Min-jae, kan? Aku dengar tentangmu.”
Ji-hoon menjabat tangannya. “Ya. Kenapa kamu di sini?” tanyanya, lalu merasa itu mungkin kasar. “Maksudku…”
Ji-woo tersenyum kecut. “Aku punya kekuatan fisik yang bagus, bahkan bisa saingan dengan beberapa siswa C-rank. Tapi… kapasitas Mana-ku sangat rendah. Hampir nol. Jadi, aku tidak bisa menggunakan skill atau enhancement berbasis Mana dengan lama. Aku cuma bisa mengandalkan otot belaka. Di tes, itu dianggap ‘tidak seimbang’ dan ‘potensi terbatas’. Jadi, masuk sini.”
Ji-hoon mengangguk, merasa ada kesamaan. Mereka berdua cacat dalam sistem penilaian akademi, meski dengan alasan berbeda.
“Aku telekinesis lemah,” akunya. “Hampir tidak berguna.”
“Tapi setidaknya kau punya itu. Aku cuma bisa pukul dan tangkis,” kata Ji-woo sambil tertawa kecil. “Tapi ya sudahlah. Guru Choi bilang kita harus cari cara sendiri. Mungkin aku bisa jadi ‘tank’ yang hanya mengandalkan pertahanan fisik.”
Percakapan mereka berlanjut. Ji-woo ternyata mudah diajak bicara dan punya tekad yang kuat. Ia berasal dari keluarga miskin di pinggiran kota, masuk akademi ini dengan beasiswa. Ia harus berhasil, tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk adik perempuannya yang masih kecil.
“Motivasiku sederhana. Aku harus dapat ranking cukup tinggi agar dapat tunjangan dari guild. Itu bisa membiayai sekolah adikku dan mengobati ibu yang sakit,” kata Ji-woo dengan nada datar, tapi matanya berapi-api.
Ji-hoon merasa tersentuh. Di tengah dunia yang tampak penuh dengan kesombongan dan persaingan, ada orang seperti Ji-woo yang berjuang untuk alasan yang sangat manusiawi.
“Aku akan membantu semampuku,” ucap Ji-hoon tanpa berpikir panjang.
Ji-woo tersenyum lebar. “Terima kasih. Aku juga. Kita sama-sama underdog, harus saling dukung.”
Pertemanan pertama di dunia baru ini terasa tulus. Ji-hoon merasa sedikit lebih ringan.
Kelas berikutnya adalah Pelatihan Dasar Fisik, di sebuah gym kecil. Instrukturnya adalah seorang wanita dengan tubuh atletis dan tatapan dingin.
“Kalian di sini karena tubuh atau Mana kalian lemah. Tapi itu bukan alasan untuk bermalas-malasan. Latihan fisik dasar adalah pondasi. Jika kalian tidak bisa menggunakan skill, setidaknya kalian harus bisa lari dari monster,” katanya dengan tegas.
Latihannya berat. Lari di treadmill, angkat beban ringan, latihan kelincahan. Ji-hoon—dalam tubuh Min-jae—menemukan bahwa tubuh ini sebenarnya cukup terlatih. Otot-ototnya merespons, meski Ji-hoon sendiri kewalahan mengoordinasikan gerakannya. Ia seringkali salah langkah atau terlalu lambat bereaksi, seolah ada jeda antara perintah otak dan eksekusi tubuh.
“Min-jae! Konsentrasi! Gerakkan kakimu, jangan seperti orang mengantuk!” teriak instruktur.
Ji-hoon mengerahkan tenaga. Tapi di tengah latihan lari cepat, kilasan ingatan lain muncul.
