"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Makan Malam yang Mencekam
Suara teriakan seorang wanita paruh baya itu seketika memecah keheningan di dalam ruang kerja Xavier yang sangat luas dan dingin. Gwenola yang masih berlutut di lantai segera mengangkat wajahnya dengan mata yang sembab dan penuh dengan sisa air mata yang belum mengering. Di ambang pintu, seorang wanita dengan pakaian yang sangat mewah dan perhiasan yang sangat mencolok berdiri dengan napas yang memburu karena amarah yang sangat meluap.
Wanita itu adalah bibi dari Xavier, sosok yang selama ini sangat gila akan harta warisan keluarga dan sangat membenci kehadiran orang asing di kediaman tersebut. Ia menatap Gwenola yang mengenakan seragam pelayan dengan pandangan yang sangat menghina seolah sedang melihat kotoran yang tidak sengaja terinjak. Langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi terdengar sangat tajam saat ia melintasi lantai marmer menuju ke arah meja kerja Xavier.
"Xavier, apa yang dilakukan oleh gadis kecil ini di dalam ruang kerjamu dengan pakaian seperti itu?" tanya wanita itu dengan nada yang sangat tajam dan penuh dengan kecurigaan.
Xavier tetap tenang dan tidak beranjak sedikit pun dari kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit hewan yang sangat mahal harganya. Ia hanya memberikan isyarat dengan matanya agar Gwenola segera berdiri dan merapikan kembali nampan perak yang sempat ia letakkan di lantai. Aura kekuasaan yang terpancar dari tubuh Xavier membuat bibinya terpaksa menahan diri meski wajahnya sudah memerah karena emosi yang sangat membara.
"Dia hanyalah pelayan baru yang sedang aku beri pelajaran mengenai tata krama di rumah ini, Bibi," jawab Xavier dengan suara yang sangat rendah namun sangat mengintimidasi.
Gwenola menundukkan kepala sedalam mungkin, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi dari tatapan mata sang wanita paruh baya yang sangat tajam itu. Ia merasa harga dirinya benar-benar sudah hancur berkeping-keping karena harus berakting sebagai seorang pelayan di depan kerabat suaminya sendiri. Perasaan sesak di dadanya semakin menjadi-jadi saat ia menyadari bahwa penyamaran ini harus terus ia jalani demi keselamatan ayahnya yang sangat ia cintai.
"Aku datang ke sini untuk mengingatkanmu tentang acara makan malam keluarga besar yang akan diadakan di ruang utama sebentar lagi," ucap wanita itu sambil memutar tubuhnya dengan sangat angkuh.
Xavier melirik ke arah jam dinding berlapis emas yang terus berdetak dengan suara yang sangat teratur dan sangat tenang di tengah ketegangan tersebut. Ia kemudian menatap Gwenola dengan sebuah senyuman licik yang membuat bulu kuduk gadis sekolah menengah atas itu seketika berdiri tegak. Sebuah rencana yang sangat gila nampak sedang disusun di dalam pikiran pimpinan perusahaan yang sangat haus akan kendali tersebut.
"Gwenola, kau yang akan melayani kebutuhan pribadiku selama acara makan malam itu berlangsung," perintah Xavier dengan nada yang tidak menerima penolakan sedikit pun.
Gwenola meremas ujung rok pelayannya dengan sangat kuat hingga tangannya terasa sangat sakit dan sangat kaku karena rasa takut yang luar biasa. Ia membayangkan betapa mengerikannya jika ia harus berdiri di belakang Xavier sementara seluruh anggota keluarga besar pria itu menatapnya dengan penuh selidik. Namun, ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan perintah sang pemilik kediaman mewah yang sangat berkuasa dan sangat kejam tersebut.
Ruang makan utama kini telah dipenuhi oleh aroma masakan yang sangat lezat namun terasa sangat mencekam bagi indra penciuman Gwenola yang sedang gelisah. Ia berdiri mematung di sudut ruangan dengan nampan di tangan, memperhatikan satu per satu anggota keluarga Xavier yang mulai menduduki kursi kayu jati yang sangat megah. Setiap kali ada yang menoleh ke arahnya, Gwenola segera memalingkan wajah dan mengatur napasnya yang mulai terasa sangat tidak beraturan.
"Tuangkan anggur merah ini untukku sekarang juga, pelayan kecil," perintah Bibi Xavier dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat merendahkan martabat.
Gwenola melangkah mendekat dengan kaki yang terasa sangat lemas dan sangat berat seolah sedang memikul beban ribuan ton emas di atas pundaknya. Saat ia mulai menuangkan cairan merah itu ke dalam gelas kristal, tangannya yang gemetar membuat beberapa tetes anggur tumpah mengenai taplak meja yang berwarna putih bersih. Seketika itu juga, suasana di meja makan menjadi sangat sunyi dan sangat dingin seolah ada badai salju yang baru saja melanda ruangan tersebut.
"Lihat apa yang kau lakukan, dasar gadis tidak berguna dan sangat ceroboh!" bentak wanita itu sambil menggebrak meja dengan sangat keras.
Xavier hanya diam sambil terus memandangi piringnya, namun matanya yang sehitam jelaga terus mengawasi setiap gerak-gerik Gwenola dengan sangat intens dan sangat dalam. Ia seolah sedang menikmati penderitaan yang dialami oleh gadis yang ia beli dengan harga sepuluh miliar rupiah tersebut di hadapan banyak orang. Gwenola merasa ingin sekali lari dan menghilang dari sana, namun ia tahu bahwa pengawal Xavier selalu berjaga di setiap sudut pintu keluar.
"Bersihkan noda itu dengan tanganmu sendiri sekarang juga sebelum aku kehilangan kesabaran!" perintah Bibi Xavier dengan wajah yang sangat beringas.
Gwenola mulai membungkuk dan menggosok noda merah itu menggunakan serbet kecil dengan air mata yang mulai menetes secara perlahan-lahan membasahi taplak meja tersebut. Di tengah penghinaan yang sangat menyakitkan itu, ia merasakan sebuah tangan yang sangat besar dan sangat hangat menyentuh bahunya secara tiba-tiba dari arah samping. Ia mendongak dan melihat Xavier sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan namun nampak sangat penuh dengan api kemarahan yang tertahan.
"Cukup, Bibi, dia adalah tanggung jawab pribadiku dan tidak ada yang boleh menyentuhnya tanpa izinku," ucap Xavier dengan suara yang menggelegar di seluruh ruang makan.
Xavier menarik lengan Gwenola agar gadis itu segera berdiri dan bersembunyi di balik punggungnya yang sangat lebar dan sangat kokoh bagi perlindungan. Seluruh anggota keluarga besar itu terbelalak tidak percaya melihat pembelaan yang diberikan oleh pria yang dikenal sangat dingin dan sangat tidak memiliki perasaan tersebut. Di tengah keheningan yang sangat mencekam itu, tiba-tiba seorang pria muda yang nampak sangat tampan masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah rahasia besar.