NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:953
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api di Atas Es dan Rahasia Arkais di Islandia

​Mendarat di Reykjavík saat musim dingin adalah pengalaman yang membuat seseorang meragukan kewarasan pilihannya dalam hidup. Bagi Maya Adinda, yang baru saja keluar dari suhu hangat Samudra Pasifik, Islandia terasa seperti tinggal di dalam freezer raksasa yang pintunya rusak.

​"Bel, ini nggak manusiawi. Aku pakai daster wol merino tiga lapis, tapi lututku masih bunyi kretak-kretak kayak kerupuk kaleng!" Maya menggigil hebat di dalam kabin pesawat kargo pribadi yang mereka tumpangi. Daster barunya, The Arctic Fox Custom, berwarna putih tulang dengan aksen bulu sintetis, seharusnya memberikan kehangatan termal, tapi angin Islandia punya cara tersendiri untuk menembus segalanya.

​Bella Damayanti sedang sibuk memeriksa senapan pengaitnya. Ia mengenakan parka taktis hitam dengan logo The Justice Widows yang tersembunyi di balik jahitan kerah. "May, simpen keluhan lo buat nanti. Kita punya waktu kurang dari enam jam sebelum Sindikat Benang Hitam mengaktifkan frekuensi ultrasonik di kawah Gunung Fagradalsfjall. Kalau mereka berhasil, mereka bakal memicu erupsi berantai yang bisa menutupi langit Eropa dengan abu vulkanik selama berbulan-bulan."

​Siska Paramita sedang berada di sudut pesawat, memasukkan potongan daging hiu fermentasi hákarl ke dalam wadah kedap udara. "Aroma ikan ini lebih horor dari terasi busuk, tapi kalau dicampur dengan bumbu gochujang rahasiaku, ini bakal jadi sumber energi protein paling gila buat kita di tengah salju."

​Mereka menggunakan kendaraan snowmobile taktis untuk menembus badai salju menuju area pegunungan vulkanik. Di bawah langit yang dihiasi Aurora Borealis berwarna hijau zamrud, pemandangan Islandia tampak seperti planet lain yang indah namun mematikan.

​"Sinyal berasal dari dalam gua lava di bawah kawah," ujar Bella lewat radio komunikasi. "Hati-hati, area ini dipenuhi sensor panas. Satu langkah salah, kita bakal dipanggang hidup-hidup sebelum sempat menyentuh target."

​Saat mereka mencapai mulut gua, suhu udara mendadak naik drastis. Dari dingin yang menggigit menjadi panas yang lembap. Mereka melepas lapisan parka luar mereka, menyisakan daster taktis yang memang dirancang untuk suhu ekstrem.

​"Lihat itu," Siska menunjuk ke arah pusat gua.

​Di tengah danau lava yang bergejolak, terdapat sebuah anjungan logam raksasa. Di atasnya, berdiri sebuah manekin yang mengenakan daster berwarna merah menyala yang tampak seperti terbuat dari cairan api yang membeku. Itulah The Volcanic Widow.

​"Daster itu bukan cuma pakaian," bisik Bella. "Itu adalah konduktor panas bumi. Ia menyerap energi magma dan mengubahnya menjadi gelombang seismik yang bisa diarahkan. Ini adalah senjata pemusnah massal berbasis geologi."

​"Selamat datang, putriku," sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa menggema di dinding gua.

​Seorang pria paruh baya dengan rambut beruban yang disisir rapi keluar dari balik mesin pendingin raksasa. Ia mengenakan jas hitam formal, seolah-olah sedang berada di pesta makan malam, bukan di dalam kawah gunung berapi.

​Bella membeku. Payung titaniumnya hampir jatuh dari genggamannya. "Ayah?"

​Maya dan Siska saling pandang dengan mata terbelalak. "Ayah?! Bukannya Ayahmu sudah meninggal dalam kecelakaan helikopter sepuluh tahun lalu, Bel?" tanya Maya tanpa filter.

​Pria itu, Adnan Damayanti, tersenyum tipis. "Kematian adalah jahitan yang bisa dilepas, Bella. Ayah tidak mati. Ayah hanya... mengganti faksi. Agensi yang kalian bela itu hanyalah sekumpulan amatir yang tidak mengerti potensi sebenarnya dari 'Benang'. Kami, Benang Hitam, adalah masa depan."

