Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 Kecelakaan yang terulang lagi
Levi merasa heran dengan mobil Kael yang terus melaju kencang di jalan yang menurun
Kenapa dia tetap ngebut. Lagi pula bukannya ada jalan laennya yang lebih aman? batinnya kesal sambil terus mengikuti mobil Kael.
Memang jalan laen itu agak sedikit memutar. Tapi menurut Levi ngga akan membuat Adelia menunggunya lebih lama.
Mata Levi ngga sengaja menatap kaca spion tengah di mobilnya. Dia heran kenapa mobil pengawalnya tidak mengikutinya.
Ada debar aneh di dalam dadanya. Membuatnya merasa tidak nyaman. Apalagi laju mobil Kael tidak juga melambat.
Levi terkejut menyaksikan mobil Kael keluar jalur. Dia reflek meminggirkan mobilnya. Firasatnya buruk, dia jadi teringat kejadian enam bulan yang lalu. Beberapa mobil juga melakukan hal yang sama dengannya.
Levi dengan cepat membuka pintu mobilnya, dia akan mengejar mobil Kael yang kini malah sudah berputar putar di tengah jalan.
Levi menutup mulutnya ketika melihat mobil Kael menabrak mobil mobil di dekatnya hingga terguling dan baru berhenti ketika membentur pembatas jalan yang ada di sana.
Levi merasa dejavu, kejadian ini cukup mirip seperti kecelakaan Kael waktu di Dubai dulu.
Levi berlari mendekati mobil Kael yang sudah ringsek dimana mana. Dia bersyukur karena beberapa orang juga ikut keluar dari dalam mobil dan mendekati mobil Kael.
Levi segera menelpon ambulance dengan panik yang luar biasa.
Beberapa orang itu membantu Levi membuka pintu mobil untuk mengeluarkan Kael yang sudah pingsan di dalam sana. Mereka diburu waktu, berkejaran dengan asap dan api yang mulai terlihat. Orang orang itu juga mengeluarkan apar yang mereka miliki untuk memadamkan kobaran api agar tidak menyebar.
Mobil mobil yang jadi korban pun dijauhkan agar kerusakan tidak semakin parah.
Ambulance yang dihubungi Levi juga datang dalam waktu cepat, sementara beberapa po-lisi juga sudah datang.
Di saat suasana kacau balau balau begini pengawal pengawalnya malah tidak tampak.
Mereka kemana? Batinnya gusar dan marah. Di tangannya sekarang ada buket bunga mawar yang dia ambil ketika beberapa orang membantunya mengangkat Kael. Beberapa kelopak mawar putih itu sudah bernoda darah Kael.
Mungkin karena buket mawar ini Kael tidak mau ikut dengan mobilnya. Buket mawar ini yang jadi pembeda kecelakaan Kael di Dubai dan di sini. Karena tidak ada buket itu di dalam mobil Kael waktu di Dubai.
Sekarang Levi sudah berada di dalam ambulance bersama Kael. Dia tatap wajah yang sudah dipasangkan masker oksigen dengan kalut.
"Bertahanlah, Kael."
Setelah menghembuskan nafas pqnjang, Levi segera menelpon Abiyan, karena dia tidak punya nomor telpon Adelia. Dia juga tau kalo Baim dan Jetro sekarang di Surabaya, untuk menyelidiki Kael.
"Ada apa?" tanya Abiyan yang terpaksa keluar dari ruang meeting di dering terakhir. Untungnya bukan dia yang jadi pembicara utama di meeting ini, tetapi Fadel.
"Kael kecelakaan."
DEG
"APA?" Untung saja Abiyan sudah berada di luar ruangan meeting jadi suara teriakannya yang cukup keras tidak akan mengganggu. Hanya ada beberapa staf di sana yang memperhatikannya karena terkejut mendengar suara keras Abiyan.
"Tolong kabari Adelia. Dia... dia sedang menunggu Kael sekarang.....," ucap Levi dengan nada yang terpatah.
DEG
Abiyan merasakan cengkeraman kuat di jantungnya.
"Parah?" tanyanya dengan lidah kelu.
"Sepertinya. Hampir sama waktu di Dubai dulu....."
Abiyan terdiam.
