Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Malam Yang Membuka Mata
Malam ini terasa lebih panjang dari malam biasanya.
Zahra duduk di ruang tamu dengan lampu temaram, menatap jam dinding yang jarumnya bergerak lambat..
Pukul sebelas malam, mas Genta belum pulang, seperti biasa, selalu saja pulang telat..
Malam ini aku tidak bisa tidur karena aku sudah terbiasa menunggu suami ku pulang, sudah terbiasa menahan kantuk, dan sudah terbiasa berharap, meski harapan itu makin sering dikhianati..
Suara televisi menyala tanpa benar-benar aku tonton, pikiran ku melayang pada ucapan ibu mertua ku dan Dini pagi tadi...
Kata mandul masih menggema, berulang-ulang, seolah menjadi cap yang ditempelkan di dahi ku dan tidak akan pernah luntur
Aku menutup mata dan berdoa
"Ya Allah… kalau memang aku ada banyak kurang, ajari aku untuk memperbaiki diriku, tapi kalau aku dizalimi, tolong jangan biarkan aku hancur tanpa pertolongan mu" ucap ku lirih
Tiba-tiba kunci pintu berputar, Zahra tersentak, segera berdiri...
Mas Genta masuk tanpa menoleh sedikit pun kearah ku, melepas sepatu dengan gerakan kasar, jas kerjanya tampak rapi, tapi aroma parfum asing tercium samar, bukan parfum yang biasa Mas Genta gunakan, hati ku bergetar hebat!
“Kamu belum tidur?” tanya Mas Genta datar.
“Belum Mas, aku nunggu, kamu pulang mas” jawab ku pelan
“Untuk apa? Aku capek, tadi sudah aku kirim pesan jangan nunggu aku pulang dan kamu juga sudah balas iya, kenapa kamu masih menunggu aku?" Mas Genta menatap ku sekilas dingin.
Kalimat itu seperti tembok tinggi yang menghalangi ku untuk mendekat.
"Aku cuma mau tanya... Akhir-akhir ini Mas sering pulang malam, ada apa Mas?” aku memberanikan diri bertanya sambil menggenggam ujung baju ku
Mas Genta menghela napas kasar...
“Aku kerja, dari pagi sampai malam, selalu kerja untuk keluarga kita ini, kenapa kamu nggak pernah puas, dan selalu mencari gara-gara sebagai istri"
“Bukan begitu maksud ku, Mas.." jawab ku
"Kamu tuh jadi istri kebanyakan mikir!” potong mas Genta tajam
"Kalau kamu punya waktu lebih, mending kamu urus rumah dengan benar, jangan bikin mamak ku dan adik ku Dini ngomel terus setiap hari” ucap Genta membuat ku terdiam tanpa suara
Jadi… semua keluhan mereka itu disampaikan pada mas Genta, dan mas Genta percaya begitu saja tanpa pernah menanyakan lagi kepada ku
"Aku sudah berusaha, Mas, aku bantu usaha kamu Mas, aku urus rumah semuanya sendiri gak ada yang bantu dan aku..." suara ku bergetar
“Terus kenapa, kamu masih mau mengeluh lagi? dan hasilnya apa? Tiga tahun nikah, kamu belum juga kasih aku anak.” Genta mendengus kesal
Kalimat itu, kalimat yang paling aku takuti akhirnya terucap dari mulut suami ku sendiri.
Dada ku terasa sesak.
“Dokter bilang bukan cuma aku yang harus diperiksa, Mas, seharusnya kamu juga"
Wajah Mas Genta berubah tegang.
“Maksud kamu aku yang bermasalah gitu?”
"Aku nggak bilang begitu Mas, aku cuma.." lagi-lagi ucapan ku di potong oleh Mas Genta
“Cukup! Aku mau istirahat, aku malas berdebat dengan istri yang pembangkang seperti mu dan aku capek mau tidur” Mas Genta membalikkan badannya
Ia melangkah menuju kamar tanpa menoleh lagi, pintu tertutup dengan bunyi keras.
Aku berdiri mematung, dada ku terasa sesak, dan air mata ku jatuh tanpa bisa ditahan..
