"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Selangkah lagi.
Lagi-lagi Alka menyeringai dengar pertanyaan dari istrinya itu yang menurutnya Nabila itu terlalu polos atau memang ia yang gengsi.
"Saya rasa kamu sudah dewasa dan tahu, apa yang harus di lakukan oleh pengantin baru, di sini kamu paham kan?" Alka justru memberikan penekanan untuk Nabila agar tidak pura-pura bodoh. Bibirnya ia makin dekatkan berada tepat di balik bibir Nabila kalau saja wanita itu menoleh maka bibir ketemu bibir.
"Ma-af Pak, saya benar tidak tahu," jawab Nabila gugup.
"Jadi kamu benar tidak tahu Nabila! oke, kalau begitu saya akan ajarkan kamu, mau sekarang juga? Biar nanti malam kamu yang mengajarkan saya, gimana?" tanya Alka sambil tersenyum jahil dan mengelus leher Nabila seketika Nabila merasa ada sengatan listrik yang menjalar ke tubuhnya.
"Tidak Pak, nanti malam saja," sahut Nabila cepat sebab biar Alka segara mundur.
"Oke siap, sepakat ya nanti malam!" ucap Alka yang berhasil menangkap Nabila ke dalam perangkapnya sendiri.
Alka langsung mundur, dan rasa tidak sabar semakin menjadi membayangkan betapa indahnya ia memadu cinta dengan Nabila secara halal.
"Pasti anak itu gugup sekali, tapi saya menyukainya, lihat saja nanti Nabila kamu akan menjadi milik saya dan tidak akan ada lagi pria yang bisa mendekati kamu." Alka tersenyum penuh kemenangan.
Dengan penantian yang memang sudah di tunggu-tunggu oleh pasangan pengantin baru, yang lebih tepatnya hanya pasangan pria yang menunggunya.
Kini pasangan pengantin itu telah berada di hotel untuk melakukan cek in. Alka langsung menunjuhkan kartu identitas dan juga tanda vocher hadiah berupa bulan madu.
"Oh ini tiket bulan madu itu ya sudah di pesan bulan lalu?" ucap repsionis.
Nabila terkesiap malu, sedang Alka menjawab iya dan cuek sebab ia memang tidak malu justru sebaliknya tapi sayang Alka tidak bisa memamerkan kebahagiannya tersebut.
"Baik, tunggu sebentar ya," kata Repshionis tersenyum.
Baru setelah itu Alka dan Nabila di antar oleh dua orang pelayan hotel untuk melakukan chekin kamar.
Repsionis yang sedari tadi melihatnya heran, sebab mereka mendapatkan paket bulan madu tapi kenapa keliatannya mereka bukan untuk pergi berbulan madu.
Gimana tidak, dari ekpresi Nabila dan juga Alka yang sama-sama dingin bahkan mereka berdua berjalan masing-masing tidak ada tanda-tanda keharmonisan keduanya.
Padahal kamar yang ia pesan sangat mendukung untuk pasangan pengantin baru, di mana kamar mereka terletak di paling ujung yang terdapat banyak pohon kepala dan Cemara juga kolam renang jika dari balkon kamar mereka menghadap ke jalanan bebas.
"Silahkan masuk, Tuan, Nona ini kamarnya," ucap pelayan pada Nabila dan Alka sambil memasukkan barang mereka.
"Oke, terima kasih," ucap Alka mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama Tuan, selagi lagi kami ucapkan selamat berbulan madu," katanya senyum-senyuum.
"Iya," sahut Alka singkat tapi ia masih memberikan senyuman tipisnya, lalu kedua pelayan itu pamit meninggalkan pasangan tersebut.
Di mana Nabila yang sedari tadi hanya mematung di depan pintu.
"E'hem!" Alka berde'ham sebab Nabila seolah tidak ada niatan mau masuk.
"Kamu mau masuk atau tidak, terserah kamu," ucap Alka memberikan kebebasan untuk Nabila.
Sejenak Nabila berpikir dari pada ia harus di kamar berduaan dengan pria yang menyebalkan lebih baik di luar menikmati sunset sore di tepi kolam itu lebih menyenangkan.
"Saya mau jalan-jalan Pak," sahut Nabila menemukan ide.
"Baik, silahkan kamu jalan-jalan sendiri tapi ingat sebelum mangrib kamu wajib kembali karena kita mau diner, sudah masuk paket kasian ummi kalau kita memakainya," ucap Alka cuek, lagi-lagi ia mengkambing hitamkan orang tuanya padahal acara makan malam adalah keinginannya agar lebih rileks sebelum mamacu pada puncak malam pertamanya nanti.