"Tolong, ya. Aku harus ngabari papa."
"Oke. Bawa ke rumah sakit keluargaku aja."
"Ya. Thank's."
"Aku akan menelpon Luna. Dia yang akan mengurus semuanya."
"Terima kasih."
"Sama sama."
*
*
*
Adelia berjalan mondar mandir di lobby perusahaannya. Sudah cukup lama dia menunggu. Bahkan dia tadi sempat keluar dari lobby hanya untuk melihat kedatangan laki laki itu.
"Kemana, sih, dia," gumam Adelia kesal. Telponnya pun ngga diangkat. Dari kesal Adelia malah sekarang jadi cemas. Karena belum setengah jam yang lalu Kael menelponnya. Tapi sekarang tidak bisa dihubungi. Pesannya pun tidak dibaca Kael.
Saat ponselnya bergetar, Adelia langsung saja berucap kesal tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Kael..... Kamu udah dimana?"
Balasan yang dia dengar malah suara tawa kedua sepupu ngga tau dirinya.
Astaga, harusnya dia melihat dulu nama penelponnya.
"Lagi nungguin Mas Kael?" Terdengar suara Baim mengejek di sela sela tawanya.
"Ada apa? Kalo ngga penting, aku tutup, nih," ancam Adelia kesal karena malu.
"Ciee..... Maraaah.....," canda Baim menggoda sepupunya.
"Sorry, Del. Ada info penting." Jetro menengahi walaupun tadi dia sempat tergelak juga.
"Info tentang Kael?" tebaknya dengan jantung yang berdebar cepat. Dadanya sampai sakit karenanya.
"Ya, kita sudah tau siapa Kael." Kali ini Baim yang menjawab.
DEG DEG
"Jadi siapa Kael?" tanya Adelia sambil menahan nafas.
"Namanya Mikael Wijaya. Anaknya Om Wijaya Agra Nugraha. Kamu pernah dengar, kan, nama itu?" Suara Jetro terdengar.
Mikael Wijaya? Adelia tidak pernah mendengar nama itu. Tapi kalo grup Nugraha, dia sangat tau.
"Dia juga masih single. Aman tuh buat dinikahi," cuit Baim masih dengan nada mengejeknya.
Untuk menutupi rasa malunya, bibir Adelia mengeluarkan decakan.
"Eh, aku matin dulu, ya, telponnya. Biyan telpon, nih," tukas Adelia lega akhirnya punya alasan juga untuk mengakhiri komunikasinya dengan Baim dan Jetro.
"Oh..... Oke."
Telpon Baim dan Jetro sudah berakhir.
"Del, kenapa baru diangkat, sih. Kamu dari mana aja?" Suara Abiyan terdengar panik.
"Sorry, tadi Jetro telpon."
"Oooh...." Suara Abiyan terdengar mengambang.
"Ada ap---?"
"Kael..... dia kecelakaan," potong Abiyan.
Hening.
Adelia kehilangan kata sambil menatap tak percaya pada layar ponselnya. Bibirnya mendadak sulit dia buka. Rahangnya seakan menguncinya dengan sangat erat. Jantungnya masih berdebar ngga menentu. Berita ini melemahkan sendi sendinya. Terlalu mendadak dan sangat mengejutkan.
"Del.... Masih idup, kan?" Abiyan agak panik karena tidak mendengar suara Adelia. Dia takut Adelia pingsan.
"Di dimana dia sekarang."
"Syukurlah ternyata masih nafas. Sudah dibawa Levi ke rumah sakit kita. Aku juga udah ngabari Luna dan Tante Kamila."
"Ooh.... " Adelia masih merasa kalo kakinya tidak menjejak lantai. Kebingungan masih melandanya.
"Kita berangkat bareng. Kamu di mana? Di ruanganmu, kok, ngga ada?"
"Di lobby....."
"Oke. Aku ke.sana. Tunggu aku, jangan pergi duluan."
Adelia masih memegang ponselnya dengan tangan yang tiba tiba bergetar.
Ini bukan mimpi, kan?
dijamin rencana nafa nggak bakal terlaksana,, apalagi kael di rawat di rs keluarga adelia
aku malahan nggak sabar menanti aksi mak tirinya kael,, biar cpt masuk penjara