Gerimis pagi itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk pori-pori jaket ojek online-ku yang sudah mulai menipis warnanya. Aku, Aris, seorang pria tiga puluh tahun yang setiap pagi harus membelah kepribadiannya menjadi dua: seorang guru sejarah yang berwibawa di depan kelas, dan seorang petarung aspal yang mengejar recehan di sela waktu mengajar. Namun pagi ini, beban di pundakku terasa berkali-kali lipat lebih berat. Bukan karena tas ransel berisi buku paket, melainkan karena bayangan wajah Hanum, istriku, yang tadi subuh meringis memegangi perut besarnya yang sudah memasuki bulan kesembilan.
Aku menarik tuas gas motor bebekku dengan perasaan tidak menentu. Motor ini, satu-satunya aset yang tersisa, sudah batuk-batuk sejak minggu lalu. Suaranya kasar, seolah memprotes pemiliknya yang tak pernah sanggup memberi oli berkualitas. "Sabar, Nak," bisikku pada janin di perut Hanum sebelum berangkat tadi. "Ayah cari uang buat persalinanmu hari ini." Kata-kata itu terdengar gagah di mulut, tapi keropos di hati. Fakta pahitnya: tabunganku hanya tersisa dua ratus ribu rupiah, dan kami tidak punya BPJS karena kendala administrasi domisili yang tak kunjung usai.
Setibanya di gerbang sekolah, aku memarkirkan motor di pojok paling belakang, tersembunyi dari pandangan wali murid yang mentereng dengan mobil-mobil keluaran terbaru. Aku melepas jaket hijau kebanggaanku, menggantinya dengan kemeja batik yang kerahnya sudah mulai berserabut. Aku berkaca di spion motor yang retak. Wajahku terlihat sangat lelah. Kantung mataku menghitam, hasil dari begadang narik ojek hingga pukul dua pagi dan lanjut menyusun perangkat pembelajaran hingga subuh.
Di ruang guru, suasana tampak biasa saja bagi mereka yang sudah memiliki SK di tangan. Pak Bambang, guru senior yang sudah PNS, sibuk bercerita tentang rencana liburan semesternya ke Bali. Sementara aku, hanya bisa menunduk, berpura-pura sibuk memeriksa tumpukan tugas siswa. Hatiku mencelos saat melihat notifikasi di grup WhatsApp keluarga. Ibu mertua mengabari bahwa usaha dagang gorengannya di pasar sedang hancur. Harga minyak goreng yang melambung dan sepinya pembeli membuat modalnya habis dimakan kebutuhan sehari-hari.
"Aris, kamu sudah cek portal SSCASN pagi ini?" tanya Bu Ida, sesama guru honorer yang nasibnya sama-sama digantung sepertiku.
Aku menggeleng pelan. "Belum, Bu. Takut kecewa lagi."
"Ceklah. Katanya ada pembaruan status verifikasi," desaknya.
Dengan tangan gemetar, aku membuka portal itu. Loading yang berputar-putar di layar ponselku seolah sedang menertawakan harapanku. Dan benar saja, statusnya masih tetap sama: DALAM PROSES VERIFIKASI PUSAT. Kata-kata "Pusat" itu terasa seperti entitas gaib yang jauh, dingin, dan tak tersentuh. Mereka yang di sana, yang duduk di ruangan ber-AC dengan gaji bulanan yang pasti, tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya digantung selama lima tahun tanpa kepastian. Mereka tidak tahu bahwa setiap detik keterlambatan mereka adalah taruhan nyawa bagi keluarga kami.
Masuk ke kelas, aku mencoba melempar senyum terbaikku. Aku berdiri di depan tiga puluh murid kelas sembilan. Pelajaran hari ini adalah tentang masa pendudukan Jepang. Aku bercerita tentang Romusha, tentang kerja paksa dan penderitaan rakyat kecil demi ambisi penguasa. Tiba-tiba, tenggorokanku tercekat. Aku merasa seperti sedang menceritakan diriku sendiri. Bukankah aku juga sedang melakukan "kerja paksa" modern? Mengabdi penuh waktu, memikul tanggung jawab moral yang besar untuk mencerdaskan bangsa, namun dibayar dengan honor paruh waktu yang bahkan tidak cukup untuk membeli susu hamil yang layak bagi istriku.
