Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji suci yang nyata
Waktu memiliki caranya sendiri untuk membasuh perih dan menumbuhkan harapan baru. Beberapa bulan telah berlalu sejak malam penuh peluh dan air mata di ruang persalinan. Kediaman Vance yang dulunya terasa seperti monumen kesunyian yang dingin, kini telah bertransformasi sepenuhnya. Suara tangisan bayi Leo yang nyaring dan celoteh riang para pelayan yang kini lebih sering tersenyum, memberikan nyawa pada setiap sudut ruangan yang dulunya kaku.
Pemulihan keluarga mereka berjalan dengan sangat luar biasa. Tuan Hendrawan, ayah Alana, secara ajaib pulih sepenuhnya setelah operasi besar itu. Kehadiran cucu pertamanya, Leo, tampaknya menjadi obat paling mujarab yang melampaui dosis medis mana pun. Kini, sang kakek sudah bisa berjalan tegak tanpa tongkat, bahkan sering terlihat menggendong Leo di taman belakang sambil menceritakan dongeng-dongeng lama.
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi Brixton. Bukan karena ada kontrak bisnis bernilai triliunan, melainkan karena hari ini bertepatan dengan ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Setahun yang lalu, pernikahan ini dimulai dengan kebencian, kecurigaan, dan luka yang menganga. Namun malam ini, Brixton ingin menuliskan bab penutup bagi segala kesedihan itu dan membuka lembaran baru yang abadi.
Halaman belakang mansion Vance telah disulap menjadi sebuah taman impian. Ribuan lampu kecil seperti kunang-kunang bergantung di dahan-dahan pohon mawar yang dirawat Alana. Meja-meja panjang dengan taplak putih bersih dan bunga lili segar tertata rapi. Seluruh keluarga besar dari kedua belah pihak hadir—orang tua Brixton, kerabat jauh, dan tentu saja keluarga Alana yang tampak sangat bugar.
Alana tampil memukau malam itu. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hijau zamrud yang senada dengan warna matanya. Tubuhnya telah kembali pulih setelah melahirkan, memancarkan aura keibuan yang anggun sekaligus cantik yang dewasa. Ia menggendong Leo yang mengenakan tuxedo kecil mungil, membuat semua tamu tak henti-hentinya memberikan pujian.
Brixton berdiri di kejauhan, menatap istri dan anaknya dengan tatapan yang tak pernah lepas. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, namun wajahnya yang biasanya tegang kini tampak jauh lebih santai. Ia menarik napas panjang, memantapkan hatinya untuk sebuah rencana yang sudah ia siapkan selama berminggu-minggu.
Saat acara makan malam hampir berakhir, Brixton berdiri dan melangkah menuju sebuah podium kecil yang diletakkan di tengah taman. Ia mengetukkan sendok ke gelas kristalnya, meminta perhatian dari seluruh tamu. Suasana seketika menjadi hening.
"Selamat malam, semuanya," Brixton memulai. Suaranya terdengar stabil, namun bagi mereka yang mengenal dekat, ada getaran emosi di sana. "Terima kasih telah hadir di hari yang sangat berarti bagi saya dan Alana."
Brixton menatap Alana yang duduk di kursi utama, menggendong bayi mereka. "Setahun yang lalu, di tempat ini, saya mengucapkan janji pernikahan. Namun, saya harus jujur di depan Anda semua—malam itu saya mengucapkannya dengan hati yang penuh racun. Saya memulai perjalanan ini dengan langkah yang salah. Saya menyakiti wanita yang seharusnya saya lindungi, dan saya menutup mata dari cahaya yang sebenarnya dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkan saya."
Alana tertegun. Ia tidak menyangka Brixton akan berbicara sejujur itu di depan keluarga besar. Ia merasakan matanya mulai memanas.
"Selama berbulan-bulan, saya hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang ternyata adalah sebuah kepalsuan," lanjut Brixton, suaranya sedikit parau. "Namun, Alana... dengan kesabaran yang tidak masuk akal, dengan kasih sayang yang tidak pernah menyerah meskipun sering saya lukai, tetap berdiri di samping saya. Dia tidak hanya membawa Leo ke dunia ini, tapi dia juga melahirkan kembali sosok Brixton yang telah lama mati."
Brixton turun dari podium, berjalan perlahan menuju Alana. Ia berlutut di depan istrinya, di hadapan orang tua mereka dan seluruh saksi mata. Ia menggenggam tangan bebas Alana.