*Kali ini lebih jelas. Ia—Min-jae—berdiri di depan sebuah pintu besi. Sebuah plakat bertuliskan “Ouroboros Research Division – Area Terbatas”. Ayahnya, Dr. Kang Min-soo, memegang bahunya, wajahnya serius.*
*“Min-jae, apa pun yang terjadi, ingat: penelitian ayah bertujuan untuk kebaikan. Jika suatu hari nanti ada yang menanyaimu, atau jika ayah tidak ada… jangan percaya begitu saja pada Ouroboros. Cari tahu kebenarannya sendiri.”*
*Lalu, adegan berganti. Suara ledakan. Asap. Alarm berbunyi. Min-jae yang lebih muda berlari, panik, dipandu oleh seorang asisten lab. Teriakan “Doctor Kang!” memenuhi koridor.*
Ji-hoon tersandung dan hampir jatuh. Jantungnya berdegup kencang bukan karena latihan, tetapi karena gempuran emosi dari ingatan itu—ketakutan, kebingungan, rasa kehilangan yang mendalam.
“Hey! Kamu benar-benar tidak fokus hari ini!” instruktur mendekat, khawatir. “Wajahmu pucat. Istirahat dulu.”
Ji-hoon mengangguk, berjalan ke bangku dengan langkah goyah. Ia meminum air dari botol, tangannya gemetar.
**[Peringatan: Integrasi memori emosional intens. Penyatuan jiwa meningkat menjadi 92%.]** Sistem memberi laporan. Sepertinya, ingatan traumatis Min-jae justru mempercepat proses penyatuan dua kesadaran.
*Apakah ini bagus?* pikir Ji-hoon bingung. Ia merasa seperti dihujani oleh perasaan orang lain. Sedih, marah, ketakutan yang bukan miliknya, tetapi mulai terasa seperti miliknya.
Saat ia duduk memulihkan diri, seorang siswa perempuan mendekati tempat minum di dekatnya. Ia ramping, dengan ciri khas seorang healer—simbol palang hijau di lengan seragamnya. Wajahnya tampak lembut, tetapi ada ketegangan di matanya.
“Min-jae, kan? Aku Seo-yeon, dari kelas Remedial juga. Departemen Healer,” katanya dengan suara lembut. “Kamu baik-baik saja? Tadi terlihat sakit.”
“Hanya… pusing. Masih adaptasi,” jawab Ji-hoon.
Seo-yeon mengangguk. “Aku mengerti. Aku juga baru pulih dari cedera lama. Kadang-kadang, tubuh sudah sembuh, tapi ingatan traumanya masih ada.” Ia mengulurkan tangannya, telapaknya memancarkan cahaya hijau lembut. “Boleh? Aku bisa mengurangi pusingmu sedikit. Lumayan untuk pertolongan pertama.”
Ji-hoon menganggap. Seo-yeon meletakkan tangannya di dekat pelipis Ji-hoon. Sensasi hangat dan menenangkan mengalir ke kepalanya. Rasa berdenyut-denyut itu mereda.
“Kamu hebat,” puji Ji-hoon tulus.
Seo-yeon tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kemampuan healing-ku… tidak sekuat yang lain. Aku di sini karena sama seperti kalian: dinilai ‘tidak cukup’. Tapi aku ingin membuktikan bahwa healer juga bisa berguna, bahkan dengan kemampuan terbatas.”
Ji-hoon melihat tekad di balik kerendahan hati Seo-yeon. Di kelas Remedial ini, ternyata berkumpul orang-orang yang punya alasan dan semangat masing-masing. Mereka bukan sekadar sampah yang dibuang. Mereka adalah orang-orang yang belum menemukan cara mereka bersinar.
Hari pertama akademi akhirnya berakhir. Ji-hoon pulang dengan badan lelah, tetapi pikiran penuh. Ia bertemu Ji-woo yang kuat secara fisik, Seo-yeon yang penyembuh lembut, dan banyak wajah lain yang mungkin akan ia kenal. Ia juga mendapatkan kilasan ingatan penting tentang ayah Min-jae dan insiden di Ouroboros.
Saat ia berjalan menuju halte bus, seseorang memanggilnya dari belakang.