"Pak Aris, kenapa berhenti?" tanya seorang murid.
Aku tersentak. "Ah, tidak apa-apa. Mari kita lanjutkan," jawabku serak. Pandanganku sempat kabur sejenak. Kelelahan fisik ini mulai bermanifestasi menjadi rasa pening yang hebat. Aku belum sarapan demi menghemat uang untuk bensin narik nanti sore.
Siang hari, saat jam istirahat, ponselku bergetar hebat. Panggilan dari Hanum. Jantungku serasa berhenti berdetak.
"Mas... perutku sakit sekali. Sudah ada flek," suara Hanum gemetar di seberang sana. Ia menangis.
Duniaku serasa runtuh. Aku melihat jam dinding sekolah. Masih ada dua jam pelajaran lagi. Aku tidak bisa meninggalkan kelas begitu saja, tapi istriku sedang bertaruh nyawa di rumah kontrakan yang panas itu. Aku berlari menuju ruang Kepala Sekolah, memohon izin dengan suara yang nyaris hilang. Beruntung, beliau mengizinkan meski dengan tatapan sangsi.
Aku memacu motor bebekku seperti orang gila. Gerimis berubah menjadi hujan deras. Air hujan yang merembes ke balik baju batikkku terasa sangat dingin, sedingin kenyataan bahwa aku tidak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit besar. Aku hanya bisa membawanya ke bidan desa di ujung gang.
"Mas, bagaimana biayanya?" bisik Hanum saat aku membantunya naik ke motor di bawah guyuran hujan. Ia membungkus perutnya dengan kain jarik tua.
"Jangan pikirkan itu dulu, Dek. Mas pasti cari jalan. Tuhan tidak tidur," kataku, meski sebenarnya aku sedang menggugat Tuhan dalam hati. Di mana keadilan bagi mereka yang sudah mengabdi dengan jujur? Kenapa hidup terasa begitu mencekik bagi kami yang hanya ingin bertahan hidup secara layak?
Sesampainya di tempat Bidan Siti, Hanum langsung dibawa ke ruang persalinan. Bidan Siti menatapku dengan tatapan yang sudah sangat kukenal—tatapan penuh maklum sekaligus menagih kepastian.
"Pak Aris, ini kelihatannya harus dirujuk ke rumah sakit. Posisi bayi agak sungsang dan Hanum sangat lemah karena kurang asupan gizi," kata Bidan Siti pelan. "Tapi bapak tahu kan, kalau dirujuk ke rumah sakit tanpa BPJS, biayanya bisa jutaan."
Aku menyandarkan kepalaku ke dinding tembok yang berlumut. Kakiku lemas. Lelah fisik yang menumpuk berbulan-bulan seolah meledak saat itu juga. Aku ingin berteriak, ingin menangis, tapi air mataku sudah mengering. Aku melihat ke arah luar, ke jalanan yang basah. Aku harus narik ojek. Aku harus mendapatkan uang, entah bagaimana caranya.
Aku kembali ke aspal di bawah guyuran hujan badai. Setiap ada pesanan masuk, aku tancap gas tanpa peduli keselamatan diri. Pukul delapan malam, aku mendapatkan pesanan jarak jauh ke pinggiran kota. Bayarannya lumayan. Namun, di tengah jalan, motor bututku menyerah. Mesinnya mati total terkena banjir. Aku mencoba menghidupkannya berkali-kali hingga kakiku kram, tapi nihil.
Aku terduduk di trotoar, membiarkan tubuhku basah kuyup. Di tangan kanan ada helm ojek, di tas ransel ada buku sejarah. Aku tertawa getir di bawah hujan. Betapa tragisnya hidup ini. Di sekolah aku dipanggil "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa", di jalanan aku dipanggil "Mas Ojek", tapi di depan pintu persalinan istriku, aku hanyalah seorang pecundang yang tidak punya daya.
