NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANAK YANG TAHU TERLALU BANYAK

Mentari pagi menyinari atap rumah besar itu, tapi tidak mampu menghilangkan rasa dingin yang merayapi setiap sudutnya. Sudah tiga hari sejak ayahnya pergi, dan Qinara masih tidak bisa percaya bahwa dia tidak akan melihat wajah ayahnya lagi. Gadis kecil itu berdiri di depan lemari ayahnya, memandangi baju-baju yang masih tergantung rapi—bau wangi parfum ayahnya masih terasa jelas, membuatnya ingin menangis lagi.

Bu Laras berdiri di pintu kamar, mengenakan baju hitam untuk pemakaman yang akan dilakukan hari ini. Wajahnya tampak pucat, tapi matainya tidak menunjukkan kesedihan yang tulus. "Qinara, cepat siap. Kita harus pergi ke pemakaman sekarang," katanya dengan nada datar, seolah hanya sedang mengingatkan untuk pergi ke pasar.

Qinara mengangguk dan mengambil baju hitam yang ibunya sediakan. Baju itu terlalu besar untuknya, sehingga dia harus menyematkannya dengan jepit di pinggang. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dengan erat—kotak itu tidak pernah terlepas dari sisinya sejak ayahnya berangkat. Dia belum berani membukanya, seperti yang ayahnya suruh—dia takut apa yang akan dia temukan di dalamnya.

Mereka berangkat ke pemakaman dengan mobil yang biasa digunakan ayahnya. Sopirnya, Pak Santoso, yang telah bekerja untuk keluarga selama bertahun-tahun, menangis diam-diam di jok pengemudi. Qinara melihatnya dari cermin kaca belakang, dan merasa sedikit lega—setidaknya ada orang lain yang benar-benar sedih karena kematian ayahnya.

Pemakaman di kuburan umum di Jakarta Selatan padat dengan orang. Banyak teman bisnis ayahnya yang datang, juga tetangga dan keluarga jauh. Semua orang menyampaikan kata-kata belasungkawa, tapi Qinara tidak mendengar apa-apa—semuanya terasa hampa dan tidak berarti.

Dia berdiri di dekat makam ayahnya, yang masih baru dan kosong. Suara bacaan Al-Quran terdengar dari jauh, tapi dia hanya bisa memikirkan tentang ayahnya, tentang semua waktu yang mereka lewati bersama. Dia ingat bagaimana ayahnya menggendongnya ketika dia sakit, bagaimana ayahnya mengajarkannya mengendarai sepeda, bagaimana ayahnya selalu menyapa dia dengan senyum lebar setiap pagi.

Tiba-tiba, matanya tertuju pada seorang pria yang berdiri di kejauhan. Pria itu tinggi, berambut hitam gelap, mengenakan jas hitam—itu Arman. Dia berdiri sendirian, memandang makam ayahnya dengan tatapan dingin. Qinara merasa darahnya beku. Apa yang dia lakukan di sini?

Dia ingin memberitahu ibunya, tapi ketika dia melihat ibunya, dia melihat ibunya sedang memandang Arman juga—dengan nada yang tidak dia mengerti. Qinara merasa sakit di hati. Dia tahu bahwa ada hubungan antara ibunya dan Arman, dan dia yakin bahwa hubungan itu ada hubungannya dengan kematian ayahnya.

Setelah pemakaman selesai, semua orang pulang. Bu Laras mengatakan bahwa dia akan ke rumah teman untuk sejenak, dan menyuruh Pak Santoso mengantarkan Qinara kembali ke rumah. Qinara tidak keberatan—dia tidak ingin berada di dekat ibunya sekarang.

Ketika tiba di rumah, Qinara langsung ke kamar ayahnya. Dia ingin merasa kehadiran ayahnya sekali lagi. Di meja kerja ayahnya, dia melihat tumpukan kertas dan surat. Dia memulai membacanya, meskipun banyak kata yang dia tidak mengerti.

Salah satu surat itu adalah surat dari pengacara ayahnya. Qinara membacanya dengan hati-hati, dan ternyata itu adalah surat tentang rencana ayahnya untuk membuat surat wasiat. Dalam surat itu, ayahnya menuliskan bahwa semua hartanya akan diberikan kepada Qinara ketika dia dewasa, dan Bu Laras hanya akan mendapatkan uang tunai sebesar sedikit untuk kebutuhan hidupnya.

