Sihanoukville adalah kota yang dibangun di atas air mata yang mengering menjadi beton. Di bawah lampu-lampu neon kasino yang berkedip serakah, ribuan mimpi mati setiap malam, dikubur dalam gedung-gedung tinggi berpagar kawat berduri. Aku, Hendra, adalah salah satu arsitek neraka itu.
Sekarang aku duduk di sebuah gubuk kayu reyot di pinggiran Kampot, jauh dari hiruk-pikuk pesisir. Bau laut di sini tidak amis oleh darah atau bau peluh ribuan budak digital, melainkan aroma garam dan lada. Tapi di dalam kepalaku, suara itu tidak pernah berhenti. Suara tak-tik-tak dari ribuan keyboard yang dipukul bersamaan, dan suara jeritan yang diredam oleh dinding kedap suara di Lantai 13.
Dulu, aku adalah "Supervisor". Jabatan yang terdengar mentereng bagi seorang pemuda yang berangkat dari Jakarta dengan janji kerja sebagai "Customer Service" di luar negeri. Namun, dalam tiga bulan, aku belajar bahwa di Kamboja, kau hanya punya dua pilihan: menjadi mangsa, atau menjadi pemangsa. Aku memilih yang kedua.
Tugasku sederhana namun mematikan: merekrut anak-anak muda Indonesia lewat iklan palsu di Facebook dan Telegram. Aku menjanjikan mereka gaji dua puluh juta sebulan, mess mewah, dan tiket pesawat gratis. Saat mereka mendarat di bandara dan paspor mereka kusita, saat itulah kehidupan mereka berakhir.
Di Lantai 13, aku berdiri dengan tongkat listrik di tangan. Aku melihat mereka—anak-anak kuliahan yang putus asa, ayah yang ingin membelikan susu anaknya, gadis-gadis yang bermimpi memperbaiki rumah orang tuanya—menangis di depan monitor. Mereka dipaksa melakukan Pig Butchering Scam. Menipu orang-orang kesepian di Amerika atau Eropa dengan profil palsu, memerah tabungan mereka hingga habis sebelum menghilang.
Jika mereka gagal mencapai target harian seratus ribu dolar, aku ada di sana. Aku yang menempelkan alat kejut listrik ke leher mereka hingga mereka kencing di celana. Aku yang memerintahkan mereka masuk ke "ruang gelap" untuk dihajar tanpa ampun. Aku melakukannya demi bonus. Demi alkohol mahal. Demi rasa aman bahwa bukan aku yang ada di posisi mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda bernama Adi datang.
Adi punya mata yang jernih, seperti mata adikku sendiri. Dia tidak melawan. Dia hanya bekerja dengan tekun, namun hatinya tidak di sana. Suatu malam, ia tertangkap basah mencoba mengirim pesan darurat lewat kode binari di dalam sistem scam yang kami bangun.
Aku yang mengeksekusinya. Aku menghajarnya hingga tulang rusuknya retak, berharap dia akan kapok. Tapi dia justru menatapku dengan tatapan kasihan. "Mas Hendra, uang ini tidak akan pernah bisa membeli tidurmu," bisiknya sebelum pingsan. Tiga hari kemudian, Adi meninggal di sel isolasi karena infeksi dan malnutrisi. Jasadnya? Kami membuangnya ke laut seperti sampah yang tak berharga.
Sejak malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku melihat Adi di setiap sudut ruangan. Aku melihat tangannya yang gemetar di setiap keyboard yang kulihat. Aku memutuskan untuk lari. Aku mencuri beberapa berkas penting, menyuap penjaga perbatasan, dan menghilang ke pedalaman Kamboja, mencoba menjadi hantu.
Di desa kecil ini, aku ditampung oleh seorang wanita tua bernama Ibu Siti. Dia orang Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Kamboja, menikah dengan warga lokal yang sudah lama meninggal. Dia sangat baik. Setiap pagi dia memberiku sup hangat dan kopi. Dia tidak pernah bertanya kenapa tubuhku penuh luka atau kenapa aku selalu melompat ketakutan setiap kali mendengar suara motor lewat.
"Kamu orang baik, Hendra," ucapnya suatu sore saat kami duduk di teras melihat matahari terbenam di balik perkebunan lada. "Tuhan mengirimmu ke sini untuk menemaniku."
Hatiku seperti diiris sembilu. Orang baik? Aku adalah iblis yang menyamar.
Suatu malam, Ibu Siti jatuh sakit. Napasnya tersengal. Aku panik dan mencoba mencari obat di dalam kamarnya. Saat aku mengaduk-aduk laci lemari tuanya, aku menemukan sebuah kotak kayu kecil. Isinya bukan perhiasan, melainkan foto-foto.
