NovelToon NovelToon
Ketika Janji Tidak Berakhir

Ketika Janji Tidak Berakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamak3Putri

Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.

Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.

Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.

Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.

Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu yang Terluka

Ratih dan Ardian baru saja kembali dari undangan pernikahan anak salah satu klien penting firma hukum Maheswara & Partner. Rumah sudah lengang ketika mereka tiba. Ardian langsung melangkah masuk ke kamar, tampak lelah setelah seharian bersikap formal di acara itu.

Sementara itu, Ratih tidak segera beristirahat. Ia justru berjalan menuju kamar anak perempuannya. Hatinya terasa tidak tenang sejak mendengar suara Adisti saat di telepon tadi.

Ratih mengetuk pintu kamar perlahan. Tok, tok, tok. “Adisti, kamu sudah tidur, nak?” tanyanya dengan suara lembut.

Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Adisti berdiri di ambang pintu, rambutnya terurai, wajahnya tampak murung.

Ratih segera masuk bersama Adisti. Pintu ditutup kembali, mereka duduk berdampingan di tepi tempat tidur.

Baru beberapa detik Ratih menatap wajah anaknya, ia langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

“Kenapa wajah kamu kelihatan sedih?” tanya Ratih pelan. “Ada apa, nak?”

Adisti terdiam sejenak. Tangannya saling menggenggam, seolah menahan emosi.

“Kak Revan, ma,” jawabnya akhirnya dengan suara lirih.

Jantung Ratih berdegup lebih cepat. “Kenapa Revan?” tanyanya khawatir.

Sambil menarik napas panjang, Adisti mulai bercerita. “Tadi sore aku ke rumah Kak Revan. Aku mau nganterin puding yang mama buat siang tadi.”

Ratih menyimak tanpa menyela.

“Waktu aku sampai, Aruna lagi gak di rumah. Di sana cuma ada Bi Surti,” lanjut Adisti, suaranya mulai bergetar. “Terus, aku gak sengaja dengar percakapan dari lantai atas.”

Ratih menegakkan tubuhnya. “Percakapan apa?”

“Aku mergokin Kak Revan,” ucap Adisti lirih, “sedang bersama seorang perempuan di dalam kamarnya.”

Dahi Ratih langsung berkerut. “Perempuan?” ulangnya tidak percaya. “Perempuan siapa, Nak?”

Adisti menghela napas, lalu menatap mamanya dengan sorot mata yang sarat kesedihan dan kekesalan.

“Viona, ma,” katanya tegas. “Perempuan itu.”

Ratih terdiam. Wajahnya memucat seketika. Nama itu bukan asing baginya, kenangan lama yang seharusnya sudah selesai kembali menghantam pikirannya.

“Viona?” gumam Ratih pelan.

Bagaimana mungkin perempuan itu bisa berada di rumah Revan dan Aruna? Apa yang sebenarnya sedang dilakukan Revan di belakang pernikahannya?

Ratih menggenggam tangan Adisti erat-erat. Untuk pertama kalinya malam itu, kegelisahan yang sejak lama ia pendam berubah menjadi firasat buruk yang sulit ditepis.

Ratih tidak langsung berbicara setelah mendengar pengakuan Adisti. Ia hanya menggenggam tangan putrinya lebih erat, seolah menyalurkan ketenangan yang justru sulit ia rasakan sendiri.

“Tidurlah dulu, nak,” ujar Ratih akhirnya, suaranya tetap lembut. “Biar mama yang urus ini.”

Adisti menatap mamanya ragu. “Tapi ma, kalau papa tahu gimana?”

Ratih mengangguk pelan. “Percaya sama mama.”

Adisti pun menurut. Setelah memastikan putrinya berbaring dan lampu kamar diredupkan, Ratih melangkah keluar. Pintu kamar Adisti ditutup perlahan, nyaris tanpa suara.

Ratih tidak langsung menelepon malam itu juga. Setelah keluar dari kamar Adisti, ia masuk ke kamarnya sendiri. Pintu ditutup perlahan. Ardian sudah tertidur lebih dulu, napasnya teratur.

Ratih duduk di tepi tempat tidur. Tangannya menggenggam ponsel cukup lama sebelum akhirnya layar menyala. Ia menarik napas dalam, seolah menyiapkan dirinya sendiri bukan untuk marah, melainkan untuk berbicara sebagai seorang ibu.

Nada panggilan terdengar. Satu kali, dua kali. Baru pada panggilan ketiga, telepon itu diangkat.

“Ma?” suara Revan terdengar rendah dan hati-hati. “Ada apa malam-malam?”

Ratih memejamkan mata sesaat. “Kamu lagi di rumah?”

“Iya,” jawab Revan singkat. “Aruna belum pulang.”

Ratih membuka mata. Kalimat itu terasa pahit.

“Kita bicara sebentar,” ujar Ratih tenang. “Mama tidak akan lama.”

Revan terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Baik, Ma.”

Ratih berdiri, melangkah ke dekat jendela. Suaranya tetap lembut, tetapi tidak berputar-putar.

“Adikmu sore ini ke rumahmu,” katanya.

