Di bawah terik matahari ibukota yang memanggang aspal, aroma saus pedas dan sirup warna-warni menguar dari gerobak Mang Udin. Bagi anak-anak SD Mentari, gerobak itu adalah surga kecil. Di sana ada "Es Pelangi" yang warnanya lebih cerah dari krayon, dan "Cilung Krispi" yang gurihnya menempel di lidah sampai jam makan malam.
Mang Udin, pria berusia lima puluh tahun dengan topi kusam, selalu tersenyum ramah. Tangannya lincah menuangkan botol sirup tanpa label dan menaburkan bubuk putih ajaib ke atas gorengannya.
"Ini esnya, Cu. Biar semangat belajarnya," ucapnya lembut.
Namun, di balik senyum itu, jantung Udin selalu berdegup kencang tiap kali melihat anak-anak itu menyedot esnya dengan lahap. Udin tahu rahasianya. Warna merah menyala itu bukan dari buah, melainkan pewarna tekstil yang ia beli kiloan di pasar gelap. Rasa manis yang mencekat leher itu berasal dari siklamat dan sakarin dosis tinggi—pemanis buatan yang dilarang namun murah meriah. Dan saus merah kental itu? Itu adalah campuran pepaya busuk, cabai layu, dan boraks agar tidak basi meski dijemur seharian.
Semua itu ia lakukan demi satu kata: Cuan.
Tiap bulan, Udin pulang ke kampungnya di Jawa Tengah. Di sana, ia adalah "orang sukses". Ia membangun rumah dua lantai yang paling megah di desanya, dengan pilar-pilar beton yang kokoh dan lantai keramik yang berkilau. Istrinya memakai perhiasan emas di pergelangan tangan, dan anaknya kuliah di kota.
"Wah, Mang Udin hebat ya. Jualan di Jakarta bisa jadi juragan rumah," puji tetangga-tetangganya.
Udin hanya tersenyum getir. Ia tak pernah berani bercerita bahwa pilar rumahnya dibangun dari kerusakan ginjal anak-anak kecil, dan keramik rumahnya dibayar dengan rusaknya usus manusia. Tiap kali ia menginjakkan kaki di rumah megahnya, ia merasa sedang berjalan di atas tumpukan bara api.
Hidupnya tak pernah tenang.
Di Jakarta, Udin tinggal di kontrakan sempit yang pengap. Tiap kali ia memejamkan mata, ia dihantui bayangan anak-anak SD yang pucat, yang terbaring di rumah sakit karena gagal ginjal atau kanker hati puluhan tahun mendatang akibat jajanan darinya. Tidurnya selalu diganggu mimpi buruk; ribuan botol sirup beracun yang pecah dan menenggelamkannya ke dalam cairan merah pekat seperti darah.
"Udin, kenapa kamu nggak pulang saja? Kita kan sudah punya sawah, punya rumah," tanya istrinya lewat telepon suatu malam.
"Sebentar lagi, Bu. Tabungannya sedikit lagi," jawab Udin berbohong. Keserakahan telah mengikatnya, namun ketakutan telah merusak jiwanya.
Satu sore, saat ia sedang membungkus jajanan, seorang anak laki-laki kelas dua bernama Gilang mendatanginya. Gilang adalah pelanggan setianya. Wajah anak itu tampak pucat, matanya sayu.
"Mang, beli esnya satu... tapi jangan terlalu manis ya. Perut Gilang sakit sejak kemarin," ucap anak itu lirih.
Tangan Udin gemetar saat memegang botol sirup merah itu. Ia menatap botol itu seolah melihat botol racun yang siap ia tuangkan ke dalam gelas kehidupan anak di depannya. Gilang tersenyum tipis, tapi bibirnya kering dan pecah-pecah.
Tiba-tiba, suara sirine ambulans terdengar dari kejauhan. Pikiran Udin melayang. Ia teringat berita di televisi tentang lonjakan kasus cuci darah pada anak-anak. Keringat dingin mengucur di dahinya. Ia melihat tangannya sendiri, yang kini tampak hitam dan kotor, meski ia sudah mencucinya berkali-kali.
"Mang? Esnya jadi nggak?" puji Gilang.
Udin tersentak. Ia melihat ke sekeliling. Anak-anak lain sedang mengantre, memegang uang recehan dengan mata penuh harap. Ia melihat gerobaknya—sebuah kotak kayu yang penuh dengan bahan kimia mematikan yang disulap menjadi makanan "lezat".
Tiba-tiba, rasa sesak menghantam dadanya. Udin merasa seolah-olah tuhan sedang memperhatikannya langsung dari balik awan. Rasa berdosa itu memuncak, meledak menjadi penyesalan yang sangat hebat.
"Nggak, Cu... Mang Udin nggak jualan hari ini," ucap Udin dengan suara serak.
"Tapi gerobaknya buka, Mang?"
"Esnya... esnya sudah basi. Jangan dibeli," kata Udin sambil dengan kasar menyingkirkan botol-botol itu.
Udin membereskan gerobaknya dengan tergesa-gesa. Ia mengabaikan protes anak-anak. Ia mendorong gerobaknya menjauh dari sekolah, bukan ke arah kontrakan, melainkan ke arah lahan kosong yang gelap. Di sana, ia menumpahkan semua cairan warna-warni itu ke tanah. Ia membuang semua bubuk putih dan saus berboraks itu ke tumpukan sampah.
