Angin dari arah Blue Mountains bertiup kencang, membawa aroma eukaliptus yang tajam dan dingin yang menusuk tulang. Di tepi tebing Echo Point, Sydney, Liam berdiri mematung. Di bawahnya, lembah menganga lebar seperti mulut raksasa yang siap menelan segala keputusasaan manusia. Pemandangan Three Sisters yang biasanya tampak magis bagi para turis, kini hanya terlihat seperti tiga pilar batu yang menyaksikan kehancuran hidupnya.
Liam, yang setahun lalu mengganti namanya menjadi Liam Abdullah, kini merasa nama itu seperti beban timah yang mengikat kakinya menuju dasar samudera.
"Kenapa, Tuhan?" bisiknya. Suaranya hilang ditelan deru angin Katoomba. "Kenapa setiap sujud yang kubuat justru dibalas dengan ludah di wajahku?"
Semuanya bermula enam bulan lalu, saat sebuah video viral di TikTok dan X menghancurkan reputasinya dalam semalam. Liam adalah seorang manajer proyek di sebuah firma teknologi ternama di pusat kota Sydney. Ia adalah potret mualaf Australia yang ideal: cerdas, ramah, dan moderat. Namun, sebuah potongan video yang diambil secara sembunyi-sembunyi saat ia sedang berdiskusi panas dengan rekan kerjanya di ruang istirahat, dipelintir sedemikian rupa.
Dalam video berdurasi lima belas detik itu, Liam terlihat mengepalkan tangan dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Arab dengan nada tinggi. Caption-nya sangat beracun: "Mualaf Australia Mengancam Rekan Kerja dengan Doktrin Radikal."
Dunia digital tidak butuh klarifikasi. Dunia digital butuh mangsa.
Dalam hitungan jam, tagar #RadicalLiam menjadi trending topic tidak hanya di Australia, tapi menyebar hingga ke Amerika dan Eropa. Komentar-komentar penuh kebencian memenuhi akun media sosialnya. Liam disebut sebagai "pengkhianat bangsa", "ancaman dalam selimut", dan "kanker bagi budaya Barat". Pihak firma, alih-alih melindunginya, justru memecatnya secara tidak hormat dengan alasan menjaga keamanan lingkungan kerja dan reputasi perusahaan.
Diskriminasi itu menyebar seperti wabah. Teman-teman masa kecilnya, rekan-rekan rugbi yang dulu selalu merangkulnya, tiba-tiba menghilang. Grup WhatsApp keluarga besar di Perth memblokirnya setelah sepupunya menulis, "Kami tidak butuh teroris di makan malam Natal tahun ini." Puncaknya, apartemennya di Darlinghurst dilempari batu, dan pintunya dicoret-coret dengan tulisan merah: "Go back to where you came dari, desert rat!" Padahal, ia lahir dan besar di pinggiran Sydney.
Liam merasa Islam yang ia peluk sebagai agama kedamaian justru menjadi tiketnya menuju neraka dunia. Ia merasa tertipu oleh konsep "sabar" yang diajarkan di masjid. Sabar tidak membayarnya tagihan listrik. Sabar tidak membersihkan namanya dari fitnah global. Sabar tidak mengembalikan cintanya yang hilang.
Di tepi jurang itu, Liam mengeluarkan sebotol alkohol—sesuatu yang telah ia tinggalkan dengan susah payah setahun lalu. Ia menatap cairan kuning keemasan itu. "Dulu hidupku baik-baik saja tanpa-Mu," desisnya ke arah langit yang kelabu. "Aku ingin kembali menjadi Liam yang dulu. Liam yang bebas. Liam yang tidak perlu dicurigai setiap kali bernapas."
Ia hendak menenggak cairan itu, sebuah simbol murtad dan keputusasaan, saat ia melihat seorang pria paruh baya duduk di atas batu besar, tak jauh dari bibir tebing. Pria itu mengenakan jaket outdoor tebal dan topi fedora yang ditarik rendah. Liam mengabaikannya, namun gerakan pria itu menarik perhatiannya.