Di ujung sana, napas Revan terdengar tertahan. “Adisti?”

“Iya,” jawab Ratih. “Dia mengantarkan puding yang mama buat.”

“Kamu tahu apa yang dia lihat?” lanjut Ratih.

Revan tidak langsung menjawab. Keheningan itu sendiri sudah cukup menjadi jawaban.

“Ma,” Revan akhirnya bersuara, lirih. “Aku bisa jelaskan.”

Ratih tersenyum tipis, meski Revan tidak bisa melihatnya. “Sebelum kamu menjelaskan, jawab satu hal,” katanya pelan. “Apa benar ada perempuan lain di rumahmu sore tadi?”

Telepon itu hening cukup lama.

“Viona datang,” jawab Revan akhirnya. “Tanpa rencana.”

Ratih menutup mata. Dadanya terasa sesak, tetapi suaranya tetap stabil.

“Dan kamu membiarkannya masuk ke rumahmu,” katanya. “Ke rumah tempat istrimu tinggal.”

“Aku tidak bermaksud.”

“Revan,” potong Ratih lembut namun tegas. “Mama tidak sedang menanyakan niatmu. Mama menanyakan pilihanmu.”

Napas Revan terdengar berat. “Aku tidak mencintai Aruna, ma.”

Ratih mengangguk pelan. “Mama tahu.”

Jawaban itu membuat Revan terdiam.

“Mama membesarkanmu bukan untuk menjadi laki-laki yang berlindung di balik alasan,” lanjut Ratih. “Kamu menikah demi warisan, dan Mama menerimanya sebagai kenyataan. Tapi pengkhianatan bukan bagian dari kesepakatan itu.”

“Ma, aku lelah,” suara Revan terdengar rapuh.

“Dan Aruna?” tanya Ratih. “Apakah kamu pikir dia tidak lelah menjalani pernikahan tanpa cinta?”

Revan terdiam. “Perempuan itu,” lanjut Ratih, suaranya sedikit bergetar kini, “datang ke hidupmu dengan itikad baik. Dia tidak menuntut cintamu. Dia hanya menuntut kejujuran dan rasa hormat.”

Ratih menarik napas panjang. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan bagi mama?” tanyanya. “Bukan karena kamu masih terikat pada masa lalu, tapi karena kamu membiarkan masa lalu itu masuk ke rumah tanggamu.”

Telepon itu kembali sunyi. “Mulai malam ini,” ujar Ratih mantap, “mama minta kamu mengambil sikap.”

Revan menelan ludah. “Maksud Mama?”

“Jika kamu masih ingin mempertahankan pernikahanmu,” jawab Ratih, “akhiri hubunganmu dengan perempuan itu. Jangan ada lagi kunjungan diam-diam. Jangan ada lagi kebohongan.”

“Dan kalau aku tidak sanggup?” tanya Revan pelan.

Ratih terdiam sejenak sebelum menjawab, “Maka bersikaplah jujur. Jangan menjadikan Aruna korban dari kebimbanganmu sendiri.”

Ratih menghela napas, suaranya kini sangat tenang.

“Mama kecewa, Revan,” katanya lirih. “Bukan sebagai istri ayahmu. Tapi sebagai ibu.”

Kata-kata itu jatuh perlahan, namun terasa paling berat.

“Pikirkan baik-baik,” lanjut Ratih. “Karena sekali kepercayaan hancur, tidak semua bisa diperbaiki.”

Tanpa menunggu jawaban, Ratih menutup telepon.

Di rumahnya sendiri, Revan berdiri mematung di ruang tengah. Ponsel masih berada di tangannya. Kata-kata ibunya bergema di kepalanya lebih keras daripada bentakan mana pun.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar sendirian. Dan untuk pertama kalinya pula, ia menyadari bahwa kebohongan yang ia rawat pelan-pelan telah menjelma ancaman yang bisa menghancurkan segalanya.

“Apa yang harus aku lakukan? Kalau aku jujur pada diriku sendiri, maka aku akan kehilangan warisanku.” Gumam Revan.

Tanpa sadar Revan membenturkan kepalanya ke dinding, ia merasa bingung sekaligus putus asa. Ada dua pilihan, memilih jujur pada dirinya sendiri tapi kehilangan warisan atau bertahan demi warisan tapi berbohong pada hatinya.

1
Herman Lim
bentar lagi hancur kehidupan Revan dan pasti viona ga akan puas sama Revan skrg dia pasti akan cari yg lebih kaya lagi
kalea rizuky
jangan di buat balik. Thor g rela enak aja abis di buang di pungut dih
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Aidil Kenzie Zie
semoga Aruna setelah ini bisa dapatkan kebahagiaan mungkin dari pak Daniel
Aidil Kenzie Zie
pernikahan karena ego ortu
Abizar Abizar
mending Aruna sama Daniel aja😍
Aidil Kenzie Zie
satu kata untuk Aruna bodoh
Aidil Kenzie Zie
mampir
Herman Lim
kamu Revan yg nikah karna warisan
Imas Yuniahartini
jalan ceritanya bagus tapi endinknya kurang mengena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!