“Min-jae! Tunggu!”
Ia menoleh. Seorang siswa laki-laki dengan seragam rapi, wajah tampan dengan senyum ramah, mendekat. Ia memakai lencana perak di bahu—C-rank. Ji-hoon tidak mengenalinya.
“Ya?” jawabnya hati-hati.
“Aku Song Min-hyuk. Kita pernah satu les persiapan akademi dulu, ingat?” kata siswa itu. Senyumnya tetap ada, tetapi matanya memandang Ji-hoon dari atas ke bawah, seolah menilai.
Ji-hoon mengais ingatan Min-jae. Ya, ada bayangan samar tentang seorang rival bernama Min-hyuk. Mereka bersaing secara akademis, dan Min-hyuk sering merendahkannya karena potensinya yang lebih tinggi.
“Aku ingat,” jawab Ji-hoon pendek.
“Aku dengar kamu akhirnya masuk juga. Sayangnya, di Remedial,” kata Min-hyuk, nada suaranya terdengar seperti menyesal, tapi ada nada mengejek di baliknya. “Tapi tidak apa. Setidaknya kamu bisa belajar dasar-dasar dengan tenang di sana. Tidak seperti di kelas reguler, tekanannya tinggi.”
Ji-hoon bisa merasakan sikap sok pelindung dan merendahkan. “Aku baik-baik saja di sana.”
“Tentu, tentu.” Min-hyuk mengangguk. “Oh ya, aku dapat kabar tentang ayahmu. Katanya penelitiannya dulu sangat menjanjikan. Sayang sekali terjadi kecelakaan. Mungkin jika kamu punya potensi lebih, kamu bisa meneruskan penelitiannya, ya?”
Itu adalah tusukan yang disengaja. Ji-hoon merasakan amarah Min-jae mendidih di dadanya, bercampur dengan kekesalan Ji-hoon sendiri.
“Urusan ayahku adalah urusanku,” katanya dengan suara datar.
“Maaf, maaf. Aku hanya berniat baik.” Min-hyuk mengangkat tangannya. “Ngomong-ngomong, aku sekarang di kelas C-3, dan sudah direkrut oleh guild kecil. Jika kamu butuh bantuan, atau… jika kamu mau keluar dari Remedial dengan cepat, aku mungkin bisa mencarikan tutor. Tentu dengan bayaran yang sesuai.”
Ji-hoon hampir tertawa. Ini jelas penawaran palsu. Min-hyuk hanya ingin menunjukkan superioritasnya.
“Tidak perlu. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Sesuai keinginanmu.” Min-hyuk tersenyum lagi. “Semoga sukses, Min-jae. Jangan sampai kecelakaan kedua terjadi, ya.”
Setelah Min-hyuk pergi dengan langkah percaya diri, Ji-hoon berdiri diam sejenak. Pertemuan itu mengingatkannya bahwa dunia akademi ini penuh dengan politik dan persaingan kotor. Dan nama ‘Kang’ masih membawa beban, menarik perhatian yang tidak diinginkan.
Di dalam bus yang membawanya pulang, Ji-hoon merenung. Hari ini, ia mendapatkan sekutu potensial (Ji-woo dan Seo-yeon), musuh yang jelas (Min-hyuk), dan petunjuk tentang misteri ayah Min-jae. Ia juga mengalami percepatan integrasi ingatan.
Saat ia memandang keluar jendela, sistem di kepalanya memberikan pembaruan:
**[Hari 1 Akademi: Selesai.]**
**[Pencapaian: Membangun hubungan sosial (2 orang). Memperoleh informasi latar belakang penting. Meningkatkan penyatuan jiwa.]**
**[Tujuan berikutnya: Tingkatkan kontrol psikis dasar menjadi 3% sebelum akhir minggu.]**
**[Rekomendasi: Latihan fokus dan meditasi untuk mengelola kebocoran memori.]**
Ji-hoon mengangguk pelan. Ia punya pekerjaan rumah. Bukan hanya dari akademi, tetapi dari dirinya sendiri.
