Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Diam, jangan bergerak!
Anita tak mengerti apa maksud Dion, tapi ia tak mau mati konyol. Jadi, ia asal mengangguk mantap. "Aku ngerti kok."
Dion lalu turun ke bawah, ia sempat melirik ke kamar di lantai dua, lalu masuk ke mobil.
Philip melihat Dion tersenyum ramah di kaca spion. Agak... bingung.
Begitu masuk mobil, mata Dion langsung berubah gelap. "Patahin kaki Gerry Lewis."
Philip merinding mendengar suara dingin itu. "Siap laksanakan Tuan Muda."
Dion melanjutkan dengan suara dingin, "Cari tahu apa yang telah terjadi sama Anita di rumah keluarganya hari ini."
Dia takkan mengampuni siapa pun yang berani menindas Nyonya Leach!
Tak sulit mencari tahu seluk-beluk keluarga Lewis.
Pukul lima sore, Dion menerima laporan dari Jack Wilshere, asisten khususnya.
Dion menyipitkan matanya. "Selene Lewis pamer cincin tunangannya yang harganya 200 ribu dolar ke Jill?"
Jack merasakan suhu ruangan tiba-tiba turun drastis. Dengan gugup, ia mengangguk. "Benar, Tuan. Selene Lewis juga bilang Nona Lewis cemburu padanya..."
Dion mencibir dingin. "Beraninya dia pamer barang rongsokan seharga 200 ribu dolar? Apa pantas Anita cemburu?"
Jack berpikir dalam hati bahwa mereka sebenarnya tak sedang membicarakan Anita yang cemburu pada cincin itu...
Dion mendongak menatap Jack. "Kamu udah bilang kan kalau ada lelang amal baru-baru ini?"
Jack mengangguk. "Betul, besok malam jam 7 malam, tapi..."
Dion memotong, "Ubah jadwalku. Aku akan pergi ke lelang besok."
Jack terpaksa menelan kata-katanya, "Anda sudah menolaknya, Tuan....".
Dia penasaran, apa daya tarik Nona Lewis sampai membuat Tuan Leach begitu terobsesi padanya.
...
Malam berikutnya, Anita mengenakan riasan tipis dan gaun merah, lalu berangkat ke Klub Moonshine.
Namun, baru saja ia keluar dari halaman rumah, Dion sudah kembali.
Dion keluar dari mobil, mengamati gaun Anita dengan seksama. Gaun itu begitu mempesona, namun tetap sederhana dan elegan. Orang-orang pasti tak berani macam-macam padanya. Ia menyipitkan mata. "Mau ke mana?"
Anita menjawab jujur, "Aku mau pergi ke Klub Moonshine."
Baginya, selama dia tak melakukan sesuatu yang merugikan Dion, tak perlu ada yang disembunyikan. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan kepercayaannya.
Tentu saja, dia juga tak berniat melakukan apa pun yang akan menyakitinya.
Dion mengerutkan kening melihat betis Anita. "Bukankah kita sepakat kamu harus nunggu sampai sembuh?"
Anita melompat kecil dua kali untuk meyakinkannya. "Udah sembuh kok... nih lihat!"
Lukanya hanya luka dangkal berukuran satu sentimeter. Tak perlu ditutupi kain jelek, apalagi sampai harus berbaring di tempat tidur untuk menyembuhkannya.
Dion mengerutkan kening. "Kamu buru-buru banget?"
Anita mengangguk. "Ya, obatmu perlu diuji secepatnya. Biar aku tahu penyebab penyakitmu dan bisa meresepkan obat yang tepat. Penyakitmu nggak bisa ditunda terlalu lama."
Ternyata, dia khawatir dengan kesehatannya.
Dion menatap Anita dengan senyum ramah. "Kamu bisa ke sana besok. Sekarang, temani aku ke pelelangan."
Sebagai Nyonya Leach, ada kewajiban tertentu yang harus dipenuhi Anita. Misalnya, menemaninya ke acara-acara sebagai teman kencan.
Karena itu, ia tak menolak.
Anita menunduk melihat gaunnya. "Kalau gitu, aku ganti baju dulu."
Kemarin, Anita menerima banyak pakaian, tas, dan berbagai macam barang untuk berbagai acara. Ruang ganti di lantai tiga kini penuh dengan gaun-gaunnya.
Dion menggenggam tangannya. "Nggak usah repot. Kamu udah cantik banget pakai ini."
Dia sudah menunjukkan rasa hormat terhadap pelelangan itu dengan membawa Nyonya Leach bersamanya. Tak perlu berdandan berlebihan.