Ia duduk bersimpuh di samping gerobaknya, menangis sejadi-jadinya di bawah bayang-bayang gedung apartemen Jakarta.
Rumah megahnya di kampung kini terasa seperti penjara. Harta yang ia kumpulkan selama sepuluh tahun itu tak ada gunanya jika ia harus membayar setiap sennya dengan nyawa anak-anak tak berdosa. Malam itu, Udin memutuskan. Ia akan pulang ke kampung, merobohkan pilar-pilar rumahnya yang berlumur dosa, dan memulai hidup sebagai buruh tani biasa.
Ia lebih memilih hidup miskin namun bisa memejamkan mata dengan tenang, daripada hidup kaya di atas kursi yang dibangun dari zat-zat mematikan. Dosa itu memang mengejarnya, tapi mulai malam ini, ia berhenti berlari dan memilih untuk bersujud memohon ampun.
---
Malam itu, gerimis membungkus desa dengan hawa dingin yang menusuk. Udin duduk di ruang tamu rumah megahnya yang berlantai marmer Italia. Di dinding, foto keluarga besar mereka dalam bingkai emas tampak berkilau, namun mata Udin hanya menatap kosong ke arah segelas teh hangat di atas meja.
Siti, istrinya, mendekat dengan senyum bangga sambil membetulkan letak gelang emasnya yang gemerincing.
"Pak, baru pulang kok sudah melamun? Itu lihat, keramik untuk teras belakang sudah datang. Yang paling mahal, Pak. Biar tetangga makin silau," ujar Siti riang.
Udin tidak menyahut. Ia perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. "Robohkan rumah ini, Ti," ucapnya lirish, nyaris tak terdengar.
Siti tertegun. "Apa? Pak, kamu bicara apa? Capek ya? Tidur dulu sana."
"Robohkan rumah ini!" suara Udin naik satu oktav, serak dan gemetar. "Keramik ini, marmer ini, pilar-pilar ini... Semuanya berbau obat mayat, Ti! Semuanya manis tapi membusukkan!"
Siti meletakkan nampannya dengan keras. "Kamu gila, ya? Ini hasil keringatmu sepuluh tahun di Jakarta! Kita sudah terpandang, Pak! Anak kita kuliah karena uang ini!"
Udin berdiri, kakinya goyah. Ia menarik tangan istrinya dan menunjuk ke arah jalanan desa yang gelap. "Tiap hari aku melihat anak-anak kecil, Ti. Seusia cucu kita. Mereka lari ke gerobakku dengan uang seribu perak di tangan. Mereka haus, mereka lapar. Dan apa yang kuberikan? Racun! Aku menuangkan pewarna kain ke gelas mereka! Aku mencampur boraks ke saus mereka supaya aku nggak rugi kalau dagangan nggak habis!"
"Halah, semua penjual juga begitu, Pak! Jangan sok suci!" potong Siti defensif.
"Tapi nggak semua penjual punya hati yang sudah mati!" teriak Udin. "Tadi siang, ada anak namanya Gilang. Dia pucat, Ti. Dia bilang perutnya sakit tapi masih mau beli esku karena 'enak'. Saat itu aku sadar, aku bukan penjual makanan. Aku ini pembunuh yang dibayar recehan! Uang yang aku kirim buat bangun pilar rumah ini... itu uang duka, Ti. Kita membangun istana di atas ginjal anak-anak yang rusak!"
Udin mulai terisak, bahunya terguncang hebat. "Aku nggak bisa tidur. Tiap merem, aku lihat anak-anak itu berbaris di depan tempat tidurku. Mereka nggak minta jajan, mereka minta nyawa mereka balik. Mereka tanya, 'Mang, kenapa esnya bikin aku sakit?' Aku harus jawab apa, Ti? Jawab kalau aku butuh marmer buat rumah di kampung?"
Siti terdiam. Kilau gelang emas di tangannya tiba-tiba terasa berat dan panas. Ia melihat suaminya yang biasanya tegar kini hancur seperti debu.
"Terus kita mau apa sekarang?" tanya Siti lirih, air matanya mulai jatuh.
"Kita jual semuanya. Sawah, rumah ini, mobil. Kita balikin ke panti asuhan atau ke rumah sakit. Kita balik ke gubuk bapak dulu," Udin menatap istrinya dengan mata yang memerah penuh permohonan. "Aku lebih baik mati kelaparan sambil mencangkul sawah orang, daripada hidup mewah tapi tiap napas rasanya seperti mencekik anak orang. Tolong, Ti... bantu aku biar bisa sujud tanpa merasa dikejar-kejar hantu."
Siti menatap sekeliling ruangan yang mewah itu. Kemewahan yang selama ini ia banggakan kini terasa pengap dan amis. Ia perlahan melepas gelang emasnya satu per satu, meletakkannya di atas meja marmer yang dingin.
"Ya sudah, Pak," bisik Siti. "Kalau itu harganya buat nebus nyawa kamu yang hilang... kita mulai lagi dari nol."
Malam itu, di dalam rumah yang paling megah di desa itu, sepasang suami istri menangis meratapi harta mereka, menyadari bahwa rasa tenang adalah kekayaan yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan pemanis buatan.