Malam harinya, di kamarnya, Ji-hoon mencoba bermeditasi seperti yang disarankan sistem. Ia duduk di lantai, mencoba mengosongkan pikiran dan merasakan energi di sekitarnya. Kali ini, ia tidak memaksakan telekinesis, hanya berusaha ‘merasakan’.
Lambat laun, ia bisa memetakan ruangan dalam pikirannya tanpa membuka mata. Meja, kursi, lemari, posisinya. Ia bahkan bisa merasakan aliran udara hangat dari ventilasi.
Lalu, ia mencoba sesuatu yang baru. Daripada mendorong benda, ia mencoba ‘merasakan’ lebih detail. Ia fokus pada sebuah buku di meja. Bukan hanya posisinya, tetapi beratnya, tekstur sampulnya, bahkan ketebalan halamannya.
Pikirannya bekerja seperti scanner. Dan saat ia fokus, sebuah gambar muncul—sampul buku itu, judulnya, bahkan paragraf pertama di halaman pertama. Seolah-olah ia membacanya dengan mata tertutup.
Ini bukan telekinesis. Ini… persepsi yang ditingkatkan. Atau mungkin, sebuah bentuk clairvoyance yang sangat lemah.
**[Kemampuan terdeteksi: Psionic Sensing (Varian). Level estimasi: F+.]**
**[Kontrol psikis dasar: 1.5%.]**
Perkembangan kecil, tetapi nyata. Ji-hoon tersenyum tipis. Mungkin, jalan menuju kekuatan bukan hanya tentang kekuatan fisik atau ledakan energi, tetapi tentang penguasaan diri dan persepsi yang tajam.
Sebelum tidur, ia membuka laci meja belajar Min-jae. Di dalamnya, selain peralatan tulis, ada sebuah album foto kecil. Ia membukanya. Foto-foto keluarga: Min-jae kecil dengan orang tuanya, liburan ke pantai, ulang tahun.
Di halaman terakhir, ada sebuah foto yang diselipkan longgar. Foto itu menunjukkan Dr. Kang Min-soo sedang berdiri di depan sebuah papan tulis penuh rumus, bersama beberapa orang lain. Di sudut foto, terlihat sebuah logo: ular yang memakan ekornya sendiri—simbol Ouroboros.
Di balik foto, ada tulisan tangan yang hampir tidak terbaca: “Proyek Resonance Stabilization. Jika gagal, konsekuensinya tak terbayangkan.”
Ji-hoon menatap foto itu lama. Misteri semakin dalam. Kecelakaan di lab, ayah yang hilang, proyek rahasia Ouroboros, dan sekarang dirinya yang didorong ke dunia ini oleh sebuah sistem misterius.
Semua ini terhubung. Dan ia berada di pusatnya.
Dengan tekad yang menguat, ia menyimpan foto itu dengan hati-hati. Besok adalah hari baru. Ia akan terus belajar, terus berlatih, dan terus mengungkap kebenaran—tentang dunia ini, tentang Min-jae, dan tentang dirinya sendiri.
Dari balik jendela kamarnya, bulan purnama bersinar terang. Di kejauhan, di sebuah gedung pencakar langit dengan logo Ouroboros yang samar-samar menyala, sebuah rapat darurat sedang berlangsung.
“Sinyal yang terdeteksi di rumah sakit dan akademi itu konsisten dengan pola Dr. Kang,” lapor seorang ilmuwan.
“Apakah putranya terlibat?” tanya suara yang lebih berat.
“Belum jelas. Tapi pengawasannya harus ditingkatkan. Jika anak itu mewarisi sesuatu… kita harus mendapatkannya sebelum pihak lain.”
Malam semakin larut, tetapi untuk Ji-hoon, perjalanan panjangnya baru saja dimulai.