Pria itu turun dari batu, membentangkan sebuah kain kecil yang tampak seperti sajadah di atas tanah yang berbatu, dan mulai melakukan gerakan yang sangat kukenal. Ia salat. Di tengah hutan yang sepi, di bawah langit Blue Mountains yang dingin, pria itu bersujud dengan tenang. Tidak ada kamera. Tidak ada penonton. Hanya ada keheningan yang dalam.
Liam terpaku. Amarahnya tiba-tiba membeku. "Bodoh," gumam Liam. "Dia tidak tahu betapa berbahayanya melakukan itu di tempat terbuka sekarang."
Setelah salam, pria itu tidak langsung bangkit. Ia duduk dengan tenang, menoleh ke arah Liam, lalu tersenyum tipis. "Anginnya sangat bagus untuk bicara dengan Pencipta, bukan?" ucapnya dalam aksen Australia yang sangat kental, bahkan lebih "Aussie" daripada Liam.
Liam menyembunyikan botolnya di balik jaket. "Kau seharusnya hati-hati. Orang-orang di Sydney bisa membunuhmu jika melihatmu melakukan itu."
Pria itu tertawa kecil, ia berdiri dan mendekat. "Namaku David. Dan aku tahu persis betapa berbahayanya menjadi seorang Muslim hari ini. Terutama bagimu, Liam Abdullah."
Liam tersentak. Seluruh tubuhnya menegang. "Kau... kau tahu siapa aku?"
David mengangguk. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah lencana perak. "Aku detektif senior dari unit intelijen khusus. Dan aku adalah orang yang ditugaskan untuk menguntitmu selama tiga bulan terakhir atas permintaan mantan perusahaanmu. Mereka ingin mencari bukti bahwa kau benar-benar radikal agar pemecatanmu punya dasar hukum yang kuat."
Darah Liam mendidih. "Jadi kau di sini untuk menangkapku? Lakukan saja! Masukkan aku ke penjara sekalian!"
"Tenanglah," potong David, suaranya tetap lembut namun berwibawa. "Aku di sini bukan untuk menangkapmu. Aku di sini untuk meminta maaf. Dan mungkin, untuk berterima kasih."
Liam mengernyit bingung. "Maksudmu?"
"Tiga bulan aku mengikutimu, Liam. Aku menyadap ponselmu, aku mengamatimu lewat teropong saat kau di dalam rumah, aku mengikuti setiap langkahmu di jalanan Sydney saat orang-orang meludahimu. Aku melihatmu dihina di supermarket, aku melihatmu dilempari kotoran saat keluar dari masjid, dan aku melihatmu tetap menundukkan pandangan. Aku melihatmu memberikan sisa uang terakhirmu kepada seorang gelandangan di George Street minggu lalu, padahal aku tahu saldo bankmu sudah nol."
David menghela napas, menatap lembah yang luas. "Aku diperintah untuk mencari kebencian di dalam dirimu, tapi aku hanya menemukan kesedihan yang bermartabat. Aku diperintah untuk mencari rencana serangan, tapi aku hanya melihatmu menangis dalam sujud malammu sambil bertanya 'mengapa'. Kau tahu apa dampaknya padaku?"
Liam diam seribu bahasa.
"Aku seorang ateis sepanjang hidupku," lanjut David. "Aku melihat banyak agama hanya sebagai topeng. Tapi melihatmu... melihat bagaimana kau tetap mencoba menjadi orang baik di tengah dunia yang menginginkanmu menjadi jahat, itu membuatku bertanya: apa yang dimiliki pria ini sehingga ia tidak membalas ludah dengan pukulan? Apa yang ada dalam kitabnya yang membuatnya tetap waras saat seluruh dunia memfitnahnya?"