Tiba-tiba, ponselku bergetar lagi. Pesan WhatsApp dari grup sekolah.
“Selamat kepada rekan-rekan yang namanya tercantum di bawah ini. Status di portal sudah berubah menjadi LULUS PASCA SANGGA dan akan segera menerima SK.”
Aku membuka daftar itu dengan mata yang perih karena air hujan. Aku mencari namaku. Huruf A... B... Aris... namaku ada di sana. Aku lulus. Aku akan segera diangkat menjadi P3K. Aku akan punya gaji tetap, aku akan punya BPJS. Harapan itu muncul seperti kilat di tengah badai.
Tapi kemudian, aku melihat Hanum yang masih berjuang di klinik, dan uang di kantongku yang tidak cukup bahkan untuk membayar biaya ambulans saat ini. Kabar baik itu datang di waktu yang salah, atau mungkin ini adalah cara semesta mengujiku hingga titik penghabisan. Status "LULUS" itu tidak bisa langsung dicairkan menjadi uang malam ini. SK-nya baru keluar paling cepat dua bulan lagi.
Aku bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku mendorong motorku yang mogok sejauh dua kilometer menuju klinik. Keringat dan air hujan bercampur. Otot-ototku serasa mau copot, paru-paruku terbakar.
Sesampainya di klinik, aku melihat ayah mertuaku sudah ada di sana. Wajahnya yang tua dan keriput tampak lesu. Ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil padaku. "Ini, Aris. Bapak tadi jual cincin kawin Ibu. Hanya ini yang bisa kami bantu. Segera bawa Hanum ke rumah sakit."
Aku memeluk bapak mertuaku dengan erat. Tangisku pecah di pundaknya yang ringkih. Inilah puncak dari segala kelelahan dan kehancuranku. Di satu sisi, negara akhirnya "melihatku" lewat portal SSCASN, namun di sisi lain, keluargaku harus mengorbankan harta terakhirnya demi selembar nyawa.
Malam itu, Hanum berhasil dibawa ke rumah sakit. Prosesnya berat, namun Si Kecil akhirnya lahir ke dunia. Seorang bayi laki-laki yang sehat. Saat aku menggendongnya pertama kali, aku membisikkan sesuatu di telinganya.
"Nak, ayahmu ini adalah seorang guru. Ayahmu ini adalah seorang petarung. Jangan pernah takut pada dunia yang keras, karena ayah sudah melewati badai paling gelap untuk menyambutmu."
Keesokan paginya, aku kembali ke sekolah dengan baju yang masih lembap dan mata yang sangat merah. Aku berdiri di depan kelas, memegang kapur dengan tangan yang masih gemetar karena kelelahan luar biasa. Aku tetap mengajar. Aku tetap bercerita tentang sejarah bangsa ini yang penuh dengan perjuangan berdarah-darah.
Nasibku mungkin masih digantung secara administratif hingga SK itu benar-benar ada di tanganku, tapi jiwaku sudah tidak lagi menggantung. Aku sadar bahwa pengabdianku bukan untuk birokrasi yang lamban itu, melainkan untuk anak-anak ini, dan untuk bayi kecilku di rumah. Biarlah pemerintah pelupa pada jasa kami, tapi sejarah akan mencatat bahwa ada seorang guru honorer yang tetap berdiri tegak mengajar, meski di bawah kemeja rapinya, hatinya hancur dan fisiknya hancur lebur dihantam badai ekonomi.
Aku adalah Aris. Guru sejarah yang nasibnya digantung, namun cintanya pada pendidikan dan keluarga tak pernah bisa diputus oleh apa pun. Hari itu, di bawah cahaya lampu kelas yang temaram, aku tersenyum. Bukan karena notifikasi portal, tapi karena aku tahu, aku telah lulus dari ujian hidup yang paling berat.