Qinara terkejut. Ayahnya memang mencintainya begitu banyak. Tapi dia juga merasa takut—jika ibunya tahu tentang surat wasiat ini, apa yang akan dia lakukan?

Tiba-tiba, dia mendengar suara pintu kamar dibuka. Dia melihat ibunya masuk, bersama Arman dan seorang anak laki-laki yang dia tidak kenal. Anak itu berusia sekitar delapan tahun, berambut pirang dan mata biru.

"Qinara, kenalkan, ini Om Arman dan kakak Rizky," kata ibunya dengan senyum yang tidak tulus. "Mereka akan tinggal di rumah kita mulai hari ini."

Qinara berdiri dengan cepat, memegang surat wasiat itu dengan erat. "Mengapa mereka harus tinggal di sini? Ini rumah ayahku!" teriak dia dengan marah.

Arman menyenyum sinis. "Rumah ini sekarang milik ibumu, anak kecil. Dan ibumu telah sepakat untuk menikah denganku. Jadi, aku akan menjadi ayah tirmu dari sekarang ini."

Qinara merasa seperti terkena petir. Ibunya akan menikah dengan orang yang dia curigai membunuh ayahnya? Dan mereka akan tinggal di rumah ayahnya?

"Tidak! Aku tidak mau! Ini rumah ayahku!" teriak dia lagi, menangis.

Bu Laras marah. Dia mendekati Qinara dan menarik lengan dia dengan kasar. "Kamu tidak punya pilihan! Kamu hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa! Dari sekarang ini, kamu harus patuh pada Om Arman dan ibumu!"

Qinara mencoba melepaskan diri, tapi ibunya menariknya lebih kuat. "Jangan sentuh aku! Kamu jahat! Kamu membunuh ayahku!" teriak dia dengan sekuat tenaga.

Bu Laras membentak dia. "Kamu bodoh! Ayahmu meninggal karena kecelakaan! Jangan pernah berkata begitu lagi, kalau tidak aku akan menyakitimu!"

Arman mendekati mereka dan menepuk bahu Bu Laras. "Tenang, sayang. Dia hanya anak kecil yang sedih. Nanti dia akan mengerti." Dia kemudian melihat Qinara dengan tatapan kejam. "Dan kamu, anak kecil—jika kamu tidak mau patuh, aku akan mengusirkamu dari rumah ini. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari hartamu ayah."

Qinara merasa kehabisan nafas. Dia takut, tapi dia juga marah. Dia tidak akan membiarkan Arman dan ibunya mengambil apa yang menjadi haknya. Dia akan melindungi hartanya ayah dan menemukan kebenaran tentang kematiannya.

Malam itu, Qinara tidur di kamar kecil di ujung rumah—tempat yang ibunya sediakan untuknya. Kamar itu kecil dan gelap, tanpa jendela yang bisa dibuka. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan surat wasiat itu, berdoa agar ayahnya melindunginya.

Keesokan harinya, Qinara bangun pagi dan pergi ke dapur. Dia ingin mencari makanan, tapi dia melihat Arman dan Rizky sedang makan sarapan di meja makan. Bu Laras berdiri di dekat kompor, memasak makanan untuk mereka.

"Qinara, datang sini! Makan sarapan bersama kita," kata Bu Laras dengan nada yang seolah tidak ada yang terjadi.

Qinara tidak mau, tapi dia lapar. Dia mendekati meja dan duduk di sudut paling jauh. Rizky melihatnya dengan tatapan sombong. "Kamu siapa? Mengapa kamu tinggal di rumah kita?" tanya dia.

"Ini rumah ayahku! Kamu yang datang menyusup!" jawab Qinara dengan marah.

Rizky marah. Dia mengambil roti dari piringnya dan melemparkannya ke arah Qinara. "Jangan bohong! Om Arman bilang ini rumah kita sekarang!"

Qinara mencoba menghindari, tapi roti mengenai pipinya. Dia menangis dan berdiri. "Aku benci kamu! Aku benci semua orang di sini!" teriak dia dan berlari ke kamar.

Dia mengunci pintu kamar dan menangis sejadi-jadinya. Dia merasa sendirian dan tidak berdaya. Semua yang dia miliki hanyalah kotak pemberian ayahnya dan surat wasiat itu. Dia memutuskan untuk membuka kotak itu—sekarang sudah waktunya.