Anita lalu bertanya, "Kenapa tiba-tiba pengen pergi ke pelelangan?"
Dia ingat bahwa Dion tak menyukai acara-acara seperti ini. Dia selalu meminta asistennya untuk mewakilinya jika terpaksa.
Dion menjawab, "Mau nawar sesuatu."
Sesuatu yang akan membuat orang lain iri padamu.
...
Di lantai dua, tempat lelang diadakan, Anita bersandar di jendela VIP, mengamati lantai pertama. Ia melihat Joshua dan Selene di sana.
Keduanya berbisik-bisik. Anita tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi Selene tampak tersipu dan bersandar manja dalam pelukan Joshua.
Dion berdiri di sampingnya, mengikuti arah pandangnya. Ia melihat Joshua Hodges.
Dahinya berkerut. "Lihat apa?" tanyanya ringan.
Anita merasakan aura berbahaya, tapi ia menjawab tenang, "Lagi lihat sampah. Penasaran, ngapain mereka ada di sini malam ini."
Dion menatapnya, lalu memanggil Jack. "Cari tahu apa saja yang disumbangkan Joshua Hodges dan Selene Lewis. Berapa yang mereka tawar."
Lelang amal malam ini sedikit berbeda dari biasanya.
Setiap tamu menyumbangkan satu barang untuk dilelang. Jika mereka menyukai barang yang ditawarkan orang lain, mereka bisa menawar.
Hasil lelang akan disumbangkan ke yayasan amal.
Bisa dibilang, ini adalah ajang tukar barang.
Tentu saja, ini juga merupakan ajang bersosialisasi.
Anita cukup tertarik. Lagipula, akan menyenangkan mempermalukan Selene dan Joshua di depan umum.
Ia bersandar di jendela, menguping percakapan Selene yang kini berbicara lebih keras.
"Denger-denger, Tuan Leach bawa istrinya ke lelang kali ini. Tapi nggak tahu bener apa nggak."
Wanita di sebelah Selene jelas mengenal Selene. Ia menyentuh lengan Selene, bertanya, "Selene, denger-denger istri Tuan Leach itu kakakkmu ya? Beneran?"
Kini, semua orang di kota tahu bahwa Drake Leach membawa Anita ke keluarga Leach.
Tapi tak ada yang tahu kebenarannya.
Selene tak senang mendengar nama Anita disebut. Tapi ia tersenyum. "Betul. Mau gimana pun kakakku dulu, dia memang telah ditakdirkan untuk Tuan Leach."
Anita mengangkat alisnya. Selene sungguh mengingatkan semua orang pada masa lalu kelam Anita.
Para tamu lain mulai bergosip begitu mendengar itu semua benar adanya.
"Jadi, Tuan Leach beneran seburuk itu?"
"Bukannya Tuan Leach itu kasar dan gila? Kakakmu nggak kenapa-kenapa kan sekarang?"
Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan Selene pada Dion. Pria yang tampan dan sombong, dan tampaknya menyayangi Anita.
Selene tersenyum tipis. Ia memasang wajah prihatin. "Maaf, aku nggak bisa ngomongin Tuan Leach di depan umum."
Para penggosip secara tak sadar mengira ia menyetujui komentar mereka.
"Kayaknya Tuan Leach beneran jelek dan kejam. Cuma orang kaya yang maniak."
"Kasihan Anita. Dulu dia bisa pelihara toyboy dan hidup bahagia. Tapi sekarang, dia dipukuli Tuan Leach dan dirawat di rumah sakit."
Selene merasakan tatapan tajam. Ia mendongak ke lantai dua, hanya melihat siluet orang, tak bisa mengenali wajahnya.
Apa Dion dan Anita ada di sini?
Selene buru-buru mengingatkan teman-temannya. "Lelang udah mau mulai. Udah ya gosipnya."
Dia kan nggak ngomong yang jelek-jelek tadi, kan?
Di lantai atas, Dion menatap Anita. "Toyboy dan hidup bahagia tanpaku?"
Anita agak malu. Ia buru-buru berkata, "Jangan dengerin omongan mereka. Aku cuma pengen meluk kamu seumur hidupku sekarang."
Dion mendengus. Ia menarik Anita mundur selangkah, lalu maju selangkah, berdiri di depannya. Tubuhnya yang tinggi menghalangi pandangannya ke lantai bawah.
Anita mendongak, menatap punggung Dion dengan bingung.
Dion mengerutkan kening, menegakkan punggungnya, dan berkata dengan suara berat, "Untuk kamu jalani sisa hidupmu bersamaku?!"
Anita memandang punggung Dion. Tegak dan lebar, tampak ramping sekaligus berotot...
