Mahkota Salju di Seoul (Part 3)
Hana berdiri di depan gerbang Museum Nasional Korea, menatap deretan gedung pencakar langit Seoul yang berkilau. Di pergelangan tangannya, kain biru dari jubah Yi-Sun masih terikat, sebuah anomali sej
0
1
Mahkota Salju di Seoul (Part 2)
Salju di bukit belakang kediaman pengasingan itu mulai mengeras, namun bara api di dalam paviliun kayu itu justru semakin panas. Hana duduk bersila di depan sebuah meja rendah, sementara di hadapannya
0
1
Mahkota Salju di Seoul
Hana terbangun dengan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Rasanya kayak baru aja dilempar ke dalam freezer raksasa. Pandangannya burem, tapi yang jelas, pemandangan laboratorium restorasi di Se
0
1
Denting Palu di Kandang Bubrah (Part 3)
Dua minggu setelah hilangnya Maya, seorang jurnalis investigasi bernama Reno datang ke Bukit Duri. Reno tidak percaya pada hantu; ia percaya pada konspirasi, perdagangan manusia, atau skema pencucian
0
1
Denting Palu di Kandang Bubrah (Part 2)
Suara denting palu itu kini tidak lagi berasal dari luar. Ia beresonansi di dalam rongga dada Andra, berdetak seirama dengan jantungnya yang kian melemah. Setiap kali logam berkarat itu menghantam pak
0
1
Denting Palu di Kandang Bubrah
Andra tidak pernah percaya pada takhayul. Baginya, jin dan setan hanyalah alasan bagi orang-orang malas untuk tidak bekerja. Sebagai seorang desainer grafis freelance yang hidup di apartemen minimalis
0
1
Benci Bilang Cinta (Part 3)
Lantai marmer rumah itu tidak lagi terasa dingin, namun atmosfer di dalamnya mendadak mencekam saat bel pintu berbunyi di suatu sore yang tenang. Nayila, yang baru saja melepas jas putihnya setelah gi
0
1
Benci Bilang Cinta (Part 2)
Kehidupan pernikahan Arlan dan Nayila tidak lagi berjalan di atas duri yang tajam, melainkan di atas hamparan kasih sayang yang kian hari kian mendalam. Namun, cinta yang dewasa bukan hanya tentang ke
0
1
Benci Bilang Cinta
Lantai marmer rumah mewah di pinggiran Jakarta itu selalu terasa dingin, seolah-olah seluruh pori-pori bangunan itu menyimpan sisa-sisa musim salju yang tak pernah ada. Bagi Nayila, setiap langkah yan
0
1
Pembunuh Bergerobak
Di bawah terik matahari ibukota yang memanggang aspal, aroma saus pedas dan sirup warna-warni menguar dari gerobak Mang Udin. Bagi anak-anak SD Mentari, gerobak itu adalah surga kecil. Di sana ada "Es
0
1
Warisan Darah Di Lantai 20
Bramantyo (45) adalah pria yang mengukur segalanya dengan angka. Baginya, cinta hanyalah variabel yang tidak stabil, dan kesetiaan adalah komoditas yang mahal. Setelah puluhan tahun membangun Bram Co
0
1
Hantu Lantai 13
Sihanoukville adalah kota yang dibangun di atas air mata yang mengering menjadi beton. Di bawah lampu-lampu neon kasino yang berkedip serakah, ribuan mimpi mati setiap malam, dikubur dalam gedung-gedu
0
1
The Cleaner
Aku tidak pernah bisa tahan melihat noda. Satu tetes saus di atas meja marmer, atau bekas sidik jari di gagang pintu perak, bagiku adalah teriakan yang memekakkan telinga. Mungkin itu sebabnya Jeffrey
0
1
Abadi dalam Nadimu
Mencintai Alester itu seperti memeluk patung marmer di tengah badai salju. Indah, agung, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang sumsum. Namaku Elara. Usiaku dua puluh empat tahun, dan aku jatuh ci
2
5
Sujud Di Tepi Jurang Echo Point
Angin dari arah Blue Mountains bertiup kencang, membawa aroma eukaliptus yang tajam dan dingin yang menusuk tulang. Di tepi tebing Echo Point, Sydney, Liam berdiri mematung. Di bawahnya, lembah mengan
0
1
Kloning Jiwa di Negeri Ginseng
Lampu neon di ruang latihan agensi "The Origin" tidak pernah benar-benar padam, sama seperti ambisiku yang dulu menyala terang namun kini perlahan menjadi abu. Namaku Saras, setidaknya itu nama yang d
0
1
Sang Pesakitan
Lantai marmer putih di lobi kementerian ini masih sama dinginnya seperti sepuluh tahun lalu. Bedanya, dulu sepatuku adalah pantofel Italia seharga belasan juta yang langkahnya memicu sujud sembah para
0
1
Kabut Kelabu Di Balik Jeruji Besi
Malam itu, dinginnya lantai sel tahanan lebih menusuk daripada AC mewah di penthouse mereka dulu. Bau apak dan anyir bercampur dengan bisikan-bisikan keputusasaan dari bilik sebelah, merobek sisa-sisa
0
1
Lentera Retak Di Ambang Badai
Gerimis pagi itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk pori-pori jaket ojek online-ku yang sudah mulai menipis warnanya. Aku, Aris, seorang pria tiga puluh tahun yang setiap pagi harus membelah
0
1
Gaji Guru Honorer dan Mimpi Diatas Awan
Gerimis pagi yang tipis menusuk kulit, tapi sudah menjadi kawan akrab setiap kali jarum jam menunjuk angka lima. Udara masih sejuk, bahkan cenderung menggigit, saat aku—Bima, guru honorer dengan statu
0
1