Bramantyo (45) adalah pria yang mengukur segalanya dengan angka. Baginya, cinta hanyalah variabel yang tidak stabil, dan kesetiaan adalah komoditas yang mahal. Setelah puluhan tahun membangun Bram Corp menjadi imperium properti terbesar di Asia Tenggara, ia sampai pada satu kesimpulan: ia membutuhkan pewaris yang bersih.
"Wanita kota itu penuh red flag, Januar," ucap Bram pada asisten pribadinya. "Mereka hanya mengincar equity. Aku butuh gadis desa. Yang polos, yang belum tercemar ambisi, yang bisa kujadikan wadah untuk anakku nanti."
Bram memilih Sekar (19), seorang gadis yatim piatu dari pelosok Jawa Tengah. Sekar adalah definisi dari "suci" di mata Bram. Ia tidak punya Instagram, tidak tahu cara menggunakan filter, dan selalu menunduk dengan patuh. Bram membawa Sekar ke Jakarta, menikahinya secara siri, dan mengurungnya di sebuah penthouse mewah dengan penjagaan ketat. Bram merasa menang; ia memiliki aset paling berharga yang bisa ia kontrol sepenuhnya.
Namun, Bram lupa satu hal: masa lalu tidak pernah benar-benar terkubur. Ia hanya membusuk di bawah tanah, menunggu waktu untuk meledak.
Sekar, meski terlihat polos, sebenarnya adalah wanita yang cerdas. Di balik sikap penurutnya, ia merasa ada yang salah. Rumah mewah itu terasa seperti penjara kaca. Januar, sang asisten, adalah satu-satunya orang yang sering berinteraksi dengannya. Januar selalu bersikap dingin, namun matanya menyimpan kebencian yang dalam setiap kali menatap Bram.
Malam itu, Bram sedang merayakan kesuksesan merger terbesarnya. Ia meminum wine mahal yang disiapkan oleh Januar. Tak lama kemudian, jantungnya berdegup kencang. Ia jatuh tersungkur di lantai marmer. Sekar yang melihat itu berteriak histeris dan mencoba menolong, namun pintu penthouse terkunci secara otomatis.
Lampu meredup. Januar masuk ke ruangan dengan langkah tenang, namun di belakangnya berdiri seorang pemuda berusia sekitar 22 tahun yang wajahnya sangat mirip dengan Bram saat muda.
"Bram, perkenalkan," Januar bersuara dengan nada yang sangat puas. "Ini adalah Arka. 'Kesalahan' yang kau buang dua puluh dua tahun lalu."
Bram terengah-engah, mencoba meraih ponselnya. "Siapa... siapa dia?"
Pemuda bernama Arka itu melangkah maju. Matanya menyala dengan dendam yang sudah matang. "Aku adalah anak dari pelayan rumahmu yang kau hamili lalu kau usir dengan tuduhan pencurian, Ayah. Ingat Ibu? Wanita yang kau hancurkan hidupnya demi menjaga citra pengusaha muda suksesmu?"
Bram terbelalak. Ia teringat sekilas wajah seorang wanita muda yang pernah ia buang demi menikahi putri seorang konglomerat (yang kemudian meninggal tanpa memberinya anak).
"Januar bukan sekadar asistenmu, Bram," lanjut Arka sambil memegang pundak Januar. "Dia adalah pamanku. Kakak dari ibu yang kau hancurkan. Kami telah menunggu momen ini selama puluhan tahun. Kami melihatmu mencari 'istri polos' dan kami tertawa."
Arka kemudian menatap Sekar yang gemetar di pojok ruangan.
"Dan kau, Sekar... kau pikir kau dipilih karena kepolosanmu?" Arka tertawa sinis. "Kami yang mengatur pertemuanmu dengan Bram. Kami yang membayar orang di desamu untuk membuat skenario agar kau terlihat seperti 'pilihan Tuhan'. Kau bukan calon istri, Sekar. Kau adalah umpan yang kami pasang agar Bram merasa aman, sementara kami meracuninya perlahan lewat obat-obatan yang kau berikan setiap pagi atas instruksi Januar."
Sekar menutup mulutnya dengan tangan. "Obat... obat vitamin itu?"
"Itu racun arsenik dosis kecil, Sayang," bisik Januar. "Dan malam ini, dosis terakhirnya sudah bekerja."
Bram menatap Arka dengan tatapan memohon. Ia ingin memberikan hartanya, tahtanya, apa pun asal ia tetap hidup. Namun Arka hanya mengeluarkan sebuah dokumen pemindahan aset yang sudah ditandatangani Bram secara tidak sadar melalui dokumen-dokumen bisnis yang diselipkan Januar bulan lalu.
"Kau ingin pewaris, kan?" Arka berlutut di samping ayahnya yang sekarat. "Aku adalah pewarismu. Tapi aku bukan pewaris kekayaanmu. Aku adalah pewaris dendammu."
Bramantyo mengembuskan napas terakhir di lantai marmer rumahnya sendiri, di depan istri yang ia kira polos dan anak haram yang ia kira tidak pernah ada.
Sekar, yang selama ini menjadi protagonis yang tak berdaya, kini harus menghadapi kenyataan pahit: ia bukan hanya korban keserakahan Bram, tapi ia adalah alat pembunuhan bagi Arka dan Januar. Arka menatap Sekar dengan dingin.
"Terima kasih atas rahimmu, Sekar. Tapi kami tidak butuh pewaris lagi. Polisi akan datang lima menit lagi, dan mereka akan menemukan pengusaha kaya yang diracun oleh istri mudanya yang gila harta. Aku dan Januar? Kami akan menghilang sebagai pahlawan yang 'mencoba menyelamatkan' bos kami namun terlambat."
Januar menyerahkan sebuah botol racun ke tangan Sekar yang membeku, memastikan sidik jarinya tertinggal di sana. Di lantai dua puluh, di bawah gemerlap lampu Jakarta, sang pengusaha mati dan sang gadis desa dikubur hidup-hidup dalam fitnah, sementara "warisan" yang sesungguhnya kini berada di tangan sang pembalas dendam.