"Alana Clarissa... di depan keluargaku dan keluargamu, aku ingin mengakui segalanya. Aku mencintaimu. Bukan karena kau adalah ibu dari anakku, tapi karena kau adalah satu-satunya wanita yang mampu melihat sisi terbaikku saat aku sendiri membencinya. Kau adalah jangkarku di tengah badai, dan kau adalah rumah tempatku pulang."
Brixton mengeluarkan sebuah kotak beludru. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian dengan ukiran khusus di bagian dalamnya. "Aku ingin mengulang janji itu malam ini. Kali ini, tanpa ada paksaan, tanpa ada dendam, dan tanpa ada keraguan. Maukah kau tetap bersamaku, tidak hanya sebagai Nyonya Vance, tapi sebagai separuh jiwaku selamanya?"
Air mata Alana jatuh tak tertahankan. Ia melihat ketulusan yang murni di mata suaminya. Tidak ada lagi sisa-sisa pria dingin yang dulu ia takuti. Yang ada hanyalah pria yang kini ia cintai dengan sepenuh hati.
"Iya, Brixton... aku mau," bisik Alana.
Tepuk tangan meriah dan haru meledak di seluruh taman. Ibu Alana menangis bahagia di bahu suaminya, sementara orang tua Brixton tampak sangat bangga melihat perubahan putra mereka.
Setelah pengakuan yang mengharukan itu, acara berlanjut dengan suasana yang jauh lebih santai. Brixton tidak melepaskan pinggang Alana sejenak pun. Mereka berdansa kecil di bawah sinar rembulan dengan iringan biola yang lembut. Leo yang sudah tertidur pulas kini telah berada di dalam gendongan Bibi Martha yang dengan senang hati menjaga sang tuan muda.
"Kau benar-benar membuatku terkejut tadi," bisik Alana saat mereka berdansa pelan.
"Aku hanya ingin dunia tahu betapa beruntungnya aku memilikimu, Alana," balas Brixton. Ia mencium kening Alana. "Aku tidak ingin ada lagi rahasia di antara kita. Aku ingin semua orang tahu bahwa kau adalah pemenang yang sebenarnya di sini."
"Kita berdua pemenangnya, Brixton. Kita menang melawan ego dan rasa sakit kita sendiri."
Di tengah pesta, Tuan Hendrawan mendekati Brixton. Ia menepuk bahu menantunya itu dengan bangga. "Terima kasih, Brixton. Kau telah membuktikan bahwa aku tidak salah menitipkan putriku padamu, meskipun jalannya sedikit berliku di awal."
"Terima kasih sudah memaafkan saya, Ayah," jawab Brixton dengan hormat.
Malam semakin larut, namun kebahagiaan mereka seolah baru saja dimulai. Brixton membawa Alana sedikit menjauh dari keramaian, menuju ke arah balkon yang menghadap ke laut.
"Ada satu hal lagi," ucap Brixton sambil merogoh saku jasnya.
"Apalagi? Kau sudah memberikan pengakuan paling indah malam ini," tanya Alana penasaran.
Brixton mengeluarkan sebuah kunci kecil yang antik. "Aku sudah membeli tanah luas di samping mansion ini. Aku akan membangun taman botani terbesar yang pernah ada, dan aku akan menamakannya 'The Alana Garden'. Di sana, kau bisa menanam ribuan mawar dan lili sepuasmu. Itu adalah tempat di mana kau bisa selalu merasa bebas."
Alana tidak bisa berkata-kata. Ia memeluk Brixton erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. "Kau melakukan semua ini untukku?"
"Apapun untuk membuatmu tersenyum, Sayang. Salak pedas pun akan kumakan lagi jika itu yang kau minta," goda Brixton, membuat Alana tertawa di tengah tangis harunya.
Di bawah naungan cahaya rembulan dan ribuan bintang, Brixton mencium bibir Alana dengan sangat dalam—sebuah ciuman yang melambangkan penyatuan dua hati yang telah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi sumpah di atas luka. Yang tersisa hanyalah sumpah di atas cinta yang tumbuh dari puing-puing penderitaan menjadi sebuah istana kebahagiaan yang kokoh.
Kehidupan mereka ke depan mungkin tetap akan memiliki tantangan, namun malam ini membuktikan bahwa selama mereka saling menggenggam tangan, tidak ada badai yang terlalu besar untuk dilalui. Keluarga Vance telah menemukan kedamaiannya, dan Alana akhirnya mendapatkan pangerannya yang sesungguhnya—bukan pria yang sempurna, melainkan pria yang mau belajar untuk mencintai dengan sempurna.