Nabil mengangguk, baginya saat ini hanya ingin sendiri rasanya masuk ke dalam kamar hotel seperti masuk ke ruang horor yang penuh hantu.
Sementara Alka menyeringai rasa tak sabar semakin cuat kuat, tak mau sikap agresifnya ketahuan oleh Nabila, Alka pura-pura bermain ponsel santai di dalam kamar yang nyatanya ia lagi scarching tentang malam pertama, Alka tidak ingin dirinya kalan hebat di banding istrinya ia ingin Nabila mengakui kelakiannya dan tak mau gagal.
"Huf!" Alka menghela napas panjang, kenapa ia sendiri yang justru grogi saat membaca tentang artikel.
Sedikit Alka mempelajarinya mulai dari cara pemanasan dan juga hingga mencapai puncak di mana di sini yang paling beruntung adalah sih perempuan kalau saja laki-lakinya berhasil membuatnya puas.
"Apa gue harus seperti ini ya, eh Nabila sukak nggak ya nanti," monolog Alka masih ragu.
"Ah setidaknya dari artikel ini gue sudah punya ilmu, dan harus membuktikan sama dia kalau gue perkasa," batin Alka merasaa geli sendiri menyebut dirinya perkasa.
Sementara Nabila berada di taman dekat kolam, lagi duduk sendirian sambil menikmati semilir angin sore yang begitu sejuk.
Pikirannya berkelana, beda dengan Alka yang lagi senyum-senyum sedang Nabila tersenyum getir, dalam benak Nabila masih terasa mimpi kalau dirinya sudah menjadi isteri dari pria yang sangat menyebalkan itu.
"Ya Tuhan, apakah sudah tidak ada keajaiban mu," batin Nabila menjerit di tengah sepoi angin sore.
"Arrrgggh!" teriak Nabila kencang demi melepaskan kegelisahan yang sedari tadi terbenam tak dapat ia keluarkan.
"Apakah gue memang tidak punya takdir baik, sehingga harus menikah dengan cowok brengsek itu," pekik Nabila.
Baginya menjajah dengan Alka sama halnya ia sudah menaruh nyawa dengan perlahan hilang, gimana tidak. Alka orang yang begitu galak, tempramer, pemarah tidak punya hati sedang ia tak lagi bisa berkutik untuk pergi darinya.
"On Nabila, kamu sudah tak ada bedanya dengan simalakama."
Selesai lama bersemedi, kini Nabila harus kembali ke kamar hotel.
"Oh Dewa, semoga orang itu tidur, kalau perlu tidur selamanya gue juga tidak masalah," gumam Nabila karena sangat meles harus berkomunikasi dengan orang tersebut.
Ceklek!.
Nabila membuka pintu pelan, berharap penghuninya minggat jauh tapi sayang itu hanya ilusi Nabila saja.
"Sudah selesai jalan-jalannya?" suara tengger Alka membuat Nabila kaget.
Nabila hanya mengangguk.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi ya, habis itu siap-siap." entah kenapa Alka berbeda karena sura Alka terdengar lembut.
"Tuh orang lagi sakit apa ya, syukur dech!" batin Nabila melangkah masuk tujuannya ke kamar mandi.
Sebenarnya males yang mau mandi karena hawanya dingin tapi karena Alka kadung bilang suruh mandi.
"Eh tapi kenap gue nurut ya," kesal Nabila tapi ia sudah terlanjur di kamar mandi.
Mata Nabila terbelalak saat melihat anika sabun yang begitu banyak sekali vareasinya, Nabila tahu kegunannya untuk apa jelas buat melembutkan kulit.
"Apa dia sengaja ya biar gue pakai ini semua." Nabila pusing, jangankan mau luluran mandi biasa saja ia sangat males saat ini.
Tapi tiba-tiba Nabila teringat ucapan sang ibu untuk memberikan yang terbaik di malam pertama untuk sang suami, di mana sebelum hari H Nabila sudah melakukan perawatan di salon baik dari luar dan dalam.
Nabila selama seminggu ini rutin minum jamu yang di kasih oleh Dewi, entah itu untuk apa Nabila tidak tahu tapi selama Nabila minum jamu tubuhnya lebih terasa fres dan enak.
Sementara Alka lagi tersenyum sendiri, rasanya sudah tak sabar ia melewati malam yang indah bersama isteri cantiknya itu, ia ingin membuktikan pada dunia kalau Nabila adalah miliknya dan tidak ada satupun laki-laki yang berhak menyentuhnya.
*Uhuy... Ternyata Nabila sudah minum jamu.*