​"Ayah yang mendirikan agensi untuk menjaga perdamaian!" teriak Bella, suaranya bergetar antara amarah dan kesedihan. "Sekarang Ayah mau menghancurkan Eropa demi kekuasaan?"

​"Ayah mau menyatukan dunia di bawah satu perintah, Bella. Dengan rasa takut yang terkendali, manusia akan berhenti berperang satu sama lain," balas Adnan dingin. "Serahkan daster merah yang kalian ambil dari Singapura. Itu adalah potongan terakhir untuk menstabilkan konduktor ini."

​"Nggak akan pernah!" Bella melesat maju. Namun, pergerakannya terhenti ketika sekelompok android penjahit versi yang jauh lebih canggih dari yang mereka hadapi di London muncul dari bawah lantai logam.

​"Siska! Maya! Urus robot-robot itu! Ayah urusan gue!" perintah Bella.

​Siska menarik sutil titaniumnya yang kini memiliki mode "Ice-Burn". Ia menyemprotkan nitrogen cair dari ujung sutil ke arah kaki robot, lalu menghantamnya dengan getaran ultrasonik hingga hancur berkeping-keping. "Maaf ya, Om Adnan! Tapi resep perdamaian Anda terlalu pahit buat selera saya!"

​Maya terjebak di antara dua robot besar. Ia merasa terdesak, tapi kemudian ia teringat fitur baru di dasternya yang belum pernah ia coba. "Oke, daster... ayo dong, tunjukin keajaibanmu! Aktifkan Mode Aurora!"

​Daster putih Maya tiba-tiba memancarkan cahaya hijau terang yang berdenyut-denyut. Cahaya itu bukan sekadar hiasan; itu adalah laser pemotong intensitas rendah yang bergerak melingkar di sekeliling Maya. Setiap robot yang mendekat langsung terpotong-potong menjadi bagian kecil.

​"Waaaaah! Aku jadi lampu disko mematikan!" teriak Maya kegirangan sambil berputar-putar seperti penari balet.

​Di anjungan utama, Bella terlibat pertarungan tangan kosong dengan ayahnya. Adnan Damayanti ternyata masih memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa. Ia menggunakan tongkat jalan yang ternyata menyembunyikan pedang tipis berbahan serat karbon.

​TANG! Cring!

​Payung Bella beradu dengan pedang Adnan. "Ayah mengajari aku untuk selalu membela yang lemah!" Bella melakukan tendangan menyamping yang ditangkis dengan mudah oleh Adnan.

​"Aku mengajarimu untuk menang, Bella! Dan di dunia ini, pemenanglah yang membuat aturan!" Adnan mengayunkan pedangnya, nyaris mengenai leher Bella.

​Siska melihat mesin utama yang menyedot energi lava mulai mengeluarkan suara berdengung yang memekakkan telinga. "Bel! Mesinnya sudah mencapai titik kritis! Kita harus mengacaukan frekuensinya!"

​"Gimana caranya?!" teriak Bella sambil menahan tekanan pedang ayahnya.

​Siska melihat wadah hákarl (hiu fermentasi) miliknya. Ia tahu bahwa zat amonia dalam hiu tersebut, jika digabungkan dengan bubuk belerang di sekitar kawah dan getaran ultrasonik sutilnya, bisa menciptakan ledakan kimia yang mengganggu sensor halus mesin tersebut.

​"Maya! Lempar daster cadangan lo ke arah mesin itu!" perintah Siska.

​Maya mengambil daster macan pink cadangannya dari tas dan melemparkannya seperti frisbee. Siska menyusul dengan melemparkan bungkusan hiu fermentasi yang sudah dicampur bahan kimia dapur. Begitu kedua benda itu mendarat di atas reaktor, Siska mengaktifkan gelombang ultrasonik maksimal dari kejauhan.

​BZZZZT—DUARRR!

​Ledakan beraroma busuk yang luar biasa menyengat memenuhi gua. Campuran kimia itu bereaksi dengan energi lava, menciptakan gumpalan gas yang menghentikan proses pengisapan energi secara instan. Mesin reaktor itu terbatuk, mengeluarkan asap hitam, dan akhirnya mati total.