Ada foto Ibu Siti muda, foto suaminya, dan sebuah foto baru yang dicetak dari kertas printer murah.
Duniaku berhenti berputar. Napasku tercekat.
Itu adalah foto Adi. Pemuda yang kubunuh di Lantai 13. Di belakang foto itu tertulis: "Putraku tercinta, pulanglah dengan selamat. Ibu menunggumu."
Aku terduduk lemas di lantai tanah. Tanganku gemetar hebat. Jadi selama ini, aku bersembunyi di rumah ibu dari orang yang kuhabisi nyawanya? Apakah ini kebetulan? Ataukah ini cara Tuhan untuk menarikku kembali ke pengadilan-Nya?
Aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Ibu Siti berdiri di ambang pintu, tidak lagi tampak sakit. Wajahnya yang biasa ramah kini sedingin es. Di tangannya, ia memegang sebilah pisau lada yang panjang dan tajam.
"Kamu sudah menemukannya, Hendra?" tanyanya dengan suara yang begitu tenang hingga membuat bulu kudukku berdiri.
"Bu... saya... saya minta maaf," aku merangkak di kakinya, menangis meraung-raung. "Saya tidak tahu... saya terpaksa... sistem itu yang membuat saya jadi monster!"
Ibu Siti tidak berteriak. Dia hanya mendekat, ujung pisau itu menyentuh daguku, memaksaku menatap matanya yang kosong.
"Kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu?" bisiknya. "Sejak hari pertama kamu datang dengan wajah penuh dosa itu, aku sudah mengenalimu. Adi sering menceritakan tentang 'Supervisor Hendra' dalam surat-surat rahasia yang ia selipkan lewat kurir pasar sebelum kamu membunuhnya. Adi bilang, dia ingin membantumu keluar dari kegelapan."
Aku memejamkan mata, menunggu rasa dingin baja menembus tenggorokanku. Aku pantas mati. Aku siap mati.
Tapi pisau itu tidak pernah menusuk.
Ibu Siti melempar pisaunya ke lantai. Ia berlutut di depanku, lalu memelukku dengan erat. Ia menangis, bukan tangisan amarah, melainkan tangisan duka yang teramat dalam.
"Membunuhmu tidak akan mengembalikan anakku," isaknya. "Tapi membiarkanmu hidup dengan rasa bersalah ini adalah hukuman yang lebih berat. Aku ingin kamu hidup, Hendra. Aku ingin kamu hidup dan membawa setiap nama yang kamu sakiti di punggungmu sampai kamu mati. Itulah nerakamu."
Pagi harinya, aku terbangun oleh suara sirine polisi Kamboja dan Interpol. Ibu Siti tidak ada di rumah. Ternyata, Ibu Siti bukanlah sekadar ibu rumah tangga tua yang malang. Dia adalah informan utama dari jaringan aktivis anti-perdagangan manusia yang sudah mengincarku sejak aku masih di Sihanoukville.
Dia menjadikanku "umpan" tanpa aku sadari.
Selama aku tinggal di sini, dia telah memasang penyadap di tasku dan menyalin semua berkas yang kucuri dari gedung scam center itu. Semua data bos-bos besar, koordinat gedung, dan daftar pejabat yang disuap telah dikirim ke otoritas internasional.
Saat aku digiring menuju mobil polisi, aku melihat Ibu Siti berdiri jauh di bawah pohon kelapa. Dia memegang foto Adi di dadanya.
Aku baru menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Ibu Siti tidak pernah mencintaiku sebagai anak angkat. Dia merawatku agar aku tetap sehat untuk menghadapi pengadilan. Dia memastikan aku tidak bunuh diri agar aku bisa memberikan kesaksian yang akan menghancurkan seluruh sindikat itu.
Hukuman terberatku bukanlah penjara. Hukuman terberatku adalah kenyataan bahwa satu-satunya orang yang memberiku kasih sayang setelah aku menjadi monster, melakukannya hanya untuk memastikan aku menderita di bawah hukum sedalam-dalamnya.
Di dalam mobil yang membawaku pergi, aku menatap langit Kamboja yang biru. Aku teringat kata-kata Adi. Uang ini tidak akan pernah bisa membeli tidurmu.
Sekarang, aku punya waktu seumur hidup untuk terjaga, mendengarkan gema keyboard dari Lantai 13 yang akan terus mengetik namaku sebagai seorang pendosa, di dalam sel yang dindingnya terbuat dari penyesalan yang takkan pernah berakhir.