Malam ini, aku tidur di sisi ranjang dengan punggung membelakangi suamiku..
Tak ada sentuhan, tak ada percakapan, bahkan tak ada doa bersama seperti dulu.
Di tengah keheningan, ponsel Mas Genta yang tergeletak di meja samping bergetar pelan.
Satu pesan masuk, aku tidak berniat mengintip, demi Allah, aku tidak mau menjadi istri yang penuh curiga...
Tapi layar ponsel Mas Genta menyala, dan sebuah nama muncul jelas di sana.
**Rena sayang**
Hati ku seperti diremas, aku menelan ludah, menatap wajah Mas Genta yang terlelap..
Perlahan, dengan tangan gemetar, aku mengambil ponsel itu, layarnya terkunci, tapi notifikasi pesan masih terlihat.
{"Aku kangen, tadi pengin kamu lama dikit"}
Napas ku tercekat, parfum asing, pulang larut, nama perempuan dengan kata sayang
Semua kepingan itu akhirnya menyatu Zahra meletakkan kembali ponsel itu dengan hati-hati...
Tangan ku gemetar hebat, tubuh ku terasa dingin meski udara kamar hangat.
Aku bangkit, menuju kamar mandi, mengunci pintu, lalu terjatuh terduduk di lantai..
Tangis ku pecah tanpa suara.
"Jadi ini jawabannya, ya Allah… Saat aku dituduh kurang, dia justru mencari pelukan wanita lain.” Bisik ku lirih
Air mata membasahi sajadah kecil yang ku jemur di sudut kamar mandi..
di sudut kamar mandi, aku bersimpuh lama, seakan hanya lantai yang mau menampung kesedihan ku saat ini..
“Aku nggak minta dibalas sekarang, aku cuma minta kekuatan, jangan biarkan aku jadi perempuan bodoh yang diinjak-injak.” doa ku dalam hati tanpa terucap
Keesokan paginya, Zahra bangun lebih awal, matanya sembab, tapi wajahnya terlihat tenang, tenang yang tidak biasa..
Aku menyiapkan sarapan seperti biasa, menyajikannya rapi di meja makan, itu sudah menjadi rutinitas harian ku setiap hari..
Ibu mertuaku datang dengan wajah kaku dan dingin
"Genta sudah berangkat?” tanya nya
"Sudah, Mak,” jawab ku sopan..
“Bagus, laki-laki itu harus fokus kerja, jangan diganggu hal receh terus” ucap mertuaku ketus
Aku hanya mengangguk, malas untuk melayani ucapan ibu mertuaku, dan Dini duduk sambil tersenyum kecil...
“Kak Zahra kelihatan capek, nangis, ya?”
Aku menatapnya tajam dan untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk.
“Capek itu wajar, yang nggak wajar itu menyakiti orang lalu merasa paling benar.” jawab ku tenang
Senyum Dini memudar..
“Maksud Kakak apa?”
"Tidak apa-apa, aku mau keluar sebentar.” aku langsung berdiri tanpa menoleh sedikitpun kearah mereka
Aku mengambil tas dan melangkah pergi, meninggalkan dua pasang mata yang saling bertukar pandang..
Di luar rumah, aku menghirup udara dalam-dalam. dan mengeluarkan semua sesak yang menghimpit dadaku
Langkah ku mantap menuju sebuah tempat yang belum pernah aku datangi sejak menikah..
Kantor pengacara, bukan untuk cerai.
Belum saatnya..
Tapi untuk bersiap
Aku duduk di ruang tunggu, jemari ku saling bertaut, di dalam dada ku, ada luka yang masih berdarah, tapi juga ada sesuatu yang mulai tumbuh, kesadaran bahwa aku tidak boleh terus diam, aku harus melawan
Aku tersenyum pahit..
"Jika mereka memilih mengkhianati, maka aku memilih bertahan"
Dan kali ini, Zahra berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menjadi korban selamanya...
"Aku akan ikut semua permainan kalian dengan caraku sendiri dan akan ku pastikan kalian menyesali nya" gumam Zahra