David menatap Liam dengan mata yang berkaca-kaca. "Minggu lalu, aku mengundurkan diri dari kepolisian. Aku tidak bisa lagi menjadi bagian dari sistem yang mencoba menghancurkan orang jujur sepertimu. Dan dua hari yang lalu, di sebuah masjid kecil di Lakemba, aku mengucapkan kalimat yang sama dengan yang kau ucapkan setahun lalu. Aku bersyahadat karena melihatmu, Liam."
Petir seolah menyambar jantung Liam. Botol alkohol di tangannya terlepas, jatuh menghantam batu dan pecah, isinya mengalir sia-sia di atas tanah. Tubuh Liam bergetar hebat.
"Kau... kau masuk Islam karena aku?" suara Liam tercekat oleh tangis yang sudah lama ia tahan.
"Bukan karena kau," koreksi David. "Tapi karena Allah yang menampakkan cahaya-Nya lewat kesabaranmu yang kau anggap sia-sia itu. Kau pikir kau sedang menderita sendirian, Liam. Tapi kau tidak tahu bahwa penderitaanmu adalah dakwah paling kuat yang pernah kulihat. Video viral itu? Aku sudah menyerahkan bukti asli rekaman CCTV kantor ke pengacara hak asasi manusia dan media independen kemarin sore. Versi aslinya, di mana rekan kerjamu yang rasis itu menyerangmu lebih dulu dan kau hanya membela diri dengan kata-kata tentang perdamaian, akan tayang malam ini di berita nasional."
David memegang pundak Liam. "Dunia mungkin membencimu, tapi langit sedang mencintaimu. Jangan menyerah sekarang, Mate."
Liam jatuh berlutut di atas tanah berbatu Echo Point. Ia bersujud serendah-rendahnya. Air matanya tumpah, membasahi bumi Australia yang sempat ingin ia tinggalkan. Rasa malu yang amat sangat merayap di dadanya karena sempat meragukan Tuhannya. Di tempat yang paling tinggi di Blue Mountains itu, Liam Abdullah menemukan kembali imannya yang sempat retak.
Malam itu, Sydney gempar. Video klarifikasi dari David dan tim pengacara internasional meledak secara global. Ternyata, konspirasi untuk menjatuhkan Liam melibatkan petinggi firma teknologi tersebut yang berafiliasi dengan kelompok politik sayap kanan ekstrem untuk menciptakan ketakutan terhadap mualaf demi kepentingan pemilu.
Namun, kejutan paling besar bagi Liam bukanlah pembersihan namanya atau tawaran pekerjaan yang datang bertubi-tubi dari seluruh dunia. Kejutan itu datang dari sebuah panggilan video dari ibunya di Perth.
"Liam..." ibunya menangis di layar ponsel. "Maafkan kami. Kami melihat berita itu. Kami melihat betapa teguhnya kau. Dan... ada sesuatu yang belum pernah kami ceritakan padamu."
Ibunya menunjukkan sebuah Al-Qur'an tua yang sangat usang dari balik lemari tua kakeknya. "Kakekmu, pahlawan perang yang kau kagumi itu... dia mualaf rahasia saat bertugas di Mesir dulu. Ia menyimpan ini seumur hidupnya karena takut akan diskriminasi yang kau alami sekarang. Ia menulis di halaman belakang: 'Untuk keturunanku, jika suatu saat kau menemukan kebenaran ini, jangan takut. Karena Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.'"
Liam menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menyadari bahwa perjalanannya menjadi mualaf bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan kepulangan. Penderitaannya bukan hukuman, melainkan penyucian.
Di bawah langit Sydney yang kini bertabur bintang, Liam Abdullah bersujud sekali lagi. Kali ini bukan di tepi jurang keputusasaan, melainkan di atas hamparan syukur yang tak berujung. Ia sadar, menjadi Muslim di negeri asing memang berat, tapi ia tidak pernah benar-benar sendirian.
Dunia mungkin bisa memviral-kan fitnah, tapi Tuhan memiliki cara yang lebih megah untuk memviral-kan kebenaran.