​"APA?!" Adnan tertegun melihat mahakaryanya hancur oleh daster macan dan ikan busuk. "Ini... ini tidak mungkin! Kalkulasiku tidak memasukkan variabel... makanan tradisional?!"

​Hancurnya reaktor menyebabkan tekanan magma yang tidak stabil di bawah anjungan mulai meluap. Gua mulai runtuh.

​"Kita harus keluar! Sekarang!" Bella menarik tangan ayahnya. "Yah, ikut aku! Ayah bisa memulai lagi, tapi di jalan yang benar!"

​Adnan menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secercah rasa bangga, namun juga keras kepala yang mendalam. Ia melepaskan tangan Bella. "Pergilah, Bella. Ayah adalah penjahit yang sudah salah memotong kain sejak awal. Biarkan Ayah menyelesaikan jahitan terakhir ini di sini."

​Adnan menekan tombol penghancuran diri pada seluruh fasilitas. "Lari!"

​Bella ditarik paksa oleh Siska dan Maya menuju pintu keluar. Saat mereka meluncur keluar menggunakan snowmobile, sebuah ledakan besar meruntuhkan mulut gua. Gunung Fagradalsfjall mengeluarkan asap hitam pekat, namun tidak terjadi erupsi besar seperti yang direncanakan.

​Mereka berhenti di jarak yang aman, menatap kepulan asap dari puncak gunung. Bella berdiri diam di tengah terpaan angin salju, air matanya membeku di pipi.

​Maya mendekat dan memeluk Bella dari samping. "Bel... maaf ya soal Ayahmu. Tapi dia pahlawan di detik terakhir, dia milih ngebom tempat itu biar nggak ada yang bisa pakai teknologinya lagi."

​Siska memberikan botol minum berisi teh jahe hangat. "Dunia nggak tahu apa yang terjadi di bawah sana, tapi kita tahu. Kamu sudah melakukan hal yang benar, Bella."

​Bella mengambil teh itu, tangannya masih gemetar. "Dia pendiri agensi kita, Sis. Dan dia juga yang menghancurkannya. Sekarang gue tahu kenapa Kolonel Lastri bisa jadi pengkhianat. Semuanya berakar dari ambisi Ayah gue."

​Bella melihat ke langit, ke arah Aurora yang masih menari. "Tapi dia salah satu hal. Dia bilang kemenangan adalah segalanya. Bagiku, kemenangan tanpa martabat itu nggak ada gunanya."

​Beberapa jam kemudian, saat mereka sedang beristirahat di sebuah kabin kayu terpencil, tablet Bella berbunyi. Ada sebuah pesan enkripsi yang dikirim sesaat sebelum fasilitas di gua itu meledak. Pesan itu berasal dari ayahnya.

​"Bella, jika kamu membaca ini, artinya kamu sudah menang. Di dalam folder ini ada kunci akses untuk 'The Thread of Fate'—server induk Benang Hitam yang ada di Tokyo, Jepang. Mereka sedang mengembangkan daster yang bisa memanipulasi waktu secara atomik. Hentikan mereka. Dan Bella... daster macan pink temanmu itu sebenarnya sangat ikonik. Teruskan gayamu. – Ayah."

​Maya langsung bersorak. "Liat kan?! Ayahmu aja mengakui selera fasyunku! Tokyo?! Yes! Sushi! Harajuku! Aku mau daster motif anime yang bisa berubah jadi sayap!"

​Siska tersenyum, mulai memanaskan panci lagi. "Tokyo ya? Aku harus belajar teknik memotong ikan yang lebih presisi lagi. Dan Bella... kita bakal selesaikan ini. Buat Ayahmu."

​Bella mengangguk, sorot matanya kembali tajam. "Persiapkan diri kalian. Tokyo bukan cuma soal sushi dan belanja. Itu adalah jantung dari teknologi Benang Hitam. Kita berangkat besok fajar."

​Tiga janda itu kembali bersatu di depan perapian. Luka lama mungkin baru saja terbuka, tapi tekad mereka telah mengeras sekuat baja Islandia. Misi menuju Bab 50 masih berlanjut, dan kali ini, taruhannya adalah waktu itu sendiri.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!