Dia membuka tutup kotak dengan tangan yang gemetar. Di dalamnya, ada tiga hal: foto keluarga yang diambil pada hari ulang tahunnya yang kelima, uang tabungan sebesar lima juta rupiah yang ayahnya berikan untuknya, dan sebuah surat yang ditulis dengan tangan ayahnya.

Qinara membuka surat itu dengan hati-hati. Tulisan ayahnya rapi dan jelas:

Untuk Qinara sayangku, yang paling dicintai di dunia.

Jika kamu membaca surat ini, berarti ayah sudah tidak ada di sisimu. Maafkan ayah tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa, tidak bisa melihatmu menikah, tidak bisa melihatmu mencapai impianmu. Ayah sangat mencintaimu, Qinara—lebih dari apapun di dunia ini.

Qinara, ayah ingin kamu tahu sesuatu yang penting. Ayah curiga bahwa ibumu berselingkuh dengan seorang pria bernama Arman. Ayah telah menemukan bukti-bukti, tapi ayah tidak punya keberanian untuk memberitahunya padamu. Ayah takut apa yang akan terjadi padamu.

Ayah juga curiga bahwa kematian ayah bukanlah kecelakaan semata. Ayah merasa bahwa ada orang yang ingin membunuh ayah, agar mereka bisa mengambil hartanya. Qinara, ayah ingin kamu mencari kebenaran. Jangan biarkan orang-orang jahat itu menang. Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah.

Semua hartanya ayah adalah milikmu, Qinara. Jangan biarkan siapa pun mengambilnya dari mu. Ayah telah membuat surat wasiat yang menyatakan itu—surat wasiat itu ada di lemari bawah meja kerja ayah, dalam kotak biru.

Ayah akan selalu menyertaimu, di mana pun kamu berada. Ayah akan selalu membantumu dan melindungimu. Jangan pernah lupa bahwa ayah sangat mencintaimu.

Dengan cinta yang abadi,

Ayahmu, Hadian

Qinara menangis deras. Surat ini mengkonfirmasi semua kecurigaan yang dia miliki. Ayahnya juga curiga pada ibunya dan Arman, dan dia yakin bahwa dia dibunuh. Dia merasakan tekad di hatinya semakin kuat. Dia akan mencari kebenaran, dan dia akan membuat orang-orang yang bersalah membayar atas kejahatannya.

Dia membuka lemari bawah meja kerja ayah dan menemukan kotak biru yang disebutkan dalam surat. Di dalamnya, ada surat wasiat yang sah dan ditandatangani oleh pengacara ayahnya. Surat wasiat itu jelas menyatakan bahwa semua hartanya ayah—perusahaan pertambangan, rumah, mobil, dan uang—akan diberikan kepada Qinara ketika dia mencapai usia dewasa.

Qinara menyimpan surat wasiat itu dengan hati-hati di dalam kotak pemberian ayahnya. Dia tahu bahwa ini adalah bukti yang dia butuhkan. Tapi dia juga tahu bahwa dia harus berhati-hati—jika Arman dan ibunya tahu bahwa dia memiliki surat wasiat itu, mereka akan melakukan apa saja untuk mengambilnya dari dia.

Malam itu, Qinara mendengar pertengkaran antara ibunya dan Arman di ruang tamu. "Kamu yakin tidak ada surat wasiat? Hadian pasti membuat surat wasiat," kata Arman dengan suara marah.

"Jangan khawatir. Aku sudah mencari semuanya. Tidak ada surat wasiat apa-apa. Semua hartanya adalah milik kita sekarang," jawab ibunya.

Qinara tersenyum dalam hati. Mereka tidak tahu bahwa surat wasiat itu ada di tangannya. Dia akan menyembunyikannya dengan baik, dan ketika waktunya tiba, dia akan menggunakannya untuk mengambil kembali apa yang menjadi haknya.

Dia berdiri di depan jendela kamar kecilnya, memandang langit malam yang penuh bintang. Dia membicarakan pada ayahnya yang ada di surga. "Ayah, aku akan melakukan yang kamu minta. Aku akan mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan. Aku tidak akan menyerah. Aku mencintaimu, ayah."

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, awal dari perjuangannya yang sebenarnya. Qinara siap. Dia adalah anak yang tahu terlalu banyak, tapi dia juga adalah anak yang kuat dan penuh tekad. Dan dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak warisan yang ayahnya tinggalkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!