Dion tak mendapat pelukan itu. Ia mengerutkan kening, berkata dengan tak sabar, "Ayo lakukanlah."
Anita: ...
Dion jelas kehilangan kesabaran. Ia mundur, mendekati Anita dari belakang. Dengan lembut, ia melingkarkan lengannya di pinggang Anita. "Sama aja kalau aku meluk kamu."
Pelukan hangat dan kuat itu membuat Anita berjuang secara naluriah.
Namun, tangan Dion mencengkeram pinggangnya, menariknya semakin dekat. "Diamlah kalau lagi dipeluk."
Jika dia terus bergerak, dia bisa membuatnya bergairah.
Anita tersipu, tak berani bergerak lagi. Ia hanya diam dalam pelukan Dion, merasakan panas tubuhnya dan aroma maskulin yang langsung mengacaukan detak jantung dan pikirannya.
Ia tak mendengar apa pun yang sedang dilelang di lantai bawah.
Dion pun tak peduli. Ia hanya memeluk Anita, menghirup aroma segarnya untuk meredakan gairah maniaknya.
Jack segera menyelesaikan tugasnya. Saat membuka pintu, ia melihat keduanya berpelukan di depan jendela. Ia membeku kaget. "Tuan Leach?"
Tuan Leach tak memukul wanita itu sampai mati, tapi malah memeluknya?
Sungguh ,ini adalah suatu keajaiban!
Anita tersipu malu, ia akhirnya berusaha mencoba melepaskan diri dari pelukan Dion. "Ada orang, lepasin aku." bisiknya.
Dion tak melepaskannya, malah memeluknya semakin erat. "Masuk dan bicara. Ngapain bengong di situ?"
Jack, dengan profesionalisme tinggi, masuk tanpa melirik wanita di pelukan Tuan Leach lagi.
Ia melaporkan, "Joshua dan Selene menyumbangkan cincin berlian seharga 200 ribu dolar. Presiden PH Company memutuskan untuk menerima cincin itu seharga 1 juta dolar, untuk membangun kemitraan dengan keluarga Hodges."
Anita mengangkat alisnya. "Cincin tunangan berlian itu?"
Suaranya jelas dan sarkastis, tapi tak menyinggung.
Jack menjawab, "Betul Nona. Dan yang ingin ditawar Joshua juga sebuah cincin berlian misterius. Kabarnya, harga awalnya 10 juta dolar, tapi belum diketahui bentuknya."
Itu adalah puncak acara lelang.
Jack selesai melapor dan akhirnya ia pergi.
Hanya ada dua orang di dalam ruangan itu lagi.
Anita tahu perjuangannya sia-sia. Ia berkata, "Aku capek, bisa tolong lepaskan aku?!"
Baru setelah itu Dion melepaskannya. Beberapa hal perlu dilakukan selangkah demi selangkah. Ia tak bisa terlalu memaksakan diri.
Anita mengangkat tangannya, menyentuh wajahnya yang terasa panas. Ia menatap Dion di sampingnya, yang tampak sedingin es, tapi napasnya sedikit terengah.
Saat itu, suara juru lelang terdengar dari lantai bawah.
"Lot berikutnya: cincin berlian 'Eternity', yang disumbangkan oleh Selene Lewis, yang melambangkan kesetiaan, cinta sejati, kesucian, dan keabadian..."
Juru lelang mengakhiri pengantar panjangnya, lalu berkata, "Cincin berlian 'Eternity', kini dibuka."
Selene duduk tegak, menatap bangga cincin berlian yang dipajang di panggung.
Seharusnya bukan cincin berlian ini yang disumbangkan untuk dilelang.
Itu hanya karena Joshua salah paham kemarin. Demi membahagiakannya, Joshua memutuskan untuk menyumbangkan cincin tunangannya dan berencana membeli cincin berlian misterius di pelelangan sebagai cincin tunangan baru mereka.
Selene tahu seseorang akan melelang cincin berlian itu seharga satu juta dolar. Ia menegakkan punggungnya, menunggu seruan iri dari orang-orang di sekitarnya saat seseorang menawarnya.
Namun, tiga menit berlalu dan tak ada tawaran. Hanya keheningan.
Selene mengerutkan kening, sedikit gelisah. Ia bertanya pada Joshua dengan suara rendah, "Josh, ada apa sih ini?"
Lelang sudah setengah jalan. Begitu lot mulai dijual, orang-orang dengan antusias mengangkat tangan untuk menawar. Itu adalah tanda bahwa mereka tertarik.
Sangat memalukan kalau tak ada seorang pun yang menawar setelah tiga menit berlalu....
Bersambung......